Wednesday, February 27, 2008

Eksanti

Eksanti, Affair Pertamaku - 1

Waktu itu jarum jam di dinding ruangan kantorku telah menunjukkan pukul 7 malam. Aku sudah berkemas-kemas untuk pulang, karena kebetulan waktu itu aku mempunyai janji dengan seorang teman lamaku di daerah Cinere. Sewaktu aku berjalan melewati front office, aku melihat Eksanti juga sedang berbenah hendak pulang. Ketika aku bertanya mau pulang ke arah mana, ternyata ia mau ke rumah salah seoarang kawannya di daerah Lebak Bulus. Jadi kami bisa searah satu jalan. Kebetulan, Eksanti tidak membawa kendaraan sendiri, sehingga aku menawarkan untuk pulang bersama semobil denganku. Ternyata Eksanti pun setuju, “Terima kasih Pak, daripada kehujanan”.
“Lumayan ada teman ngobrol di jalan”, fikirku dalam hati.

****

Gerimis rintik-rintik membasahi jalanan yang kami lewati. Dan seperti biasa kalau sedang hujan, penyakit di daerah selatan Jakarta, macetnya minta ampun…. Waktu sangat cepat berlalu, jam di mobilku menunjukkan pukul 20.15.
"Dingin Santi…?", aku bertanya memecah keheningan kami berdua ketika kami sampai di sekitar Blok A. Memang aku merasakan mobilku dingin sekali AC-nya, padahal sudah aku setel minimal. Mungkin karena hujan, meskipun tidak begitu deras.

"Iya Pak. Dingin banget", jawabnya sambil mendekapkan tangannya ke dada.
"Kalau lagi di luar kantor gini jangan panggil aku Pak dong..., ntar kelihatan tua aku. Panggil aku Mas saja yaa.. Toh, usia kita nggak beda jauh", kataku berusaha untuk mencairkan suasana.
"Ya… Mas". Ia tersenyum ke arahku.

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Pukul 21.00 kami masih berkutat di kawasan Blok A.
"Aku lapar, Santi", ujarku spontan
"Sama. Aku juga dari tadi, Mas..", Eksanti menjawab jujur
Kami tertawa bersama. Perut kosong, badan menggigil. Bayangkan…, kami mengobrol apa saja tentang kantor, teman-temannya, keluarga sampai keinginannya untuk segera mendapat pacar yang mau mengerti dirinya. Aku lebih banyak menjadi pendengar cerita Eksanti. Kali ini baru aku sadari, ternyata Eksanti yang duduk di sebelahku bukanlah seperti Eksanti yang aku kenal dalam waktu-waktu terdahulu di kantor. Dalam curhatnya, ia terlihat sangat rapuh.

Entah memang nasibku untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah bekerja, aku selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekatku. Dan kini aku harus menghadapi Eksanti yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu. Love... look what you have done to her, bastard...!

Aku mencoba menenangkannya sebisaku dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Aku hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.

Setelah beberapa waktu kami membahasnya, Eksanti terlihat sudah agak tenang.
"Thanks Mas, kamu mau jadi tempat sampah Santi," katanya sambil sedikit tersenyum.
"That what friends are for," jawabku singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil.
"Mas, kamu itu aneh yaa…?" tiba-tiba suara Eksanti menyentakku.
"Aneh…, apa sih maksud kamu?" tanyaku asal.
"Hihihihi..." terdengar Eksanti cekikikan mendengarnya.
"Yaa.. aneh aja, Santi sudah kenal mas dari beberapa tahun yang lalu, tapi rasanya Santi nggak pernah merasa dekat dengan Mas, sampai dengan hari ini.., " kata-kata Eksanti meluncur lancar dari mulutnya.
“….sampai Santi mau curhat sama mas, padahal Santi paling jarang curhat, apalagi sama orang yang nggak deket bener dengan Santi."
"Sama, aku juga gitu kok. Bisa aja..., jangan-jangan kita pernah ketemu di kehidupan lain sebelumnya yaa…?" jawabku sambil nyengir.
"Ada-ada aja kamu, mas..." katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kiriku.
Jujur saja, aku cukup terkejut menerima perlakuannya, tapi santai saja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak?

Dengan sudut mataku, aku meliriknya, Eksanti tampak sangat damai. Ia sedang menggosok-gosokkan tangan kanannya ke hand rem, mungkin biar hangat. Lalu tiba-tiba, dengan tangan kiriku sengaja aku pegang tangannya.
"Tanganmu dingin banget, Santi".
"Dari tadi, mas..".
"Tanganku juga yaa…?".
"He eh…", sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari remasanku. Hujan tetap lebat, sehingga praktis mobilku berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam keheningan, aku meremas-remas tangannya. Eksanti diam saja. Bahkan ia juga mulai ikut membalas meremasi jari-jemariku.
"Lumayan. Agak hangat", kataku.
"He eh..", jawabnya lagi sambil senyum.
Aku melirik ke arah Eksanti, ia mengenakan rok mini warna gelap berbunga-bunga kecil warna terang. Meskipun cahaya di dalam mobilku agak gelap, namun aku masih bisa melihat dengan jelas kaki jenjangnya yang putih mulus tanpa cela, semakin kelihatan kontras dengan warna roknya. Aku membawa tanganku ke atas pahanya. Eksanti masih terdiam. Lalu dilepaskannya tangannya agar tanganku leluasa menyentuh… meraba… kulit mulusnya. Halus, haluus.. sekali pahanya. Aku mengusap-usap naik turun. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyentuh ujung-ujung renda celana dalamnya. Dari ujung lutut, merayap perlahan ke atas, dengan gerak mengambang aku mengusap-usap sampai menyentuh kembali pangkal celana dalamnya. Berulang-ulang, “Hmm...”, lenguhnya.
"Makin hangat, Santi", bisikku.
Eksanti diam saja. Aku meliriknya lagi, ia memejamkan matanya. Tangannya memegang tanganku, dan di diusap-usapkan ke atas lapisan satin celana dalamnya. Kini Eksantilah yang mengendalikan tanganku. Aku merasakan, ia mulai basah.

Tanpa aku sadari, mobilku sudah melewati Golden Trully. Aku menarik tangan Eksanti, aku membawa jemari halusnya ke atas kejantananku yang sejak tadi sudah menegang, tetapi masih rapi tertutup celana pantalonku. Eksanti mengerti. Dia meremas-remas lembut batang kejantananku. Lama…., kami saling mengelus, mengusap dan meremas bagian-bagian yang paling sensitif dari tubuh kami masing-masing. Aku juga merasa, setetes cairan bening sudah mulai membasahi celana dalamku. Eksanti tetap memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya. Perlahan-lahan aku tarik dengan lembut rambut kewanitaannya dari celah samping celana dalamnya. Eksanti terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya makin aktif mengelus-elus kejantananku dari luar.

Tidak terasa, kami sudah sampai di perempatan Fatmawati - Simatupang. Arah lurus ke Cinere masih macet, kanan ke arah Pondok Indah jalanan kosong. Jam di mobil sudah menunjukkan pukul 23.00.
"Aku laper", bisikku lembut sambil menjilat belakang telinganya.
"Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparrr... juga aku",ia mendesah pelan.

Aku memutuskan untuk mengambil arah ke kanan, lalu menyusuri jalur paling kiri. Untuk sementara, kegiatan usap-mengusap, remas-meremas, kami dihentikan. Sekarang kami akan mencari makan dulu. Aku melihat bangunan berpagar bambu gelap, jalan masuknya menurun. Mungkin itu adalah sebuah hotel dan kami bisa makan di sana.
"Kiri yaa..?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya", bisikku.
"Itu restoran..?", tanya Eksanti.
"Nggak tahu. Kalo resto yaa.. syukur, kalau hotel kita bisa makan di restonya", jawabku sejujurnya. Sejujurnya, waktu itu aku memang belum tahu sama sekali tempat apa itu.

Aku membelokkan mobil ke kiri, lalu terlihat ada orang yang berlari-lari memakai payung menyambut dan memberi kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk suatu tempat seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk ke dalam garasi itu. Aku masuk, lalu ia segera menutup pintu garasi. Aku memandang bingung ke arah Eksanti. Dia mengangkat bahunya tanda bahwa ia bingung atau tidak tahu juga.

Aku lalu turun, sementara Eksanti masih tinggal di dalam mobil. Aku mengikuti petugas yang masuk ke sebuah pintu di dalam garasi itu. Ternyata pintu itu langsung menghubungkan garasi ke suatu kamar tidur. Sebuah spring bed besar berada di tengah ruangan. Dua tempat duduk dan satu meja kaca, lemari buffet kecil dengan pesawat TV 20 inch di atasnya, melengkapi perabotan di sisi-sisi ruangan. Di dindingnya tertempel sebuah kaca cermin yang besar. Di sana juga tersedia kamar mandi di dalam ruangan, yang dilengkapi dengan shower.

Ooo.., ternyata ini hotel atau motel garasi, seperti yang sering diceritakan teman-teman priaku. Setelah membereskan pembayaran kamar dan memesan makanan, petugas segera keluar melalui pintu penghubung ke garasi tadi. Aku mengikutinya.
"Turun yuk…", kataku kepada Eksanti, yang masih berada di dalam mobil.
Eksanti turun dari mobil dan aku menggandengnya masuk ke dalam kamar. Lalu pintu segera aku kunci dari dalam. Melihat isi kamar itu Eksanti tampak tertegun. Aku lalu bergeser, berdiri tepat di hadapannya. Mataku tajam memandang ke arah mata indahnya, aku tidak bisa menduga apa yang ada dalam benaknya saat itu. Eksanti pun membalas memandangku, ada sesuatu yang bergelora disana. Agak lama kami berdua saling tertegun, terdiam…..

Cukup lama kami masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang yang mulai nampak setelah hujan reda dari jendela kamar itu. Sayup-sayup terdengar suara dari TV dalam kamar, rintihan Sinnead O'Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya:
...I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you...

Perlahan aku usap rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Eksanti mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa saat kami saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini aku cari? Mungkinkah aku menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama aku mencarinya entah kemana? How can I be so sure about that? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan. Yang aku tahu beberapa saat kemudian wajah kami semakin mendekat dan sekilas aku melihat Eksanti menutup matanya dan pada akhirnya aku kecup lembut bibirnya.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba tubuh kami sudah saling merapat. Aku mencium Eksanti sampai nafasnya terengah-engah. Aku menjilati bibirnya sambil tetap dalam posisi berdiri. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya. Eksanti pun tak kalah garang. Dia memeluk tubuhku erat-erat dan membalas ciuman buasku. Tangan kiriku menyusup ke dalam blouse-nya, sementara tangan kananku menyusup ke celana dalamnya bagian belakang dan mengusap, meremas lembut belahan pantatnya. Aku menciumi Eksanti dengan buas. Bibir sensualnya yang tipis itu aku lumat habis. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya dan disambut dengan kelincahan lidahnya. Lalu mulutku turun ke arah leher jenjangnya, aku menjilati lehernya. Eksanti memejamkan matanya, ia tampak sangat menikmati rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap kejantananku yang masih rapi berada di dalam sarangnya.

Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan aku raih pinggang Eksanti dan mendudukkannya dalam pangkuanku di atas tempat tidur. Kini kami semakin dekat, karena Eksanti aku rengkuh tubuhnya dalam pangkuanku. Aku usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan. Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Eksanti yang terdengar begitu lembut.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mulai menurunkan bibirku ke arah lehernya. "Ugh...". hanya terdengar lenguhan lembut Eksanti ketika ia mulai merasakan hangatnya bibirku menjelajahi lehernya. Tidak ada perlawanan dari aksi yang aku lakukan. Eksanti justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tangannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan. Aku pun semakin terhanyut terbawa suasana. Aku perlakukan Eksanti selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan punggungnya ke arah tubuhku.
"Mas... ookkhh...", lenguh Eksanti saat dia menyadari terlepasnya satu per satu kancing kemeja blouse-nya.
Ya... aku memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuanku kepadanya.



Eksanti, Affair Pertamaku - 2

Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari dada Eksanti, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami. Dengan sekali gerakan, aku dapat menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri lagi dengan tubuh Eksanti dalam gendonganku. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet ruangan, menyisakan bagian atas tubuh Eksanti yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih.

Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya aku merebahkannya lagi di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum aku meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Eksanti mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku, hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan saat aku berhasil melepaskan bra-nya. Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku.

She's different, pikirku. Jujur saja, aku sudah beberapa kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja aku kenal. Namun kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi keberadaannya. Rasa sayang, yaa… mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan keberadaannya. Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin. Eksanti bukan hanya seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best!

Terdengar lagi lenguhan Eksanti saat aku mulai mengulum buah dadanya. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Mungkin hasrat itu telah memenuhi kepalanya. Jilatan-jilatan diselingi gigitan-gigitan kecil mendarat di sekitar putingnya, berkali-kali membuatnya berjingkat terkejut. Aku meneruskan cumbuanku ke arah perutnya, hingga pada akhirnya berhasil membebaskan roknya ke karpet.

Sekarang terpampanglah pemandangan indah yang tidak mungkin aku lupakan, seorang dewi cantik, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam satin putih. Untuk pertama kalinya aku memandang seorang wanita dalam kondisi seperti ini, tidak dengan nafsu yang menguasai. Begitu terasa bagaimana aku memang menyayangi dan menginginkannya. Matanya yang memandang lembut ke arahku, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sesuatu yang terus aku cari selama ini dari diri seorang wanita.

Kini aku mengulum pusarnya, seiring lenguhan-lenguhan kecil yang terdengar dari bibirnya. Perlahan aku mulai menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh Eksanti. Terdengar sedikit nada terkejut Eksanti saat aku mulai menurunkan centi demi centi celana dalamnya menyusuri kedua kakinya hingga terlepas entah kemana. Seiring itupun, aku mulai menurunkan jilatan ke arah selangkangannya.
"Masss... mau ngapain... uugghh...", pertanyaan yang coba diajukan Eksanti tidak dapat diselesaikannya begitu dirasakannya sebuah jilatan mendarat di bibir kewanitaannya.
Permainan lidahku pada liang kewanitaannya memang aku usahakan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahku menyentuhnya. Namun hal ini malah justru memicu reaksi Eksanti semakin terbakar.
"Occhhh... Masss..." lenguhnya panjang diiringi nafasnya yang semakin tidak beraturan.

Hisapan dan jilatan silih berganti aku lakukan dengan penuh kelembutan padanya, hingga pada akhirnya terdengar Eksanti seperti mendekati puncaknya.
"Aaacchhh..." jeritnya panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas, saat puncak itu datang melandanya, menggulungnya dalam suatu sensasi keindahan yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang kenikmatan yang begitu dalam.

Kini aku memandang wajahnya. Matanya yang terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri, tangannya yang mencengkram seprei di tepian ranjang dengan kencang, serta nafasnya yang tidak beraturan, cukup untuk mengekspresikan betapa tingginya Eksanti telah terbuai dalam gelombang orgasme yang baru saja dilaluinya. Aku biarkan Eksanti meregang dirinya dalam detik demi detik puncak kenikmatan yang baru saja didapatnya.

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, sehingga kami harus menghentikan aktifitas yang sangat menggairahkan itu.
"Aku ke kamar mandi dulu", bisiknya, aku mengangguk.
Makanan pesanan kami telah tiba, dan terhidang rapi di atas meja. Aku duduk di atas kursi dan menarik kursiku mendekat ke arah meja kaca itu. Aku menuangkan sebotol coca-cola ke dalam gelas yang telah berisi es. Aku meneguk… hmm..., segar. Ditengah keheningan kamar itu, aku mendengar suara shower dari arah kamar mandi, rupanya Eksanti sedang mandi. Pantas lama sekali dia di dalam sana. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.

Gila…!, Gila…!, Belum pernah aku melihat pemandangan seindah dan seeksotik ini. Menggairahkan, menakjubkan. Aku bengong, terpana, terpesona. Suasana kamar mandinya remang-remang, karena hanya ada cahaya lampu 15 watt yang menerangi. Eksanti sedang mandi di bawah pancuran shower. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat sempurna. Putih dan mulus tubuhnya yang tersiram air bagaikan gambar-gambar wanita yang sering aku lihat di majalah Playboy. Badannya tinggi, kakinya panjang dan jenjang, pinggangnya kecil, tapi pinggulnya cukup besar. Sangat sempurna. Eksanti sedang menggosok lehernya dengan sabun sambil memejamkan matanya.

"Mas, tolong matikan AC kamar. Biar nggak kedinginan kalau aku keluar nanti", katanya.
Aku terjaga dari lamunanku, cepat-cepat aku keluar. Memang dingin sekali di dalam kamar ini. AC tidak aku matikan tapi aku setel menjadi 35 derajad. Biar hangat. Lalu aku kembali melangkah ke kamar mandi lagi.
"Jangan bengong. Mas, mandi sekalian aja…", katanya waktu aku bengong lagi. Aku segera melepas hem dan celana pantalonku.

Airnya hangat. Pantas Eksanti berlama-lama mandi setelah kedinginan di dalam mobil tadi. Sesaat ketika badanku basah tersiram air, Eksanti menyabuni seluruh tubuhku dengan pelan dan lembut. Mula-mula tanganku, lalu dada dan perut. Dimintanya aku berbalik badan dan kemudian punggungku mendapat giliran. Setelah bagian atas tubuhku rata terkena sabun, Eksanti berjongkok. Disabuninya kakiku, lalu naik ke paha. Aku memejamkan mata. Aku merasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembutnya di sekujur tubuhku. Akhirnya, Eksanti memegang kejantananku dan mengelus batangnya pelan-pelan, terasa sangat licin dengan sabun. Setelah bersih, kemudian Eksanti menarik dan melepaskan tangannya dari batang kejantananku.

Kini tiba giliranku. aku segera mengambil sabun dari tangan Eksanti. Mula-mula aku mengusap kedua tangannya. Lalu beralih ke perutnya. Kemudian tanganku merayap naik, kedua payudaranya aku sabuni dengan lembut. Kenyal…. Puting kecoklatannnya mencuat ke atas, sangat kontras dengan warna putih mulus kedua bukit kembarnya. Tangan kiriku membelai lembut dada kanannya, sementara tangan kananku mengusap-usap dada kirinya. Aku lakukan berulang-ulang.., berganti-ganti... Eksanti memejamkan matanya sambil mendesah, menikmati sensasi. Tubuhku merapat ke tubuhnya, dan dengan posisi seperti memeluk, tanganku beranjak menyabuni punggung dan pantatnya. Ketika tanganku sampai di belahan pantatnya, sengaja dengan lembut aku sedikit menusukkan jemariku ke lubang anusnya. “Emmhh… masss,…”, Eksanti mendengus perlahan.

Setelah bagian atas tubuhnya rata dengan sabun, aku lalu berjongkok. Aku mulai mengusap kaki dan betis indahnya. Pelan.., perlahan sekali. Aku sungguh sangat menikmati keindahan ini. Lalu tanganku naik ke pahanya. Eksanti agak merenggangkan kakikanya, agar tanganku bisa menyusup ke celah pahanya. Lalu tanganku naik lagi, sampai akhirnya aku bisa menyabuni rambut-rambut kewanitaannya. Agak lama aku mengusap-usap sekitar daerah kewanitaannya dengan lembut, hingga bibir kewanitaannya merekah.
"Sudah.. Mas, sudah.., please…", lenguhnya.

Aku berdiri, aku segera memeluk tubuh Eksanti. Terasa licin, tetapi nikmat. Tubuh kami bersatu. Aku mencium mulutnya sampai Eksanti kembali terengah-engah. Tubuh kami terus bergerak mencari kenikmatan. Tanganku mengusap pantat, paha dan kedua bukit payudara indahnya. Tangan Eksanti juga terus menggerayangi tubuhku. Dari usapan di punggung, pantat dan akhirnya bermuara ke kejantananku. Dikocok-kocoknya kejantananku. Aku merasa nikmat. Belum pernah aku mengalami pengalaman sedahsyat ini sebelumnya.

Eksanti mundur dan bersandar di dinding. Kakinya direnggangkan, matanya terpejam seolah membayangkan sesuatu…. Tangannya lalu memegang batang kejantananku. Sabun makin mencair tapi masih tetap licin. Eksanti baru membuka matanya ketika dirasakannya sebuah benda menempel lembut pada bibir kewanitaannya. Dibukanya matanya, memandang lembut ke arah wajahku yang tepat berada di depan wajahnya. "Santi, bolehkah aku...?" bisikku sambil mengecup keningnya. Eksanti hanya mengedipkan kedua matanya sekali, sambil tetap memandangku. That's enough for me to know the answer of this question.

Perlahan-lahan aku tekan kejantananku menerobos liang kewanitaannya. So gentle and smooth. Eksanti mengerti. Direnggangkannya lagi kakinya. Dibimbingnya kejantananku ke arah lubang kewanitaannya. Dan acchh..., aku mulai masuk. Terdengar nafas Eksanti tertahan di tenggorokannya, menikmati sensasi mili demi mili penetrasi yang aku lakukan terhadapnya, hingga akhirnya keseluruhannya terbenam utuh. Kami terdiam dan saling berpandangan sejenak, menikmati bersatunya raga (dan hati) kami berdua.

Aku kecup bibirnya lembut sebelum mulai melenakannya dalam sebuah percintaan yang sangat indah. Mula-mula perlahan. Makin lama makin cepat. Tangan Eksanti memeluk kedua pantatku ikut menekan. Nikmat sekali rasanya. Badan kami masih licin. Terus aku ayun-ayunkan pantatku dan kejantananku menghujani kewanitaan Eksanti berulang-ulang. Aku masih ingat persis, bagaimana kedua tangan kami saling bergenggaman erat, saat kami terus bergumul menyatukan hasrat dan raga kami. Betapa lembut buah dadanya menekan dadaku, dan betapa hangat dinding-dinding kewanitaannya melingkupi kejantananku yang terus memompanya, membawa kami semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.

Tak lama, Eksanti merasa tak tertahankan lagi. Dipeluknya aku erat-erat. Eksanti telah sampai ke puncaknya lebih dulu. Kejantananku makin kencang menancap. Aku ayun lagi pelan. Makin lama makin cepat.
"Achh..., achh..., terus mas..., terusss...", lenguhnya.
Pinggulnya terus bergerak mengimbangi tusukanku. Sejurus kemudian, kami saling berpelukan erat sekali. Mulutnya lalu aku cium. Bibir sensualnya terlalu sayang untuk dilewatkan.

Aku mencabut kejantananku. Aku menghadapkan tubuh indah Eksanti ke arah dinding. Aku sangat menginginkan doggy style. Eksanti mengerti, lalu ia menungging. Pantatnya masih licin oleh sabun. Aku usap-usap. Jari tengahku mulai memainkan kewanitaannya. Eksanti melenguh. Aku mainkan klitorisnya. Aku usap, aku pelintir, aku sodok. Eksanti makin menggelinjang.
"Sekarang..., sekarang...", desahnya.

Dipegangnya kejantananku, dan dibimbingnya masuk ke dalam celah kewanitaannya. Aku memejamkan mata. Aku tusukkan pelan-pelan kejantananku. Aku condongkan badanku, bersatu dengan punggungnya. Licin..., enak sekali. Tanganku meraih kedua bukit indah payudaranya. Aku mengusap-usap. Licin…, nikmat sekali. Aku lakukan berulang-ulang, sambil tetap menusuk, menggenjot kejantananku ke dalam kewanitaan Eksanti. Aku lalu menegakkan badanku. Aku memegang sisi pinggulnya. Aku mulai mempercepat ayunan. Eksanti menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku menarik pinggulku, Eksanti juga ikut menarik pinggulnya. Aku menusukkan sekuatnya, Eksanti pun mengimbanginya, "Clep..., clep..., clep".

Akhirnya aku mau keluar. Gerakanku makin aku percepat. Jeritan Eksanti makin keras.
"Di dalam atau di luar Santiii..", bisikku sambil terengah-engah.
"Di luar saja", sahutnya.
Eksanti tetap dalam posisi menungging. Pinggulnya makin liar. Aku makin tak tahan. Dan..., aku cabut kejantananku dari lubang kewanitaan Eksanti.
"Sekarang Santiii..", kataku sambil memejamkan mata.
Eksanti segera membalik badannya, lalu ia jongkok dan mengocok kejantananku.
"Acchh..., "cret..., cret..., cret", benih-benih cintaku muncrat ke wajah dan badan Eksanti. Banyak sekali. Eksanti terus meremas kejantananku sampai tetesan terakhir air nikmatku.

Eksanti meratakan cairan cintaku ke dadanya, perut dan mengusapkan sedikit ke wajahnya. Baru kemudian dibasuh dengan air shower. Aku membantunya menggosok-gosok tubuhnya dari sisa-sisa sabun yang masih menempel. Tetapi tetap saja, yang lama aku gosok adalah payudaranya yang ranum itu. Putingnya aku hisap-hisap, aku mainkan dengan lidahku.
"Sabar, Mas. Nanti lagi, yaa…", bisiknya mesra.
"Nggak usah pakai handuk Santi..", kataku, ketika Eksanti mau keluar menuju tempat tidur.
Eksanti tersenyum. Dia keluar kamar mandi dengan tubuh telanjang. Aku mengikuti. Eksanti langsung menuju ke tempat tidur. Hawa sudah hangat.
"Lapar?", tanyaku.
"Sangat", jawabnya singkat.



Eksanti, Affair Pertamaku - 3

Aku duduk selonjor di atas tempat tidur, bersandar ke bantal di belakang punggungku. Eksanti duduk di atas pangkuanku. Kewanitaannya menempel erat di atas kejantananku. Sepiring mie goreng berada diatas tangannya, dan kami makan berdua. Sesendok disuapkan ke mulutnya, dan sesendok kemudian ia menyuapiku. Sungguh sangat romantis suasana waktu itu. Kami makan mie goreng itu dengan lahap, sehingga cepat tandas. Namun perut kami masih belum merasa cukup, Eksanti meraih piring lain bersisi nasi goreng dan kami makan lagi bersama. Sambil makan, Eksanti menggerak-gerakkan pantatnya. Kejantananku yang terjepit mulai mengeras.

"Sakit punyaku, Santii....", bisikku sedikit mengerang.
"Sebentar..., tolong pegang piringnya", ujarnya sambil mengangkat pantatnya kemudian memegang kejantananku yang sudah siap tempur. Perlahan dimasukkannya ke dalam celah kewanitaannya, "Blesss".
"Nggak sakit lagi kan..?", katanya sambil tersenyum.

Piring yang tadi aku pegang dimintanya lagi. Gila,… kami lalu makan kembali, sementara kejantananku menancap erat di dalam kewanitaannya. Eksanti menggerak-gerakkan pinggulnya sambil makan. Akhirnya habis juga sepiring nasi goreng itu. Ia mengambil coca-cola dingin segar...

"Siap?", tanyanya.
"Ntar dulu, biar turun nasinya", kataku.
Aku raih tubuh mulus Eksanti, aku peluk dan aku tidurkan di atas tubuhku. Kejantananku tetap menancap di dalam kewanitaannya. Karena tinggi badan Eksanti tidak beda jauh denganku, maka wajah Eksanti tepat berada di atas di wajahku. Kami diam menikmati tubuh kami yang sedang bersatu. Agak lama kami terdiam. Tanganku memeluk erat punggungnya.

Ruangan makin hangat. Bahkan cenderung panas. Kami mulai berkeringat. Wangi tubuh Eksanti menyapu hidungku.
"Mau didinginkan AC-nya?", tanyaku.
"Dikit aja, Mas... Makin panas makin asyik. Makin berkeringat..", ujarnya.

Eksanti menggulingkan tubuhnya telentang di sampingku. Clepp.., bunyi ketika kejantananku tercabut dari kewanitaannya. Aku berbalik memandang Eksanti. Aku cium bibir Eksanti dalam-dalam. Eksanti menyambut dengan menyedot dalam-dalam bibirku. Disedotnya pula lidahku. Lalu turun ke leher dan akhirnya aku hisap-hisap puting susunya yang menantang. Eksanti melenguh-lenguh. Tangannya memeluk kepalaku, mengusap-usap dan menekan agar aku lebih dalam mengulum bukit dadanya. Capek.

Aku cium mulutnya dengan ganas. Tanganku meraba-raba pahanya, lalu mengusap-usap lembut rambut kewanitaanya, berulang-ulang. Jari tengahku lalu memasuki celah sempit kewanitaannya. Aku masukkan perlahan-lahan. Keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. berulang-ulang. Kepala Eksanti bergerak-gerak tak beraturan ke kiri, kanan, kadang maju, mundur. Sepertinyanya ia mulai on lagi. Aku pindah lagi. Aku jilati putingnya dengan lidahku. Aku puntir-puntir, aku sentuh-sentuh dengan ujung lidah. Lalu aku hisap dan aku kunyah. Berulang-ulang. Matanya terpejam menikmati permainanku. Bibirnya aku lihat meringis menahan nikmat. Jari tengahku menemukan klitorisnya. Aku mainkan. Aku tekan, aku gelitik dan aku tangkap dengan jempolku lalu aku pencet pelan-pelan. Eksanti makin menggelinjang. Keringat mengucur di wajah dan lehernya.

“Aaacchh..”, Eksanti menjerit dan menegang. Entah berapa lama keadaan ini berlangsung, ketika pada saatnya terdengar Eksanti mulai mendekati orgasme kesekian kalinya. Tangannya merangkul pundakku, mendekap tubuhku erat seakan ingin mengajakku ikut dalam gelombang orgasmenya. Nafasnya makin memburu, terdengar jelas di telinga kananku. Aku pun meningkatkan kecepatan penetrasi jemariku untuk membantunya mendapatkan puncak berikutnya.
"Eeegghhh... Mass... aacchhh..." jerit Eksanti tertahan saat gelombang orgasmenya benar-benar datang menggulungnya, menelannya kembali ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam. Tanganku terjepit di antara pahanya. Sejenak Eksanti terdiam.
"Nikmatt..., sekalii.. mas…", desahnya sambil memandangku.

Aku menghentikan pergumulan kami sejenak, memberinya kesempatan untuk kembali mengatur nafasnya seusai melewati puncaknya yang kedua. Aku hanya memberikan senyuman dan kecupan lembut di keningnya saat pada akhirnya Eksanti mulai membuka matanya.
"You're so lovely tonight", bisikku padanya.

Aku turun dari tempat tidur. Aku setel AC menjadi 28 derajad. Hembusan hawa agak dingin mulai menyapu ruangan. Lampu utama aku matikan. Juga lampu dekat kamar mandi. Pintu kamar mandi aku tutup agar cahayanya tidak masuk. Yang menyala hanya lampu kecil di kedua sisi atas tempat tidur.

Aku berdiri di samping tempat tidur. Aku memandang tubuh Eksanti yang bugil tanpa selimut. Indah, sempurna. Berkulit putih bersih tanpa ada cacat atau bekas goresan atau luka setitik pun. Kedua tangannya ditarik ke belakang kepala. Rambutnya tergerai di kedua sisi bantal. Matanya terpejam seperti menikmati orgasme yang baru saja aku berikan lewat jemari tanganku barusan. Dadanya menantang. Putingnya mencuat. Wajah, leher dan dadanya basah oleh keringat. Seksi sekali.

Aku layangkan pandangan ke bawah. Perutnya rata, tanpa lekukan lemak. Pinggangnya kecil. Pinggulnya seakan selalu siap ditempel. Rambut-rambut kewanitaannya sebagian menyeruak ke atas. Pahanya juga kecil, panjang, seperti jangkrik. Betisnya panjang. Mulus sekali. Ramping. Jari-jari kakinya lentik. Indah. Jagat Dewa Batara! Mimpi apa aku semalam! Aku menelan ludah. Tanpa sadar aku mengelus-elus kejantananku.
"Jangan masturbasi sendiri..., sini naik Mass..", kata Eksanti dengan lirih mengagetkanku.
Matanya masih terpejam. Eksanti menggeliat. Dadanya dinaikkan. Duhai..., indahnya. Putingnya mencuat. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya ditekuk sedikit. Mulus sekali...

Aku rebahkan badanku di samping tubuh indah Eksanti. Aku miringkan badanku. Aku peluk Eksanti dari samping. Eksanti tetap diam. Matanya terpejam. Nafasnya agak cepat tapi teratur. Kaki kananku di atas pahanya. Lututku tepat berada di tulang kewanitaannya. Aku gerak-gerakkan mengusap rambut kewanitaannya. Kejantananku menempel erat di pinggul sampingnya. Tanganku mengusap-usap payudara kirinya.
"Giliranku...", ujar Eksanti sambil langsung bangun dan duduk bersila di sampingku.
Dipandanginya tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Eksanti tersenyum. Dibasahinya bibirnya dengan lidahnya.

Tanpa basa basi, langsung dipegangnya kejantananku dengan tangan kirinya. Ufff.., Aku memejamkan mata. Dipermainkan di kejantananku. Dicengkeram kuat, lalu dilepas. Cengkeram lagi, lepas lagi. Senut-senut rasanya. Jempol jarinya lalu mengusap-usap topi baja kejantananku. Aku merasa melayang. Apalagi kalau jarinya tepat menyentuh ujung kejantananku. Uuuff..., rasanya tak tergambarkan.

Dengan ganas Eksanti lalu menyerbu mulutku. Dilumat dan dihisapnya bibirku hingga aku sesak nafas. Rambutnya yang agak panjang tergerai menerpa wajahku. Mulut Eksanti terus menerobos mulutku, dan lidahku menyusup masuk ke dalam mulutnya. Bagai ular, aku rasakan bibirnya menari-nari, mematuk-matuk lidahku. Mulut Eksanti menyerbu mulutku yang aku buka dan menghisap lidahku dalam-dalam. Dimainkannya lidahku di mulutnya, dikeluarkan sedikit, dan dihisapnya lagi. Nikmat sekali.

Tangan Eksanti tak kalah aktif. Dikocoknya kejantananku dari lembut, makin cepat, cepat dan lembut lagi. Permainannya ini aku nikmati sambil memejamkan mata. Aku merasa di awang-awang. Tanganku menemukan payudaranya, dan aku remas-remas. Kenyal dan nikmat sekali untuk diremas. Jariku memainkan putingnya dan memang menonjol karena ia juga sangat terangsang.

Eksanti melepas ciumannya dari bibirku dan mulai menciumi wajahku. Dari dahi, kelopak mata, pipi, lalu turun ke leher dan telinga. Dihisapnya telingaku bergantian. Ini membuatku geli namun mm.., nikmat sekali.

Eksanti mulai menciumi dadaku. Sampai di puting, dimainkannya lidahnya di putingku. Bergantian, yang kiri dan yang kanan. Rasanya tak tertahankan. Dihisapnya putingku, dan di dalam mulutnya, putingku dipelintir dengan lidahnya. Aaccchh...

Eksanti kemudian merubah posisi. Tangannya tidak lepas dari kejantananku. Eksanti melangkahi aku, dan dengan perlahan Eksanti hendak mendudukiku.
"Mass... eh..!" teriaknya sedikit terkejut saat tiba-tiba aku menarik kedua tangannya untuk kemudian mendudukkan pantatnya di atas pangkuanku. Punggungku bersandar di kepala ranjang, dan wajah kami saling memandang. Kami kembali berciuman. Perlahan kuangkat tubuhnya, untuk kembali menekankan kejantananku pada liang kewanitaannya. Tangan Eksanti membimbing kejantananku untuk memasuki lubang surgawinya. Dan uuuff.., blesss..., kejantananku masuk ke lubang kewanitaannya. Clep..!, Eksanti langsung duduk dengan mantap. Kejantananku tenggelam di dalam kewanitaan Eksanti. Walaupun kami tengah berciuman, masih sempat kudengar erangan lirihnya saat Eksanti merasakan bagaimana kejantananku perlahan menikam tubuhnya.

Aku membuka mataku. Eksanti tersenyum manis. Dadanya yang indah dengan puting yang menonjol tergantung dengan manisnya. Tanganku tak kuasa untuk tidak meraihnya. Aku usap pelan payudaranya. Juga putingnya.
"Kamu cantik dan seksi sekali Santi...", kataku tulus dan pelan.
Eksanti mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Aku masih diam, tetapi kedua tanganku mengelus-elus kedua bukit dadanya.

Kali ini kubiarkan Eksanti memegang kendali. Aku biarkan bagaimana dengan bebasnya Eksanti memompa diriku. Pundakku dijadikan tumpuan olehnya untuk terus menaik-turunkan tubuhnya di atasku. Aku hanya membantunya dengan meremas buah pinggulnya dan sedikit menaikkan posisi selangkanganku, hingga batang kejantananku terasa makin dalam menghujamnya. Acchh... sungguh suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan bagaimana melihat dirinya terus menyatukan raga kami ke dalam suatu persetubuhan yang sangat intim. Matanya yang terpejam, rambut sebahunya yang sudah mulai dibasahi keringat terurai bebas, bibirnya yang digigitnya sendiri dan tubuhnya yang berguncang-guncang. Ughh... It's really a loveable thing to see.

Eksanti mulai menggerakkan pinggulnya makin cepat. Aku mulai menaik-turunkan pantatku. Nikmat sekali. Tangan Eksanti mendekap tanganku di dadanya. Menekan agak keras. Aku makin mengeraskan cengkeramanku pada payudaranya. Aku remas keras. Eksanti makin menggila. Pinggulnya berputar hebat. Erangan Eksanti makin keras.
"Acchh..., aachh..., tusuk lebih keras...", erangnya.
Aku makin ganas menembak Eksanti. Untung spring bednya bagus, bisa memantul. Makin keras aku menyodok, makin keras desahan dan erangan Eksanti. Dan, “..aaccchh...”, Eksanti mengerang panjang, menggelinjang, lalu diam. Eksanti lalu rebah ke atasku. Aku peluk erat tubuhnya. Ternyata Eksanti mengalami orgasme lagi.

Kejantananku masih tegak dan keras di dalam kewanitaannya. Aku mulai menggerakkan perlahan. Eksanti duduk lagi. Kali ini Eksanti mengambil posisi jongkok. Mulanya diangkatnya pantatnya pelan, lalu dimasukkan lagi pelan. Makin lama makin cepat. Aku juga makin cepat, makin keras dan makin dalam menusuk Eksanti. Gila..!, Bagai naik kuda, Eksanti menghunjamkan kewanitaannya ke batangku di bawahnya. Eksanti mulai mengerang lagi. Dengan binal Eksanti menaik-turunkan pantatnya dan aku serbu kewanitaannya dengan kejantananku.

"Accchh..., achh.. Masss…", Eksanti terus mengerang.
Ketika pantat Eksanti meluncur ke bawah, dengan kekuatan penuh aku naikkan pantatku. Aku sambut kewanitaannya dengan kejantanan perkasaku. Aku tak tahu lagi rasa nikmat apa ini. Berulang-ulang kami mereguk kenikmatan. Mata Eksanti terpejam. Kepalanya tengadah ke atas bergoyang-goyang. Seksi sekali. Keringat deras mengucur dari wajah dan lehernya yang putih bersih.

Pemandangan yang sangat melenakan ditambah dengan kehangatan yang makin erat menghimpit kejantananku, menit demi menit mulai membuaiku ke dalam sensasi kenikmatan sebuah persetubuhan. Terasa sesuatu mendesak, menghimpitku untuk keluar dari dalam tubuhku. Oh My God, aku rasa aku akan sampai puncaknya, pikirku.
"Mass... I'm almost there..." bisik Eksanti lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya memompaku.
"Yes... babe, me too..." jawabku sambil mengecup erat bibirnya.
Selanjutnya terasa bagaimana gelombang menuju puncaknya seakan berpacu dengan gelombang menuju puncakku. Goncangan tubuhnya makin terasa mendesak cairan kejantananku untuk keluar, sementara tikaman batangku semakin menghadirkan sensasi kenikmatan suatu orgasme yang hanya tinggal sejengkal dari raihannya.
"Aaacchhh... Mass..." jeritnya lirih memanggil namaku saat ternyata gelombang orgasme lebih dahulu menyapanya.

Aku merasa hampir sampai. Aku percepat tusukanku.
“Acchh..., acch..., achh..., cepat..., cepat”, Eksanti juga makin liar. Gerakannya makin tak beraturan.
"Aku mau keluar Sannn..", bisikku pada Eksanti, Eksanti diam saja. Terus saja dia menggoyangku. Dan, ”….Aaaacch...”, Eksanti menjerit lagi. Kejang. Menggelinjang lagi. Orgasme lagi dia! Kurasakan jepitan bibir kewanitaannya semakin kencang, seolah memijat-mijat batang kejantananku.
"Santiii..., di dalam atau di luar..?", tanyaku sambil ngos-ngosan karena terus menggoyang Eksanti.



Eksanti, Affair Pertamaku - 4

Eksanti kemudian mencabut kewanitaannya dari kejantananku. Dikocoknya kejantananku dengan cepat. Aaacchh..., makin cepat Eksanti mengocoknya, berulang-ulang. Tapi belum juga keluar.
"Kulum Santiiiii…., please", pintaku.
"Aku belum pernah….", jawabnya sambil terus mengocok.
Namun Eksanti kemudian menunduk dan memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya. Tangannya tetap mengocok. Eksanti tidak memainkan lidahnya atau mengemut-emut kejantananku. Mungkin masih janggal. Aku yang mulai. Aku naik turunku pantatku. Kejantananku keluar masuk mulut Eksanti yang terus mengocok. Aku masih sempat meneruskan tikaman kejantananku beberapa kali lagi hingga pada akhirnya...
"Santiii..., aku keluaarrr...!" teriakku sambil mendekap erat tubuhnya.

Dan, acchh..., acchh..., eeemm..., berkali-kali cairan cintaku muncrat di dalam mulut Eksanti. Terasa bagaimana derasnya cairanku menyembur keluar, di sela-sela gulungan ombak ejakulasi yang menenggelamkanku dalam suatu sensasi kenikmatan yang sangat dahsyat. Namun Eksanti tetap saja mengocok. Aku merasa diperas sampai habis benih-benih nikmatku. Agak lama kejantananku berada di dalam mulut Eksanti. Ketika sudah loyo, Eksanti mengeluarkan kejantananku.

Diambilnya tissu dan disekanya bibirnya. Dikeluarkannya cairan cintaku dari mulutnya dan diseka dengan tissu berikutnya. Kemudian Eksanti mengambil coca cola, berkumur dan ditelan. Aku pandangi Eksanti yang luar biasa dengan perasaan kagum. Eksanti tersenyum padaku. Dalam beberapa saat ke depan kami hanya mampu berpelukkan erat, untuk kemudian bersisian rebah di ranjang.
"Thanks honey, you're so great..." bisikku sambil mengecup lembut bibirnya.
"Acchh... Mass..." lirih suaranya terdengar, seakan ingin mengatakan hal yang sama kepadaku
Kemudian dipeluknya aku. Kami masih telanjang. Aku tarik selimut. Aku peluk Eksanti erat-erat.

******

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dari jendela kamar ini terlihat bagaimana lengangnya jalan tol Simatupang yang melintas di atas sana. Hanya lampu jalanan yang mengerjapkan cahaya kuningnya yang menandakan maasih adanya kehidupan di sana. Sesekali masih melintas mobil menuju arah Pondok Indah atau ke arah Cawang. Kami hanya duduk menatapnya tanpa banyak berkata-kata. Aku genggam erat Eksanti dalam dekapanku, menatap kesunyian tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh kami. Terkadang aku dengus lembut telinga Eksanti, yang selalu saja diiringi desahan manjanya. Ah.. betapa romantisnya, memandang cahaya lampu lewat tengah malam tanpa selembar busana pun yang melekat.

Tak terasa sudah lebih dari lima belas menit kami berdua tertegun memandang jalanan, sejak gelombang-gelombang orgasme tadi menelan kami berdua dan menenggelamkan hingga ke dasarnya.
"Mas, Eksanti pengen mandi lagi rasanya," tiba-tiba suara Eksanti mengejutkanku.
"Ya udah sana mandi..," jawabku.
"Ehh.. pintunya jangan dikunci yaa.., siapa tau ntar aku mau nyusul," godaku lagi.
"Huuh... maunya, aku sudah lemess…," sahut Eksanti manja sambil menjentikkan telunjuknya di hidungku dan kemudian berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Selanjutnya aku hanya terdiam, melanjutkan lamunanku sendiri. Mengingat betapa beberapa menit yang lalu aku telah melalui sebuah permainan cinta yang sangat indah. Kali ini sungguh berbeda rasanya, lembut dan melenakan. Sungguh jauh lebih indah dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman terdahulu, dengan beberapa wanita yang sempat hadir dalam malam-malamku. Entah mengapa tiba-tiba timbul keinginanku untuk selalu berdekatan dengan Eksanti. Hanya beberapa menit ia tinggalkan (dan itupun hanya untuk mandi), rasa kehilangan itu sudah hadir dalam benakku.

Tanpa aku sadar telah aku langkahkan kakiku ke arah kamar mandi untuk menyusul Eksanti. Krek... terdengar pelan suara handle pintu kamar mandi yang kuputar. Hmm... ternyata memang Eksanti tidak menguncinya. Perlahan aku buka pintu untuk kemudian kembali mendapatkan suatu pemandangan yang sangat memukau. Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Eksanti tengah menikmati pancuran air dari shower yang membilas lembut tubuhnya. Kaca penutup shower menghalangi pandanganku karena telah tertutup uap dari air hangat yang Eksanti gunakan. Entah mengapa pemandangan yang tersamar ini membangkitkan kembali gairahku. Terasa bagaimana kejantananku mulai menunjukkan reaksinya.

Perlahan aku buka pintu kaca shower untuk kemudian mendekap tubuh Eksanti dari belakang.
"Hei...!" seru Eksanti terkejut sesaat menyadari ada orang lain yang berada dalam kotak showernya.
"It's me honey..." kataku menenangkan sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya.
"Ughh... Mass..." lenguh Eksanti pendek. Terus aku daratkan ciuman bertubi-tubi ke tubuhnya. Kadang di leher belakangnya, kadang di punggungnya, terkadang pula kulumat bibirnya. Kami berciuman di tengah derasnya pancuran shower yang membasahi tubuh kami. Ingin sekali rasanya aku tikamkan kembali kejantananku dari belakang ke dalam liang kewanitaannya, menikmati sensasi bercinta di sebuah shower yang deras menghujani tubuh kami dengan butiran-butiran air.

Setelah aku rasa percumbuan kami cukup untuk kembali membuatnya bergairah, perlahan aku tuntun batang kejantananku ke dalam liang kewanitaannya. Sejenak terasa lembut dan hangat tatkala kejantananku menempel pada bibir liang kewanitaannya, sebelum aku hentakkannya menerobos hingga ke pangkal batangku.
"Arrggghh..." jerit Eksanti tertahan ketika ia mulai merasakan dirinya sesak dipenuhi oleh desakan kejantananku. Aku mulai memompanya perlahan, keluar dan masuk. Eksanti membuka kedua kakinya lebar sambil kedua tangannya bertumpu pada kedua keran panas-dingin pada shower. Kami kembali bercinta, bergumul dalam desakan arus birahi yang memenuhi kepala dan tubuh kami. Kami bercinta di bawah siraman kehangatan shower yang terus menghujani tubuh kami tiada henti. Terdengar sayup-sayup deru nafas Eksanti diantara derasnya suara air yang tumpah keluar dari shower. Aku lingkarkan tangan kananku di leher Eksanti ketika aku daratkan tangan kiriku untuk mempermainkan puting kanannya, sambil tentunya terus memompanya dari belakang.

Terus aku tikamkan batang kejantananku ke dalam liang kewanitaannya tiada henti. Menit demi menit berlalu, mengiringi persetubuhan kami yang sangat indah. Terasa bagaimana semakin ketatnya lubang kewanitaan Eksanti kian menghimpit kejantananku. Tiba-tiba kedua tangan Eksanti menjangkau tangkai shower yang terpaku pada dinding bagian atas kepalanya, mendongakkan kepalanya seraya melenguhkan erangan yang begitu menggairahkan perasaan, "Occhh Massss... ahhh..."

Ternyata Eksanti kembali meraih orgasmenya yang menariknya kembali ke dalam kenikmatan yang bergulung-gulung mendera batinnya. Aku dekap erat tubuhnya, menjaganya dari kelimbungan yang mungkin dapat saja menghempaskannya ke lantai marmer yang kami injak. Beberapa saat tetap aku dekap erat tubuhnya, sampai pada saat akhirnya Eksanti mulai dapat menggerakkan dirinya sendiri. Kami sejenak bertatapan, perlahan aku cium lembut bibirnya.
"You're wonderful, Babe," pujiku saat dia mulai membuka matanya dan memandang ke arahku.

Eksanti membalikkan tubuhnya dan memelukku erat. Aku cium kembali bibir Eksanti sambil aku angkat tubuhnya meninggalkan kotak shower tempat kami memadu nafsu. Aku rebahkan tubuhnya di lantai marmer kamar mandi dengan perlahan. Kembali aku letakkan kejantananku di bibir kewanitaannya seraya perlahan mendorongnya masuk ke dalam. Sejenak aku lihat Eksanti mengigit bibirnya sendiri, seakan tengah menikmati sensasi penetrasi batang kejantananku ke dalam liang kewanitaanya.

Kembali aku pompakan kejantananku ke dalam tubuh Eksanti, membiarkan tungkainya bersandar di pundakku untuk kemudian membuat kami terbang meraih kenikmatan duniawi dengan lembut dan perlahan. Terus aku setubuhi tubuh Eksanti yang tergolek di lantai, mencoba mengimbangi gerakan pinggulnya yang makin menjepit batangku.
"Eksanti, Mas mau keluar..." bisikku lirih saat mulai kurasakan sesuatu mendesak keluar dari batang kejantananku, setelah beberapa waktu berlalu.
"Yes Maass…., semprotkan ke dadaku, please…." sahut Eksanti sambil mengecup perlahan bibirku sejenak.

Terus aku pompakan batang kejantananku untuk mencapai puncak ejakulasiku yang ketiga sejak malam hari tadi. Aku mencoba untuk menahannya selama mungkin, namun usahaku tidaklah banyak membawa hasil, karena tidak berapa lama kemudian aku pastikan bahwa benteng pertahananku tidak akan bertahan lama lagi. Sempat aku hujamkan beberapa kali lagi kejantananku ke dalam liang kewanitaannya sebelum berteriak keras seraya menarik keluar batangku dan memuntahkan isinya, membajiri seluruh permukaan dada Eksanti.

"Accchhh... Aku keluaaarrr..." teriakku parau.
"Yes... ehhhmmm..." erang Eksanti tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, karena dirasakannya cairan kejantananku ternyata juga mendarat di wajah dan rambutnya.
Cukup lama aku meregang diriku dalam orgasme yang sangat dahsyat, dimana Eksanti ikut membantunya dengan mengurut-urut batang kemaluanku, menghabisi cairan yang mungkin masih tersisa di dalamnya. Aku cium bibirnya dalam-dalam sambil mengucapkan terima kasih atas klimaks yang baru saja aku dapatkan, sebelum akhirnya merebahkan diriku di sampingnya.

******

Pukul 5 pagi hari, aku tersadar dari tidur dengan mendadak. Di sampingku tergolek tubuh Eksanti yang tidur memunggungiku sambil aku peluk dari belakang. Sejenak aku coba mengingat-ingat apa yang baru saja aku alami. Samar-samar aku mulai mengingat bagaimana sekitar dua setengah jam yang lalu aku lalui sebuah klimaks yang dahsyat dalam dekapan Eksanti di lantai kamar mandi. Yaa.. aku ingat bagaimana kemudian kami saling membersihkan diri, mengeringkannya untuk kemudian menikmati tidur dalam posisi saling berpelukan.

Terasa dinginnya udara AC kamar menjalari tubuhku yang tidak ditutupi selembar kain pun saat aku singkapkan selimut untuk kemudian mencari pakaianku yang berserakan di lantai kamar yang ditutupi karpet bernuansa maroon. Aku kecup lembut kening Eksanti saat telah lengkap aku berpakaian. Terdengar lirih suara Eksanti saat dia mulai tersadar sedikit demi sedikit dari tidurnya. Aku kecup bibirnya saat dia benar-benar telah membuka matanya, memandangku dengan suatu tatapan yang sangat sulit ditebak artinya. Tatapan sayangkah itu?

******

Jam mobilku menunjukkan pukul 05.30 pagi, ketika dengan santai aku kendarai mobilku membelah jalanan yang masih lengang sambil mendengarkan musik yang mulai dimainkan radio-radio swasta yang mulai mengudara. Aku baru saja mengantarkan Eksanti kembali pulang ke rumah kostnya di sekitar jalan Radio Dalam, sedangkan aku langsung berangkat lagi menuju kantor. Toh di dalam bagasi mobilku selalu tersedia baju ganti, dan aku bisa membersihkan diri di Executive Toilet di kantor nanti. Aku memang harus segera pergi dari sisi Eksanti, setidaknya untuk hari ini, karena dia harus segera berbenah untuk berangkat ke kantor lagi. Sungguh, apa kata orang nanti kalau aku datang bersamanya ke kantor di pagi hari begini, apalagi dengan pakaian kusut yang belum diganti sejak kemarin.

“But no business talks allowed”, masih terngiang di telingaku perkataan Eksanti saat aku ajak dirinya melewatkan malamnya menikmati suasana romantis semalam. Yaa... semoga memang begitu keadaan selanjutnya. Terus terang aku paling tidak mau mencampurkan urusan pekerjaan dengan pribadi.

Dalam hati aku masih sedikit terbersit harapan untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Masih terasa bagaimana Eksanti mengecup lembut bibirku saat dia melepasku sebelum dia turun dari mobilku. As I said before, everything seems so right when we're together. Is she the Miss. Right for me after I've been looking for all over places? Why do I feel that she's the one, eventhough I have known her deeply only by a day. Biarlah waktu yang menjawabnya, karena orang bijak berkata hanya waktulah yang dapat secara pasti menentukan apa yang akan kami jalani di masa depan, sepasti sinar matahari yang selalu menyapa penduduk bumi setiap pagi.

Seperti saat ini, dimana sinar matahari yang pertama jatuh menemani perjalananku menembus lengangnya jalanan kota ini. Sungguh beruntung sekali. Tak terduga. Tak dinyana. Aku bisa bercinta dengan gadis secantik Eksanti, berulang kali tanpa rencana.

*****

Siang hari di kantor, ketika aku sedang menulis cerita ini, ada email masuk dari Eksanti yang isinya, "Mas, nanti sore kalau boleh Eksanti ikut lagi, yaa..? ".
“Apakah aku sedang bermimpi…?”



Eksanti, The Beginning - 1

06/12/96, The true story begin...

*****

Aku adalah seorang manajer disebuah perusahaan multinasional yang cukup ternama di Jakarta. Mungkin karena prestasi kerjaku yang dinilai lumayan oleh atasanku, maka pada usiaku yang baru menginjak kepala tiga ini, aku telah diberi kepercayan untuk menangani penjualan produk perusahaanku untuk berbagai area di Indonesia. Tugas ini mengharuskan aku untuk sering melakukan perjalanan ke luar kota, disamping itu kesibukan ini juga seringkali menyita hampir seluruh waktuku. Aku sering harus masih tinggal hingga larut malam di kantor, bahkan kadang-kadang juga masuk ke kantor pada saat week end, ketika teman-temanku yang lain sedang menikmati waktu istirahatnya di rumah. Untunglah segala jerih payahku ini juga mendapatkan kompensasi yang memadai dari perusahaan. Aku memiliki sebuah ruang kerja yang cukup luas dan nyaman, selain itu akupun dibantu oleh seorang asisten yang cantik..., Eksanti namanya.

Sebenarnya Eksanti sudah cukup lama membantuku sebagai asisten. Walaupun dalam struktur birokrasi perusahaan Eksanti adalah bawahanku, namun sebenarnya aku lebih senang memperlakukannya sebagai seorang teman. Hal itu bukan karena aku ingin membedakan perlakuan dengan anak buahku yang lain, namun memang aku tidak suka dengan hal-hal yang bersifat formal. Maka tidak heran bila lebih banyak anak buah yang memanggilku dengan sebutan “Mas”, ketimbang “Bapak”. Demikian pula dengan Eksanti, karena memang usia kami cuma terpaut kira-kira 3-4 tahun, sehingga memang lebih pantas baginya untuk memanggilku dengan sebutan “Mas”.

Walaupun demikian, Eksanti juga selalu bisa memposisikan dirinya, hingga meskipun kami sering bercanda namun sejauh ini hubungan kami adalah murni sebagai layaknya atasan dengan bawahannya. Kecantikan, keramahan dan kegesitannya telah menjadikan Eksanti sebagai sosok yang sempurna, sehingga aku sering mendengar bahwa banyak rekan-rekan sekantorku yang naksir kepadanya. Aku tidak begitu mengetahui apakah Eksanti telah memiliki pacar atau belum. Aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal semacam itu, karena aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Terus terang sebelum kejadian itu, aku hanya sempat memperhatikan Eksanti untuk urusan-urusan kantor, namun entah mengapa hari itu dengan cepat telah merubah hubungan kami berdua... begini ceritanya...

Sore itu, pukul 16.30, langit mendung menyelimuti kota Jakarta, sehingga suasana di luar sudah sangat gelap. Tiba-tiba aku mendengar bunyi gemericik air menimpa kaca ruangan di lantai 25 gedung kantor kami. Aku menolehkan kepalaku ke arah jendela ruanganku, ternyata hujan telah turun lebat sekali, dengan sesekali diiringi oleh kilatan petir yang tampak membelah langit hitam. Cuaca di luar menambah suhu udara di dalam ruangan kantor itu terasa dingin sekali.

Ketika aku kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku, tiba-tiba aku mendengar ketukan di pintu ruang kerjaku. “Masuk!!”, aku menyahuti ketukan itu. Sesaat kemudian pintu terkuak, dan ternyata Eksanti yang meminta ijin untuk masuk ke dalam ruanganku untuk mengantarkan sesuatu berkas. Eksanti mendekat ke meja sambil menyodorkan berkas-berkas yang harus aku tandatangani. Aku memandangnya sesaat, ia mengenakan blouse kaos warna hitam ketat, yang dibalut dengan blazer warna biru cerah. Rok span warna hitam kira-kira setinggi 5 cm di atas lututnya membalut erat pinggulnya dengan masih menyisakan keindahan kakinya yang jenjang. Terus terang aku sangat menyukai bentuk kakinya yang kecil, langsing dan panjang itu, dan sepertinya Eksanti-pun juga menyadari ‘potensi’ kakinya itu, karena ia hampir selalu mengenakan rok yang menampakkan keindahan bentuk kakinya. Walaupun begitu ia tidak tampil seronok, namun elegant dan sangat sexy.. begitulah memang penampilan sehari-hari asisten ku yang cantik ini.

Seperti biasa ia meyodorkan kertas-kertas itu satu persatu, sambil menunjukkan mana-mana berkas yang harus aku tandatangani. Ia berdiri tepat di samping tempat dudukku, badannya membungkuk ke arahku sambil jemari tangannya yang lentik memilah-milahkan kertas-kertas yang telah selesai aku tandatangani. Posisi tubuhnya sangat dekat kearahku sehingga membuatku secara tidak sengaja bisa merasakan dengan sangat jelas bau harum parfumnya.

Sambil tetap menggoreskan tandatanganku, aku bertanya dengan nada jahil seperti biasa, "Santi pakai parfum apa sih, kok baunya harum sekali?". Dengan tersenyum tersipu Eksanti menjawab pertanyaanku dan menyebutkan merk parfum favoritnya tersebut. Seperti biasa ia memang selalu malu-malu jika sifat jahilku muncul, dan matanyapun tidak berani menatap ke arahku.

Entah mengapa, mungkin karena cuaca dingin saat itu, maka sifat jahilku makin menjadi-jadi. Ketika aku telah menyelesaikan seluruh tandatanganku, aku menutup pulpen sambil menatap lurus ke arah dua bola mata indahnya dan kembali bertanya, "Aku suka sekali bau parfum kamu itu. Boleh nggak kalau aku menikmatinya lebih jelas lagi?".
"Boleh, saja tapi gimana caranya?", Eksanti balik bertanya, masih dengan nada malu-malu.
“Please, mendekatlah kemari”, aku menjawab

Lalu Eksanti beranjak lebih merapatkan ke arah tempat dudukku, dekat sekali. Eksanti menyodorkan kepalanya ke arahku, sehingga ujung hidungku hampir-hampir menyentuh rambut kepalanya yang juga wangi itu. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan bando hitam dengan pita kecil warna hitam di atas rambutnya. Sekali lagi aku menghirup hawa wangi itu dan mencoba mencari sumber wangi parfumnya, yang ternyata berasal dari tengkuk di balik rambut panjangnya yang hitam itu. Secara refleks, tanganku mulai menyibakkan rambut di atas tengkuk lehernya, dan akupun melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang nampak kontras di sepanjang tengkuknya yang putih itu. Aku mendekatkan ujung hidungku ke arah sana, dan..

"Hmm... harum sekali, Santi", begitu desahku dan akupun sedikit heran karena ternyata Eksanti tidak berusaha melakukan penolakan apapun ketika dengan sengaja aku hembuskan nafas hangatku di sepanjang lehernya. Hal itu membuat aku semakin berani untuk melakukan aksiku lebih jauh lagi. Dengan penuh kelembutan, aku menempelkan ujung hidungku ke atas bulu-bulu halus itu, dan aku mulai mencium tengkuk lehernya dengan mesra. Eksanti menggeliat pelan sambil mendesah mendesah lembut, "Achh... udah Mas, Santi geli Mas...!!".

Aku semakin tidak tahan mendengar desahan lembutnya yang seolah-olah menolakku. Aku sadar sepenuhnya bahwa itu adalah penolakan seekor merpati, yang akan terbang ketika hendak dijamah namun akan mendekat bila kita meninggalkannya. Aku semakin berani, bibirku beranjak mencium ke pipinya dengan lembut, lalu perlahan berpindah ke bibir tipisnya yang merah merekah. Tak dinyana, Eksanti membuka mulutnya, apalagi yang bisa aku hentikan sekarang?. Aku ciumi mulutnya dengan penuh gairah, lidah kami saling bertautan dan bergulat dimulutnya. Birahi memuncak di ujung kepala.

Aku mengulum-ngulum bibirnya, lembut sekali. Lidah kami saling beradu, dan aku merasakan lidah Eksanti yang membalas hangat dengan mengulum lembut bibirku, membawa kami pada rasa nikmat dan debaran jantung yang luar biasa. Sementara itu bunyi printer diluar kamar kerjaku terasa sedikit mengganggu, namun kami berdua seolah tidak mendengarnya, karena gejolak birahi itu telah panas membakar dalam darah kami.

Sementara itu, sihir birahi makin memenuhi ubun-ubun, tangan kananku yang semula diam, pelan-pelan meraba dadanya, kenyal dan padat, sambil perlahan-lahan menggosok-gosokkan memutari payudaranya. Pelan-pelan jemariku berusaha membuka kancing blazer birunya satu persatu. Eksanti masih memejamkan mata, menikmati remasan di dadanya. Setelah semua kancing blazernya terbuka, tanganku mulai masuk kedalam sela-sela blouse kaos-nya, dan tangan Eksanti-pun secara refleks meraba-raba lembut di sekujur punggungku. Pelan-pelan aku mulai melepaskan kancing belakang BH nya, dan aku melepaskan BH dari balik blouse kaos yang Eksanti kenakan. Aku merundukkan kepala sambil menggigit ujung bawah blousenya, lalu menariknya ke atas dengan jepitan gigiku. Kini tampaklah menyembul di dadanya, bukit indah ranum dengan kulit sedemikian halus. Tak bisa tertahan lagi, aku tarik ke atas bra yang dipakainya. Sempurna!, payudara yang kenyal, kencang dan puting yang kecil kemerahan sebesar ujung korek api. Terbersit pikiran, puting payudara ini belum pernah digigit atau diremas oleh lelaki manapun!. Putingnya masih sangat perawan!.

Payudara Eksanti tidak terlalu besar, namun nampak kenyal dan sangat terawat, sungguh nampak sexy sekali di mataku. Aku semakin tidak bisa menahan gejolak rasa birahiku menyaksikan pemandangan indah itu. Aku mulai menggeserkan bibirku untuk menciumi lehernya yang panjang dan putih itu sambil meremas-remas lembut kedua payudaranya. Terasa putingnya mulai mengeras di tanganku. Aku masih memilin-milin lembut puting merah kecoklatannya itu, sambil lidahku terus menjilati di sepanjang leher dan dadanya.

Akhirnya bibirkupun sampai ke atas putingnya. Dengan segenap napas kuda, langsung aku mengisap puting payudara kanannya, sementara tanganku juga tidak tinggal diam, meremas payudara yang lain, demikianlah terus-menerus bergantian. Eksanti yang semula hanya memejamkan mata terdiam, mulai berdesis-desis pelan, menikmati sesuatu yang kemungkinan belum pernah dirasakannya. Aku menjilat-jilat puting kirinya dan Eksantipun mendesah lembut "Achh...", sementara tanganku yang lain tetap meremas-remas mesra payudara kanannya. Lalu mulutkupun berpindah ke sisi dada kanannya, dan aku menjilat puting itu sambil tanganku menuju ke bawah di sela perut dan pahanya. "Achh... Mas terus Mas...", begitu desahannya. Putingnya semakin mengeras dan menyembul di atas payudaranya, seakan-akan menantang birahiku. Aku belum merasa cukup, mengisap dan menjilati payudaranya, aku mulai bergerak turun, menjilati perutnya, naik-turun. Desis Eksanti terus semakin cepat, sungguh hanya kenikmatan semata yang kini dirasakannya.

Aku semakin tidak tahan, kepalaku terus bergeser semakin ke bawah, aku berjongkok dan sekarang bibirku telah menyentuh perutnya. Lidahku segera menyapu-nyapu lembut di sekitar pusernya yang bersih itu, lalu semakin turun ke bawah lagi menuju bulu-bulu lembut di sekitar bibir kewanitaannya. Mendadak aku berhenti, aku ingin melihat matanya. Aku takut kalau ia menolak untuk tindakanku lebih jauh. Eksantipun membuka matanya, tetapi dari sinar matanya yang biasanya berbinar-binar, sekarang meredup, setengah terkatup. Dilihatnya pula mataku, aku tersenyum kepadanya

Suara desis dari mulut Eksanti makin cepat dan berat, ia sudah tidak lagi bisa berhenti. Aku sudah sampai ke tahap berikutnya, Eksanti sudah kehilangan pertahanan dirinya, aku harus cepat, kalau tidak, permainan ini bisa mendadak berhenti. Hup! dengan mendadak aku berusaha melepaskan celana dalam satin yang membungkus kewanitaannya dengan menggunakan gigiku. Eksanti kaget dan terbelalak, tetapi sebelum dia tersadar lebih lanjut, aku sudah membenamkan wajahku di antara kedua belah pahanya yang putih mulus itu, sembari menjilati paha dalamnya, dan ujung hidungku yang yang menyentuhi celana dalamnya. Celana dalamnya berenda-renda berwarna krem kulit, dan dari ujung hidungku, aku merasakan celana dalamnya sudah basah kuyup karena ia telah sangat terangsang. Eksanti masih membuka matanya dengan nanar. Dia melihat kepalaku yang tengah berada di antara pahanya.

"Eksanti, tutuplah matamu. Aku tidak akan menyakitimu" aku berkata pelan dan lirih, sambil tersenyum penuh pengertian padanya. Eksanti, kembali memandangku, dan pelan-pelan kembali menutup matanya. Eksanti, tidak mampu lagi menolak, ia kembali melemah, Eksanti sudah ada sepenuhnya ditanganku. Aku kembali menjilati paha dalamnya, tanganku sekarang mulai ikut bekerja, aku tarik pelan ujung bawah tepi celana dalamnya kesamping. Kini tampaklah bukit kewanitaannya, dengan rambut hitam yang sebagian menutupi. Bukitnya tampak sangat mulus dengan belahan bukit yang sangat rapat, kecil dan tidak bergelombang sedikitpun. Lidahku mulai menjilati belahannya, sementara tanganku tetap terus memegang tepi celana dalamnya. Aroma khas kewanitaan menyergap hidung, cairan yang terus membanjir dari kewanitaannya bercampur dengan air liurku, makin membuat aku bersemangat. Mulut Eksanti makin berdesis, sekarang ditingkahi dengan suara-suara kecil "occhh.. occhh.." berulang-ulang. Sungguh hanya nikmat semata yang ia rasakan.



Eksanti, The Beginning - 2

Aku tidak sabar lagi, sembari kembali menjilati paha dalamnya, mulut dan gigiku kemudian segera beralih memegang ujung tepi atas celana dalamnya. Dengan sekali tarikan panjang!, lepaslah sempurna celana dalamnya. Kini tampaklah bukit indah di antara pahanya yang terpampang penuh, dengan rambut hitam segitiga, dan yang teristimewa, ada rambut halus memanjang di atas rambut kewanitaannya, menuju ke arah pusar. Inilah yang makin membuat aku terpesona, karena aku pernah mendengar dari teman-teman dekat, bahwa ciri istimewa dari putri atau cucu dalam raja-raja Jawa, adanya rambut halus memanjang ini.

Ketika celana dalamnya yang berenda-renda indah itu telah melorot diantara kedua pahanya, maka aku segera bisa melihat serta mencium bau wangi khas yang aku inginkan selama ini. Tentu aku makin bersemangat. Kini, kedua tanganku, terutama ibu jariku, memegang tepi-tepi kewanitaannya untuk membuka lubang rahasia itu lebih jauh, kini tampaklah semuanya. Betul!, bibir dalam kewanitaan Eksanti sangat utuh, lurus dan bagus, dengan warna semburat kemerahan, dan lubang sempit yang berada di dalamnya. Segera saja aku langsung menjilat-jilat bulu halus di sekitar kewanitaannya. Dengan penuh nafsu pula, aku jilati semuanya, terutama klitorisnya, yang makin terasa keras di ujung lidahku, terus-terus-terus, aku jilati, bagaikan tidak ada hari esok. “Hmmm... harum sekali wanginya”, desahku dalam hati, sambil mengagumi kepiawaian Eksanti dalam merawat tubuhnya. Eksanti merintih pelan, "Aduh Mas... Santi tidak tahan...".

Aku semakin berani, lidahku menjilat-jilat bibir kewanitaannya yang mulai membasah. Aku menghirup aroma wangi itu sambil terus lidahku menjilat-jilat liang kewanitaannya sampai menyentuh ujung klitorisnya. Eksanti semakin mengerang-ngerang dan klitorisnyapun kini telah menegang. Tanganku yang semula memegang buah pantatnya sekarang menuju ke atas kembali ke arah dadanya, seraya jemariku memilin-milin putingnya yang semakin mengencang. Eksanti semakin mengelinjang hebat, dan hampir mencapai klimaks, dan aku semakin merasakan derasnya air harum yang mengalir dari dalam lubang kewanitaannya. Aku terus menjilat-jilat hingga Eksanti duduk terhempas di atas kursiku seraya meremas-remas seluruh rambut kepalaku.

Desis Eksanti sekarang telah hilang, hanya muncul suara-suara "occhh.. occhh.." berulang kali dan tarikan napas yang makin panjang, berat dan dalam. Aku terus menjilati kewanitaanya. Setelah sekitar 20 menit, ujung lidahku merasakan makin membanjirnya cairan yang keluar dari lubang kewanitaannya, dan lubang itu juga makin sering menguncup dan mengembang. Eksanti menggelinjang keras dan suara eluhan panjang muncul dari bibir mungilnya, ia pun terengah-engah. Eksanti tengah mendaki puncak orgasmenya!. Aku makin keras menjilati klitorisnya, dan aku menghisap pula lubang rahasianya, ia terus mengeluh panjang bagai tak pernah berhenti. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat, dan Eksantipun melentingkan punggungnya seraya kedua kakinya menjepit keras leherku, lalu.., "Mas, Santi nggak tahan lagiii...", Eksanti berteriak kecil mengiringi pencapaian puncak klimaksnya yang pertama. Setelah lenguhan panjang itu, Eksanti bagaikan kehilangan semua daya dan tenaga, ia tergeletak leMas, menutup mata dan bibir tersenyum puas.

Tubuhnya sedikit melemah, dan nafasnya masih memburu ketika jemarinya dengan sigap mulai melepas ikat pinggang dan resliting celanaku. Dengan tidak sabar Eksanti menarik ke bawah celana dan celana dalamku. Maka kejantananku yang sedari tadi sudah mengeras langsung menyembul keluar. Eksanti nampak agak terkejut melihat pemandangan itu. Pada mulanya aku merasakan ada keraguan pada Eksanti, kepalanya tidak segera tertunduk mengikuti kemauan tekanan tanganku yang ada dikepalanya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, segera kejantananku mulai terbenam di mulutnya yang basah. Dengan tidak sabar Eksanti mengulum-ngulum kejantananku itu dengan bibirnya yang mungil, sambil tangannya menarik-narik buah pantatku kearah mulutnya. Sementara aku menaik-turunkan tanganku sambil memegang kepalanya. Eksanti nampaknya belum pernah melakukan hal ini.

"Aduh Eksanti, jangan kena gigi, sakit aku... hisap dan pakailah bibirmu saja", aku sedikit mengeluh sambil memberinya petunjuk. Ternyata Eksanti nampak mengerti dan mengikuti kemauanku. Ia segera mengerti apa yang harus dilakukannya, aku tidak lagi merasakan tajamnya gigi Eksanti. Aku mulai menikmatinya, sementara tanganku tidak lagi memegang kepalanya, namun kembali memulai lagi meremas-remas payudaranya. Menit-menit berlalu, aku mulai merasakan munculnya rangsangan tinggi, spermaku hampir keluar. Eksanti rupanya tidak mengetahui hal itu. Aku kembali memegang kepalanya, menaik-turunkannya, agar kecepatannya sesuai dengan yang aku inginkan.

"Ouuggghh... enak sayanggg...", begitu erangku, ketika kejantananku hampir seluruhnya masuk kedalam mulut kecilnya. Eksanti menjilat-jilat kepala kejantananku lama sekali sampai-sampai seluruh otot-otot tubuhku menegang.
"Sayang, aku sudah tidak tahan lagi...", begitu eranganku.

Seperti ada komando khusus, kami saling memposisikan diri. Aku menarik kejantananku dari mulutnya, dan aku arahkan ke lubang kewanitaannya sementara Eksanti berdiri dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Kami berdua berdiri berhadapan rapat, lalu sambil dituntun tangan Eksanti, aku menekan kejantananku dalam-dalam. Pelan sekali, lembut sekali...
"Aaaacch!" Eksanti menjerit sambil memejamkan matanya erat-erat. Kejantananku yang kenyal-keras itu menerobos masuk dengan lancar, langsung membentur bagian yang paling dalam,... langsung memicu orgasmenya. Cepat sekali!

Sambil bertelektekan di bibir meja, aku menenggelamkan mukaku di leher Eksanti yang sudah dibasahi keringat. Sambil mencium dan menggigit-gigit kecil, aku mulai menggenjot, mengeluar-masukkan kejantanannya penuh semangat. Eksanti mengangkat kedua kakinya, memeluk pinggangku erat-erat, mengunci tubuhku yang juga sudah berkeringat itu kuat-kuat. Perjalanan menuju puncak birahi dimulai sudah...
"Aaacch... yang keras, Mas..!" desah Eksanti, merasakan orgasmenya yang kedua sudah akan tiba, dan ia ingin digenjot sekeras-kerasnya!
Aku menekan lebih keras lagi, sampai kadang-kadang meja kerjaku seperti bergeser diterjang tubuh kami berdua. Pangkal kejantananku -bagian paling keras itu- membentur lingkar-bibir kewanitaan Eksanti yang sedang berdenyut-denyut mempersiapkan ledakan pamungkas.
"Aaachhh..!" Eksanti menjerit merasakan ledakan pertama menyeruak dari dalam tubuhnya, "...Ngga tahan, Mas... Aaacchh..!"

Permainan cinta pertama ini berlangsung cepat sekali bagi Eksanti. Tidak lebih dari 15 menit. Tetapi dilakukan dengan sangat bergairah, sehingga setelah ia mencapai puncak, ia rubuh di atas kursiku. Aku berhasil menahan lava panasku dan mengikutinya menubruk tubuh Eksanti di atas kursi. Eksanti tersengal menahan tubuhku, dan terduduk di kursiku tak berdaya dengan sendi-sendi yang seperti copot! Sementara itu kejantananku yang keras menegang masih menancap erat di dalam liang kewanitaannya.

Semenit kemudian, ketika tenagaku kembali pulih aku mulai menggoyangkan kembali buah pantatku. "Achhhhh...", begitu desahnya begitu kepala kejantananku kembali menyentuh bibir kewanitaannya.
Aku desakkan pelan-pelan kejantananku, dan Eksantipun menarik buah pantatku ke arahnya. "Auggghhhhh... enak Masss", begitu desahnya ketika seluruh kejantananku kembali telah terbenam di dalam lubang kewanitaannya.

Lalu aku menarik, mendorong, menarik lagi, mendorong lagi. Aku merasakan kewanitaannya semakin basah. Kewanitaannya yang sempit itu semakin menjepit kejantananku. Dengan irama yang teratur aku menarik dan mendorongkan tubuhku kearahnya, Eksanti menyilangkan kakinya di belakang buah pantatku, sehingga terasa kejantananku terjepit disela-sela bibir kewanitaannya. Makin dalam... dan semakin dalam kejantananku masuk kedalam liang kewanitaannya yang semakin membasah. Kami sama mengerang-erang penuh kenikmatan, dan peluh menetes dari lehernya, aku jilat-jilati peluh itu, aku ciumi seluruh leher dan belakang telinganya.

Lalu ketika irama kami semakin cepat Eksanti berkata "Ayo Mas..., lebih cepat Mas... lebih dalam lagi..., please".
Aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat yang luar biasa, kejantananku semakin cepat dan semakin dalam menusuk-nusuk kewanitaannya, seluruh otot-otot tubuhkuku menegang. "Uchh sayang... enak sekali...", aku mengerang-mengerang sambil terus kugigiti bibirku.

Tak lama kemudian, ketika irama kami semakin cepat tubuhnya menegang sambil meremas rambut kepalaku dan mendesah, "Ougghhhh... Mas, aku enak...sekali..."

Eksanti menjepit buah pantatku dengan menyilangkan rapat-rapat kakinya, dan aku pun menahan napas sambil terus menusuk-nusukkan kejantananku. Dinding-dinding kewanitaannya terasa memijat-mijat kejantananku, sehingga memberikan rasa nikmat yang luar biasa pada diriku. Aku menikmati ekspresi wajahnya yang mengalami orgasme dengan kenikmatan luar biasa yang belum pernah Eksanti alami selama ini, sambil matanya berkaca-kaca karena kenikmatan itu.

Aku terus menekan dan menghujam, ia sendiri juga sudah ingin meledak rasanya. Seluruh perasaannya seperti ingin tumpah ruah sesegera mungkin. Apalagi otot-otot kenyal di kewanitaan Eksanti kini mencekal erat, seperti meremas-remas dan mengurut-urut kejantananku. Aku juga tidak tahan lagi...
"Uuuucch...!", aku menggeram sambil menggenjot keras-keras lima kali.
"Ah-ah-ah-ah-ah!" Eksanti mengerang setiap kali genjotan maha dahsyat itu menerjang tubuhnya. Dan akhirnya, tidak lama kemudian...
"Ouughhhhh... sayang,... Mas keluarrr..." , aku mengerang kenikmatan ketika aku mengeluarkan lava panas dari kejantananku membasahi seluruh lubang kewanitaannya yang telah basah kuyup. "Aaaachh..!" aku kembali mengerang keras, menancapkan dalam-dalam kejantananku dan bertahan di sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh tubuhku.
"Oooocch..!" Eksanti mendesah panjang merasakan cairah panas tumpah ruah di dalam kewanitaannya dan seperti memberi penyedap utama bagi geli-gatal orgasme ketiganya.

Eksanti mendekapku erat sekali, dan kepalakupun terkulai di lehernya sambil menikmati bau keringatnya yang merebak wangi. Lima menit sudah kami saling terkulai, lalu ketika debar jantung kami telah kembali normal, aku menarik kejantananku dari kewanitaannya.

"Eksanti, tolong ambilkan tissue di atas mejaku" , aku berujar pelan. Eksanti bangkit dari duduknya, masih dengan mata nanar, diambilnya kotak tissue di mejaku. Ia kemudian kembali ke arahku, sambil matanya masih memandang kejantananku. "Santi, tolong sekalian di bersihkan yaa.." kataku sambil menunjuk kejantananku. Lalu di lapnya pelan-pelan dan penuh keraguan kejantananku, matanya masih nanar dan penuh tanda tanya.

Meskipun kakiku sedah meleMas, tetapi kejantananku masih menegang keras dan basah kuyup. Matanya nampak sangat gemas memandangi kejantananku, seakan ingin mengulumnya, akan tetapi ia nampak ragu-ragu.. Melihat hal itu, aku kembali mendekatkan kejantananku ke arah mulutnya, lalu Eksanti mencium dan menjilatinya sambil membersihkan lava panas yang masih menempel. Geli dan enak sekali rasanya ketika lidahnya menyapu-nyapu kejantananku itu.

Ketika kejantananku kembali bersih dan meleMas, kemudian Aku kembali memeluknya, sambil berbisik ditelinganya "Eksanti, jangan takut dan malu, aku dan kamu hanya manusia biasa dan sudah dewasa, kita berdua masih sama-sama belajar tentang hidup", bujukku menenangkannya. "Kamu masih seperti dulu, Eksanti yang aku kenal".

Keraguan, mulai pelan-pelan sirna di matanya, senyumnya mulai lagi muncul di matanya. Ia membalas bujukanku dengan membalas memelukku.
"Selamat!" pikirku selintas.
"Mas, Santi boleh keluar sekarang?", sambil masih memelukku. Aku mengangguk sambil mencium keningnya. Wajahnya kembali tersenyum, Di ambilnya celana dalamnya yang bagus dari lantai, semula ia ingin menggunakannya di depanku. Ia kembali melihatku, ia tidak jenak dan sungkan, melihat laki-laki asing di depannya akan melihatnya memakai celana dalam. Ia melipat celana dalamnya, dan dimasukkannya ke kantong roknya. Ia berdiri, sambil memperbaiki kancing dan baju serta bra yang dipakainya.

Sambil kami mengenakan pakaian kami masing-masing, mataku tak lekang menikmati pemandangan yang sangat sensual itu. Dan setelah kami kembali berpakaian rapi, ia kembali memandangku. Masih dengan tersenyum, ia dekatkan wajahnya pada wajahku dan dengan segenap hati aku sambut. Aku memegang kepalanya, lalu aku mencium pipi dan keningnya.
Aku berbisik pelan "Aku, ingin segera bertemu kamu lagi, tunggulah telponku, thank you.., take care yourself". Ia mengangguk dengan pelan. Eksanti berjalan ke arah pintu. Aku tahu untuk pertama kali ini ia berjalan ke arah pintu itu tidak memakai celana dalam. Sesampai di depan pintu, ia menoleh ke arahku, matanya kembali memancarkan harapan dan ketulusan. Ia mengangguk sambil tersenyum..

Eksanti pun keluar dari kamarku sambil berkata "Besok jangan nakal-nakal lagi yaa.. Mas...!!". Akupun cuma mengedipkan sebelah mataku tanda setuju...


TO THE NEXT SEQUEL...



Eksanti, The Next Sequel - 1

Kejadian pertama di akhir Desember 1996 itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Eksanti dalam suasana kerja formal tidak berubah. Ia memang masih tetap Eksanti yang dulu, yang cantik, cekatan dan pintar membawakan dirinya. Akupun walau jadi lebih sering memperhatikannya, namun sama sekali tidak pernah berusaha untuk memberi perlakuan khusus mengenai urusan-urusan kantor kepadanya. Aku memang selalu berusaha untuk memisahkan masalah pribadi dengan urusan kantor.

Sebenarnya aku juga tahu bahwa pada saat yang bersamaan Eksanti juga menjalin ‘affair’ dengan rekanku sesama manajer di kantorku. Aku sangat tahu hal itu, karena secara tidak sadar si manajer itu sering ‘berkonsultasi’ kepadaku mengenai ‘affair’-nya dengan Eksanti. Mungkin ia beranggapan bahwa aku berpengalaman untuk hal-hal seperti ini, dan karena ceritanya itu, aku jadi lebih banyak tahu mengenai Eksanti. Satu hal yang pasti, aku tidak pernah menceritakan hubungan khususku sengan Santi kepadanya, sehingga sampai detik ini ia tidak pernah tahu. Demikian juga aku juga tidak pernah menyinggung cerita manajer itu pada Santi, sehingga Eksanti tidak menyadari kalau aku mengetahui hubungan mereka.

Setelah kejadian pertama di ruang kerjaku itu kami harus berpisah sementara waktu, karena kantorku libur akhir tahun selama kurang lebih satu minggu. Sebenarnya aku merasa kangen sekali kepadanya, namun aku tidak berusaha ‘mengganggunya’. Kadang-kadang aku merasa cemburu dengan sikap Santi yang mendua, namun seperti prinsipku semula, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan pribadinya. Aku merasa bahwa Santi pun juga memiliki prinsip yang sama denganku. Hal inilah yang membuatku malah semakin ‘sayang’ kepadanya.

Hari pertama masuk kerja di bulan Januari 1997, cuaca masih tetap tidak bersahabat. Jakarta kembali hujan rintik-rintik, udara dingin sekali. Eksanti masih berada didepan komputernya, sementara aku sudah bersiap hendak pulang.
“Kok, Santi belum pulang?", aku menyapanya.
"Saya nungguin hujan berhenti", Eksanti menjawab sambil memandang lurus ke arahku
“Eksanti pulangnya ke arah mana sih”, aku melanjutkan bertanya
“Ke Selatan, Mas ke arah mana?”, jawabnya singkat sambil balik mengajukan pertanyaan.
“Ke arah Selatan juga. So, mau pulang sama-sama”, aku menawarkan diri dan Eksanti menjawab dengan anggukan kepala tanda setuju.
"OK, Santi tunggu di bawah yaa... saya ambil mobil lalu kita pulang sama-sama". kataku menutup percakapan kami.

Lalu kamipun turun bersama dalam satu lift, kami sama-sama terdiam. Sesaat mata kami beradu pandang, mata kami saling berbicara melebihi kata-kata... ada secercah desiran menggelora dalam perasaan kami. Ketika lift berhenti di lantai dasar, Eksanti keluar menuju lobby depan dan aku bergegas mengambil mobil yang di parkir di belakang gedung kantor kami. Aku mempercepat langkahku menuju mobil, dan dengan agak terburu-buru aku membuka pintu dan setengah melemparkan tas kerjaku ke dalamnya. Setelah itu aku segera memanaskan mesin mobil sebentar, lalu segera memacu ke arah depan lobby ke tempat Eksanti sedang menungguiku. Aku menghentikan mobil tepat di sebelahnya sedang berdiri, lalu pintu sebelah kiri aku buka dari dalam, dan Eksantipun segera melangkah masuk. Sesaat mataku melirik ke arah kaki indahnya, darahku berdesir membayangkan peristiwa yang pernah aku alami bersamanya minggu lalu.

Mobil segera meluncur ke luar dari kompleks perkantoran kami. Jakarta macet sekali, apalagi di tengah gerimis di saat jam pulang kantor begini. Tidak ada pilihan lain kecuali mobil harus segera berjalan menuju ke arah kemacetan itu. Di dalam mobil kamipun ngobrol kesana kemari, dan akupun merasa beruntung ditemani mengobrol oleh seorang bidadari cantik di sebelahku di tengah-tengah kemacetan yang menjemukan ini.

AC di dalam mobil bertambah dingin oleh cuaca di sore itu, sementara minimnya sirkulasi udara membuat harum bau parfum tubuhnya semakin menggoda perasaanku. Aku sendiri sudah lupa kami mengobrol apa saja waktu itu, ketika tiba-tiba ditengah obrolan itu, aku memegang jemari lentiknya dan aku angkat ke arah hidungku. Aku mencium lembut jari-jari itu, dan aku hisap-hisap ujungnya sehingga Eksanti bisa merasakan desiran-desiran hangat dalam darahnya.

"Mas, jangan nakal aaccchh...", begitu katanya manja seolah-olah Eksanti tidak menginginkan rasa itu muncul dari dalam dirinya.
"Nggak apa-apa, yang penting Santi bisa menikmati ‘kan?", begitu jawabku.
Eksanti duduk gelisah di sampingku ketika akhirnya kami bisa melepaskan diri dari kawasan macet di jalur lambat dan kini meluncur menuju ke arah kota. Sengaja aku tidak mengambil putaran terdekat untuk menuju arah selatan, karena aku ingin berputar-putar kota sejenak sebelum membawa Eksanti pulang ke rumahnya. Aku mengerti perasaan gelisahnya, mungkin ia sedikit khawatir aku akan berbuat ‘nakal’ lagi. Aku mencoba menghiburnya dengan mengelus-elus pundaknya sambil tetap berkonsentrasi dalam menyetir mobil. Jalanan ramai, sehingga mobil harus berjalan perlahan dengan gigi 3. Untunglah kaca jendela sedan kami dilapisi film cukup pekat, sehingga kalau aku ingin menyentuh dirinya, orang luar tak akan bisa melihat.

Belaian jemariku memberi rasa damai dihatinya dan kini Eksanti merapatkan duduknya, sambil memindahkan tanganku dari punggungnya. Tangan itu kini mendarat di paha kanannya, dan ia mengelus-meremas dengan sayang. Ketika aku sedikit mengerem mobil, payudara kanannya terhenyak di lenganku. Aku menggesek-gesekkan lenganku untuk menggodanya, dan ternyata godaanku menimbulkan rasa hangat menggairahkan di dalam tubuhnya. Putingnya cepat sekali menegang, dan seluruh bulatan kenyal payudaranya cepat sekali terasa gatal-geli. Aku merasakan Eksanti mulai terangsang oleh ‘kenakalanku’. Pastilah keteringatannya pada peristiwa dua minggu lalu juga memberikan andil pada rangsangan itu.

Lalu aku meletakkan tangannya di pangkuanku, sementara tangan kiriku masih tetap berada di atas pangkuannya. Tangan kananku tetap mencoba berkonsentrasi pada stang stir mobil. Aku melirik sebentar kearah wajahnya, Eksanti tersipu-sipu, dan matakupun beralih sesaat ke kaki indahnya. Achh... aku semakin tidak tahan menahan gejolak batinku yang semakin menggelora menikmati pemandangan indah itu. Lalu dengan sedikit keberanian yang tersisa aku singkapkan sedikit ke atas rok yang Eksanti kenakan, sebuah rok span warna hitam dengan bunga-bunga kecil berwarna coklat. Tanganku menyingkap roknya, yang memang tidak terlalu panjang itu.

"Kakimu indah yaa...", begitu kataku, dan Eksantipun semakin tersipu.
Degupan jantungku yang kian bertambah kencang, menambah rasa keberanianku. Jemari tanganku mulai membelai-belai dengan lembut kaki bagian atasnya yang telah tersingkap. Eksanti mendesis lirih, "Achh.. Mas...", dan desisannya itu membuat aku semakin berani untuk merayapkan jemariku menuju pangkal atas kakinya. Lalu Eksanti membukakan pangkal atas kakinya, dan tangan kirinya membibing tanganku menuju ke arah daerah sensitifnya.

Eksanti merebahkan sedikit sandaran kursinya, memajukan duduknya. Nah, kini dengan mudah tangan kiriku bisa mengelus-elus daerah kewanitaannya, yang tentu saja masih terbungkus celana dalam satin putih halus. Eksanti mendesah dan menggigit pundakku ketika aku mulai menggunakan jari tengahku, menelusup di antara celah kewanitaannya yang sudah mulai lembab itu. Aku berkonsentrasi ke jalan, tetapi jariku juga tidak pernah luput menemukan titik-titik rangsang di sela pahanya. Untuk hal yang satu ini, aku merasa sudah sangat ahli. Jangankan sambil menyetir, sambil berlari pagi pun rasanya aku selalu bisa merangsang dirinya.

Eksanti merenggangkan kedua pahanya. Jemariku membuatnya kegelian, sekaligus membuatnya ingin bertambah geli lagi, bertambah gatal lagi, bertambah basah lagi. Eksanti mengerang dalam bisikan, merasakan cairan hangat mulai muncul di bawah sana. Pelan-pelan merayap turun, membasahi liang kewanitaannya, menimbulkan noda di celana dalam satin warna putihnya. Posisi duduknya kini sudah terlalu maju ke depan, sehingga hampir tak bertumpu di kursi. Hanya sepertiga dari buah pantatnya yang menyangga tubuhnya. Sandaran kursi semakin diturunkan, sehingga Eksanti sudah setengah terlentang. Kedua lututnya terangkat dan semakin terpisah, memberikan lebih banyak keleluasaan kepada tanganku yang cekatan.

Tanganku merasakan lembutnya daerah pangkal pahanya, dan aku juga merasakan adanya bulu-bulu lembut yang menyeruat dari balik celana dalam satin berenda yang membalut erat kewanitaannya. Aku semakin tidak tahan, lalu aku semakin berani menyelipkan jari tengahku melalui belahan samping celana dalamnya menuju bibir kewanitaannya. Eksantipun semakin mendesis, "Ughhhh...", sembari tangannya memegang erat jok mobil disisi kanan kirinya. Terasa olehku lembutnya bibir kewanitaannya dan lelehan air wangi yang mulai mengalir deras dari dalam lubang bibir kewanitaannya. Aku mengusap-usap lelehan air wangi itu dengan ujung jariku, lalu kutarik sesaat jariku dari balik celana dalamnya, kulumat pelan-pelan jariku dengan mulutku, pelan..., pelan sekali, lalu jemariku yang basah oleh ludahku merayap kembali ke pangkal pahanya. Eksanti tampak sangat menikmati permainanku, dan mulai mendaki puncak orgasmenya...

Tiba-tiba lampu lalulintas menyala merah! Aku cepat-cepat menekan rem. Ban mobil berdenyit. Aku melihat ke spion, takut ada mobil yang terlampau dekat di belakang. Ternyata tidak. Mobil berikutnya cukup jauh, dan segera mengurangi lajunya ketika melihat lampu rem mobil kami menyala. Tak urung, mobil itu tersuruk ke depan, hampir saja melewati batas lampu merah. Eksanti kaget, tersentak dan meluncur ke depan. Tanganku terlepas dari selangkangannya. Eksanti jatuh terduduk di kompartemen depan, lalu tawanya meledak!
"Sorry, Santi...," ucapku sambil ikut tertawa.
Eksanti bangkit, dan kembali ke posisi duduknya. "Ach.. sialan, tuh, lampu merah!" sergahnya masih tertawa. Buyar sudah pendakian orgasmenya yang sudah hampir meledak. Rasa nikmat segera diganti rasa lucu.

Lalulintas terhenti di lampu merah. Aku melihat kiri kanan, takut ada orang iseng yang memperhatikan aktifitas kami berdua. Tetapi tampaknya tak seorang pun bisa tahu apa yang terjadi di dalam sedan hijau gelap itu. Terlalu gelap. Hanya tampak bayangan dua orang duduk. Satu di belakang setir, dan satu agak tertidur. Itu saja.

Sambil menanti pergantian arus lalu lintas, aku semakin berani. Aku menelusupkan tangan ke dalam celana dalamnya. Hangat sekali tubuhnya di bagian bawah itu. Sudah basah pula di sana-sini. Jari tengahku menemukan tonjolan kecil-kenyal di lepitan atas kewanitaannya. Aku mengelus pelan tonjolan itu. Eksanti mengerang, menggeliat kecil, memejamkan matanya. Sentuhan pertama di bagian itu selalu menimbulkan rasa campuran: enak dan mengejutkan. Seperti disengat lebah, tetapi tentu tidak sakit. Sengatan yang justru memberikan nikmat. Apalagi kemudian aku memutar-mutar ujung jariku di situ, perlahan saja, seperti seseorang sedang meraba-raba di dalam gelap. Ahhh.., Eksanti semakin merasakan rasa nikmat merayapi tubuhnya.

Kembali aku menarik jariku dari balik celana dalamnya, lalu aku melumat pelan-pelan jariku dengan mulutku.
"Achhhh... harum sekali...", begitu kataku. Namun Eksanti semakin tidak sabar, ia menarik lagi tangan kiriku dan kembali diarahkan ke daerah sensitif itu. Sementara tangan kanannya, mencoba menurunkan celana dalamnya.

Ketika lampu kembali menyala hijau, kami masih saling menikmati aktifitas percintaan itu. Pengendara mobil belakang tak sabar, menekan klakson keras-keras. Aku cepat-cepat menekan gas, membuat sedan kami melesat cepat dengan suara ban berdenyit. Masih dalam posisi gigi 2, aku menekan pedal gas. Sebetulnya, ini praktek yang tidak sehat untuk mobil. Tetapi tangan kiriku masih sibuk, maka aku memaksa mobilnya bergerak walau mesinnya terdengar menggerendeng seperti memprotes. Untung saja sedan ini masih baru, sehingga tak berapa lama jalannya pun sudah lancar. Aku mempertahankan gigi 2 karena lalulintas toh masih tersendat.

Kini celana dalam Eksanti telah turun sampai ke lututnya, sehingga bibir kewanitaannyapun telah terbebas. Tanganku semakin beraksi masuk kedalam lubang bibir kewanitaannya, aku sentuh pelan-pelan lipatan-lipatan bibir kewanitaannya. Jariku menggelincir turun. Eksanti menggeliat, mengangkat pantatnya, bergeser ke kanan. Jari tengah itu pun masuk, menyelinap ke liang kewanitaannya. Licin sekali di bawah sana, hangat dan berdenyut pula. Ohhh,... Eksanti menggeliat lagi. Jari nakal itu seperti sedang menggoda dengan gelitikan-gelitikannya. Menimbulkan serbuan-serbuan geli-nikmat yang memenuhi sekujur tubuh. Eksanti segera tenggelam dalam lautan birahinya sendiri, sejenak ia lupa bahwa dirinya masih berada di mobil yang sedang merayapi kemacetan ibukota.



Eksanti, The Next Sequel - 2

"Achhhhhh..., Santi enak sekali Mas!!", Eksanti menjerit pelan, sementara air wanginyapun semakin deras mengalir. Kini jari tengahku telah terbenam sebagian di dalam lubang bibir kewanitaannya, dan Eksantipun beringsut sesaat dari tempat duduknya mencoba untuk memberi jalan masuk jemariku lebih dalam lagi.
"Teruss... Mas... teruskan Mas... jangan berhenti", Eksanti mengerang-erang kenikmatan.
“Yaa.. sayang.. lepaskan emosimu.. berteriaklah, Mas sangat ingin mendengarnya, berteriaklah yang keras...”, aku berbisik. Jemariku telah terbenam seluruhnya ke dalam lubang bibir kewanitaannya, aku menarik dan menusukkannya pelan-pelan, lembut... lembut sekali.

Jalan di depan kini semakin lancar. Tak mungkin mobil dijalankan tetap dengan gigi 2. Lalu bagaimana caranya?
"Biar saya yang pegang persneling...," tiba-tiba Eksanti berucap. Duh, Eksanti ternyata mengerti ‘perasaan’ mobil juga! Aku mengurangi gas, menekan kopling, membiarkan dirinya memindahkan persneling ke gigi 3. Mobil melaju dengan cepat

Jari tengahku kini sudah masuk setengahnya, berputar-putar perlahan menyentuh-nyentuh dinding kewanitaannya. Tubuh indahnya bergetar halus, bukan saja oleh getaran mobil, tetapi juga oleh birahi yang kini mulai mendaki puncak. Jalanan semakin lancar. Aku mengurangi gas, menekan pedal kopling. Eksanti cepat-cepat memindahkan persneling ke gigi 4, lalu menggeliat merasakan jariku menyentuh bagian dalam kewanitaannya. Ahh..., nikmat sekali dicumbu kekasih sambil menukar-nukar persneling! Mobil melaju menembus Jalan Sisingamangaraja yang mulai lancar. Lampu kebetulan selalu hijau, sehingga aku tidak perlu mengurangi kecepatan. Jariku kini keluar-masuk perlahan-lahan, sambil sekali-kali memutar. Eksanti tetap berpegangan di persneling, sementara tangan yang satu erat mencengkram meremas pinggiran jok.

Mobil berjalan lancar, sehingga persneling tidak perlu dikontrol lagi. Maka tangan Eksanti melepas handle persneling dan membuka kancing atas bajuku, satu-persatu dengan ketrampilan dan ketenangannya. Tak lama kemudian, dadaku yang bidang telah terbuka sebagian. Lalu Eksanti membungkukan badannya sedikit, dan ... aku menggeliat kegelian ketika bibir basah Eksanti tiba di putingku yang kecil. Rasanya seperti disengat kenikmatan dan aku mengerang pelan. Eksanti bahkan lalu mengulum dan menyedot, sehingga aku tak lagi hanya mengerang tetapi juga merintih. Enak sekali, ternyata jika seseorang bermain-main dengan puting susu! pikirku dalam hati.

Tiba-tiba Eksanti memeluk bahuku, lalu mencium leherku sedikit di bawah kuping. Aku menggeliat kegelian, lalu tangan kiriku balas memeluk pinggang Eksanti untuk merapatkan tubuhnya ke arahku. Kemudian aku mendengar ia berbisik dengan nafasnya yang hangat menyentuh tengkukku, "..sekarang giliran Mas juga, yaa..."

Tangan kecilnya yang semula mencengkeram erat sisi jok mobil itu, telah berpindah di atas resliting celanaku. Tangan Eksanti cepat sekali telah menurunkan resleting celanaku yang diam saja tak tahu harus berbuat apa. Lalu dengan lembut tetapi agak memaksa Eksanti meremas-remas dengan lembut kejantananku yang sedari tadi telah menegang keras sekali. Dengan tidak sabar Eksanti membuka celanaku, jari-jemarinya yang letik mulai mengelus-elus di atas celana dalamku yang telah menggembung dan agak basah di sana-sini. Ah, aku pun hanya bisa memejamkan mata, membiarkan apa pun yang akan terjadi berikutnya. Aku pasrah saja. tangan kecilnya mencoba meraup kejantananku dari balik celana dalam katun yang aku kenakan.

Tangannya kini telah menggegam kejantananku yang mencuat keatas, dan tangannya mencoba bergerak naik turun disepanjang kejantananku. Jemari itu lalu meremas pelan, mengelus dan menelusur ke atas ke bawah. Aku memejamkan mataku erat-erat, seakan memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang nyata, sebuah kenyataan yang aku impikan. Tubuhku meregang merasakan jemari itu melakukan sesuatu yang menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perutku terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.

"Achhhh...", aku mendesis pelan, sembari tangan kiriku tetap menusuk-nusuk bibir kewanitaannya dengan irama yang semakin cepat dan semakin cepat. Eksanti semakin mengelinjang-gelinjang merasakan kenikmatan luar biasa.
"Mas... makin dalam...Mas, makin cepat Mas... please...", Eksanti berteriak-teriak lirih. Nafasnya memburu, merasakan dirinya kini tengah mendaki menuju puncak asmara. Oh, mudah-mudahan tidak ada lampu merah. Mudah-mudahan mobil lancar terus sampai Radio Dalam.

Mulut Santi terus mengulum putingku yang kecil, tangannya terus menggosok-meremas. Dua sumber kenikmatan saling bertumbukan di tubuhku, menyebabkan badanku bergetar hebat. Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di tubuh bagian bawahku, membuat kedua pahaku terasa berat untuk memainkan pedal gas dan kopling. Seluruh otot tubuhku seperti sedang bersiap-siap meledak, seperti seorang lifter bersiap-siap mengangkat barbel, seperti kuda yang berancang-ancang melompat, seperti burung garuda yang bersiap mengudara.

Gerakan Santi makin cepat, dan sedotan mulutnya makin kuat memilin-milin puttingku yang tentu saja tak pernah lebih besar dari semula. Tidak seperti puting payudara Eksanti. Tangan Eksanti naik-turun dengan bergairah, begitu cepat sehingga hanya tampak dalam bayang-bayang. Lalu, dengan tiba-tiba Eksanti merunduk, Eksanti mengarahkan mulut kecilnya menuju kejantananku yang sedari tadi menegang ke atas. Eksanti menciumi kepala kejantananku yang juga mengeras, Eksanti menjilatinya dan darahkupun mengalir deras ketika lidah lembutnya menyentuh lubang kecil kejantananku.

"Achhhhh... geli, tapi enak sekali...", aku berkata lirih. Lalu mulut kecilnya mulai mengulum-ngulum kepala dan badan kejantananku, sementara tanganya tetap bergerak keatas kebawah seirama dengan gerakan mulut kecilnya itu. Semakin cepat, dan semakin cepat..., dan jantungkupun berdegup semakin keras. Jari tanganku juga semakin cepat menusuk-nusuk lubang bibir kewanitaanpun, seirama dengan gerakan mulutnya yang mengulum-ngulum kejantananku.

"Cepat, masss..." desahnya sambil menggeliat. Aku melihat spedometer, lho... ini sudah 80 km per jam. Kurang cepat apa? "Cepat, Mas... " desahnya lagi. Ah, tololnya aku! sergahku dalam hati. Eksanti tidak menyuruhku menancap gas mobil. Eksanti menyuruhku mempercepat gerakan tanganku. Sambil menahan senyum, aku pun mempercepat gerakan jariku. Keluar-masuk. Berputar. Keluar-masuk. Berputar. Semakin lama, semakin cepat. Semakin membuat Eksanti menggeliat, mendesahkan erangan-erangan kecil, dengan nafas yang semakin memburu. Eksanti sedang menuju klimaks. Kedua kakinya semakin mengangkang. Punggungnya melenting, kepalanya mendongak dengan mulut setengah terbuka. Kedua tangannya erat mencengkram sisi-sisi jok. Oh, sebentar lagi. Sebentar lagi..., sedikit lagi...

Beberapa saat kemudian, "Oocchh...Mas, Santi nggak tahan...", Eksanti menjerit sambil menggigit kepala kejantananku dengan lembut, sementara tangannya tetap mengocok-ngocok kejantananku semakin cepat. Aku mengerang panjang ketika akhirnya aku tak bisa lagi menahan serbuan puncak birahi menerjang mencari jalan keluar. Apalagi kemudian satu tangan Eksanti yang masih bebas, ikut bermain di bawah sana, memegangi kantong di bawah kelaki-lakianku yang seperti mengeras-membatu. Tangan Eksanti meremas pelan kantong kenyal itu. Pelan saja, tetapi sudah cukup membuat aku menggeramkan penyerahannya, mengerangkan kepasrahannya, ketika dengan deras cairan hangat kentalku hendak lepas dari tempat persembunyiannya, ingin menghambur keluar.

Sepuluh detik berselang, aku merasakan seluruh otot badanku menegang, dan akhirnya..."Oochh... sayang... Mas mau keluarrrrrr...", aku berkata setengah berteriak dan Eksanti semakin mempercepat irama gerakan mulut dan tangannya. Kenikmatan yang aku rasakan semakin memuncak dan... "Sayangg... Mas keluarrr...", aku menjerit pelan, seraya mengeluarkan ledakan lava panas pertamaku di dalam mulutnya. "Ochhhh...", Eksanti terkaget sejenak, tetapi tetap mengulum kejantananku. Kini yang aku dengar dari mulut Eksanti hanya suara “Aarrcchhh.. aaaarrccrhh.. aarrccchh..”, sambil melepas kejantananku dari mulutnya dan membantingkan badannya turun dari atas pangkuanku.

Dengan nafasku yang masih terengah-engah, aku memiringkan sedikit pinggang dan badanku, agar semprotan lava cintaku tidak mengenai muka dan rambut Santi. Kurasakan kenikmatan yang luar biasa pada ledakan-ledakanku berikutnya, geli... tapi nikmat sekali... Lava panas ledakanku yang pertama menetes deras dari mulut kecil Eksanti, membasahi badan kejantananku, licin dan nikmat sekali. Lalu Eksanti menyapu-nyapu kejantananku dengan lidahku mencoba menghisap kembali lava nikmat itu... Lampu jalanan di luar kendaraan tampak memudar di mataku. Jok mobil yang aku duduki terasa seperti awan yang membumbung membawa tubuhku melayang. Jemari dan tangan Eksanti masih meremas menggosok. Mulutnya yang basah masih mengulum-menyedot. Dunia nyata seakan berkeping-keping. Meledak menghamburkan pijar-pijar pelangi di kepala ku. Sungguh menakjubkan!

Lalu sepi bagai turun dari langit. Aku tergeletak lemas. Nafas kami berdua masih memburu. Eksanti mengelap mulutnya yang penuh dengan ceceran cairan cintaku dengan tangannya, lalu memencet hidungku sambil berkata “Mas jahaaat... mau keluar tidak bilang-bilang, sampai ada yang sedikit masuk ke mulut Santi..”, sambil terus memelukku dan mencium pipiku. Aku membalas memeluk dan mencium bibirnya, seraya berbisik mesra. “Saayaaaang... tidak apa apa, itu protein kok..., bukan cairan kotor...!”

Dua menit berlalu, lalu Eksanti mengelap kejantananku dengan tissue basah dan menutup kembali resliting celanaku dengan pelan. Sementara kejantananku masih tetap menegang. Eksantipun juga menaikkan kembali celana dalamnya, menutup bulu-bulu lembut di atas bibir kewanitaannya.

Tak terasa kami telah sampai di mulut jalan kecil menuju rumahnya. Tangannya masih tetap meremas jemariku, ketika mobil telah sampai di depan pagar rumahnya. Mobil kami berhenti dengan mesin dan AC yang masih tetap menyala.
"Sudah, ah..., nanti ketahuan orang di rumah!", sergahnya ketika aku hendak mulai membelainya. Aku tertawa lagi.
Aku memeluk dan mencium dahinya seraya berkata, “Santi, terima kasih sayang..”
“Mas, udah lega belum..?”, ujarnya seraya matanya menatap sayu ke arahku.
“Tentu sayang.., kamu memang paling pinter membahagiakan mas”, pujiku tulus kepadanya.
“Santi juga puas Mas.., tapi kadang-kadang Santi takuttt..”, Santi berkata pelan sambil menunduk.
“Takut...kenapa?”, aku sedikit kaget dengan pernyataannya.
“Takut kalau ada yang tahu..., terus juga takut ntar kalau Santi kepinginnn.. jalan terus sama Mas, gimana?”
“Achh.., Santi kan tinggal bilang sama mas”, aku menjawab sekenaku sambil tersenyum geli. Aku memang tidak terlalu siap untuk menjawab pertanyaannya dengan serius. “...tapi kalau Mas yang ketagihan gimana?” aku balik bertanya penuh canda, mencoba menetralisir suasana.
“Achh.. nggak tahu achh.. Santi suka pusing kalau mikirin yang beginian”, jawabnya mengelak pertanyaanku.
“OK.., kalau begitu kita jalanin aja yaa.., nggak usah dipikir-pikirin. Ntar pasti juga ada jalan keluarnya. Sampai besok yaa...”, aku berkata pelan sambil sekali lagi mencium keningnya dan membantunya membuka pintu mobil dari dalam.
"Hati-hati yaa... Mas, besok lagi yaa...", ucapnya penuh arti sebelum menutup pintu mobil, mengakhiri perjumpaan kami malam itu.

Akupun tersenyum sambil mengangguk. Mobil berlalu, dan aku masih terbayang kenikmatan yang baru saja kami alami, aku meraba kejantananku... achhhh... dia telah terkulai kecapekkan. Segala imajinasi birahi lenyap dari kepalaku, seperti api yang padam disiram berember-ember air dingin. Mobil meluncur cepat, masuk ke jalan tol, melaju ke arah selatan, ke rumahku.


TO THE OTHER MANAGER...



Eksanti, The Other Manager - 1

Cerita Manajer itu kepadaku:

Sore hari di bulan Februari tahun 1997, aku masih ingat betul kejadian itu. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sementara aku masih duduk di ruang kerjaku merenungkan situasi ekonomi yang tidak juga kunjung membaik. Aku benar-benar pusing memikirkan hal itu, dan aku merasa butuh penyegaran bagi otakku yang mulai suntuk. Lalu aku mulai menyalakan modem dan men-dial website favoritku. Ketika aku sedang iseng-iseng melakukan surfing di web site itu, tiba-tiba temanku si manajer masuk ke dalam kamarku.

“Hei, lagi ngapain lu..”, ia bertanya singkat.
“Biasa.., lagi iseng surfing di internet”, jawabku tanpa melirik ke arahnya.
Aku dan dia memang terbiasa untuk menyapa dengan pangilan elu dan gua, kecuali untuk saat-saat yang sangat formal. Kami memang telah saling mengenal dekat cukup lama, dan kami pun dulu belajar di peguruan tinggi yang sama. Kedekatanku dengan dia membuat kami tidak perlu saling merasa sungkan untuk menceritakan hal-hal yang sangat pribadi, termasuk pengalaman kami masing-masing dengan teman-teman wanita. Baik pengalaman waktu kuliah dulu, juga pengalaman kami sekarang saat kami sama-sama telah menjadi manusia dewasa. Hanya saja, sejauh ini aku sama sekali tidak pernah menceritakan affairku dengan Eksanti demikian pula dengan si manajer itu, hingga kejadian sore itu.

Lalu aku melanjutkan lagi.. ”..ehhh.., elu tahu nggak aku menemukan fotonya Eksanti di internet”.
“Ahh.. masa, coba lihat”, ia bertanya dengan nada penasaran, sambil berjalan ke arah belakang tempat dudukku. Ia menarik kursi, dan duduk di sebelahku. Lalu aku mencari file yang aku maksud, dan segera membukanya.
“Naa.. ini ‘kan Eksanti”, aku menunjuk gambar seorang wanita yang sedang berpose menantang di layar komputerku. Aku sebenarnya tahu persis bahwa gambar itu bukanlah Eksanti, walau wajah wanita itu memang benar-benar mirip dengan Eksanti.
“Acchhh... ngawur kamu”, ia melontarkan pendapatnya, “...wajahnya memang mirip, tapi payudaranya terlalu besar.. achh”.
“Emang, elu tahu ukuran Santi?”, aku bertanya dengan sedikit nada heran bercampur sedikit rasa cemburu.
“Hee.. he..., tanya sama gua dong. Gua kan pernah begini sama dia”, katanya dengan nada bangga sambil meremaskan kedua tanggannya di dadaku.
“Achh.. lu, ngarang ‘kaliii..!!”, aku mengomentari pernyataannya dengan segala usaha untuk menyembunyikan rasa cemburuku.
“Lu.., nggak percaya..., hee.. hee.. gua kan udah lebih lama ngenal dia daripada elu, jadi gua tahu persis segala-galanya tentang dia”, ia berujar lagi.
“Emang gimana sih.. si Eksanti itu”, aku bertanya lagi dengan penuh selidik.
“Gua tahu, tapi gua nggak mau cerita..”, ia menolak pertanyaanku.
“Acchh... Lu bohong aja..!”, aku memancing lagi.
“Ecchh.. bener, gua tahu persis!!”, nadanya sedikit meninggi. Naa.. kena deh pancinganku. Lalu ia melanjutkan lagi, “..iya deh gua ceritaain, tapi elu jangan cerita-cerita ke yang lain yaa..”.
“Iya deh, kayak elu nggak tahu gua aja”, aku semakin berusaha memancing pengetahuannya tentang Eksanti.

Lalu si manajer tadi bercerita panjang lebar mengenai latar belakang si Eksanti. Ia memang tahu persis latar belakang keluarganya, pacar-pacarnya, affair-affairnya, bahkan sampai ke masalah-masalah sosial ekonomi-nya. Sebenarnya aku kagum pada pengetahuan dan kedekatannya dengan Eksanti, tetapi aku tetap berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku jadi teringat bahwa ceritanya memang persis sama dengan yang Eksanti pernah ceritakan kepadaku, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayai ‘pengetahuan’ si manajer ini.

Ketika ia mulai mengakhiri ceritanya, aku bertanya lagi kepada si manajer itu “..terus emang elu ada affair juga sama Eksanti?”
“Yaa.. gimana yaa..., abis gua juga lagi suntuk di rumah sih. Terus Santi juga lagi ada problem, gua kebetulan mau ndengerin problemnya. Terus dia mau ngedengerin problem gua... Yaa.. saling curhat gitulah. Emang yang begituan begituan namanya affair..?”, aku tahu, ia masih berusaha menyembunyikan cerita yang sebenarnya kepadaku.
“Lho.., tadi elu bilang tahu persis ukuran Santi”, aku mengingatkan.
“Iyaa.. sih, gua emang pernah sama dia, tapi...”, ia berhenti sejenak nampak ragu-ragu melanjutkan ceritanya.
“Tapi gimana...?”, aku semakin penasaran.
“Ceritanya begini.., elu tahu ‘kan kita pernah punya bisnis kapal yang di Surabaya itu”, akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak bercerita.
“Iyaa.. terus apa hubungannya”, aku memancing lagi.
“Kan, Eksanti banyak mbantuin gua di bisnis itu. Jadi gua sama dia jadi makin deket. Gua jadi sering jalan bareng sama dia.”, ia melanjutkan.
“Terus...?”, aku mulai serius mendengarkan.
“Terus kejadiannya kira-kira sebulan yang lalu...”, ia mulai berterus terang, menceritakan kejadiannya secara rinci...

*****

Hari Jum'at sore selepas Maghrib, udara di kota Surabaya yang biasanya sangat terik, berubah menjadi dingin sekali akibat hujan yang turun seharian. Kami baru saja keluar dari sebuah kantor BUMN di Surabaya, setelah seharian kami melakukan rapat untuk mengurus ijin pelayaran kapal perusahaan kita. Sengaja hari itu, diam-diam tanpa memberitahumu, aku mengajak Eksanti ke kota Surabaya untuk membantuku dalam mengurus perijinan ini. Seperti biasa, menurutku birokrat akan lebih lunak bila dihadapi oleh seorang wanita, apalagi yang pintar, cantik dan sexy seperti dia.

Tadinya kami memang berencana untuk langsung pulang ke Jakarta menggunakan pesawat yang terakhir, tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk memperoleh tiket pulang ke Jakarta, maka aku lalu berfikir lain.
"Wah, kayaknya kita harus nginep di Surabaya nih, Santi. Toh besok kita juga libur, kamu nggak keberatan 'kan?", ujarku kepadanya.
Terlihat ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Nggak apa-apa sih, Mas, tapi kita mau nginep di mana?"
Aku lantas memberi usul yang sangat rasional, "Kita cari hotel terdekat dengan airport saja deh. Nanti saya akan booking dua kamar yang sebelahan yaa..., jadi biar kamu nggak takut".
"Oke..., itu ide yang baik", Eksanti berkata singkat menyetujui usulku.

Lalu kami berjalan ke arah taksi yang kebetulan banyak yang sedang menunggu di depan kantor itu. Sebuah taksi berwarna biru segera menghampiri kami yang sedang berdiri di tangga lobby kantor itu.
"Ke hotel Holiday Inn Pak..!", aku berkata pada sopir taksi begitu kami berdua duduk bersebelahan di kursi belakang. Rasa penat yang ada dalam diriku membuatku melamun. Aku mengingat-ingat pertemuan dengan para birokrat yang baru saja kami lakukan. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri ketika aku mengingat, betapa pada saat meeting tadi darahku sempat mengalir deras ketika aku melirik ke arah kaki indahnya yang sedikit tersingkap. Hal itu sempat mengganggu konsentrasiku, sehingga aku agak tergagap-gagap ketika tiba-tiba si birokrat itu memberikan pertanyaan padaku.

Lamunanku tiba-tiba buyar ketika Eksanti berkata, "Kok, Mas senyum-senyum sendiri, ada apa sih...?".
"Nggak..., nggak apa-apa", aku menjawab dengan sedikit terbata-bata, sambil memandang lurus ke arah matanya dengan tajam. Eksanti lantas tersipu-sipu, dan mataku pun beralih kembali ke arah kaki indahnya. Dadaku kembali berdegup kencang ketika aku kembali menyaksikan pemandangan indah itu. Rasa penatku seakan langsung menghilang lenyap. Celanaku terasa sesak ketika kejantananku tidak bisa diajak kompromi lagi. Akupun lalu membayangkan hal-hal indah yang selama ini cuma ada di angan-anganku. Akankah bayanganku itu bisa menjadi kenyataan?

Suasana perjalanan dari kantor itu ke arah Airport Juanda benar-benar hening. Aku kembali pada lamunanku, sementara aku melihat Eksanti berusaha untuk memejamkan matanya. Ia nampak sangat letih. Kasihan juga gadis ini, aku sangat beruntung tadi sangat dibantu oleh kehadirannya. Aku berjanji akan memberinya hadiah bila sampai di Jakarta nanti, pikirku dalam hati.

Tidak terasa kami telah sampai di hotel, dan setelah aku membereskan administrasinya, kami segera menuju ke lantai 7 dimana kamar kami berada. Ketika di dalam lift yang menuju lantai itu, kami hanya berdua. Mata kami kembali beradu pandang, aku merasakan adanya desiran hangat dalam diriku, terlebih ketika harum bau parfum Eksanti begitu terasa di dalam lift yang sempit itu. Bayang-bayang tentang keindahan itu kembali menggaguku, dan “tingg...” tiba-tiba buyar begitu lift berhenti di lantai 7. Kami lalu menuju kamar masing-masing yang saling berhadapan pintunya, aku ingat betul nomornya 712 dan 713. Sesaat kami sempat beradu pandang kembali pada waktu membuka kunci pintu kamar. Darahku lagi-lagi berdesir deras, dan Eksanti pun tersipu malu...

******

Pukul 20.00 malam, aku selesai mandi, bayang-bayang Eksanti terus menggodaku. Dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di bawah perutku, aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Bayang-bayang itu semakin menggelorakan birahiku, dan tanpa terasa kejantananku pun menegak ketas membayangkan hal-hal indah yang belum pernah aku alami bersamanya.

"Achhhh... seandainya...", aku berkata dalam hati sambil mengusap-usap handuk yang menyembul ke atas menutupi kejantananku. Lalu, tiba-tiba aku teringat bahwa notulen rapat tadi siang masih ia bawa. Aku segera menyambar gagang telephone di sebelah tempat tidurku, lalu aku memutar nomor telephone di kamarnya. Aku meminta ijin pada Eksanti untuk mengambil notulen itu di kamarnya dan ia pun mengiyakan. Karena aku berpikir nanti terburu malam, maka aku hanya mengenakan kaos dan celana tidur saja, ketika aku beranjak ke kamarnya. Aku tidak pernah memakai celana dalam bila hendak tidur.

Aku mengetok pintu kamarnya, dan Eksanti segera membukanya. Ia sudah selesai mandi, rambutnya masih basah oleh air keraMas, dan saat itu Eksanti hanya mengenakan daster putih tipis yang menerawang. Sesaat jantungku berdegup keras ketika aku memperhatikan bayang-bayang tubuh indahnya yang nampak jelas karena terpaan sinar dari arah belakang kamarnya.
"Masuk dulu deh Mas, nanti saya ambilin!", begitu sapa Eksanti. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dan aku baru sadar bahwa saat itu Eksanti belum mengenakan celana dalam dan bra. Kejantananku kembali mengeras menyembul dari balik celana tidurku menyaksikan pemandangan indah itu. Aku semakin tidak tahan.

Eksanti berjalan menuju ke meja, tempat ia menyimpan tas berisi berkas-berkas kerja. Aku berdiri tepat di belakangnya. Bau harum tubuh dan rambutnya yang wangi semakin mengelorakan jiwaku. Tiba-tiba Eksanti berbalik badan dan berkata, "..yang ini yaa.., Mas!", sambil memegang berkas notulen yang aku maksud. Aku terkejut, karena rambutnya yang basah mendadak tersibak mengenai mukaku. Tubuh kami secara tidak sengaja hampir berhimpitan.

Aku tahu bahwa Eksanti juga terkejut karena secara tidak sengaja kulit tangannya sempat menyentuh celana tidurku yang menyembul keras sekali.
"Yaa... benar, yang itu", aku terbata menjawab sambil mencoba menerima berkas kertas-kertas notulen itu. Karena kami sama-sama gugup, maka kertas-kertas itu terjatuh dari tangannya. Secara refleks aku mencoba untuk menangkapnya, namun justru pergelangan tangannya yang terpegang oleh tanganku. Kertas-kertas itu jatuh bertebaran di lantai, namun kami tidak menghiraukannya lagi.

Gejolak birahi telah sedemikian menggelora dalam diriku. Dengan sisa keberanian yang ada aku meremas jemari tangannya sambil sedikit menarik tubuhnya ke arahku.
“Mas.., jangan Mas”, Eksanti mendesah lirih, namun ia memejamkan matanya seolah ia menikmati belaian lembut tanganku di jari-jarinya. Lalu dengan sedikit nekad, aku mencoba mendekatkan bibirku ke bibirnya yang tipis itu.

“Mas..., jangan...”, ia masih berusaha menolakku dengan lemah, tetapi tangannya sama sekali tidak berusaha untuk mendorong tubuhku yang menghimpitnya. Ketika sekali lagi ia membuka mulutnya untuk berkata “Jangaann...”, maka aku tidak mennyia-nyiakan kesempatan untuk mencium dan melumati bibir indah itu. Aku menggigit dengan lembut bibirnya. Serangan pertamaku berhasil, ia sama sekali tidak menolak bahkan tangannya memegang pipiku seolah berusaha agar aku lebih leluasa menciuminya.

Tanganku memeluknya dengan erat dan jemariku telah berada disekitar buah pantatnya seakan berusaha untuk menekan badannya lebih rapat ke arahku. Posisi ini membuat Eksanti bisa dengan jelas merasakan tonjolan kejantananku di balik celana tidurku.
"Hhhmm...", Eksanti mendesah pelan ketika aku menggesek-gesekan kejantananku di sekitar daerah sensitifnya. Kini bibirku telah turun kearah lehernya yang putih. Lidahku menyapu-nyapu di belakang telinga dan membasahi rambut-rambut halus di atas tengkuk lehernya.

Tangan Eksanti kini telah turun dari leherku menuju ke arah buah pantatku, berusaha untuk menekankan kejantananku ke arah kewanitaannya. Lalu tangannya menyusup dari arah karet atas celana tidurku, dan jemarinya meraba-raba buah pantatku. Ia nampak sedikit kaget ketika ia tahu aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana tidurku. Jemari itu terus bergerak ke depan berusaha untuk menggenggam kejantananku.

"Ssshhhh...", aku mendesis nikmat, saat jemari tangannya bergerak lembut melingkari kejantananku yang telah mengeras. Tanganku sekarang telah meraba-raba puting payudara kirinya, sementara mulutku menciumi putingnya yang kanan. Daster putih yang ia kenakan membasah di sekitar putingnya karena air liurku, sehingga putingnya yang kecil, tegang, merah kecoklatan itu semakin tampak jelas mencuat ke atas. Bergantian aku meraba dan mencium puting kiri kanannya, dan Eksanti mulai mendesis-desis nikmat, "Accchhh.., Mas, enak sekaliii...".

Lalu dengan lembut aku membibingnya ke arah ranjang tidur. Eksanti terduduk di atasnya dan ia merebahkan sebagian badannya di atas tempat tidur. Sementara kakinya yang indah masih terjulai ke atas karpet. Aku menyingkapkan daster yang ia kenakan, dan aku menyaksikan indahnya bulu-bulu hitam lembut yang menutupi kewanitaannya dengan rapi. Sungguh sangat pandai ia merawat dirinya, pikirku dalam hati. Aku berlutut antara kedua paha indahnya yang berjuntai dan aku mengarahkan bibirku ke arah bulu-bulu lembut itu. Lalu aku mulai mengecup dan mengembus-hembuskan nafas hangat yang membuatnya berteriak kecil, "Aw..!" tanda kaget sekaligus senang.

"Aucchh...", Eksanti mendesis lagi ketika jilatan-jilatan lidahku mulai menyentuh kulit pahanya. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku seolah-olah mengarahkan bibirku tepat ke atas kewanitaannya. Bibirku kini telah menempel di bibir kewanitaannya, lidahku menjilati dinding luar kewanitaannya dan Eksanti berteriak pelan menyebut-nyebut namaku. Apalagi kemudian aku mengeluarkan lidahku, dan dengan itu aku mulai menjilat perlahan, menyelipkannya di antara dua bibir kewanitaannya yang bersih dan wangi itu.



Eksanti, The Other Manager - 2

Eksanti mengerang, merasakan kenikmatan luar-biasa mulai menyebar dan membuat tubuhnya menegang. Apalagi kemudian lidahku berputar-putar di bagian atas, di tonjolan kecil yang kini memerah itu. Oh! Eksanti menggeliat. "Adduhhhh... Mas, enakkkk...", Eksanti kembali mendesis sambil mengelinjangkan tubuhnya. Aku bertambah nekat dengan mengisap-hisap klitorisnya, sehingga seakan-akan seluruh tubuhnya tersedot ke bawah. Lelehan air wangi yang sedari tadi telah membasahi dinding kewanitaannya kini makin mengalir deras. Bunyi lidah dan hisapan-hisapanku pada klitorisnya makin menjadikan birahiku kian memuncak. Tangannya juga semakin cepat membenam-benamkan kepalaku sambil terus berteriak-teriak lirih, "...terus Mas, teruss.. Mas, please, jangan berhenti..."

Kemudian salah satu telunjukku menerobos liang yang telah licin dan basah itu. Oh! Eksanti menggelepar, merasakan kegelian-kenikmatan-kehangatan dalam sentakan-sentakan yang menggelora. Apalagi kemudian aku mencengkram kedua kakinya, mengangkat dan mengangkangkannya. Oh! tubuhnya meregang ketika aku memasukkan lidahku,--seluruh lidahku-- sampai ke pangkalnya, ke dalam liang yang terasa semakin melebar itu. Apalagi kemudian aku memutar-mutar lidah itu, meraih-raih langit-langit kewanitaannya yang telah berdenyut-denyut nikmat. Oh! Eksanti tak tahan lagi. Kaki Eksanti kini dilipatkan di balik punggungku mencoba untuk menahan derasnya air wangi yang mengalir dari dalam kewanitaannya. Dua menit berselang ketika kewanitaannya sudah basah kuyup oleh air wangi dan air liurku, tiba-tiba badannya menegang, punggungnya melenting ke atas dan Eksanti menjerit, "Achhhhh..., Santi keluar masssss...".

Eksanti merasakan orgasme pertamanya datang menyerbu, menggemuruh bagai air bah yang tak tertahankan. Apalagi kemudian aku menyedot dengan seluruh mulutku, bagai sedang menyantap seluruh kewanitaanmu dengan lahap. Tak tertahankan lagi, Eksanti menggerang, menggelinjangdan bergeletar hebat, berteriak, "Ahhhhh...mass...". Tersentak-sentak, tubuhnya yang mulai basah oleh keringat menyebabkan ranjang berderik-derik. Segera aku berdiri, aku merebahkan tubuhku di atas badannya dan aku memeluk erat dirinya sambil menciumi mulut kecilnya itu. Tanganku masih berusaha untuk membelai-belai lembut klitorisnya.
"Achh... Mas, enak sekali, enak sekaliii...", Eksanti mendesis-desis lagi.

*****

Sejenak setelah Eksanti mencapai orgasmenya yang pertama, ia lalu melepaskan pelukanku, dan ia merebahkan diriku sepenuhnya di atas tempat tidur. Eksanti duduk di sampingku sambil matanya dengan gemas mengamati kejantananku yang menjulang ke atas. Eksanti segera meremas kejantananku dengan lembut dan menciuminya. Lidahnya yang basah menyapu-nyapu lembut kepala kejantananku, memberikan rasa geli bercampur nikmat yang luar biasa.

Pertama-tama Eksanti memang cuma mengecup di sana-sini, lentikan-lentikan bara birahi, membuatku tersentak-sentak kegelian. Tetapi tak lama kemudian, dengan satu tangan mencekal-mereMas, Eksanti mulai mengulum dan menghisap. Wow! Aku seperti dilambungkan ke langit-langit, kedua kakiku bagai tak menginjak bumi. Dan Eksanti pun semakin bergairah, bagai bayi dahaga mulai menyedot berkepanjangan, berusaha memasukkan semuanya ke dalam mulut kecilnya yang hangat dan basah.
"Ouughhh...", aku mendesah pelan ketika ujung lidahnya menyentuh-nyentuh lubang pada ujung kepala kejantananku. Sementara tangannya berusaha untuk mengocok-ngocok kejantananku.
"Ooohhh... sayang aku nggak tahan, nggak tahannn...", aku menjerit-jerit pelan.

Sementara tangan yang satu sibuk mencekal-mereMas, tangannya yang lain tiba-tiba saja sudah menjelajahi selangkangnya sendiri. Di bawah sana sudah mulai lembab dan gatal. Maka Eksanti pun mengusap-usap, menelusur dengan jari tengahnya, menguak lepitan bibir kewanitaannya yang terasa mulai menebal. Dengan ujung jempol, Eksanti sentuh pula bagian atas, tempat sebuah benjolan kecil yang mulai mengeras, mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh tubuhnya. Jari tengahnya kini mulai melesak, mengurut-urut permukaan liang yang telah pula basah dan licin. Eksanti menggelinjang sendiri. Geli dan nikmat sekali rasanya.

Dengan mulut penuh, Eksanti cuma bisa merasakan nikmat. Aku mengerang-ngerang sambil memegang kepalanya, mengusap rambutnya yang legam, yang di sana-sini menyentuh bagian dalam pahaku, menambah nikmat. Kalau begini terus, pikirku, sebentar lagi aku akan menyebabkan Eksanti tersedak. Maka dengan lembut aku menarik tubuhnya untuk segera berdiri. Kami berduapun lalu berpelukan, dan aku mengulum-melumatkan bibirnya. Sambil tetap berdiri, kami bergeser perlahan-lahan menuju ranjang. Bagai menari, kami bergoyangan perlahan, seirama menuju tempat peraduan.

Lalu Eksanti beringsut dari posisi duduknya dan kini Eksanti duduk di atas kejantananku. Buah pantatnya yang kecil tetapi padat itu, ia geser-geserkan pelan-pelan pada kepala kejantananku. Lalu Eksanti membibing kejantananku menuju lubang kewanitaannya. Ketika kejantanan itu tepat berada di depan lubang nikmat itu, Eksanti lalu menekankan badannya ke bawah sehingga kejantananku pelan-pelan terbenam di dalam lubang kewanitaannya.

Eksanti mengerang lagi, merintih nikmat, merasakan otot perkasa yang panas membara menerobos masuk ke dalam tubuhnya yang sedang bergeletar hebat. Segera saja kembali muncul kenikmatan baru di tubuhnya. Dan aku langsung meremas dada indahnya yang sintal itu, yang telah pula mengeras bagai hendak meledak. Eksanti menjerit kecil, kedua tangannya terentang pasrah, jari-jarinya meremas-remas seprai yang memang sudah berantakan tak karuan. Nafasnya tersengal-sengal, matanya terpejam nikmat, mulutnya setengah terbuka.

"Oouuggghh..., Mas", Eksanti berteriak nikmat sambil berusaha menggigit bibir bawahnya. Lelehan air wangi kembali terasa membasahi kejantananku hingga menambah licinnya gesekan-gesekan nikmat dinding kewanitaannya. Eksanti bergerak turun naik perlahan-lahan sambil tangannya mencengkeram dadaku untuk menopang badannya.
"Sshhhh... enak sayangggg...", aku mendesis nikmat saat klitorisnya terasa keras bergeser-geser di sepanjang kejantananku. Eksanti bergerak turun naik makin cepat dan semakin cepat, sambil matanya terpejam-pejam menikmati rasa birahinya. Aku sangat menikmati ekspresi wajahnya saat itu, dan tanganku memilin-milin dua buah putingnya yang juga sudah amat mengeras.
"Terusss... sayanggg..., teruskan, lebih dalam lagi...", aku berteriak-teriak penuh rasa nikmat. Eksanti semakin cepat bergerak membenamkan seluruh kejantananku di dalam liang surgawinya.
"Ouchhhh.. Mas, enak Mas, enak sekaliii..”, Eksanti menjerit-jerit kecil sambil mencakar-cakar lembut dadaku.

Dalam posisiku yang terbaring, aku berusaha mengimbangi gerakannya dengan mengayun-menghujam dalam sentakan-sentakan pendek. Eksanti merasa bagai ditikam-tikam, tetapi tanpa sakit, melainkan penuh berisi kenikmatan. Pinggulnya mulai bereaksi bagaikan seorang penari. Setiap hujaman dengan dorongan dan goyangan, sehingga kedua tubuh kami yang berpeluh bertumbukkan tepat di tengah-tengah. Setiap tumbukan mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh penjuru tubuh. Dua menit berselang, lalu Eksanti mencengkeram erat lengan tanganku sambil berteriak, "Ouchh.. Mas, Santi enakk... sekaliiii...", dan seluruh badannya menegang seiring dengan tercapai orgasmenya. Eksanti mengerang lagi, merintih lagi, berteriak-teriak kecil lagi.

Orgasme keduanya datang sangat cepat, posisnya masih tetap duduk di atasku, dan kedua pahanya erat menjepit pinggangku yang tak kenal lelah mengayun-menghujam. Dengan sekali hentak, aku melesakkan seluruh kelaki-lakianku jauh ke dalam tubuhnya, menyentuh bagian paling dalam, menyebabkan Eksanti berteriak nikmat dan meregang-menggelepar. Takut kedengaran kamar sebelah, aku segera membungkam mulut kecilnya dengan ciuman. Akibatnya Eksanti cuma bisa menggumam, "Nggggg.." ketika puncak birahinya tiba dalam gelombang-gelombang besar yang mengguncangkan tidak saja tubuhnya, tetapi juga tubuhku yang sedang erat memangkunya di atas kejantananku. Ranjang kami berderit-derit bagai memprotes.

Setelah membiarkan dirinya sejenak tenggelam dalam gelombang orgasmenya, aku membantu mengangkat tubuhnya, menarik kelaki-lakianku keluar disertai protes lemahnya, “Mas, .. jangan dikeluarkan, Mas...please". Tetapi aku tidak bermaksud berhenti. Sebaliknya, aku ingin memberikan yang terbaik baginya di malam yang dingin ini. Kapan lagi kesempatannya? Apalagi jam baru menunjukkan pukul 21.00. Masih banyak waktu untuk sebuah percintaan-bergairah.

Dengan kedua tanganku yang kokoh, aku menggulirkan tubuhnya sehingga kini Eksanti tertelungkup dengan nafas yang masih memburu dan dada yang turun-naik dengan cepatnya. Eksanti diam saja. Pasrah saja. Dan aku menggunakan kedua telapak tanganku untuk menyingkap kewanitaannya dari belakang. Lalu aku menghujamkan kelaki-lakianku dengan sekali, masuk sampai ke pangkalnya, membuat Eksanti tersentak. Oh! Eksanti membiarkan diriku berbuat sesuka hati, karena kewanitaannya kini sudah sangat sensitif. Diapakan saja, Eksanti pasti segera mencapai orgasme. Dan betul saja. Tikaman-hujamanku belum lagi mencapai hitungan ke delapan, ketika orgasme ketiganya datang lagi menggemuruh. Kali ini terasa lebih hebat, karena gosokan-gosokan kejantananku sangat keras terasa di dinding-dinding kewanitaannya, karena kedua kakinya kini menyatu, membuat aku terjepit erat. Kesat sekali. Nikmat sekali.

Orgasme ketiga juga terasa lebih panjang dan lebih intens, karena aku tak menghentikan hujaman kejantananku. Aku tetap menyerbu-menikam-nikam dengan nafas yang tak kalah menggemuruh. Eksanti mengerang-merintih-menjerit. Eksanti menggigit seprai yang telah pula basah oleh keringat. Kegelian yang tak tertahankan, bercampur kenikmatan yang meletup-letup, memenuhi seluruh tubuhnya yang terhimpit di antara kasur dan tubuhku. Eksanti tak tahan, tapi Eksanti tak ingin aku berhenti pula. Eksanti membiarkan gelombang demi gelombang kenikmatan merajah tubuhnya.

Dan akupun merasakan kenikmatan luar biasa ketika Eksanti mencapai puncak birahi untuk kesekian kalinya ini. Aku merasakan betapa kejantananku bagai dilumat oleh lapisan sutra yang lembut dan hangat. Bagai diremas-remas sambil disedot-sedot, sehingga bagian ujung yang sangat sensitif itu terasa hendak segera meledak. Aku mengayun-ayunkan terus pinggangku, menghujam-hujamkan terus kejantananku, karena kini aku tak bisa lagi berhenti. Aku harus terus menghujam, harus terus menikam, harus terus menikmati sensasi-sensasi kenyal di sekeliling kejantananku.

Eksanti merasakan nikmat luar biasa ketika kejantananku mencapai ketegangan maksimum. Di tengah gelombang orgasmemu, Eksanti bisa merasakan aku sedang menuju orgasme pula. Dan ini memicu gairahnya semakin kuat. Eksanti menjepitkan kedua paha lebih erat lagi, sehingga kini Eksanti bagai memeras kejantananku, meremas-menyedot agar aku segera mencapai puncak birahi bersama-sama.

"Terus, masss... terus... terus...," ucapnya merintih-rintih. Dan aku hanya menyahuti dengan erangan, karena aku kini sedang mengejang merasakan kenikmatan yang luar biasa menyergap tubuhku. Aku juga menikmati desahan nikmat nafasnya, dan aku masih bergerak turun naik, turun naik... menanti-nanti datangnya saat nikmatku sendiri.
Sesaat kemudian, "..ouucchhh.. Santiii..., Mas nggak kuat lagiii...", aku menjerit sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang.

Dengan sebuah hujaman terakhir yang sangat dalam, aku berteriak, "Akhhhhhh...!", dan Eksanti menyambut dengan jeritan kecil, lalu mengerang panjang ketika merasakan semprotan-semprotan hangat memenuhi seluruh rongga kewanitaannya. Nikmat sekali... Aku mengeluarkan lava panas di dalam lubang kewanitaannya. Dinding kewanitaannya terasa memijat-mijat seluruh kejantananku, lembut, lembut, lembut sekali. Eksanti juga merasakan puncak birahinya bagai dipicu kembali oleh semprotan-semprotan itu. Gelombang-gelombang kenikmatan masih menggetarkan tubuhku yang kini lunglai. Kepalanya menengadah, ia menciumi bibirku, penuh mesra, penuh rasa terimakasih. Cairan-cairan cinta kami berleleran memenuhi kedua pahanya, menempel pula di pahaku. Lava panas itu mengalir turun lagi dari dalam kewanitaannya sesaat waktu kami berpelukan erat. Aku menciumi keringat yang mengalir di sepanjang belakang lehernya dan Eksanti pun terkulai lemas di bawah tubuhku. Akhhh..., betapa liarnya kami berdua malam ini, gumamku dalam hati.

Lalu Eksanti merebah kesamping sambil berkata dengan nada yang manja, "Mas, tadi Santi rasanya enak sekali. Santi keenakan sampai empat kali..., Mas hebattt... deh. Sekarang Santi capek banget, pengin bobo duluu..".
Aku tersenyum sedikit bangga sambil mencium keningnya. Lalu tanpa tersadar Eksanti terlelap dalam pelukan tanganku. Kami tertidur tanpa selembar benangpun menempel di kulit kami, seolah-olah lupa akan dinginnya AC sentral di hotel Holiday Inn malam itu.

************

Pukul empat pagi Eksanti terbangun, udara masih sangat dingin. Eksanti dengan mesra menciumi pipiku sambil berkata ,"Bangun Mas, kita harus mengejar pesawat pagi ini".
Aku terkaget sejenak lalu tersenyum sambil membalas ciumannya dengan melumati bibir mungilnya. "Mandi yuk Mas, nanti kita telat", begitu katanya sambil menyelendangkan selimut ditubuhnya.
"Santi duluan deh, aku masih kedinginan nih", aku menjawab sambil mencoba menarik selimut menutupi badanku.

Eksanti lalu berlalu menuju kamar mandi. Sementara ia masuk ke kamar mandi, aku memandang langit-langit hotel sambil tersenyum sendiri mengingat kejadian indah malam tadi. Lalu aku mendengar suara air mengalir di kamar mandi, menandakan bahwa Eksanti sedang mengisi bathtub. Tanpa aku sadari kejantananku kembali mengeras membayangkan dirinya lagi. Aku mendengar suara Eksanti sedang menggosok gigi, sementara air pengisi bathtub masih mengalir deras.



F I N



Eksanti, Fantasi Dalam Telepon - 1

The true story...

*****

Malam itu seperti biasa Eksanti tidur sendiri di kamar kost-nya. Tetapi Eksanti tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan percumbuan yang serba singkat di dalam mobil beberapa hari yang lalu kembali muncul di matanya yang mencoba tertutup. Rumah besar tempat kostnya di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.

Sudah seminggu ini Eksanti tidak berjumpa dengan aku di kantor, karena memang aku sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya adalah jadwalku untuk kembali masuk ke kantor, namun aku belum juga datang. Siang tadi Eksanti telah berulang kali menelphone HP-ku, namun tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit muncul dibenaknya, bercampur dengan rasa kangen yang luar biasa. Lalu ia pun berniat mengontak aku di rumah, tetapi niat tersebut diurungkan. Bukan saja karena Eksanti tidak mau melanggar komitmen untuk tidak menggaguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata telphonenya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku. Siapa orang itu dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku ke rumah?

Kini, ketika matanya tak juga mampu terpejam tidur, ia menyesal kenapa tak memberanikan diri mengkontakku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tak lebih 15 kilometer jauhnya dari kamar tidur Eksanti, aku juga sedang terlentang sendirian di ranjang besar di kamar tidurku dengan mata nanar memandang langit-langit. Aku juga tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yang penuh angka dan paling menjemukan telah habis aku baca. Entah kenapa, malam ini aku begitu merindukan Eksanti. Mungkin karena telah seminggu ini kami tidak berjumpa, sehabis kejadian malam yang indah di dalam kemacetan Jakarta itu. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu oleh kekasihnya yang lain? Apakah ia sedang bersama dengan teman manajerku itu?. Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membuat aku terbakar cemburu selain birahi. Sungguh menggelisahkan!

Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telephone di sisi ranjangku. Haruskah aku menelphone Eksanti sekarang, malam-malam begini? Segera aku angkat gagang telephone, namun sebelum sempat memutar nomer telephone-nya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan aku meletakkannya kembali ke atas pesawatnya. Bagaimana kalau ia sedang bersama orang lain saat ini?. Ahh.. tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Ketika Eksanti hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Siapa..?”, ujarnya sedikit malas.
“Santi, ada telephone untuk kamu di depan”, ujar suara Eni teman kostnya dari balik pintu.
“Dari siapa...?, Eksanti bertanya lagi.
“Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih San..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.
Eksanti bergegas bangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa ‘kakaknya’ itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, “Terima kasih yaa.. En, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..”. Eksanti terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa ‘kakaknya’ itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa ‘kakaknya’ itu, terlebih pada Eni teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.

Eksanti lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.
“Halo Santi, ini Mas...”, aku menyapanya.
“Halo Mas, ini lagi di mana..”, ujar Santi dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
“Lagi di rumah dong..., Santi sudah mau bobo’ yaa..?”, tanyaku lagi.
“Ahh.. belum kok, Santi belum ngantuk...”, jawab Santi sedikir berbohong.
“Kenapa...?”, tanyaku lagi.
“Abis, Santi mikirin Mas..., ‘kan mestinya hari ini udah masuk kantor”, Santi berkata dengan penuh terus terang.
“Terima kasih.., kamu inget sama Mas, soalnya tadi Mas masih capek banget, jadi masih males masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, San. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi”, ujarku beralasan.
“Sama-sama, Mas... Selamat yaa..”, ujar Eksanti menimpali pernyataanku.
“Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih?”
“Di ruang tamu, mas”
“Lagi banyak orang nggak di situ”
“Ada si Eni yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo’. Ehh.. Mas, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..”, bisik Eksanti pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Eni akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Eksanti dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.

“Mas, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping”, Eksanti memberi sinyal kepadaku.
“Santi, Mas kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..”, aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
“Ahh.. Mas, Santi juga kangen tapi gimana dong...?”, Eksanti berucap pelan.
“Mas pengin banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!”, aku berkata jujur. Eksanti sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.
“Santi, juga..., tapi gimana”, ujar Eksanti kembali.
“Santi bantuin Mas yaa..”, aku meminta kepadanya.
“Bantuin apa..?”, ujar Eksanti bingung.
“Bantuin biar rasa kangen Mas terobati”
“Santi mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Santi bisa. Santi mau Mas bahagia”, ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.

Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali...

“Santi pakai baju apa sekarang?” , aku bertanya lagi.
“Pakai daster warna merah muda.., Mas pakai apa”, Santi balik bertanya.
“Ehmm.. Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi... Kamu pakai apa di balik dastermu San..?”
“Santi nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi masih pakai celana dalam warna krem”
“Yang ada renda-rendanya itu?”, aku bertanya penuh rasa penasaran.
“He.. em”, ujernya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan masing-masing. Suara Santi yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.

Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Eksanti menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Eksanti berdesir karena rasanya ia masih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Eksanti dalam benaknya.

"Mas..," bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal, "Apa yang ingin Mas lakukan kepadaku?"
“Santi, Mas sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Mas bayangkan...?”, aku berujar pelan.
“Hee em..”, Eksanti mendesah lagi mengiyakan.
“Mas membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Mas sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu”, aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku . Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku . Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu... hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.

“Teruss..?”, Eksanti berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.
Eksanti masih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Eksanti meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.

“Terus bibir Mas turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Mas menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, ‘yang?”, aku melanjutkan.

“Oocch... iyaaa.. Mas, terusss..”, Santi semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.

“Bibir Mas semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Mas sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri... lalu yang kanan... Tangan Mas meremasnya lembut.. Ooocch... Santi, Mas rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?”, aku berhenti sejenak. Aku mendengar Eksanti mendengus pelan...

Eksanti tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Eksanti mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha. Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Eksanti sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling.

Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku “..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang... Mas juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Mas dan menekan kuat-kuat kepala Mas di dadamu”, aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.

“Ooccch.. Mas, teruskan...”, Eksanti mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.

“Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Mas di bawah sana. Santi.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada lubang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana... Oocchh..”, aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.

Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Eksanti membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

“Oocchh.. Mas.. Santi juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang”, Santi pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.

Kira-kira hampir semenit kami berdua hening, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual masing-masing, sementara masing-masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk membangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling menimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku . Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.

"Eksanti," bisikku , "Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Mas barusan lakukan?”
“Hee.. emm..”, desahnya pendek.
“Celana tidur Mas sekarang telah terlepas, kejantanan Mas sudah tegak menegang, kamu masih ingat jelas bentuknya ‘kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga ‘yang...?”, aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.



Eksanti, Fantasi Dalam Telepon - 2

“Iyaa.. Mas, sekarang Santi juga sudah terbebas...”, ujar Eksanti mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.
Angin dingin menimbulkan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Eksanti. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Eksanti seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana. “Oh, aku begitu terangsang malam ini”, desah Eksanti panik di dalam hati.

“Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Santi. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu...”, aku melanjutkan permohonanku.

“He.. emm..”, Santi mendesah sambil mulai memasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya. Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.

“Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Santi. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, ‘yang..?”

Cepat-cepat Eksanti memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Eksanti menggelinjang. Eksanti mendesah gelisah. Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya mereMas, mengusap, menggaruk, membelai... Eksanti mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terbangun.
“Oocchh.. Mas, Santi sedang memilin lembut puting Santi. Oocchh.. Mas.. keras sekali, Santi ingin Mas menggigitnya, Santi ingin Mas meremasinya.., pelan saja Mas...”, Eksanti berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.

“Iya... Sayang, Mas sedang menjepitnya dengan bibir Mas, lalu lidah Mas menyapu-nyapu lubang di ujung putingnya... Enak sayang..?”, akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.

“Iyaa.. Mas.., sekarang tangan Santi ada di atas perut Santi”, Eksanti melanjutkan.

“Iyaa... sayang, bibir Mas sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Mas berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Mas turun ke pangkal pahamu... Terus bibir Mas berhenti di sana..”, aku berhenti untuk menunggu reaksinya.

Eksanti tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis masih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. Apalagi kemudian Eksanti menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.
“Oochh...”, Santi mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerbang kewanitaannya yang telah terbebas. Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.

“Lalu Mas menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Mas. Lalu Mas menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Mas gigit pelan klitorismu... Mas hisap.., Mas.. gigit, Mas... hisap lagi. Telunjuk Mas sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..”, aku kembali mengendalikan fantasinya.

“Oocch.. Mas, Santi pengin Mas.. Santi pengiinn... oochhh.. sekarang...”, Santi tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

“Iya.. sayang, Mas juga.. Mas sekarang akan memasukkan jemari Mas ke dalam kewanitaanmu Santi..”, aku berbisik lembut kepadanya.

“Oocchh..”, Santi mengerang pelan.
Eksanti menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terbangun walau Eksanti berteriak sekali pun.

“Jemari Mas masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Mas keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.
Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.

Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimbulkan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk memastikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.

“Mas.., sekarang Santi benar-benar sudah basah.., Santi ingin bercinta dengan Mas... Masukkan kejantananmu sekarang Mas, please..”, sekarang giliran Santi yang memohon kepadaku.

“Iya sayang.., kejantanan Mas juga sudah keras menegang. Sekarang Mas mengarahkannya ke dalam gerbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Mas, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Mas mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Mas merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Mas melesak pelan”, aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.

Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi... Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku mereMas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.

Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.

“Ooochhh..., teruskan Mas..”, Eksanti berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.

“Lalu Mas mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Mas. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Mas, dan Mas merasakan ujung kejantanan Mas kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam”, aku merasakan cairan bening sedikit mengalir di bawah sana.

“Ooocchhh...”, Eksanti mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai memasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu. Eksanti mengerang tanpa berusaha menahan suaranya. Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur... turun sampai melesak sedikit memasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut... lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu... lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu... berputar-putar di sana dua-tiga kali ...
"Aaacchh..," erangan Eksanti semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

Tangan Eksanti bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan gemas. Tubuh Eksanti berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Eksanti sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!

Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara...
“Mas menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Mas memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Mas. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Mas. Mas menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan...”, aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Eksanti. Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun... Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimbulkan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.

“Ooochhh... Aacchhh...”, Eksanti merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya. Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam menikmati suara rintihannya. Jemari tengah Eksanti telah lancar ke luar masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.
Ranjang Eksanti bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.

Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone masih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Eksanti memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimbulkan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.

Eksanti bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya...

Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak... Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.

Eksanti merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya meninggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung...

******

Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hening di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Eksantipun hanya bisa mendengar dengusanku.

“Santi, kamu masih di sana?”, aku mengawali percakapan kembali.
“Iyaa.. Mas, Mas udah lega belum?”, ia menjawab pelan pertanyaanku.
“Mas, lega..., dan capek..., terima kasih yaa.. San. Santi enak nggak?”, aku berkata lagi.
“Ehh..mmm”, Eksanti tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana. Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat menikmati ke-’lega’-an bersamaku beberapa menit yang lalu.
“Santi, kita udahan dulu yaa.. Mas mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa...”, aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.
“Iya Mas, Santi juga mau mandi lagi nih... Gerah sekali rasanya”, ia berujar. Naah.. ketahuan deh.. Santi memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. Aku paling tahu, Santi sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.
“Sampai besok yaa.. IOU”, aku mengakhiri percakapan.
“IOU Mas..., mimpiin Santi yaa..., bye”, lalu Santi menutup telephonenya.

******

Malam bagai tak peduli. Tetap dengan kelam dan dingin dan desir angin bersiut. Langit sesekali berkerejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah Raja Malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sambil berdiri, terayun-ayun oleh angin yang meraja lela.

Sebentar kemudian hujan mulai turun. Mula-mula hanya berupa rintik kecil. Tetapi lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti dicurahkan dari langit. Aku masih tergeletak lunglai. Eksanti pun tidak segera mandi, ia terkulai lemas. Kami berdua terpisah oleh tembok, halaman, batu, sungai kecil, pohon, jalan raya, dan sebagainya... Tetapi kami berdua bersatu dalam fantasi erotik, kami bertemu dalam imajinasi asmara yang menggelegak membara. Siapa bilang tidak ada kekuatan telepati di dunia ini?



Eksanti, Fantasi Dalam Telepon - 3

Kemudian aku beringsut menuju kamar mandi. Ketika aku masuk ke dalamnya, Eksanti terkejut sejenak sambil tersenyum melihat kejantananku yang sedari tadi sudah mulai mengeras lagi. Aku menggosok gigi, sementara Eksanti mulai merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Nyaman sekali rasanya berendam di air hangat. Eksanti mengusapkan busa wangi ke seluruh tubuhnya. Ke dadanya yang terbuai-buai di dalam air. Ke ketiaknya yang mulus tak berambut. Ke sela-sela pahanya yang tampak samar-samar di bawah permukaan air. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yang terjepit, yang berlekuk-berliku. Hmmm. Biar semuanya harum.

Sejenak aku melirik ke kaca, dan darahkupun berdesir lagi ketika aku melihat Eksanti sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Putingnya yang merah kecoklatan terlihat mencuat keatas, sangat kontras dengan warna putih buih-buih sabun yang menempel di sekelilingnya. Tangannya membasuh dada dengan air sabun itu dan sesekali memilin-milin putingnya dengan lembut. Aku semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat sensual itu. Segera aku berbalik badan untuk memandangnya lebih jelas lagi adegan itu.

Eksanti berkata manja, "Ayo Mas..., tolong gosokin punggung Santi dong...". Tanpa berpikir panjang aku segera menghampirinya dan aku masuk ke dalam bathtub. Sementara Eksanti mengangkat punggungnya sejenak dan mengatur posisi duduknya di dalam bathtub untuk memberikan tempat duduk kepadaku di belakang punggungnya. Kini aku telah duduk tepat di belakangnya, dan dengan jelas aku bisa menyaksikan kulitnya yang putih bersih dengan tonjolan ruas-ruas tulang belakang di bagian tengahnya. Air hangat terasa membasahi kaki dan pinggangku, lalu aku mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Karena sempitnya bathtub itu untuk tubuh kami berdua, maka kejantananku yang kian mengeras terasa menyentuh-nyentuh tulang belakang punggungnya. Eksanti kelihatan gemas sekali merasakannya.

Lalu tangannya beringsut kearah belakang pungungnya, mencoba meraup kejantananku itu. "Hmmm... Santi gemes sama yang ini...", begitu Eksanti berkata sambil meremasi kejantananku. Tanganku yang tadi membasuhi punggungnya sekarang telah merangkul tubuhnya dari belakang, mecoba untuk membasuh dadanya. Sengaja aku mempermainkan puting dan payudaranya sehingga Eksanti menggeliat kegelian. Lalu Eksanti mendesah nikmat, "Ahhh... ". Dan akupun secara refleks langsung melayangkan ciumanku ke arah rambut lembut di sekitar leher belakangnya. Aku mencium dan menggigit lehernya dengan lembut dan Eksanti makin mengelinjang-gelinjang... geli dan nikmat sekali rasanya.

Aku tidak sabar lagi, lau aku memintanya untuk berbalik badan. Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. Kejantananku berada tepat di depan lubang kewanitaannya, siap untuk menusuknya dengan nikmat. Sekali lagi aku membasuh dadanya, aku meremas-remas payudaranya yang lembut dengan puting yang telah mengeras itu. Eksanti memejamkan mata menikmatinya.

Sebenarnya Eksanti sudah tidak tahan lagi, tetapi aku masih mau bermain-main dengan dua bukit indah di dadanya. Maka Eksanti menyerah, membiarkan diriku menjilat, menghisap, dan menggigit mesra puting-puting susunya. Eksanti hanya bisa mengerang, mendesis, dan berdecap setiap kali sensasi-sensasi nikmat datang dari kehangatan mulutku. Puncak-puncak payudaranya, bagian tengahnya, pangkalnya --seluruh payudaranya-- terasa geli bercampur gatal bercampur hangat bercampur nikmat. Teruskan, teruskan, teruskan... jeritnya dalam hati. Tapi itu tak perlu, karena aku tak akan segera berhenti.

Air bak mandi bergejolak hebat, sebagian tumpah ke lantai, menimbulkan suara kecipak yang ramai. Tapi kita tak memperdulikannya. Sambil terus mengulum putingnya, tanganku menjelajahi bibir halus di bawah sana. Mengelus lepitannya, menekan-nekan bagian atasnya yang sensitif, menelesuri celah-celahnya yang licin, berputar-putar di liang hangat yang pastilah telah berubah warna menjadi merah muda. Eksanti semakin banyak bergerak, menggeletar, menambah besar gelombang air di bak mandi.

Lalu aku mulai mencium bibir lembutnya, aku beringsut ke depan dan kejantananku perlahan-lahan menembus lubang surgawi kewanitaannya. Eksanti sigap mengambil inisiatif, sedikit mengangkat tubuhnya dengan posisi yang tepat, mengarahkan pusat kenikmatan kewanitaannya pada kejantananku. Lalu, perlahan-lahan Eksanti duduk kembali, dan dengan nikmatnya merasakan senti-demi-senti penyatuan cinta birahi dirinya dan diriku. Nikmat sekali rasanya. Perlahan sekali rasanya. Penuh sekali rasanya.
"Ah...," cuma itu yang bisa Eksanti desahkan ketika akhirnya Eksanti terduduk total dipangkuan kedua pahaku, pada posisi yang masih saling berhadapan.
"Oucchhh... Mas", Eksanti mengerang penuh nikmat ketika aku membenamkan seluruh kejantananku lembut sekali.

Sambil memegang wajahku dengan kedua tangan, dan sambil meneruskan ciuman kami yang menggelora, Eksanti memulai pendakiannya ke puncak kenikmatan. Tubuhmu bergerak naik-turun. Mula-mula perlahan dan beraturan. Tetapi tidak lama kemudian berubah liar, diselingi teriakan-teriakan tertahan, dan suara-suara basah yang berdecap-decup dari bawah sana.

Tangan Eksanti dialihkan dengan memeluk erat punggungku, seolah Eksanti menginginkan tusukanku lebih dalam lagi. Eksanti menggelinjang-gelinjang dengan nikmat, sehingga air dalam bathtub kami bergolak-golak seirama dengan gejolak nafsu kami di pagi buta itu. Dengan kasar Eksanti meremas-remas rambut kepalaku, Eksanti mencakari punggungku sambil menaik-turunkan tubuhnya. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut.

Kedua tanganku yang kokoh ikut membantu. Aku mencekal pinggangnya dengan sigap, membantunya bergerak naik-turun, karena tampaknya Eksanti telah kehilangan kendali. Ciuman kami terputus, karena Eksanti meregang dengan kepala terdongak ke belakang. Dadanya membusung, payudaranya berayun keras, memberikan pemandangan indah kepadaku. Segera aku meraih salah satu bukit sintal itu dengan mulutku, menyedot puting susunya, dan membuatnya menjerit nikmat, dan mengirim sinyal terakhir yang memicu orgasme pertama di pagi buta itu.., orgasme ke limanya bersamaku.

Eksanti meregang dan mengejang. Gerakannya terhenti di tengah-tengah, lalu Eksanti terhenyak terduduk, dan menggelinjang bergeletar. Aku merasakan denyutan-denyutan kuat di bawah sana. Aku meneruskan hisapan mulutku, meningkahinya dengan gigitan-gigitan lembut.
Eksanti pun mengerang, "...Aaah...", Eksanti pun mendesis, "...Sssssh...", Eksanti pun akhirnya berteriak panjang, "...Ooooooh... masss enakk...", sebelum akhirnya terkulai dan memeluk erat diriku.

Kami berciuman kembali, kali ini dengan penuh kelembutan. Eksanti bergumam, "Mmm... enak sekali, Mas luar biasaaa... enak sekali...". Tiga menit berselang, lalu ritual itu pun berlanjut, kali ini dengan aku sebagai pelaksana utamanya. Tubuhku yang kokoh bergerak maju-mundur sebatas pinggang, menciptakan tikaman-tikaman nikmat. Setiap hujaman mengirimkan sejuta getar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Eksanti mengerang lagi, mendesis lagi. Aku semakin cepat bergerak, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Keringat dan air bercampur di tubuh kami berdua, sementara di bagian bawah, tempat penyatuan wanita-pria itu, kebasahan telah mengental, menimbulkan suara berdecap berkecipak setiap kali aku menghujam dan menghela. Suara-suara gairah memenuhi kamar mandi. Eksanti sangat bergairah. Aku sangat bergelora. Kami berdua, bersama-sama, berkejaran menuju puncak kenikmatan.

"Mmmmm... Santi.. ngga tahan, Mas... ngga tahan... ," Eksanti mengerang, aku hanya bisa menggeram.
"Ogghhhh... Mas, Santi nikmattt... sekaliii...", Eksanti mengerang-ngerang nikmat bercampur bunyi dengan kecipak air di dalam bathtub.
"Oggghhh..., Santi,... Mas juga enakkkkk...", aku membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah. Tanganku tetap memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali aku basahkan air sabun ke atasnya.

Eksanti makin mengelinjang-gelinjang sambil terus mendesah-desah nikmat, "Terus Mas, terus Mas...". "Aaaah...," Eksanti menjerit tertahan ketika orgasme kedua (ke enam bersamaku) tiba-tiba datang menyerbu. Eksanti menggelinjang hebat, tetapi kedua tanganku erat memeluk, sehingga Eksanti tidak bisa melepaskan diri. Aku masih terus menghujamkan sejuta kenikmatan. Eksanti menggeletar hebat. Eksanti ingin diriku berhenti dulu. Tapi tidak, tidak. Eksanti ingin diriku terus bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Eksanti tidak tahu harus bagaimana, kenikmatan sudah memenuhi seluruh tubuhmu. Berdenyut, berdetak, bergelora, meletup-letup. Eksanti menyerah. Eksanti menjerit lebih keras.

Dan Aku merasakan jepitan menguat di bawah sana, seakan mereMas, dicampur denyut-denyut keras. Aku pun tak tahan lagi. Seakan ada air bah bergemuruh di dalam diriku, membawa jutaan partikel-partikel nikmat yang membuat mataku terpejam. Tak lama kemudian ototku terasa menegang, setengah berteriak aku berkata, "Ayo Santi..., Mas mau keluar, Mas nggak kuatt.. ayo kita bersama-sama mencapai nikmattt... Santi...".
"Ayo Mas... terus Mas...", Eksanti pun mendesah-desah sambil dengan semakin cepat ia menggoyang-goyangkan pinggul dan badannya.

Dengan sekuat tenaga aku menghujam. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Akhirnya aku menggeram, menggerendeng bagai banteng menahan amarah, "Sannn..., auucchh... Mas keluarr... sayanggg...", dan sedetik kemudian "Mas, Santi juga enakkkkk...". Lava panasku meledak-ledak di dalam lubang kewanitaannya, sementara Eksanti tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Cairan hangat menyerbu keluar dari tubuhku, menyemprot kuat ke dalam tubuh Eksanti yang telah terbuka menerima, memfinalkan kenikmatan yang terasa sampai keujung jempol kakinya.
"Auucchhhh... geli sekalii... tapi enakkk..." aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat itu. Lava panas itu menghangati dinding kewanitaannya dan Eksantipun terlihat menikmati saat-saat orgasmenya yang kesekian kali bersamaku...

Kami berdua terkulai dengan nafas memburu. Ia bahkan masih terus mengerang dengan suara pelan. Setengah menit kemudian kami masih terkulai berpelukan dalam bathtub. Air hangat masih mengalir ke dalam bathtub, yang segera aku matikan. Suara air tak ada lagi. Kamar mandi kembali sepi, setelah saat-saat indah itu. Lalu aku berucap pelan, "Kita harus segera mandi lagi, nih, ‘yang... "
Eksanti tersenyum, "Santi yang memandikan, yaa.. Mas. Ini tanggung jawab Santi, lho!". Akupun tertawa sambil berujar, "Kalau kamu yang memandikan aku, kita akan terlambat ke airport. Sekarang sudah pukul 6 pagi".
"Kan cuma mandi?" ia menggodaku lagi.
"Cuma mandi. Titik. Dan mandinya juga pakai shower saja... " sahutku. Iapun menggangguk setuju.

Kemudian kami bergegas untuk membasuh diri kami masing-masing dan Eksanti menyabuni seluruh tubuhku. Tangannya dengan lembut menyabuni kejantananku yang telah terkulai, dan sesaat Eksantipun masih sempat untuk menguluminya. "Occhhh... Santi, kamu juga hebat sekali..., belum pernah aku merasakan yang seperti ini dengan orang lain...", begitu bisikku jujur sambil menyabuni tubuhnya. Eksanti tersenyum manja mendengar bisikan itu, sambil menjawab, "Ntar deh di Jakarta..., Santi kasih yang lebih hebat lagi yaa...". Aku tertawa keras, mencubit pipinya dengan gemas. Sungguh sebuah pagi yang indah sekali!!!

******

Setelah kami selesai mandi lalu kami bersiap untuk check out dan berangkat menuju ke airport. Pukul 8.00 pagi, aku dan Eksanti sudah berada di pesawat Garuda duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Eksanti tidak ingin melepaskanku. Ketika pesawat dengan lancar melakukan take-off, sejenak kemudian ia merebahkan kepalanya di dadaku.
"Santi tidur yaa... Mas, ngantuk dan capek nih", begitu katanya.
"Hmmm..., saya juga mau bobok, sayangg...", aku menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku. Sambil tersenyum aku berkata dalam hati, "Pantas saja kamu kecapekan, habis lebih dari 6 kali sih...".

*******

Kami sejenak terdiam ketika si manajer itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh nampak jujur di mataku, tanpa sedikitpun usaha untuk melebih-lebihkan ceritanya. So, apakah aku harus tidak percaya...?

“Sejak saat itulah aku jadi sering malakukan ‘affair’ dengan dia. Kalau hal itu elu sebut ‘affair’, tapi elu janji yaa.. jangan tanya-tanya lagi mengenai hal ini”, si manajer itu mengakhiri ceritanya kepadaku.
“Oke.. man has to know his limit..”, jawabku meyakinkannya.
Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Aku tahu, pasti itu adalah telephone dari rumahnya. Semua orang di kantor ini bisa membedakan bagaimana gayanya kalau menerima telephone dari rumahnya.
“Gua, cabut dulu yaa..”, katanya lagi ketika ia selesai bicara di HP-nya.
“OK, see you next morning, take care..”, jawabku singkat.

Ketika si manajer itu keluar dan menutup pintu kamar kerjaku, aku kembali tercenung mengingat semua ceritanya. Perasaanku bercampur aduk antara cemburu, sebel, ingin marah, tetapi aku tidak tahu harus aku tujukan kepada siapa. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa... Sejenak aku ingin menghubungi Eksanti melalui paging telephone, siapa tahu ia belum pulang saat ini, tetapi niatku itu aku urungkan. Aku masih belum bisa menata kembali perasaanku.

Aku segera mematikan layar komputer, arlojiku telah menunjukkan pukul 19.30 malam. Lorong kantorku telah sepi senyap saat aku keluar dari pintu kamar kerjaku. Kursi Eksanti juga sudah lama kosong. Rupanya ia bergegas pulang sore ini karena ada janji dengan seseorang, begitu kata office boy yang dengan setia masih menungguku.
”Acchhh..., Eksanti, dengan siapa lagi kamu malam ini..?”, aku bertanya dalam hati sambil bergegas meninggalkan pintu ruang kantorku.

*****

It reminds me with something I hate, which had been happened in my life story...
Should I believe it..?



Eksanti, Proposal yang Tertunda - 1

Sejak kejadian dimana si manajer itu menceritakan pengalaman cintanya dengan Eksanti (baca: Eksanti, The other Manager part 1, 2 dan 3), aku sama sekali tidak pernah lagi berusaha untuk mengajak Eksanti bercumbu lagi. Pada awalnya aku bahkan merasa agak malas untuk berbicara dengan Eksanti, namun aku harus berusaha untuk selalu bersikap professional, memisahkan antara hal-hal yang pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku sendiri juga tidak pernah sempat dan tidak pernah ingin untuk mengkonfirmasikan kebenaran cerita si manajer itu kepadanya. Bagiku, bila hal itu memang benar-benar terjadi di antara mereka, itu adalah urusan pribadi Eksanti.

Namun, sebagai manusia biasa, aku juga merasa ‘dikhianati’ oleh Eksanti. Aku telah cukup bersikap toleran dengan apa yang dilakukannya dengan orang lain, sebelum ia berhubungan denganku. Tetapi toh toleransiku ada batasnya, bila hal itu masih juga dilakukannya pada saat kami masih berhubungan.

Hingga tiba pada suatu malam saat aku tidak kuasa menahan rasa rinduku kepadanya, dan kami pun akhirnya berfantasi cinta melalui telepon (baca : Eksanti, Fantasi dalam Telepon part 1 & part 2). Kejadian itu berlangsung hari Kamis yang lalu. Sejak malam itu, aku pun juga sudah mulai tidak memperdulikan lagi cerita si manajer itu, walapun aku masih tetap penasaran, apakah Eksanti benar-benar melakukan hal itu?

Hari Jum’at-nya, seharian aku berada di luar kantor sehingga tidak sempat untuk berbicara banyak dengan Eksanti, kecuali memberikan pesan-pesan mengenai persiapan penyusunan proposal yang harus dikirimkan pada salah satu klien besar perusahaan kami pada hari Senin minggu depan.

Hari Sabtu siang udara Jakarta panas sekali, aku masih berada di kantor karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan pada akhir minggu ini. Sengaja hari Jum’at sore sebelumnya, aku telah meminta Eksanti untuk membantuku menyelesaikan proposal yang harus dikirim pada hari Senin besok. Akupun juga meminta bantuan salah seorang office boy di kantor kami, untuk datang pada hari Sabtu itu.

Sampai dengan saat waktu makan siang, kami bertiga masih berada di dalam kantor. Tetapi karena office boy itu ada keperluan keluarga, yang memang telah dikatakannya kemarin kepadaku, maka setelah makan siang ia meminta ijin untuk pulang lebih awal. Aku mengijinkannya sambil berpesan agar ia mengingatkan Eksanti untuk mengunci pintu kantor dari dalam. Aku khawatir ada orang yang masuk ke dalam kantor tanpa diketahui ketika kami sedang asyik bekerja di ruang dalam. Kini hanya tinggal kami berdua, aku dan Eksanti, yang berada di seluruh lantai 25 gedung kantor itu. Eksanti bekerja di ruang depan dan aku di dalam kamar kerjaku.

*****

Ketika aku kembali hendak mulai bekerja, sejenak aku baru menyadari bahwa aku hanya tinggal berdua dengan assistenku -dan kekasihku-. Namun tiba-tiba kembali pikiranku tentang cerita si manajer itu menggangguku. Sehingga aku tidak bisa kembali berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaanku. Aku harus mengorbankan prinsipku untuk tidak mengurusi hal-hal pribadi, aku harus meminta penjelasan kejadian yang sesungguhnya, aku tidak mau ‘dikhianati’.

“San, bisa ke kamarku sebentar”, aku memanggilnya melalui interkom.
“Yaa..., Mas”, ia menyahut.
Tidak lama berselang Eksanti mengetok pintu dan masuk sambil membawa notulen dan pensil seperti biasanya.
“Ada yang bisa saya bantu Mas?”, tanyanya sambil duduk di kursi depanku.
Aku tersenyum lalu dengan nada berat aku berucap pelan, “Santi, sebenarnya ini masalah pribadi, tapi boleh dong kalau aku bertanya terus terang kepadamu?”
“Achh.. Mas, kenapa mesti ragu-ragu sih, mau nanya apa..?”, Eksanti menjawab dengan nada sedikit penasaran.
“Sebelum aku bertanya, kamu mau janji nggak..?”, pintaku lagi.
“Janji apa..?, ia makin penasaran.
“Janji kamu tidak akan marah kepada siapapun dengan pertanyaanku ini”, aku mengajukan persyaratan sebelum menjawab rasa penasarannya.
“Yaaa.. tergantung jenis pertanyaannya sih..?”, jawab Eksanti yang berusaha mempermainkanku.
“Yaa.. udah kalau gitu, aku nggak jadi nanya”, aku sedikit kesal dengan candanya.
“Ehh.. Santi cuman bercanda kok. Santi janji deh, nggak bakal marah sama siapa-siapa. Mas, mau tanya apa sih..?”, ungkap Santi semakin penasaran.

“Hee.. emm”, aku berdehem sejenak, sungguh sangat sulit mengungkapkannya.
Lalu aku meneruskan, “Santi, kamu pernah pergi ke Surabaya untuk urusan kantor tanpa seijinku nggak?”
“Tidak pernah..., Lho emang ada apa sih Mas?”, ia menjawab sambil memicingkan matanya.
“benar... Tidak pernah?”, aku masih belum percaya.
“Sumpah, demi...”, tidak sempat ia melanjutkan kata-katanya.
Lalu aku memotong, “Oke.., oke.. nggak usah demi-demian, Mas percaya”.
“Sekarang jadi Santi yang penasaran, emangnya ada apa sih Mas..?”, Eksanti balik bertanya kepadaku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, bahkan kembali meneruskan pertanyaanku sebelumnya.
“Jadi kamu benar tidak pernah pergi ke Surabaya dengan manajer bussiness development kita”.
“Ooo.. Santi mulai ngerti maksud Mas. Iyaa.. Santi emang banyak mbantuin dia, tapi Mas kan juga tahu. Hal itu ‘kan juga atas seijin Mas, walaupun tugas utama Santi bukan untuk hal itu”, Santi menjelaskan dengan sangat lancar. Ia memang agak mudah tersinggung kalau aku bertanya terlalu ‘straight forward’ seperti itu. Ia tidak mau dituduh yang bukan-bukan, aku sangat tahu kebiasaannya itu.
“Tapi kamu mbantuin dia sampai Surabaya nggak...?”, aku kembali penasaran dengan pernyataannya yang mendua itu.
“Nggak pernah, Santi cuman mbantuin dia untuk membereskan file-file pengembangan usaha kita di Surabaya itu, di kantor ini saja. Titik..! Santi sama sekali tidak pernah ikut dia ke luar kantor ini untuk urusan bisnis apapun”, ia masih menjelaskan dengan nada sedikit ketus.
“Jadi.., kamu pernah dong keluar sama dia untuk urusan yang lain..”, aku kembali bertanya, kali ini dengan nada sedikit cemburu yang tidak bisa aku sembunyikan.

Eksanti agaknya mengerti perasaanku, maka nada bicaranya pun sedikit melunak dan ia mulai berani jujur menjelaskan.
”Begini Mas, gara-gara Santi banyak mbantuin urusan dia, Santi emang menjadi lebih dekat kepadanya daripada seharusnya. Terus, tanpa sengaja Santi juga sering cerita tentang masalah-masalah Santi kepadanya..”
“Kok bisa begitu...?”, aku ingin agar ia meneruskan penjelasannya.
“Abis dianya itu hee.. hee.. romantis sih Mas, lebih romantis dari Mas... Hee.. hee... Jangan marah yaa.. Sebenarnya Santi juga sih yang salah. Karena cara-cara dia yang sangat romantis itu Santi jadi kepancing untuk cerita banyak kepadanya. Tapi, Mas boleh percaya boleh nggak, Santi cuman sampai sebatas jalan bareng dan cerita, tidak melakukan hal-hal lain. Kalau pas lagi curhat terus pegang-pegang sedikit, ‘kali iyaa.. pernah, tapi cuman itu. Santi tidak pernah melakukan dengan orang lain, selama Santi dengan Mas.”

Aku sedikit lega mendengar pengakuannya, lalu kembali melanjutkan, “Tapi Santi nggak pernah cerita apapun kepadanya tentang hubungan kita ‘kan?”
“Yaaa.. ampun, yaa.. nggak dong Mas”, ucapannya semakin melegakanku.
“Oke.. Mas percaya. Mas minta maaf yaa.. kalau pertanyaan Mas tadi sebenarnya sangat pribadi banget”, aku berkata sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa kok Mas, Santi ngertiin”, ia pun menjawab dengan senyum tipis. Oohh.. sungguh cantik kalau dia lagi berekspresi seperti itu.
“Iyaa.., kamu kan tahu Mas sebenarnya berprinsip tidak mau mengganggu urusan-urusan pribadimu”.
“Iyaa..., Santi ngerti Mas, tapi ngomong-ngomong kok Mas nanya begini emang ada apa sih”.
“Nggak ada apa-apa, Mas cuman nggak pengin kamu pergi jauh tanpa seijinku apalagi untuk urusan kantor. ‘Ntar kalau ada apa-apa, kan Mas juga yag harus bertanggung jawab pada bos-bos kita”, untunglah aku bisa berpikir cepat untuk berbohong kepadanya. Aku sungguh tidak bisa membayangkan kalau aku menceritakan hal yang sebenarnya kepadanya. Aku merasa sedikit berdosa telah berbohong kepadanya, tetapi bukankah itu jauh lebih baik daripada nanti Eksanti menjadi marah kepada si manajer itu, karena ceritanya yang terlalu mengada-ada?
“Terima kasih, Mas begitu memperhatikan Santi” ia kembali tersenyum manis sekali.
“Iyaa.. deh, aku sudah selesai, kamu boleh meneruskan pekerjaanmu. Ayo.. sudah hampir sore lho.., nanti nggak selesai!”, aku mengingatkan kembali kepadanya tentang proposal yang harus segera kami selesaikan.
“Santi, ke depan dulu yaa... Mas, ‘ntar kalau ada yang lain panggil lagi aja”, ujarnya sambil berdiri menuju pintu kamar kerjaku.
“Oke, thanks... yaa..”, aku mengangguk sambil tersenyum

Pintu kamar kerjaku ditutup dan aku bernafas lega. Lega karena aku berani bertanya kepada Eksanti, lega karena Eksanti tidak benar-benar melakukannya, dan mungkin juga lega karena aku merasa tidak dikhianati oleh dia dan sahabatku. Aku juga lega karena aku tidak harus mengingat-ngingat hal yang menyebalkan itu

*****

Udara di dalam kantor kita terasa semakin panas, karena AC telah dimatikan dan peluhku mulai bermunculan. Pukul 15.30 siang saat aku melirik ke arah jam dinding di kamar kerjaku tiba-tiba aku teringat, bahwa aku harus melakukan koreksi atas materi yang sedang diketik Eksanti. Lalu aku segera meninggalkan kursiku menuju ke arah ruangan meja kerjanya. Saat aku berjalan di lorong ruangan kantor yang menghubungkan ruanganku dengan meja kerjanya, saat itu aku melihat Eksanti sedang melepas blazer dan menggantungkannya di sebuah hanger yang ada di ruangannya. Saat itulah aku tahu, ia ternyata mengenakan BH berwarna hitam yang nampak membayang jelas di balik kemeja putih tipisnya, membuatku semakin terpesona akan kecantikan dan keseksian dirinya.

Karena suhu ruang yang terasa panas, ia kemudian juga melepas sepatunya, lalu berjalan ke arah lemari dinding abu-abu di depan meja kerjanya. Ia duduk di depan lemari itu dengan melipat kedua lututnya, sambil membenahi berkas kertas-kertas proposal yang akan disusunnya. Darahku berdesir ketika melihat singkapan pahanya yang putih, mulus bagaikan pualam. Lalu aku berjalan mendekat ke arahnya. Mataku masih sempat melihat butiran-butiran peluh membasahi kening dan mengalir di sekitar lehernya, menyusup ke dalam belahan bajunya. ‘Acchh.., kasihan ia merasa sangat kegerahan”, aku bekata dalam hati.

"Gimana, udah hampir selesai belum materinya yang lain, Mas?", tanyanya dengan nada riang, walaupun aku tahu ia sudah nampak mulai letih.
"Perfect, sedikit lagi..!", sahutku sambil mengacungkan jempol.
Kemudian aku melangkah menghampiri dan duduk bersebelahan dengan dirinya. Dari sudut penglihatan mataku, kembali aku melirik. Kedua belah pahanya yang putih mulus terpampang jelas di sana. Bau harum parfum dan keringatnya menambah deras aliran darahku. Dengan tetap sambil duduk, Eksanti menatap ke arahku untuk menanyakan apakah masih ada yang bisa dibantu. Mataku terpaku ke arah matanya, dan gejolak birahiku semakin menjadi-jadi saat selintas aku melirik kedalam belahan blouse putih yang ia kenakan. Akupun lalu berjongkok sambil membantunya membenahi kertas-kertas yang berserakan, dan mataku tak kuasa untuk melirik kembali ke arah kaki indahnya. Glek... Aku menelan air liurku sendiri, kejantananku semakin mengeras dan aku tidak kuasa menahan birahiku.

"Kok gerah yaa..?", tanyanya sambil matanya mencari-cari letak blower AC di ruangan itu.
"Masa sih? Kalau buat aku masih agak lumayan nih dinginnya di sini, daripada di ruanganku yang tertutup rapat", sahutku agak tergagap.
Kemudian aku bangkit berdiri untuk menghampiri letak jendela kaca yang berada di belakang mejanya, masih di ruang itu. Aku segera memeriksa bukaan jendela di balik kerainya, dan ternyata jendela masih tertutup rapat. Akupun membukanya, dan memberitahu pada Eksanti bahwa jendela kaca ruangan itu sudah aku buka untuk mengalirkan angin dari luar gedung jangkung itu agar lebih sejuk.

Ketika aku duduk kembali di sampingnya, Eksanti mengibas-ngibaskan krah kemejanya seolah masih kegerahan. Kemudian ia melepas satu kancing kemejanya, belahan dadanya menyembul, hmmm..., putih sekali. Ia menatapku dan tersenyum. “Oh boy! What a fucking teaser girl”, pikirku dengan dada mulai berdebar-debar.
Semuanya ia lakukan dengan mempesona, tanpa menampakkannya sebagai sebuah kesengajaan, begitu halus dan menggoda. Aku menghela nafas panjang, dudukku mulai terasa tak nyaman, ada yang memberontak di bagian bawah pusarku. Aku merasa Eksanti pun telah melihatnya, karena lirikan matanya berulang kali mengarah ke sana.

"Hmm.., sekarang baru terasa juga gerahnya", kataku sambil menatap dengan tajam dua bola matanya.
Aku menggerakkan tanganku ke bagian atas bajuku, dan dengan teramat perlahan aku buka pula satu kancing bajuku. Aku lihat matanya menyipit, lalu aku buka satu lagi kancing bajuku. Dengan perlahan aku sibakkan kemejaku hingga dadaku terbuka menampakkan sebentuk bidang kokoh dengan kulit bersih di balik kemejaku. Aku melihat ia mengigit bibir. Beberapa saat kami terdiam saling menatap, kedua mata kami saling bergantian menatap, ke arah wajah, turun ke dada, ke arah wajah kembali, turun ke dada kembali. Aku biarkan ia mengamati sinar mataku yang memancarkan gairah. Sinar matanya pun juga mulai mengalirkan pesona birahi.



Eksanti, Proposal yang Tertunda - 2

Aku kemudian bangkit berdiri, tatapan Eksanti jatuh ke bagian bawah pusarku yang sudah membengkak dan menonjol, tak mampu tertutupi oleh longgarnya kain celanaku. Sesaat kemudian sambil tersenyum Eksanti menjulurkan tangannya sebagai tanda memintaku untuk membantunya berdiri. Dengan sigap aku menarik kedua tangannya. Eksanti bangkit perlahan, dan disaat belum berdiri secara sempurna, dengan sengaja aku perkuat tarikan tanganku. Eksanti menjerit lirih karena terkejut dan tak pelak lagi ia terhuyung-huyung dan jatuh ke dalam pelukanku. Wajahnya hanya sesenti nyaris bersentuhan dengan wajahku.

"Sorry, terlalu keras nariknya", bisikku perlahan sambil tersenyum.
"Mas, nakal icchhh...!", sahutnya lirih sambil memukul dadaku perlahan.
"Masih ada yang lebih nakal lagi", kataku dengan nada menggoda dan menatap tajam matanya.
"Ap...", belum selesai ia berbicara kukecup perlahan bibirnya. Lalu dengan tiba-tiba aku memeluk erat tubuhnya.
Eksanti berteriak “Jangan Mas.., jangan.. please... jangan”.

Aku tetap bertahan mendekapnya, sambil berusaha menjilati leher jenjangnya. Eksanti meronta-ronta pelan berusaha melepaskan pelukanku, tetapi aku sadar sepenuhnya bahwa Eksantipun bisa menikmatinya.
"Mas, jang.. ngan.. disiniii..., please.. nanti ada orang...", ucapnya terbata-bata, kedua alis matanya berkerut.
"Ssstt...", sahutku perlahan sambil menutup bibirnya dengan jari telunjukku.
Aku tatap terus wajahnya, ia pun balas menatap. Tak lama kemudian aku melihat sinar matanya mulai meredup dan semakin meredup, kemudian terpejam, bibirnya merekah. Aku dekatkan bibirku perlahan-lahan ke bibirnya, aku biarkan hanya nyaris menyentuh, hanya beberapa milimeter dari bibirnya. Aku nikmati kehangatan napas harum yang keluar dari mulutnya, aku hirup perlahan. Eksanti membuka sesaat kedua matanya, kemudian terpejam kembali. Tangannya meraih leherku dan menariknya, bibirnya melumat bibirku.

Rontaannya semakin melemah ketika aku menyusupkan tangan kananku kedalam belahan blouse bajunya. Jemariku meraba dengan lembut gundukan kecil dibalik behanya.
“Occh... Mas...”, Eksanti mendesah pelan sambil berusaha melepaskan rontaannya.
Pelan-pelan Eksanti semakin menikmati cumbuanku, bibirku yang sedari tadi mengecup-ngecup leher jenjangnya kini kembali mengecup mesra bibirnya. Sesaat pandangan mata kami beradu lagi, lalu Eksanti memejamkan matanya seolah-olah makin memberikan keleluasaan padaku untuk mencumbuinya lebih jauh. Jemari tanganku masih tetap memilin-milin puting kanan dan kirinya yang kini telah mulai mengeras. “Sshh...ssshh...”, Eksanti mendesis sambil mengatupkan bibirnya menahan rasa nikmat itu.

Cukup lama kami dengan bernafsu saling melumat bibir, hingga nafas kami terengah-engah. Ciuman kami terlepas, kemudian perlahan aku dorong tubuhnya hingga tersandar di dinding lemari itu. Aku tatap lagi wajahnya, tak lagi ada tanda-tanda penolakan. Perlahan tanganku bergerak ke atas. Aku melepas satu kancing bajunya, mataku tetap menatapnya. Masih tetap tidak ada tanda-tanda penolakan, aku lepas satu lagi, tiga kancing bajunya terlepas sudah. Kedua tangannya bergerak menumpang pada bahuku dan meremasnya.

Pelan-pelan aku membuka sedikit blouse yang sudah terlepas kancingnya itu dan aku turunkan sedikit badanku hingga bibirku menyentuh pangkal dadanya. Napas Eksanti semakin memburu. Aku turunkan lagi badanku, hingga wajahku persis di hadapan dadanya. Aku melihat ada gesper di bagian depan BH hitam yang dipakainya. Perfecto! Kulepas gesper itu dan aku lepaskan pula tali dibahunya. Payudaranya yang putih itu segera menyembul keluar. Dua tonjolan bukit indahnya seolah menantangku untuk mengecupinya, dan bibirkupun menuju ke sana. Lidahku menjilati ujung-ujung putingnya bergantian kiri dan kanan.

Aku mendongakkan wajahku untuk menatap ekspresi wajahnya dan Eksanti tampak merundukkan kepalanya memandangi ulahku. Masih tidak ada tanda-tanda penolakan. Tanganku bergerak turun, meraba kedua pahanya. Sambil mengangkat kembali badanku, aku mengangkat kedua tanganku bergerak naik menyibakkan rok mini yang dikenakannya. Tanganku lebih naik lagi ke atas hingga terhenti pada bukit pantatnya.
“Hmm, that's must be G-string”, pikirku menebak jenis celana dalam yang dikenakannya, karena kurasakan kedua telapak tanganku terasa hangat menyentuh bongkahan daging padat nan kenyal pada pantatnya, tak ada yang menghalanginya.
Tanganku lalu beralih ke depan meraba-raba lembut paha mulusnya dan sesaat kemudian telah berada di sekitar bulu-bulu lembut di atas kewanitaannya. Aku merasakan celana dalamnya telah membasah oleh cairan nikmatnya, dan hal itu semakin memacu detak jantungku.
“Occhh.. Mass.. enakk... Mas...”, Eksanti bergumam pelan.

Aku menaikkan kembali badanku, sementara tanganku masih beraksi di bawah sana. Kini wajahku berhadapan lagi dengan wajah cantik Eksanti. Kepalanya tersandar pasrah di dinding lemari abu-abu. Kedua matanya meredup menatapku. Aku meremas perlahan bongkahan pantatnya dan bibirnya pun merekah. Terdengar rintihan halus dari dalam mulutnya. Aku mengecup lehernya, Eksanti mendesah. Kecupan bibirku berubah menjadi lumatan dan bergerak ke bawah dan semakin ke bawah, menelusuri pangkal dadanya, lebih ke bawah lagi, menuju ke satu arah, puting susunya yang sudah runcing mengeras dengan lingkaran merah kecoklatan di sekelilingnya. Ketika bibirku mencapai lubang air susu di ujung putingnya, kembali ia merintih. Aku mengulumnya perlahan-lahan di dalam mulutku, sementara lidahku bergerak menyentuh-melumat daging kenyal itu, kemudian sesekali menjentik-jentikkannya. Kedua tangan Eksanti bergerak meremas-remas rambutku dan rintihannya berubah menjadi erangan kenikmatan.

Sambil tetap melumati puting payudaranya, aku membantu Eksanti agar tetap berdiri bersandar di depan lemari dan aku mulai menyingkapkan rok hitamnya. Lalu aku berjongkok di antara kedua kaki Eksanti, dan ia dengan tegang menunggu saat-saat datangnya pelayanan istimewa dariku. Sesaat mataku melihat jelas celana dalam satin warna hitamnya yang menutup gundukan rambut-rambut halus di pangkal pahanya. Inilah permainan pembukaan yang selalu dinanti Eksanti dengan penuh antusias. Belum apa-apa, Eksanti sudah bergidik menahan geli yang akan segera datang. Aku pun menciumi paha yang mulus ditumbuhi bulu-bulu halus itu, membuat Eksanti mengerang pelan. Apalagi kemudian Aku mulai menjilati pahanya, menelusuri bagian bawah lututnya. Eksanti menggelinjang kegelian.

Aku menjilati paha mulusnya sambil menciumi celana dalamnya yang semakin membasah bercampur dengan air liurku. Eksanti merasa pahanya bergetar lembut ketika lidahku mulai menjalar mendekati selangkangnya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensasi sepanjang perjalanannya. Aku menggigit karet celana dalamnya dan berusaha melepaskannya dengan gigiku. Hidungku mencium aroma harum cairan nikmatnya”,Occhhh... harum sekali baunya”, aku berkata dalam hati. Celana dalamnya kini telah melorot turun ke arah lututnya dan terlihat jelas olehku, gundukan kewanitaan indahnya yang berwarna coklat kehitaman, kontras dengan warna paha putihnya.

Eksanti menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidahku menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Terengah-engah, Eksanti mencengkeram rambutku dengan satu tangan, perlahan menekan -memaksa- aku segera menjilatnya di daerah yang paling sensitif. Tak ayal lagi aku menciumi kewanitaannya dengan ganas sambil berusaha menyelipkan lidahku yang basah di sela-sela bibir kewanitaannya yang mulai memerah.

Dengan satu tangan lainnya, Eksanti menguak lebar bibir-bibir basah di bawah itu, memperlihatkan liang kemerahan yang berdenyut-denyut, dan sebuah tonjolan kecil di bagian atas yang telah mengeras. Lidahku menuju ke sana, perlahan sekali... Sesekali aku rasakan lidahku menyentuh-nyentuh tonjolan kecil merah diselah-sela bibir kewanitaannya itu. Aku menjilat bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung lidahku, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. Setiap kali aku mengecupi tonjolan yang semakin menengang keras itu, Eksanti menjerit tertahan dan mengelinjang-gelinjang nikmat sambil meremasi rambut kepalaku. “Enakkk.. Mass... terusss.. Mas..!”, Eksanti berteriak-teriak kecil sambil menekan-nekankan kepalaku lebih dalam ke arah kewanitaannya.

Geli sekali rasanya, ia sampai menggeliat mengangkat pantatnya, menyorongkan lebih banyak lagi kewanitaannya ke mulutku. Serasa seluruh tubuhnya berubah menjadi cair, menggelegak bagai lahar panas. Aku kini menghisap-hisap tonjolan yang seperti sedang lari bersembunyi di balik bungkus kulit kenyal yang membasah itu. Tubuh Eksanti berguncang di setiap hisapan, sementara mulutnya tak berhenti mengerang. Terlebih-lebih ketika satu jariku menerobos liang kewanitaannya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh Eksanti. Kedua kakinya yang indah terbuka lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, karena Eksanti ingin aku menjelajahi semua bagian kewanitaannya. Semuanya!

Maka akupun segera melakukan keinginannya. Aku tidak hanya menjilat dan menghisap, tapi juga menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahku di dalam liang yang panas membara itu, mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Eksanti berguncang-guncang merasakan nikmat yang sangat. Dua jariku kini bermain-main di sana, keluar-masuk dengan bergairah, menggelitik dan menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengurut. Cairan-cairan hangat memenuhi seluruh kewanitaan Eksanti, mulai membasahi bibir dan daguku. Jari-jari yang keluar-masuk itu pun telah basah, menimbulkan suara berkecipak yang seksi. Eksanti menggelinjang tak tahan lagi, merasakan puncak birahi akan segera melanda dirinya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang meletup-letup di sela-sela pahanya, di pinggulnya, di perutnya, di dadanya, di kepalanya, di mana-mana!

Aku merasakan kewanitaan Eksanti berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah-basah, kontras sekali dengan rambu-rambut hitam di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, aku dapat melihat liang kewanitaan Eksanti membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdegup-berdenyut, sepertinya jantung manusia.
Ia mengerang, menggelinjang, "Ooch.., Mas, teruss.. occhh..," ia berbisik gelisah.
Rasanya lama sekali, membuat Eksanti bagai layang-layang yang sedang diulur pada saat seharusnya ditarik. Eksanti mati angin. Tak berdaya, tetapi sekaligus menikmati ketak-berdayaan itu.

Semenit telah berlalu lau tiba-tiba... “Auughh... occchhh..“, Eksanti mendesah panjang ketika aku rasakan sampainya dirinya pada pucak kenikmatannya yang pertama, sembari tangannya meremas kasar rambut kepalaku.
Aku bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Eksanti menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Aku terpaksa harus memakai seluruh bahu bagian atasnya untuk menekan tubuh Eksanti agar tak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda Eksanti, sampai hampir dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda sakit ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah.



Eksanti, Proposal yang Tertunda - 3

Setelah nafasnya kembali normal, aku berdiri dan memeluknya.
“Mas, Santi lemesss.., Mas memang pinter luar bisaaa..”, Eksanti bergumam pelan.
Ia tersenyum sambil menurunkan tubuhnya dan memeluk kakiku, kepalanya masih tetap mendongak ke arahku. Aku pun membalas senyumannya sembari mata kami beradu pandang kembali, tajam sekali, seolah berusaha untuk saling menangkap rasa birahi yang makin menggejolak di antara kami.

Kini Eksanti berjongkok di depan selangkanganku dan aku ganti berdiri bersandar di depan lemari abu-abu itu. Tanganku bergerak membuka ikat pinggangku, kemudian kancing celanaku dan menarik turun resletingnya. Perlahan aku keluarkan kejantanan dari sela-sela celana dalamku dan aku genggam ‘hercules kecil’ yang sudah berdiri tegap meregang siap perang, dengan otot-otot yang memenuhi sekujur batang tubuhnya. Dengan segera Eksanti memelorotkan celanaku ke arah lututku.

Kejantananku yang besar dan panjang telah benar-benar mengeras bagaikan pisang ambon, dan Eksanti nampak gemas sekali menyaksikan pemandangan itu sambil sesekali mengelus-elus kejantananku dengan jemari lentiknya. Eksanti mencoba menyusupkan jemarinya dari bawah celana dalamku mencoba untuk meraup dua bola yang bergelantung di bawah sana. “Aucchhh.. sayang.. teruskan..teruskan”, aku mendesah pelan. Eksanti ganti meremas-remas lembut batang kejantananku, membelai lembut rambut-rambut hitam di sekitarnya, sambil melepaskan celana dalamku. Kejantananku langsung menonjol keluar.

“Kasihan nih si Dede’, Mas...," bisik Eksanti gemas sambil menggeser posisinya makin mendekat ke arahku.
Lalu, Eksanti menarik tubuhku lebih dekat lagi dan menangkap kejantananku dengan mulutnya. Hap!.. Aku tersentak kegelian, tapi segera pula tak berkutik ketika Eksanti mulai mengulum-menyedot. Eksanti mengulum-ulum dan menggigit lembut kepalanya.
“Nikmattt.. sayang... nikmatt.. sekaliii..”, aku berdesah-desah sambil meremasi rambut kepalanya.

Sambil tetap berdiri, aku perhatikan Eksanti seperti bayi kelaparan, berusaha memasukkan seluruh kejantananku ke mulutnya. Mana bisa. Terlalu panjang, batang otot-kenyal-padat itu. Hanya sepertiga saja yang bisa masuk, itu pun sudah terbentur langit-langit kerongkongannya. God...! enak sekali rasanya disedot-sedot mulut yang hangat dan basah. Eksanti terpejam menikmati permainan barunya. Sekarang ia sedang berkonsentrasi, sedang berusaha keras memberikan kenikmatan maksimal kepadaku yang telah menyuguhkan orgasme pertama yang dahsyat kepadanya. Eksanti sedang membalas budi.

Dengan lidahnya yang gesit, Eksanti menyentuh-nyentuh ujung kejantananku –daerah yang paling sensitif itu-. Setiap sentuhan lidah itu membuatku tersentak-sentak. Apalagi kemudian lidah itu menjilat-jilat berkeliling. Aku bergidik-bergetar merasakan nikmat luar biasa. Apalagi kemudian Eksanti meremas-remas lembut kantong-menggantung yang ada di pangkalnya. Pelan-lembut ia meremas, membuatku seperti dilambung-lambungkan ke awan. Seperti diperas-peras pula, layaknya sebuah jeruk diperas untuk diambil airnya.

Aku menggeliat-geliat merasakan tubuh bagian bawahku seperti dipenuhi air yang mencari jalan keluar, bercampur geli yang menyebar ke seluruh tubuhku, bercampur gatal yang tidak hilang hanya dengan digaruk. Kini kedua tangannya yang satu meremasi buah pantatku dan mendorongnya ke depan sehingga hampir seluruh kejantananku akhirnya bisa terbenam di dalam mulutnya. Lalu Eksanti menariknya kembali..., memasukkannya..., menarik.., memasukkan..., sambil sesekali terasa lidahnya menjilati ujung kepala kejantananku.

Eksanti tahu aku sebentar lagi akan mencapai klimaks. Kantong-kenyal di genggamannya terasa mengkerut-mengeras, tanda bahwa aku sedang menuju puncak birahi. Maka Eksanti memperkuat sedotan-kenyotannya, lalu memaju-mundurkan kepalanya, membuat kejantananku keluar-masuk dengan suara berdecap-decap. Aku memejamkan mataku kuat-kuat, bernafas menderu-deru seperti kerbau marah. Seluruh otot-otot di tubuhku menegang, meregang, bersiap menyentakkan keluar lahar-bah yang panas membara. Sebentar lagi, mungkin dalam hitungan detik saja, aku akan meledak berkeping-keping. Tetapi... nanti dulu... akankah lahar itu dibiarkan tumpah di mulut Eksanti? Tidak, pikirku cepat, aku ingin menumpahkannya di dalam liang kewanitaannya!

“Enak... sayang... enak..”, aku semakin mengelinjang merasakan kenikmatan yang amat sangat.
“Please... sayang... please... jangan sekarang...”, aku berteriak kecil seraya menarik tubuhnya berdiri dengan kedua tanganku Eksanti terkejut ketika kepalanya dipaksa berhenti begerak, dan aku mencabut kejantananku dari cengkraman mulutnya. What's wrong?, pikirnya dalam hati.

Aku melepaskan permainan bibir dan lidahnya dari kejantananku. Ia aku bimbing bergerak kembali ke atas, sambil aku angkat salah satu kakinya. Aku segera menumpangkan kaki indah itu di samping pinggangku. Wajahku kembali berhadapan dengan wajahnya, namun kulihat kedua matanya terpejam. Sambil tetap menatap wajahnya aku turunkan sedikit tubuhku. Lalu aku mengarahkan kejantananku dan perlahan bergerak naik ke atas mencari jalan ke pintu gerbang kenikmatan yang menanti untuk didobrak. Dengan tangan yang lain aku sibakkan rambut-rambut halus yang menutupinya, hingga akhirnya kepala kejantananku berhasil menyentuh bibir kewanitaannya. Kedua mata Eksanti tiba-tiba terbelalak sesaat dan kemudian meredup memandang wajahku. Rasa hangat dari pintu gerbang itu mulai terasa menjalar di tubuhnya.

Aku menggerakkan kejantananku untuk mulai mendobrak, achhh.., sulit.. bagaikan ada perlawanan di balik pintu gerbang itu. Posisi berdiri memang menggairahkan namun juga menyulitkan pikirku. Eksanti menggerakkan kakinya lebih naik lagi pada pinggangku, sehingga kini aku benar-benar menggendong tubuhnya.
“Hmmm.., rupanya lawan mulai mau bekerja sama”, pikirku.
Aku dorong kembali kejantananku, perlahan namun bertenaga. Aku mendesakkan kepalanya tepat di belahan pintu gerbang itu, lalu aku dorong lagi. Belahan pintu gerbang itu mulai terbuka sedikit. Eksanti merintih..., kudorong lagi, setengah dari kepala kejantananku mulai menyelip masuk. Eksanti kemudian menggelinjangkan pinggulnya dan aku sambut usahanya itu dengan mendorong lebih jauh lagi. Perlahan-lahan kepala kejantananku melesak masuk, menerobos di antara celah pintu gerbang yang sudah mulai terbuka itu.

Eksanti lalu bergelayutan di atas pinggangku, dan kedua kakinya disilangkan di belakang buah pantatku. Dengan segera aku menyambut gerakan erotisnya itu dengan mengarahkan kejantananku lebih dalam lagi. Lubangnya yang telah kembali basah oleh cairan nikmat itu segera menelan seluruh kejantananku.
“Ochhh... Mass...”, Eksanti berteriak lirih seraya menggingit lembut pundakku.
Kami melakukan kemesraan itu sambil berdiri, dan kami sangat menikmatinya. Aku mengayun-ayunkan tubuhnya berusaha memasukkan lebih dalam lagi seluruh kejantananku. Eksanti pun bergelayut pasrah ketika kejantananku menghujam berpuluh-puluh kali ke dalam lliang surgawinya.

“Terus... Masss.. terusss.. Mas..”, Eksanti bergumam sambil meliuk-liukan pinggangnya.
Jepitan bibir kewanitaannya semakin menambah rasa nikmatku, dan sesekali aku sempat pula mengulumi puting kemerahan yang mengeras bagaikan kacang. Aku menjilatinya dengan penuh nafsu, dan Eksantipun mencakari punggungku. Sepuluh menit telah berlalu ketika aku hampir tidak kuasa menahan berat tubuhnya.
Tiba-tiba Eksanti berteriak, ”Achhh.. Mass.. Santi enaakkkkk...”.
Terasa olehku bibir kewanitaannya bedenyut-denyut kencang meremasi kejantananku bersamaan dengan meledaknya cairan nikmatnya untuk yang kedua kalinya. Eksanti memeluk leherku, mengempit kepalaku di dadanya yang bergelora. Kedua kakinya yang panjang dan mulus kini melingkari erat pinggangku, membuat kejantananku tenggelam semakin dalam. Oh, kejantanan itu masih keras-kenyal karena memang belum apa-apa. Aku belum mencapai klimaks, dan Eksanti pun sangat mengharap permainan berikutnya segera dimulai lagi. Sesaat setelah kenikmatannya mereda aku menurunkan tubuhnya dari gendonganku, kejantananku masih tertancap erat di dalam sana.
Eksanti bertanya-tanya dalam hati, “Posisi apa yang akan Mas pilih kali ini?”

Seakan mendengar pertanyaan itu, aku tiba-tiba membalikkan tubuh Eksanti.
“Mas ini kuat sekali”, pikir Eksanti, “..dengan mudah bisa memutar tubuhku tanpa melepaskan kejantanannya”.
Kini Eksanti berdiri menghadap ke arah lemari abu-abu, membelakangi tubuhku, dan aku menusukkan kejantananku dari arah belakang tubuhnya dengan gerakan maju mundur. Tanganku meraih ke depan, meremas payudara Eksanti yang bergelantungan-bergoyangan karena dorongan-dorongan tubuhku.

Dengan posisi seperti ini, Eksanti merasakan kejantananku semakin keras menggosok-gosok dinding kewanitaannya. Padahal dinding-dinding itu masih berdenyut-bergelora akibat orgasme yang baru lalu. Akibatnya, dengan segera Eksanti kembali mengerang-ngerang merasakan kegelian-kegatalan baru, kali ini bahkan lebih kuat karena langsung terasa sampai ke tulang sumsum. Rasanya, kejantananku bertambah panjang saja, menelusup jauh ke dalam tubuh Eksanti, membuat wanita ini seperti dirogoh-rogoh sampai ke jantungnya.

Aku pun merasakan kenikmatan baru, berbeda dari ketika aku hanya berdiri menggendong menerima henyakan tubuhnya. Kini aku bisa mengendalikan lagi permainan yang tadi diambil alih oleh Eksanti. Kini aku bisa leluasa mengeluar-masukkan kejantananku, memutar-mutarnya sesekali, dan menggesek-gesekkannya ke dinding kenyal-licin. Nikmat sekali rasanya liang wanita yang sudah orgasme, karena seperti hidup dan bergelora. Tidak pasif seperti seonggok daging belaka. Itulah sebabnya, setiap kali berhubungan cinta, aku selalu berusaha setidaknya aku bisa terus bercinta setelah si wanita orgasme untuk kesekian-kalinya. Tetapi, diam-diam aku kagum juga merasakan betapa kewanitaan Eksanti lain dari yang lain. Kewanitaannya lebih kuat mencekal, lebih kenyal dan tidak terlalu dibanjiri cairan cinta. Karena itu, nikmat sekali rasanya mengeluar-masukkan kejantanan di liang yang kenyal-padat seperti itu. Betul-betul nikmat.

“Aucchhh... Mas... enakkk.. Mas..”, Eksanti mendesah lembut.
Aku himpit tubuhnya dari arah belakang sambil menciumi punggungnya yang putih bersih. Tanganku memeluk tubuhnya dari arah belakang sambil jemari kedua tanganku memilin-milin lembut puting susunya. Lalu salah satu tanganku meninggalkan payudara Eksanti, menjalar ke bawah, lalu menggerayangi "si Kecil Merah". Wow!... bagi Eksanti, sentuhan-sentuhan di bagian itu, pada saat seperti ini -ketika orgasme sedang bersiap melanda tubuhnya kembali- adalah "sentuhan maut".

Ia menggelinjang, lalu mengerang, "Oh, yachh... touch me there, Mas!" menyatakan persetujuannya.
Aku pun tanpa ragu-ragu mulai menggosok-gosok si kecil yang semakin menonjol itu. Mula-mula cuma menggosok halus, tetapi semakin lama semakin keras, dan akhirnya bukan lagi menggosok. Aku memilin-meremas tonjolan itu, membuat Eksanti merintih-rintih keenakan. Kenikmatan yang datang dari tonjolan itu kini berbaur dengan kenikmatan yang datang dari serudukan-serudukan kejantananku dan dari satu payudaranya yang diremas. Berbaur semakin menyatu, semakin membesar, seperti badai yang sedang mengumpulkan momentum. Aku pun merasakan hal ini. Maka aku mempercepat ayunan pinggulku, menghujam lebih keras dan dalam, meremas-remas lebih gemas, dan menggosok-memilin lebih tegas.

Eksanti menggoyang-goyangkan buah pantatnya semakin kencang, tangan kirinya berpegangan pada handle pintu lemari seraya jemarinya meremas-remas dengan gemas handle pintu lemari itu. Sementara tangan kanannya memegang buah pantatku seraya menekan-dekan kearah depan, seolah-olah Eksanti ingin seluruh kejantananku tertelan di dalam lubang kewanitaannya lebih dalam lagi.
“Ayo Mas.. lebih dalam lagi, lebih dalam lagi... please..”, Eksanti mengerang-erang lembut sambil terus menekan-nekan buah pantatku.
Peluh ditubuh kami bercucuran karena semakin panasnya ruangan itu, ditambah dengan panasnya bara birahi yang berkobar-menyala. Sesekali aku menjilati peluh yang menetes di leher dan punggung mulusnya.
“Ochh.. sayang.. Mas mau keluar...”, aku mengejang ketika puncak kenikmatanku hampir tiba.
“Please Mas... aku ingin Mas enak, keluarin di dalam yaa.. Mas.. please...”, Eksanti mendesah-desah penuh nikmat.

Aku semakin mempercepat gerakanku, dan irama kita semakin menderu sebelum akhirnya aku mencapai puncak nikmat itu. Lalu semenit kemudian plas..plas... plas...(8X), aku meledak di dalam kewanitaannya...
“Occhh.. sayanggg.. Mas keluarrr...”.
Tiga detik kemudian bersamaan dengan orgasmenya yang ketiga, Eksantipun berteriak keras...
“Auughhhh.. Mas... Santi juga enaakkk..., aku.. oochh!!..", jerit Eksanti keras sekali.

Lalu kepalanya mendongak dan tubuhnya menggeliat-geliat liar, hampir saja lepas dari rangkulanku. Klimaks datang dengan sangat tiba-tiba dan cepat, tidak lagi seperti air bah yang menggelandang, tetapi seperti pijar kilat di langit. Aku menggigit lembut lehernya sembari memeluk erat tubuhnya, sementara kejantananku masih tertanam erat di dalam lubang surgawinya sambil menikmati denyutan lembut bibir kewanitaannya. Tubuh Eksanti kembali berguncang-guncang dan bergeletar hebat. Erangannya kembali memenuhi ruangan.

Klimaks ke tiga ini sungguh tak kalah dahsyat dari yang ke dua. Malah lebih hebat lagi, karena datang di saat tubuh Eksanti masih dilanda kenikmatan sisa klimaks sebelumnya. Eksanti merasakan seluruh sendinya seperti mau copot akibat orgasme yang datang bertalu-talu berkepanjangan ini. Otot-ototnya terasa pegal akibat terus-menerus meregang menerima gelitikan-nikmat. Pandangannya kabur karena keringat kini memenuhi dahi dan mengalir masuk ke matanya yang berkerejap-kerejap. Tetapi semua itu menambah nikmat belaka. Memang, letih karena orgasme adalah letih yang jauh berbeda dibanding letih yang lain. Inilah barangkali satu-satunya letih yang tidak meletihkan!

Eksanti merosot terjerembab, tertelungkup di karpet karena tak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri yang berguncang-guncang. Dengan suara... plop!... kejantananku tercerabut dari liang kewanitaannya. Cairan cinta berleleran di sela-sela paha Eksanti, cepat-cepat aku menghapusnya dengan saputangan handuk miliknya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Tubuh Eksanti yang telungkup tampak berguncang-guncang seperti orang tersedu-sedan. Keringat tipis mulai tampak di punggungnya, seperti lapisan plastik berkilat-kilat. Seksi sekali tubuh molek yang putih mulus itu tampak dari belakang. Aku mengusap-usap buah pantat Eksanti yang menonjol padat, seakan-akan sedang berusaha menenangkan wanita yang sedang terguncang oleh klimaks itu.

Nafas kami masih tersengal-sengal dan kami berdua terkulai lemas bermandikan keringat. Eksanti membalikkan tubuhnya dengan lunglai.
“Acchh.., nikmat dan melelahkan sekali permainan cinta kali ini”, gumamnya dalam hati.
Dipandangnya aku yang masih berlutut dengan kejatananku yang mulai lunglai.

Sesaat kemudian ketika kenikmatan itu mulai mereda, Tek-tek-tek! kami mendengar suara ketukan di pintu utama kaca depan kantor! Oh shit! Not now please, please, please, aku merutuk dalam hati. Kedua mata Eksanti terbelalak, wajahnya memucat, dengan agak kuat ia mendorong tubuhku menjauh. Ia memandangi pakaian di lantai yang sudah tak keruan letaknya itu. Kemudian dengan tergopoh-gopoh ia membenahi. Aku membenahi juga celanaku dan bajuku. Eksanti kemudian membalikkan tubuhnya menghadap lemari kembali sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“..Oh shit! Apes benar diriku”, sesalku dalam hati.



Eksanti, Proposal yang Tertunda - 4

“Mau minta tanda tangan lembur, pak!”, suara dan ketukkan Satpam penjaga gedung di pintu depan semakin keras.
Pintu depan memang dikunci dari dalam, namun Satpam itu pasti tahu bahwa masih ada orang yang bekerja di dalam, karena lampu spotlight di meja receptionist masih terang menyala. Tek-tek-tek!, ketukan itu terdengar lagi, tetapi kami diam saja hingga kemudian ketokan itu berhenti sendiri dan pak Satpam berlalu dari depan pintu utama sambil menggerutu. Mungkin ia berfikir kami tidak akan mendengar ketukannya karena bekerja di dalam ruangan, jauh dari pintu kaca itu. Padahal saat itu posisi kami hanya berjarak kurang lebih 5 meter dari tempatnya berdiri. Hatiku dag dig dug tak keruan mengalami peristiwa itu .

"Eksanti...", panggilku perlahan sambil berusaha memeluknya, ketika aku yakin Pak Satpam telah beranjak jauh.
"Ssstt.. don't say anything, Mas, please!", ia memotong ucapanku sambil menundukkan kepala dan mengibaskan tanganku.
Ia masih nampak gugup.
"Ayo kita segera pulang aja deh", ajakku lagi masih dengan jantung yang berdegup keras.
“Tapi, Santi mau mandi dulu sebelum pulang, gerah sekali rasanya. Mas mau juga ‘kan?”, ia meminta kepadaku dengan berbisik.
Di lantai itu memang disediakan toilet eksekutif dengan dilengkapi shower, meskipun letaknya berada di luar ruang kantor kami. Jaraknya hanya kira-kira 10 meter dari pintu utama.
“Iyaa.. dech, San”, aku mengangguk setuju membayangkan nikmatnya guyuran air segar dalam sore panas seperti saat ini.

Lalu kami mengemasi pakaian yang sebagian masih berserakan bercampur dengan dokumen kertas di atas lantai karpet dan merapikan diri. Eksanti pun bergegas mengambil kunci toilet eksekutif. Kami berjalan beriringan menuju kesana, sambil mata kami mengawasi keadaan sekeliling khawatir kalau-kalau masih ada orang lain yang tinggal di lantai kantor itu. Ketika kami merasa bahwa suasananya aman, aku membuka kunci pintu dan kami berduapun masuk ke dalamnya. Kami sudah mulai melupakan ‘peristiwa Pak Satpam’ yang agak mendebarkan tadi.

Kemudian Eksanti tanpa banyak bicara menuju ruang shower yang dipagari kaca buram. Pakaian yang dikenakan seadanya tadi ditanggalkannya sambil berjalan, lalu dilempar seenaknya ke penggantungan baju yang terbuat dari nikel, di pojok kamar mandi. Aku tergesa-gesa mengikuti tingkah Eksanti dan menyusul masuk ke ruang shower. Aku terdiam memandang wanita molek ini mengangkangkan kakinya dengan santai, seakan-akan tidak ada orang lain di sekitarnya. Di dalam ruang shower itu, Eksanti lalu membasahi tubuhnya dengan air. Wow! Aku tak berhenti mengagumi tubuh mulus itu. Dengan air di sekujur badannya, tubuh itu tampak lebih menggairahkan lagi. Teringat aku akan patung-patung bidadari telanjang di pinggir kolam di Roma. Seperti itulah tubuh Eksanti, cuma tentu saja lebih indah lagi karena 'patung' itu hidup!

"Jangan cuma berdiri di sana, Mas, nanti kamu masuk angin, lho!" goda Eksanti sambil menyerahkan sebotol sabun cair.
"Bantu Santi menyabuni tubuhku, yaa..?", pintanya manja.
"Dengan senang hati!", sahutku sambil tersenyum manis.
Aku menuangkan sabun banyak-banyak ke telapak tangan, lalu aku usapkan ke tubuh Eksanti. Wow! Kembali aku terkagum merasakan tubuh yang tidak saja tampak halus, tetapi memang mulus bak pualam. Bersemangat sekali aku menyabuni Eksanti yang tertawa-tawa kecil seperti seorang anak dimandikan bapaknya. Tak berapa lama kemudian, tawa-tawa kecil itu berhenti, diganti dengan gumam. Lalu diganti lagi dengan desahan. Eksanti mematikan air shower, memejamkan mata menikmati pelayanan khususku kembali.

Aku pun menyabuni tubuh Eksanti makin seksama. Tanganku cekatan mengusapkan busa lembut dan wangi ke seluruh tubuh Eksanti. Ketika menyabuni payudaranya, aku berlama-lama mengusap-usap kedua puting susunya, membuat wanita cantik yang molek ini bergelinjang-gelinjang kegelian. Kedua tangannya terangkat, mencekal erat tangkai shower, seakan bergantungan di situ. Posisi ini menyebabkan dua bukit kenyal yang membusung itu bertambah tampil menggairahkan. gemas sekali aku meremas-remasnya, bermain-main dengan busa sabun yang berleleran. Seakan-akan aku adalah seorang peternak yang sedang memerah susu-susu sapi. Kadang-kadang aku tarik-tarik kedua ujung payudara yang semakin menggembung itu, seakan-akan benar ingin mengeluarkan susu.

"Please, jangan terlalu lama, Mas...," bisik Eksanti tak sabar.
"Touch me down there, Mas...," desahnya.
Aku tersenyum dan segera menurunkan salah satu tanganku, menyabuni perut Eksanti yang rata dan tambah licin oleh busa sabun. Dengan cepat, tanganku tiba di selangkangan Eksanti yang sudah pula terbuka karena ia berdiri dengan kedua kaki agak terpisah. Aku mengusap-usapkan sabun ke seluruh pangkal paha dan kewanitaan Eksanti yang telah bersih kembali dari cairan-cairan cinta kami tadi. Eksanti menggeliat dan memejamkan mata, mendesah. Aku semakin giat menyabuni bagian yang putih bersih itu, mengusap-usapnya dengan telapak tanganku. Sementara tangan yang satu turun ke bawah, ke bagian belakang. Aku meremas pantat Eksanti yang padat berisi itu, membuat wanita itu menjerit kecil, antara senang dan terkejut.

Kini seluruh kegiatanku terkonsentrasi di bagian bawah. Tangan kiriku menggerayangi bagian depan kewanitaan Eksanti, sementara tangan kanan bermain-main di belakang. Dengan jari-tengah tangan kirinku, aku perlahan-lahan menelusuri bibir kewanitaan Eksanti. Kedua bibir itu seakan-akan merekah terpisah menerima jemariku yang meluncur lancar ke bawah, lalu perlahan naik lagi ke atas. Ke bawah, ke atas, dengan perlahan tapi penuh kepastian.
"Oooow...," Eksanti mengerang dan menyorongkan pinggulnya ke depan, merapatkan kedua pahanya menjepit tanganku.
Terasa sekali kenikmatan telah menjalari pangkal pahanya, membuat Eksanti ingin segera ditelusupi oleh jari yang nakal itu.

Tangan kananku bergiat di belakang, juga dengan jari tengah yang nakal menelusuri celah di antara dua bukit belakang Eksanti yang seksi. Busa sabun membuat aktivitasku semakin lancar, dan kini ujung jari tengahnya menyentuh bagian luar lubang belakang Eksanti. Pelan-pelan, aku memutar-mutar ujung jarinya di sana, dan Eksanti merasakan geli yang nikmat seperti geli yang terasa di liang kewanitaannya. Ah, kini ada dua kegelian di bawah sana, di depan dan di belakang. Eksanti menggeliat-geliat seakan-akan kebingungan, apakah akan menyorongkan pinggungnya agar kewanitaannya bertambah geli, atau mendorong ke belakang agar belakangnya yang dirangsang. Akhirnya ia melakukan keduanya: menyorong ke depan dan mendorong ke belakang.
"Oooow, enak sekaliii.. Mas..., please Mas.. lagiii.. lagii..," desahnya.

Aku menurunkan tubuhku, berlutut di depan Eksanti. Aku lalu mulai menciumi bagian depan kewanitaan Eksanti yang licin dan kini penuh keharuman sabun wangi itu. Eksanti segera mengucurkan sedikit air untuk mengusir busa di sana, sehingga kini kewanitaannya yang mulus itu terpampang jelas di mataku. Oh, indah sekali tampaknya bagian yang sangat sensitif itu. Sekeliling pangkal pahanya putih bersih, dan sangat kontras dengan warna merah muda lipatan bibirnya, serta ditumbuhi bulu-bulu hitam halus yang sangat terawat.

Kedua bibir kewanitaan itu tampak menebal, merekah memperlihatkan daerah yang memerah dan basah oleh air maupun oleh lendir bening. Agak ke atas, dan agak tersembunyi, terlihat tonjolan kecil berwarna kemerahan yang agak berdenyut-denyut. Tonjolan itulah yang pertama aku tuju, aku ciumi dengan lembut, lalu aku jilati dengan ujung lidah.
"Occhhh...Mass...," Eksanti terlonjak seperti disengat setrum, dan otomatis pula kakinya membuka lebih lebar, dan pinggulnya tersorong ke depan.

Pada saat Eksanti mengangkangkan kakinya, tanganku beraksi lagi. Jari telunjukku masuk dengan leluasa ke dalam kewanitaan Eksanti, disusul jari tengahku. Dua jari nakal itu bermain-main di dalam sana, berputar dan menggosok-gosok dinding yang licin dan berdenyut dan memerah itu. Eksanti semakin gelisah menggeliat-geliatkan badannya. Apalagi kemudian aku juga menggelitiki bagian belakangnya. Eksanti bagi terperangkap dalam dua sumber kenikmatan birahi yang membuatnya bergetar sekujur tubuh. Liang kewanitaannya terasa semakin menguak, dan aku kini memasukkan satu jari lagi, sehingga tiga jari ada di dalam sana, keluar-masuk, berputar-putar, mengurut-menggosok.
"Ochhh, Mas... Santi nggak tahannn...," erang Eksanti sambil memegangi bahuku dan melebarkan kangkangannya sehingga ia nyaris terjongkok.

Aku lalu duduk di lantai shower, dan membiarkan Eksanti mengangkangi kepalaku. Dengan posisi ini, aku bisa leluasa menjilati kewanitaan Eksanti dan bermain-main dengan lubang belakangnya. Aku kini memasukkan lidahku ke dalam liang kewanitaan Eksanti yang sudah dibanjiri cairan cintanya. Kini tiga jari dan satu lidah ada di dalam sana, membuat Eksanti merasa kedua lututnya hilang, lemas sekali. Apalagi aku kemudian menyedot dan seakan-akan mengunyah-ngunyah seluruh kewanitaan Eksanti, membuat wanita itu tak tertahankan lagi, melorot ke bawah, jatuh di pangkuanku sambil mendesah-desah dengan mata terpejam.

Dengan sedikit gerakan, Eksanti berhasil menangkap kejantananku yang sudah pula menegang di antara jepitan dua bibir kewanitaannya. Lalu Eksanti mendorong ke bawah, dan liang kewanitaannya seperti sebuah mulut kecil yang kelaparan hendak menelan kejantananku yang kenyal, besar, panjang dan hangat itu. Tetapi, walaupun Eksanti sudah mengangkang selebar-lebarnya, tetap saja diperlukan upaya ekstra untuk memasukkan seluruh kejantananku. Dan Eksanti pun merasakan nikmat luar biasa ketika dinding-dinding kewanitaannya perlahan-lahan menguak dan menerima daging kenyal yang padat dan hangat itu, menggosok keras dan mantap, mengirimkan berjuta-juta kenikmatan ke seluruh tubuhnya.

Baru saja seluruh kejantanan itu melesak, Eksanti sudah merasakan orgasmenya datang menyerbu. Ia terduduk dengan seluruh kejantananku berada di dalam dirinya, begitu besar dan panjang sehingga seakan-akan ujungnya sampai ke leher Eksanti!

"Oh, Mass.. kamu luar biasaa..., aku...," Eksanti mengerang tertahan dan merasakan orgasmenya menggemuruh di bawah sana.
Ia lalu memutar-mutar pinggulnya, menambah intensitas kenikmatan, sehingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan jerit kecil keluar dari kerongkongannya. Kaki dan pahanya mengejang, menggelepar dan terkapar di lantai shower. Aku mencekal erat pinggang Eksanti, menjaga agar wanita yang sedang kasmaran ini tidak terjerembab di lantai.

Setelah Eksanti agak mereda, aku meraih keran shower dengan tangan kiriku, sehingga sejenak kemudian kami berdua dihujani air segar dari atas. Eksanti tertawa senang, mengangkat mukanya sehingga air membasahi seluruh rambutnya yang hitam sebahu itu. Bagai bercinta di bawah hujan, pikir Eksanti, sambil mulai menggerak-gerakkan pinggulnya lagi. Mula-mula, ia bergerak maju-mundur, sehingga kejantananku yang masih terbenam di dalam tubuh Eksanti kini membentur-bentur dinding depan dan belakang kewanitaanya. Aku merasakan kejantanannya seperti sedang diurut-urut oleh segumpal daging kenyal yang lembut, basah dan hangat. Kontras sekali dengan tubuhnya yang diguyur air dingin. Apalagi kemudian Eksanti memutar-mutar pinggulnya sambil terus menekan ke bawah, membuat aku merasa sedang diperas-peras, dipilin-pilin.

Eksanti kini menaik turunkan tubuhnya sambil bertelektekan di bahuku. Matanya kembali terpejam, dan wajahnya tetap mendongak menerima curahan air shower. Bibirnya terkadang merekah, mendesahkan nafas panas yang mulai memburu lagi. Sungguh cantik wajah Eksanti dalam keadaan basah dan penuh birahi seperti ini. Aku bernafsu sekali menciumi lehernya yang jenjang dan halus dan licin oleh air itu. Sementara kedua tanganku kini kembali meremas-remas payudara Eksanti yang berguncang-guncang seirama gerakan tubuhnya. Permainan cinta kami kini memasuki tahap final, ketika kami berdua mulai merasakan gemuruh birahi meminta jalan untuk menerobos keluar.

Dengan bersemangat, Eksanti terus menaik-turunkan tubuhnya. Ia adalah seorang penunggang wanita, di atas kuda jantan perkasa. Nafasnya mendesah-desah seperti seorang joki sedang memacu kudanya menuju garis finis. Nafasku tak kalah memburunya, juga seperti kuda yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menang di pacuan. Kami berdua berderap menuju puncak birahi, ditingkahi suara air yang mengucur deras dan kecipak bertemunya kejantanan dengan kewanitaan di bawah sana. Ramai sekali, seru sekali, bergelora sekali.

Akhirnya Eksanti tiba di puncak birahi terlebih dahulu. Ia menjerit keras, mengerang panjang, dan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang basah oleh air bercampur sedikit keringat. Gerakan turun-naiknya telah berubah menjadi gerakan serampangan; terkadang ke kiri-ke kanan, terkadang maju-mundur, terkadang turun-naik, terkadang semua gerakan itu sekaligus dilakukannya. Eksanti tak lagi memiliki kendali atas tubuhnya yang sedang dilanda kenikmatan puncak. Betapa kuatnya birahi menguasai tubuh manusia!

Aku segera menyusul, ikut mengerang panjang ketika merasakan air bah dari dalam tubuhku menghambur ke luar, membuat kejantananku bagai membesar lima kali lipat, sebelum memancarkan cairan kental panas ke dalam tubuh Eksanti untuk kedua kalinya hari itu. Seluruh tubuhku berguncang-guncang, membuat Eksanti ikut terlonjak-lonjak, sementara kejantananku seperti mengamuk di bawah sana, seperti melompat-lompat menerjang dinding-dinding kewanitaan Eksanti yang sedang meregang.

Kami baru berhenti setelah sekitar 10 menit menggelepar-gelepar seperti itu. Kami tidak peduli lagi, seandainya Pak Satpam kembali melakukan kontrol ruangan dan mendengar desah-erangan kami tadi. Eksanti terkulai letih memeluk tubuhku yang sudah tersandar ke dinding ruang shower dengan nafas terengah-engah. Tubuh kami masih terus dibasahi oleh curah air shower yang sejuk. Eksanti menciumku, mengucapkan terimakasihnya.

Di dalam kamar mandi eksekutif lantai 25 gedung kantor kami, di bawah guyuran air dari shower, kami baru saja bercinta dengan penuh nikmat. Aku menghitung, hari itu Eksanti mengalami enam kali masa orgasme, sedangkan aku mengalami dua kali ejakulasi yang hampir tanpa jeda waktu. Sungguh sesuatu yang belum pernah aku lakukan dan tidak akan aku lupakan seumur-umur. Apalagi bila aku mengingat ekspresi wajahnya, pada saat Eksanti menikmati puncak-puncak masing-masing orgasmenya. Oocchh..

******

Setelah kami mandi dan berbenah diri, kemudian dengan sedikit berjingkat dan rasa was-was kami kembali masuk ke dalam ruang kantor. Lalu kami mengemasi proposal yang siap dikirim pada hari Senin nanti. Pintu kantor dikunci dan kami turun bersama-sama dari lantai 25 gedung itu. Di dalam lift, sekali lagi masih sempat aku melumat lembut bibirnya, dan Eksanti pun membalasnya dengan spontan.
Aku mengecup keningnya seraya berkata, “Terima kasih yaa.. sayang.., Mas sangat menikmatinya..”.
Eksanti menjawab sambil tersenyum, “Sama-sama Mas, Mas sudah lega ‘kan?”.
Dan ting... pintu lift telah terbuka. Kami berjalan beriringan menuju pintu mobilku untuk mengantarnya pulang. Sungguh hari Sabtu yang tidak bisa aku lupakan...




Eksanti, Hadirnya Orang Ketiga - 1

Sejak kepindahan kantorku ke ruko ini, aku memang tidak bisa lagi bermesraan dengan Eksanti terlalu sering seperti dulu, karena situasinya yang tidak memungkinkan. Aku bahkan mendengar dari teman-teman sekantor bahwa Eksanti kini tengah menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki. Seperti prinsipku semula, aku tidak begitu peduli dengan kehidupan pribadinya, hingga pada suatu hari saat di ruangan kantor itu sedang sepi ia duduk mendekati mejaku. Ia tampak ragu-ragu, namun aku mengerti, pasti ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan kepadaku.

“Ada apa San?”, ujarku ringan bertanya kepadanya.
“Mas, Santi mau mengaku”, ia menjawab lirih sambil menundukkan pandangan matanya ke bawah.
“Mengaku apa?”, aku bertanya kembali, kali ini dengan sedikit curiga.
“Santi akan menikah dan mau mengundurkan diri dari perusahaan ini”, ia berkata semakin lirih, namun pernyataannya itu cukup jelas terdengar di telingaku. Pyarr.. dadaku tersentak, tetapi aku sungguh menghargai kejujurannya.
“Lho.. emang terus kenapa?”, jawabku sambil pura-pura menenangkan hati.
“Jadi, kita nggak mungkin bisa terus begini”.
Katanya lagi ”Santi ingin berusaha setia dengan yang Santi cintai, Santi tidak ingin melukainya”.

Ia berkata-kata sambil mengelap air mata bening yang ada di sudut matanya.
“Iya.. Mas juga ngerti, nggak apa-apa”, aku berkata sambil menahan perasaanku.
“Kapan rencana menikahnya, lalu kapan juga Santi mau mengajukan surat pengunduran diri?”
“Menikahnya belum tahu pasti, tapi kalau pengunduran diri Santi mungkin bulan depan sudah Santi proses di personalia, dan tiga bulan kemudian Santi baru akan benar-benar off dari perusahaan ini”, jawabnya singkat tapi pasti.
“Oke, terus kalau Mas boleh tahu, Santi mau berhenti kerja atau pindah ke perusahaan lain sih?”, aku bertanya dengan sedikit penasaran.
“Pindah kerja Mas, soalnya terus terang pacar Santi yang minta untuk pindah dan Santi tidak ingin mengecewakannya. Di perusahaan itu karir Santi akan lebih bagus dan dan tugas-tugasnya juga sangat menantang”
“Oke, asal Santi sudah pikir masak-masak, Mas sih nggak akan keberatan. Cuma tolong beri Mas waktu untuk mencari asisten baru, dan sekalian nanti beritahu dia tentang tugas-tugasnya yaa..”
“Pasti Santi bantu, Mas... Tapi Mas, nggak marah sama Santi ‘kan..?”, ia berucap memelas.
“Kenapa harus marah, sepanjang Santi sudah yakin dan itu demi kebaikan masa depanmu, Mas akan mendukung setiap keputusanmu”, aku berusaha bersikap sebijaksana mungkin untuk menyembunyikan perasaanku yang sedikit kecewa.
“Terima kasih, Mas. tapi sebelum itu, Santi mau ngasih Mas hadiah”, kali ini Eksanti berkata sambil tersenyum.

Mungkin ia merasa sangat lega bisa berkata sedemikan jujurnya kepadaku.
“Hadiah apa..?”, aku sedikit penasaran.
“Ini, tapi janji.. mbukanya ntar saja yaa..”. Ia berkata sambil mengeluarkan bungkusan kecil.
“Terima kasih”, kataku sambil menyimpan hadiahnya yang terbungkus kertas putih bergambar hati dengan pita merah di laci mejaku.

Lalu Eksanti beranjak dari sebelahku dan berjalan ke tangga menuju lantai bawah. Aku sangat penasaran dengan isi bungkusan itu. Sambil sedikit bergegas, aku ambil dari laciku dan aku bawa bungkusan itu ke dalam toilet di lantai itu. Ketika aku buka ternyata isinya adalah celana dalam dan bra yang telah disemprot dengan bau parfum kesukaanku. Aku meremasi dan mencium harumnya di hidungku

*****

Hampir tiga bulan lebih, mendekati saat-saat keluarnya Eksanti dari perusahaanku ini, aku tidak lagi pernah mengganggunya lagi karena aku menghargai sikap kesetiaannya. Aku tahu diri sehingga akupun mulai menjauh, dan ia juga tidak pernah bertanya kenapa hal ini terjadi. Yang aku tahu – Yoga – kekasih Eksanti itu bertugas di Malang, sehingga mereka juga jarang bertemu. Hingga suatu ketika...

Hari itu Eksanti mengenakan blazer warna merah menyala, dipadukan dengan blouse warna hitam yang mengatung dibagian perutnya. Di bagian bawah ia mengenakan rok pendek warna merah senada dengan warna blazernya. Pakaiannya itu membalut tubuhnya yang sexy, sehingga entah mengapa seperti magnet, membuat arah pandanganku selalu ingin tertuju kepadanya. Aku melirik ke arahnya, saat itu Eksanti berdiri membungkukkan badan untuk mengirimkan fax yang aku tugaskan. Aku memperhatikan roknya terangkat, sehingga bagian belakang pahanya yang putih bersih itu tersingkap. Darahku berdesir keras, terlebih-lebih ketika aku memperhatikan dirinya sedang berusaha menjangkau dokumen di sebelah atas rak bukunya.. occhhh.. aku sungguh-sungguh menikmati pemandangan indah itu. Blouse-nya yang mengatung itu tersingkap, menampakkan kulit putih bersih perutnya yang langsing, dan blousenya itu juga semakin erat membalut dua buah tonjolan sintal di dadanya.

Sesekali Eksanti menundukkan punggungnya pada saat ia sedang mengetik di depan komputer, sehingga makin menampakkan dengan jelas garis tali bra di sisi atas punggungnya. Ketika Eksanti semakin merunduk, dua buah dadanya yang ranum itu menempel erat di sisi meja tulisnya. Sungguh aku semakin tidak kuasa menahan nafsu birahiku ketika menikmati pemandangan yang sangat indah itu...
“Ohh.. sexynya Eksanti saat itu”, aku menelan ludahku membayangkan saat-saat indah yang pernah kami alami berdua...

Ketika aku semakin tidak bisa menahan perasanku, lalu seketika aku berusaha mendial komputernya dan menuliskan apa yang aku lihat dan aku rasakan.
“San, kamu sexy sekali hari ini”
“Thanks, Mas, tapi Santi lagi sebel nih..”
“Kenapa sebel..?”
“Abis.. ahh nggak deh..!”
“Abis kenapa..?”
“Mas masih inget kan cerita Santi tiga bulan yang lalu”
“Tentang pacarmu itu”
“Iya..”
“Emang ada apa”
“Santi sebel sama dia”
“Iya.. tadi kamu sudah cerita... sebel. Tapi kenapa?”
“Kemarin ia datang ke Jakarta dan janji mau nemenin Santi jalan-jalan sore ini”
“Terus...?”
“Tiba-tiba tadi ia telepon, bilang kalau nggak bisa. Yang bikin Santi Sebel, alesannya itu lho”
“Lho emang dia ada acara apa?”
“Dia bilang nggak bisa, karena sebelumnya sudah terlanjur membuat janji dengan teman-temannya. ‘Kan jadinya Santi di nomer duakan dibandingkan teman-temannya.”
“Lho, yaa.. belum tentu begitu. Itu kan artinya dia committed”
“Ahh.. Mas malah mbelain dia. Tahu nggak salah satu temennya yang dianterin itu siapa”
“Yaa.. mana Mas tahu”
“Yang minta dianterin itu salah satu general manager di kantor Jakarta, jadi dia beralasan takut nolak. Lagian bosnya itu cewek, belum punya punya suami, terus genitnya minta ampun”
“Ahh.. kamu jangan suka mengada-ada gitu”
“benar Mas.., Santi jadi sebel deh.., pasti dia...”
“Pasti dia apa..?”
“Pasti dia... kayak kita dulu”
“Ahh.. kamu kok ngawur gitu sih..?”
“Ahh udah ahh.. Santi pusing”
“Pusing kenapa sih...?”
“Santi pusing mikirin ini, sama pusing kalau inget kita dulu.. hee.. hee..”
“Kamu jangan gitu ahh.., nanti Mas kalau inget jadi ikut pusing lho”
“Abis Mas juga sih yang mulai nanya-nanya”
“Lho.. emang Mas salah?”
“Nggak sih, tapi kan Santi tiba-tiba jadi keinget”
“Keinget sama apa”
“Samaaaa... pisang”
“Pisang apa..?”
“Pisangnya Mas..”
“Ahh.. Mas nggak punya pisang lagi, sudah jadi mentimun”
“Maksudnya..?”
“Yaa.. karena pisangnya nggak pernah dimaem lagi, jadi tambah gede... Tambah gede..., sampai akhirnya berubah menjadi mentimun”
“Duh.. gemesnya Santi, segede apa pisang mentimun itu sekarang?”
“Nggak boleh nanya-nanya lagi, kecuali Santi mau ..”
“Mau apa..?”
“Mau maem pisang timunnya”
“Ihh.. Mas genit aahh..”

Eksanti menanggapi perasaanku dan obrolan kami semakin panjang, dengan diiringi khayalan-kayalanku yang membuat batang pisangku (begitu Eksanti memberikan istilah pada hari itu) semakin mengeras membayangkan apa yang saling kami ceritakan. Tak terasa waktu berlalu dan sore hari itu jarum pendek jam sudah menunjukkan angka 5.

Sebelum mengakhiri obrolan-obrolan kami, melalui chating terakhir, aku bertanya, “So, Santi mau ngapain sore ini?”
“Mau langsung pulang aja ahh.., pusing inget obrolan Mas ini, pusing jalanan nanti macet.”
“Mau nggak biar nggak pusing, tapi ada syaratnya”
“Mau.. mau..”
“Tapi syaratnya berat, Mas yakin kamu nggak bisa memenuhinya”
“Ahhh... coba aja”
“Mas mau nganterin kamu pulang, tapi syaratnya di mobil nanti kamu nggak boleh pakai celana dalam. Berani nggak?”
“Santi mau dianterin sama Mas, biar cepet sampai ke rumah, terus mandi, terus bobo.., Santi benar-benar pusing”, Eksanti menyetujui usulanku untuk pulang bersama dan hanya tersenyum kecil ketika Eksanti membaca tantangan dalam pesanku yang terakhir itu.
“Tapi benar lho yaa.., harus dipenuhin syaratnya”
“Lihat ntar aja deh. Tapi Mas benar ‘kan mau nganterin Santi pulang”
“Iyaa.. deh!”
“Jangan pakai ‘deh’ dong!, mau apa nggak?”
“Mauuuuuuuu...!”, aku menyerah setuju.

********

Ketika kami selesai mematikan connection komputer kami, Eksanti bergegas masuk ke kamar mandi untuk merapikan dirinya. Tidak lupa, seperti biasa ia menggenggam handuk kecil berwarna hijau bergambar mickey mouse, tokoh favoritnya. Lima menit berselang, Eksanti keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan bau harum parfum yang semakin menggugah rasa birahiku. Eksanti duduk di atas kursi di depan kaca jendela untuk merapikan wajahnya, sambil menyilangkan kaki indahnya itu. Eksanti mengoleskan cream pelembab di kedua lengan, tangannya lalu dikedua kaki jenjangnya. Aku melirik, dan aku kembali menyaksikan pemandangan indah itu. Kejantananku kembali menegang keras membayangkan seandainya saat itu aku bisa mencium lembut kaki indahnya.

Tatkala Eksanti mengoleskan cream pelembab itu di jemarinya, aku menarik nafas panjang membayangkan nikmatnya seandainya jemari lentiknya itu meremasi kejantananku dengan lembut. Lalu Eksanti menyapukan bedak baby dipipinya dan mengoleskan dengan tipis lipstik di bibirnya, “Ooohh.. seandainya aku diijinkan mengecupi bibir indah itu...”, pikiranku semakin mengawang-awang dipenuhi bayangan-bayangan nikmat yang telah lama kuimpikan selama ini...

Setelah selesai berkemas-kemas kami lalu bergegas untuk pulang. Eksanti turun dari lantai atas terlebih dahulu dan berjalan kaki ke arah sudut ruko kantor kami, dimana kami telah sepakat untuk bertemu. Akupun menyusulnya dan segera aku jalankan mobil ke tempat janji kami bertemu. Pintu mobil aku buka dan Eksanti pun masuk ke dalam mobil untuk ikut pulang bersamaku. Sesaat aku tertegun ketika Eksanti melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobilku. Untuk yang kesekian kalinya aku sempat menyaksikan pahanya yang putih bersih itu tersingkap.

Mata kami saling beradu dan kami saling berpandangan penuh arti. Ketika Eksanti menutup pintu, segera aku menjalankan mobil ke arah jalan raya dan berputar menuju ke arah pintu tol. Hujan gerimis menyapu jalanan, dan cuaca itu semakin membuat ruangan mobil bertambah dingin, seolah berusaha untuk memadamkan bara api birahi yang ada diantara kami berdua.

“Kita jalan-jalan dulu aja yaa.. sebelum pulang “, aku mengajukan usul.
“Sebenarnya Santi capai, tapi terserah Mas aja deh..”, Eksanti menjawabnya sambil mengangguk tanda setuju.
Kembali kami mengobrol ringan, sembari sesekali kami bercerita tentang apa yang pernah kami lakukan dahulu. Eksanti menunduk malu ketika aku berusaha mengingatkan pengalaman kami yang dulu, sembari bergumam ,“Rasanya aku sudah lamaa.. yaa.. tidak pernah lagi merasakan hal itu”.
“Iya, Mas juga sudah kangennn... berat sama kamu”, aku menjawab pernyataannya.
Tak terasa obrolan-obrolan kami semakin mengingatkan pada kemesaraan yang pernah kami alami berdua, dan aku melirik ke arahnya membayangkan apa yang pernah kami lakukan dahulu pada suasana yang sama seperti saat itu. Kini mobilku telah berada di mulut pintu tol dan dengan segera aku menurunkan kaca jendela untuk membayar karcis tol.

Begitu kami memasuki jalan tol, tangan kiriku langsung berusaha untuk menggapai tangannya. Aku mengangkat jemari lentik tangan kirinya ke arah bibirku dan mencium serta menghirup bau harumnya seraya berkata, “ Sayang.., Mas pengin sekali mengulangi saat yang dulu”.
Eksanti menoleh pelan kearahku dan tersenyum sambil memejamkan matanya, seolah membayangkan apa yang aku maksudkan. Aku memasukkan ujung jemari tangannya ke dalam mulutku, sedikit saja... dan gerakan itu sudah cukup untuk membuat Eksanti merintih pelan. Aku melumati jemarinya yang harum oleh cream pelembabnya, sehingga membuat Eksanti menggigit bibir kecilnya menahan birahinya yang mulai memercik. Perlahan-lahan aku melepaskan tangannya dan menuntunnya ke arah batang kejantananku yang telah mengeras sedari tadi. Eksanti menoleh ke arahku dan tampak sinar mata gemasnya itu memancar, ketika jemarinya lembut menyentuh gundukan celana di atas pangkal pahaku. Genggaman tangan kiriku pada jemarinya aku lepaskan dan segera tangan itu aku arahkan pada pangkal pahanya.



Eksanti, Hadirnya Orang Ketiga - 2

Eksanti merintih pelan, “Acchhh...”, ketika jemariku yang dingin itu mengusap lembut kulit putih mulusnya.
Aku semakin berani dan segera menyusupkan jemariku lebih dalam lagi. Eksanti berusaha memperlebar kakinya seolah memberikan keleluasaan pada tanganku untuk mencumbuinya. Jemariku merayap semakin dalam, dan sesaat Eksanti menggelinjang ketika aku menyetuh bulu-bulu halus di atas kewanitaannya. Aku baru menyadari bahwa sedari tadi Eksanti telah melepaskan celana dalamnya.

Birahinyapun semakin meningkat ketika aku mengusap-usap lembut bibir kewanitaannya yang mulai membasah. Kedua tangannya kini berusaha melepaskan reslueting celanaku. Kejantananku yang sedari tadi telah mengeras segera diraup dan dipilin-pilin dengan gemas menggunakan kedua tangannya.
“Achhh.. Santi, Mas enak sekali”, aku menggumam perlahan. Sesaat kemudian Eksanti segera merundukkan kepalanya ke atas pangkuanku. Bibirnya yang kecil itu berusaha mengecupi kepala kejantananku dengan gemas, sembari lidahnya menjilati ujung lubangnya dengan nikmat.
“Occhhhh.. Santiii...”, aku menjerit lirih sambil tetap berusaha untuk berkonsentrasi memegang kendali mobil.

Tangan kiriku tetap berada di dalam dekapan kedua pahanya yang hangat, dan jemariku mencubit-cubit lembut bibir luar kewanitaannya yang semakin membasah. Kini jemari tengahku aku tusukkan perlahan ke dalam lubang kenikmatannya.
“Aucchhhh Mass...”, Eksanti menggelinjang sambil tetap melumati batang kejantananku dengan gemas. Kejantananku itu kini telah terbenam hampir separuhnya di dalam mulutnya, dan lidahnya tetap melumat-lumat dengan lembut. Ujung jemari tengahku kini tengah menyentuh ujung klitorisnya yang telah menegang, dan aku berusaha mengusapinya dengan lembut.
“Auchhhh... auchhhhh...”, Eksanti menjerit-jerit kenikmatan dan akupun semakin berani menusuk-nusukan jemariku.
“Please Mas... lebih dalam lagi... lebih dalam lagi...”, Eksanti mememohon-mohon sambil menggigit dengan lembut kepala kejantananku.

Rintik hujan yang terus turun, dinginnya hawa AC di dalam mobil dan dengusan nafas kami berdua semakin menambah romantis suasana saat itu. Ujung jemariku semakin dalam menembus lubang nikmatnya, dan gesekan jemariku dengan bibir kewanitaannya menimbulkan suara-suara nikmat yang semakin membimbing dirinya menuju puncak nikmatnya. Sleb... slebb.. slebb.. bunyi itu semakin cepat dan semakin cepat mengiringi dengusan nafas kami berdua. Lima menit berlalu dan Eksantipun meregangkan tubuhnya, tanda bahwa dirinya telah mencapai puncak orgasme yang pertama sambil melenguh panjang, “Ooohh... Mass... Santi enakkkkk.. teruskan Masss... please lebih dalammm...”.

Kedua tangannya meremasi dengan kasar batang kejantananku dan mengocok-ngocoknya dengan kuat.
“Please Masss.., Santi kepengin Mas juga merasa enakkkk..., please”, Eksanti bergumam sambil dengan semakin cepat melumati dan mengocok-ngocok batang kejantananku.
“Ooohhh.. enak... Santiii... please... sekarang lebih cepat lagi... lebih cepat lagiii...”, aku merintih-memohon kepadanya untuk meningkatkan irama kocokannya.
Aku merasakan cairanku hampir tumpah dari dalam testisku. Eksanti menurutiku dan meningkatkan irama kocokannya, sambil tetap menjilati ujung kejantanannya.
“Ochhhh.. Santii.., please sekarang.. Mas mau keluarr...”, aku menjerit ketika cairan nikmatnya itu muntah dari ujung lubang kejantananku.
Aku meregang penuh nikmat sambil berusaha tetap berkonsentrasi pada kendali mobilku. Cairan itu basah di atas celanaku dan dengan sigap Eksanti segera meraih tissue untuk membersihkannya. Dengan gemas Eksanti memandangi ujung kepala kejantananku yang mengembang kemerahan setelah mengeluarkan cairan nikmatku. Segera setelah kejantananku kembali bersih, Eksanti mengecupnya dengan penuh rasa gemas dan sayang.

******

Waktu berlalu sangat cepat ketika kami selesai melakukan kemesraan yang pertama. Tak terasa kami sudah hampir mengitari kota Jakarta dari atas jalan tol, dan saat itu mobil kami telah berada lagi di mulut pintu keluar Ancol Timur. Stir mobil segera aku arahkan ke luar pintu tol untuk menuju ke sebuah motel di dekat area pintu tol itu. Mobil segera masuk ke kompleks motel tersebut dan aku segera memarkir mobil di sebelah kamar yang terlihat kosong dan telah disiapkan. Sambil berpelukan kami keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam kamar motel melalui pintu garase yang terhubung langsung ke dalam kamar. Eksanti bergelayut di pundakku, dan aku menggamit mesra pinggangnya dengan erat.

Ketika kami telah berada di dalam kamar, aku segera menyalakan lampu redupnya dan menyalakan AC. Dengan tidak sabar Eksanti langsung menciumi leherku. Aku menggelinjang-gelinjang kegelian, lalu Eksanti dengan kasar langsung merenggut dan melepas dasiku serta membuka kancing kemejaku. Eksanti menciumi leher dan menggigiti dadaku dengan kasar, sambil tangannya mencakari kulit punggungku. Akupun meremas-remas lembut rambut kepalanya. Eksanti semakin turun dan semakin turun menciumi perutku, tangannya berusaha melepaskan ikat pinggang dan celanaku. Sekali lagi kejantananku yang kembali telah mengeras diraup dan diciumnya dengan ganas.

“Occhhhh.. Santiii.. enakkk.. Santii...”, aku mendengus-dengus penuh nikmat, ketika hampir seluruh kejantananku kini telah berada di dalam mulut kecilnya lagi.
Sruppp.. sruppp.. sruppp... suara lidahnya yang basah dengan air liur menjilati dengan nikmat kejantananku. Sesekali Eksanti mengusap-ngusap bulu-bulu di bawah dua bolaku dan mengigiti bolaku itu dengan lembut yang kiri dan kanan.

Eksanti menghisap-hisapnya dengan penuh nafsu dan rambutnyapun semakin aku remas-remas, manakala aku menahan rasa geli dan nikmat yang semakin luar bisa. Posisiku yang sedari tadi masih berdiri di samping tempat tidur segera Eksanti dorong, dan ketika aku telah merebah diatas kasur air itu Eksanti segera berjongkok untuk kembali melumati batang nikmatku.
“Occhhhh Santiii..., please aku mau memasukkan sekarang..”, aku memohon-mohon kepadanya.

Eksanti segera melepaskan kecupannya dari kejantananku dan membuka rok dan blazer merahnya. Sambil masih mengenakan kaus hitam yang mengatung memperlihatkan pusarnya itu, Eksanti segera duduk di atas perutku dan menggesek-gesekan dengan lembut bulu-bulu halus kewanitaannya di atas perutku. Tangankupun kini meremasi kedua buah dadanya yang sintal itu. Dan perlahan-lahan aku mengangkat kausnya. Eksantipun mengangkat kedua belah tangannya untuk mempermudahku melepaskannya.

Kini aku menyaksikan kulit tubuhnya yang putih bersih itu, sembari aku saksikan branya yang terbuat dari bahan menerawang membungkus erat buah dadanya yang sangat indah. Putingnya yang merah kecoklatan itu nampak jelas menarawang dari balik BHnya, dan pemandangan itu semakin menambah birahiku. Aku mengecupi branya dengan mulutku tanpa berusaha untuk membukanya, dan Eksantipun mengelinjang-gelinjang geli bercampur nikmat. Tanganku berusaha meraih kepalanya dan mendekatkan bibirnya yang lembut itu kearah bibirku. Bibir kami kemudian menyatu, saling cium dan saling melumati, sembari sesekali kami saling menghisap-hisap bibir dan lidah kami.

Aku merasakan desiran-desiran darahku mengalir semakin cepat manakala aku melihat ekspresi pasrahnya dan mendengar rintihan nikmatnya. Ciumanku turun dari bibirnya dan aku menggigit lembut dagu kecilnya, dan semakin turun kearah leher jenjangnya. Lidahku menjilat-jilat peluh harum yang mengalir deras di lehernya. Tubuhnya masih meliuk-liuk di atas tubuhku, dan terasa adanya cairan nikmat yang tiba-tiba meleleh lembut di atas perutku, ketika aku berusaha melumati putingnya yang merah mengeras itu. Kini tanganku berusaha merenggut tali branya menyamping ke lengannya sehingga aku semakin leluasa mengecup dan menggigigt lembut kedua putingnya bergantian yang kiri dan kanan.

Lalu sesaat kemudian aku merasakan tangannya membimbing kejantananku untuk masuk ke dalam lubang nikmat kewanitaannya.
“Occchhh Massss...”, Eksanti merintih pelan ketika ujung kejantananku telah menembus lubang itu.
Kedua tangannya kini bertumpu di atas dadaku, dan Eksantipun menaik turunkan tubuhnya sehingga aku merasakan gesekan-gesekan lembut bibir kewanitaannya pada batang nikmatku. Sedari sore tadi aku telah membayangkan bahwa bibir kewanitaannya yang menggelambir lembut itu memang luar biasa sekali. Eksanti mula-mula menggesek-gesek pelan dan makin lama semakin cepat.. semakin cepat.
“Occchhh.. Santii.. sayang..”, aku mendengus-dengus pelan sembari tetap meremasi kedua buah dadanya yang indah itu dengan lembut.
Cairan nikmatnya semakin deras mengalir dari dalam kewanitaannya, sehingga melumasi gesekan bibir kewanitaannya dengan batang kejantananku. Hal itu menimbulkan suara-suara nikmat yang menemani erangan dan dengusan nafas kami.
“Ayo Mass.. Santi ingin Mass.. enakk..”, Eksanti berbisik-bisik pelan sambil menggigiti telingaku.
Aku merasa geli bercampur nikmat ketika dinding kewanitaannya kurasakan meremasi kejantananku. Peluh kami kembali mulai bercucuran dan bibirkupun berusaha menahan rasa nikmat yang akan menuju puncak. Aku mencoba bertahan untuk memperlama permainan cinta kami, dan akupun memohon kepadanya.

“Please, sayang... Mas pengin sekali bercinta dari belakang“, aku berbisik pelan kepadanya dan Eksantipun segera mengangkat tubuhnya sembari merubah posisi sesuai permintaanku.
Kini tangan dan lututnya bertumpu di atas kasur air, dan dengan segera aku menusukkan batang nikmatku ke lubang kewanitaannya dari arah belakang diantara sela-sela buah pantatnya.
“Ochhh.. Mas.. Santi enakk...”, Eksanti melenguh panjang dan akupun semakin menjadi-jadi menusukkan kejantananku itu dari arah belakang.
Kedua tanganku memeluk tubuhnya dari belakang sembari jemariku memilin-milin ujung putingnya. Aku mendorong-dorongkan badanku ke arah depan dan Eksantipun berusaha untuk memutar-mutarkan buah pantatnya.

Peluh di atas punggungnya aku jilat-jilat dengan nikmat saat Eksanti merebahkan kepalanya di atas kasur air sehingga buah pantatnya semakin menungging ke atas. Tanganku kini meremasi buah pantatnya itu sambil tetap mendorong-dorongkan badanku. Blesss.. bless.. blesss.. bunyi gesekan itu semakin menjadi-jadi, dan akupun semakin merasakan bahwa puncak kenikmatanku segera akan datang.

“Please.. Santi, Mas mau keluarrr...”, aku berteriak kecil memperingatkannya.
Dan Eksantipun semakin menjadi-jadi memutar-mutarkan buah pantatnya. Bless.. bless.. bless.. aku semakin dalam menusuk-nusukan batang kejantananku. Semenit berselang aku berteriak sambil memeluk erat tubuhnya
“Santiii.., Mas mau keluarrr...”.
Dan Eksantipun menjerit pelan pula, “Ochh.. Mas.., Santi enakkk..”.
Lalu plas.. plas.. plas... (8x) cairan nikmatku muntah di dalam lubang surgawinya. Akupun tetap bertahan untuk tetap menusuk-nusukan batang nikmatku dan sesaat kemudian aku rasakan tubuhnya kembali meregang sembari bibir kewanitaannya erat meremasi kejantananku.
“Occhhh Masss... Santi enak sekaliii..“, Eksanti berteriak kecil sambil menggigit bibir bawahnya.
Cairan nikmatnya mengalir deras dari dalam kewanitaannya bercampur dengan cairan nikmatku menimbulkan aroma birahi yang sangat sensual. Aku menghentikan tusukanku sambil berusaha menikmati saat-saat yang telah aku impikan selama ini.

Tubuh kami terkulai lemas, lalu aku memeluknya dari belakang. Kejantananku tetap menancap di dalam lubang kewanitaannya. Sesaat aku masih menikmati remasan-remasan lembut bibir kewanitaannya, dan akupun menciumi peluh di sekujur lehernya yang harum itu.
Rambutnya aku sibakkan sambil membisikan kata-kata lembut, “Terima kasih Santi, kamu benar-benar luar biasa...”
Eksanti tersenyum bahagia sekali karena telah berhasil memuaskan diriku seraya menjawab “Santi seneng, kalau Mas merasa enakkk.. Sekarang Mas udah lega ‘kan?”.
Kami benar-benar terkulai kelelahan sampai tak terasa kami tertidur lelap di dalam motel itu.

****

Ketika aku merasakan geliatan tubuhnya dan mencium bau harum keringatnya, aku terbangun dan melihat ke arah jam tanganku. Astaga sudah pukul 8.00 pagi. Kamipun segera bergegas untuk berkemas-kemas langsung pergi ke kantor yang hanya berjarak 300 meter dari motel itu.

*****


(Santi..., Aku ingin sekali mengimpikanmu malam ini...)



Eksanti, First Time At The New Office

Awal tahun 1997. Karena situasi krisis moneter yang tidak kunjung usai, maka perusahanku terpaksa harus melakukan penghematan di semua lini. Salah satu keputusan yang diambil oleh Direksi adalah kantorku terpaksa harus pindah dari lokasi segitiga emas ke daerah lain yang lebih murah. Setelah melakukan beberapa pertimbangan dan proses yang melelahkan, kini kantorku menempati sebuah ruko kecil di daerah Jakarta Utara. Tentu saja lay-out interior kantorku yang sekarang tidak semewah dahulu, selain itu kami pun juga harus sedikit mengorbankan privacy kerja. Ruang kerjaku dan ruang kerja Santi tidak lagi bersekat sehingga bisa saling melihat. Di samping lebih murah, juga lebih gampang berkomunikasi.

*****

Sejak kejadian terakhir dalam ‘proposal yang tertunda’ itu (Baca : Eksanti, Proposal yang Terunda 1, 2, dan 3) itu, hubunganku dengan Eksanti telah menjadi akrab kembali, setelah sebelumnya sempat sedikit menegang gara-gara ‘cerita si manajer’ itu kepadaku (Baca : Eksanti . The other Manager 1,2 dan 3)

Hari itu Kamis tanggal duapuluh dua April, hari itu Eksanti mengenakan baju kaos hitam ketat yang dibalut dengan blazer berwarna biru. Eksanti mengenakan rok mini warna hitam dengan motif bunga kecoklatan yang senada dengan warna kaosnya. Rambutnya yang terurai basah ia ikat dengan bando mutiara, sementara sapuan makeup tipis meronai wajahnya. Hari itu adalah hari pertama kami menempati meja-meja yang baru dipesan dan posisi tempat duduknya tepat diagonal berseberangan dengan tempat dudukku.

Sesekali aku melirik kearahnya yang lagi asyik mengetik, dan entah mengapa pandangan mataku senantiasa terpaku pada kakinya yang panjang dan indah itu. Sesekali betisnya terlihat jelas olehku ketika rok pendek yang ia kenakan tersingkap. Tanpa disadari, Eksanti seringkali menyilangkan kaki jenjangnya itu, dan setiap kali Eksanti melakukannya aku selalu memperhatikannya. Sungguh aku bisa menyaksikan urat nadinya yang berwarna hijau kebiruan itu menghias indah kontras sekali dengan warna putih pangkal pahanya. Fikiranku melayang jauh... seandainya aku bisa mengelus lembut dirinya saat itu, seperti apa yang pernah kami alami... dulu ”Occhhhhh...”, aku cuma bisa menghela nafas panjang.

Saat Eksanti sedang membereskan tumpukan file di atas meja barunya, tiba-tiba, braakkkk... setumpuk file yang semula berada di atas mejanya jatuh berserakan di lantai.
“Wauuuww...”, Eksanti berteriak kaget, dan akupun ikut terkaget karena kejadian itu.
Aku melihat kekesalan di raut wajahnya, sementara suhu ruangan kami yang tidak terlalu dingin, membuat dirinya merasa makin kepanasan karena harus bekerja keras merapikan file-filenya.
“Panas sekali yaa.. Mas”, Eksanti berujar pelan sambil melepaskan blazer warna birunya.

Aku mengangguk mengiyakan sambil melirik ke arahnya, sehingga terlihat dengan jelas olehku lengannya yang putih mulus, dan lehernya yang jenjang dengan tahi lalat kecil di dekat pundaknya. Bayang-bayang indah tubuhnya yang langsing tetapi padat berisi itu, semakin melekat jelas dibalik kaos dan roknya yang ketat itu. Guratan tali bra yang menutup erat dua gundukan kenyal di dadanya makin nampak jelas, dan semakin jelas ketika ia menggeliatkan tubuhnya.

“Hmmm...”, aku menarik nafas panjang menyaksikan pemandangan yang sangat indah itu.
Eksanti berdiri lalu berjongkok di depan mejanya untuk membereskan file yang tadi berjatuhan. Kakinya yang panjang dan indah semakin menggoda perasaanku, terlebih pada saat Eksanti sedang menunduk untuk membenahi file yang masih berserakan di bawah mejanya. Rok pendeknya kembali tersingkap dan kaos ketatnya tercabut dari roknya sehingga menampakkan sebagian perut dan pinggangnya.

Sementara kejadian itu berlalu, mataku terpaku erat pada pemandangan indah disekitar pangkal pahanya dan tiba-tiba darahku berdesir keras saat Eksanti memergokiku sedang menikmati pemandangan indah itu. Akupun salah tingkah dan ketika kembali aku melirik ke arahnya, aku melihat Eksanti yang tersipu malu.

Ketika Eksanti selesai mengangkat kembali file ke atas mejanya, Eksanti kembali duduk di kursinya sambil sekali lagi menyilangkan kaki panjangnya. Aku lalu mendial komputernya melakukan chatting untuk meminta maaf kepadanya karena perbuatanku yang lancang itu.
“Maaf yaa.., tadi Mas sampai takjub ngelihatin Eksanti”.
“Nggak apa-apa kok Mas, abis emang roknya yang salah sih.. kependekan”, begitu candanya menjawab pernyataan maafku.
“Kalau nggak apa-apa, Mas boleh ngelihat lagi dong..”, aku balik memohon.
“Jangan ahh... nanti ketahuan orang lho... bahaya...”, jawabnya sambil sedikit beringsut dari tempat duduknya sehingga kembali aku menyaksikan singkapan pahanya yang putih mulus itu.
Hmmm...sekali lagi aku menarik nafas panjang menahan gejolak perasaanku.
sambil kutulis “San.., Mas nggak tahan...”.
“Hmmm..., nggak tahan pengin ngapain sih Mas?”, Eksanti menggodaku.
“Nggak tahan pengin meluk kamu..”, aku membalas candanya sambil aku tolehkan pandangan mataku ke arahnya.

Saat itu Eksantipun menatap ke arahku, dan pandangan mata kami bertemu. Darahku kembali mengalir deras, terlebih ketika Eksanti menggodaku dengan cara membasahi bibir tipis itu dengan lidahnya, dan akupun membalasnya dengan mengedipkan sebelah mataku.
"Mas, lagi mbayangin apa sih", Eksanti bertanya kepadaku melalui komputernya.
“Achh... nggak, aku cuman mbayangin Eksanti lagi maem pisang”, aku membalas candanya.
“Hee.. hee.. hee.., Mas porno dech”, Eksanti balas menjawab.
Aku semakin tidak tahan menahan gejolak perasaanku.
Lalu aku berkata kepadanya, “Santi, Mas mau out dulu yaa... mau ke kamar kecil.
“Iya deh, baru segitu aja... out”, Eksantipun membalas sambil meledekku.

Lalu aku beringsut dari tempat dudukku dan sebelum aku menuju ke kamar kecil sengaja aku berjalan ke arah belakang tempat duduknya. Jantungku berdegup keras, dan dengan tanganku yang masih bergetar aku sibakkan rambutnya yang hitam dan wangi itu, lalu aku mencium dengan lembut tengkuk lehernya... lembut sekali. Rambut-rambut halus di atas tengkuknya terlihat jelas olehku dan bau harum parfumnya itu begitu menusuk hidungku. Eksantipun menggeliat pelan sambil dengan cepat tangannya berusaha menahanku.

“Jangan Mas, please... nanti dilihat orang”, begitu katanya. Tetapi tanpa disengaja ujung jemarinya justru tertahan pada batang kejantananku sehingga benda yang sedari tadi telah keras itu, kini jadi semakin mengeras. Dengan refleks, jemarinya meremas kejantananku dengan lembut. Aku memejamkan mataku, dan lima detik kemudian Eksantipun baru tersadar pada kejadian itu.
Eksanti lantas tersipu malu sambil berkata “Maaf, Mas.. Santi nggak sengaja...”
Aku membalasnya dengan meremas mesra jemarinya sambil berkata, “Nggak apa-apa kok, Santi, lebih lama juga nggak apa-apa..“, aku menggodanya sambil berjalan masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.

Di dalam kamar mandi aku membuka celana dan menurunkan celana dalamku lalu aku mendekap erat kejantananku membayangkan apa yang baru saja aku alami. Aku duduk di atas pinggiran bak mandi sambil tanganku meremasi kejantananku. Aku sedang mengkhayalkan remasan lembut jemari tangannya ketika tiba-tiba aku mendengar ketokan di depan pintu membuyarkan khayalan indahku itu.
“Mas... lagi ngapain...?”. Eksanti menyapa dari balik pintu.
Aku gugup dan menjawab “Nggakk.. nggak lagi ngapa-ngapain”. Tetapi pintu kamar mandi yang tidak bisa terkunci itu telah terbuka dan Eksanti tersenyum melihat tingkahku saat itu. Aku masih terduduk di atas bibir bak mandi, sementara tanganku berusaha menutupi kejantananku yang mendongak kencang. Eksanti masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.

“Mas aku bantuin yaa...”, Eksanti berkata pelan sambil tangannya berusaha mendekap kejantananku.
Aku masih tergugup-gugup ketika Eksanti mulai berjongkok dan mengulum ujung kejantananku.
“Santi gemes deh sama yang ini, Mas...”, Eksanti bergumam sambil menjilati lubang di atas kepala kejantananku dan terus memasukkan kejantananku yang panjang ke dalam mulut kecilnya.
Lidahnya menyapu-nyapu lembut disepanjang kejantananku menimbulkan bunyi yang semakin menambah nikmat birahiku, dan aku merasakan kejantananku semakin mengeras di dalam mulutnya. Aku meremasi rambutnya dengan kasar, Eksantipun mulai mengigit-gigit lembut kepala kejantananku, dan sesekali tangannya meremasi dua bolaku yang telah penuh oleh cairan nikmatku.
“Ochhh Santiii... Mas enak sekali... “, aku mengerang-erang sambil mengusap-usap kepalanya, dan Eksanti semakin mempercepat irama kulumannya... semakin lama semakin cepat...
“Occhhhh... Santii... ochh...”, aku menahan rasa geli nikmat, dan ketika puncakku hampir tiba, dengan cepat aku mengangkat kepalanya.
“Santi, jangan sekarang yaaa... please, sekarang gantian Mas yaa..”
Eksanti tersenyum dan melepaskan kulumannya dari kepala batang kejantananku, sambil mengecup mesra ujungnya.

Lalu Eksanti berdiri merapat di dinding kamar mandi, matanya terpejam dan bibirnya terkatup rapat menahan rasa geli dan nikmat akibat rabaan jemariku pada kedua tonjolan di dadanya. Aku meremas-remas pelan kedua tonjolan yang mulai mengeras itu, dan Eksantipun mendesah-desah penuh rasa nikmat yang luar biasa.
“Sshhhh... shhh... enak Mas...”

Bibirku mengulum-ngulum lembut bibirnya, dan Eksantipun membalasnya dengan pagutan pada leherku. Tanganku menarik dengan lembut putingnya yang panjang merah kecoklatan dan telah mengeras, dan Eksanti menggigit lembut leherku dengan meninggalkan warna merah tua disekujur leherku. Lidahku menjilat-jilat lehernya pelan sekali... lembut sekali... lalu turun kearah putingnya yang kiri... aku kulum-kulum... lalu yang kanan. Mulutku terus mengulumi puting payudaranya yang semakin mengeras dan Eksanti tertawa geli bercampur nikmat.

“Ochhhh... Santi enakkkk... Masss...”, Eksanti mendesah lembut.
Sesekali aku menggigit putingnya dengan lembut dan Eksanti mendesis-desis menahan rasa geli yang semakin menjadi-jadi.
“Ochhhh... ochhh...”. Kemudian bibirku turun ke arah lubang pusarnya dan aku mencium serta menjilati perutnya yang putih itu. Eksanti menggeliat pelan sembari meremas-remas rambut kepalaku, saat tanganku menyibakkan roknya. Ketika aku berhasil melepaskan roknya, terlihat celana dalam warna kremnya yang berenda-renda indah membalut ketat kewanitaannya yang telah membasah, dan rambut hitamnya samar-samar terbayang jelas dibalik celana dalam indahnya itu.

Segera aku menurunkan celana dalamnya dengan menggigitnya ke bawah, lalu aku melumati bibir kewanitaannya. Bibir kewanitaannya yang merah terlihat jelas olehku dan lidahku menelusurinya berusaha mencari-cari tonjolan klitorisnya. Ketika aku menemukan ujung klitorisnya aku menjilatinya penuh rasa nikmat sembari menusuk-nusukkan jemari tengahku ke dalam lubang nikmatnya.
“Ochh... Masss...”, Eksanti berteriak pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
Eksantipun semakin menggeliat ketika aku rasakan lelehan cairan nikmatnya deras mengalir keluar dan tiba-tiba badannya meregang sambil berteriak pelan, “Terusss... Mas... please... teruskan Mas...”.
Aku terus menusukan jemariku mengiringi datangnya rasa puncaknya yang pertama ...

Ketika lubang kewanitaannya telah semakin membasah, aku lalu berdiri dan langsung menusukkan kejantananku dari arah depan, sembari bibir kami beradu rapat. Bless... aku mendorongkan tubuhku ke arahnya dan kejantananku semakin terbenam rapat di dalam kewanitaannya diiringi dengan rasa geli bercampur nikmat yang luar biasa. Bibir luar kewanitaannya yang menggelambir itu mengatup erat pada kejantananku, sementara dinding dalam kewanitaannya terasa enak memijit-mijit lembut ujung kepalanya. Plasss... plass... plas... aku semakin mempercepat irama tusukanku, sembari memutar-mutarkan pinggulku seolah-olah ingin menancapkan kejantananku lebih dalam lagi. Tangannya memeluk rapat buah pantatku dan berusaha mendorongnya ke arah tubuhnya, dan irama kita berdua semakin cepat dan semakin rapat, membuat aku semakin tidak kuasa menahan rasa nikmat pijatan-pijitan dinding kewanitaannya disepanjang kejantananku.

Tanganku meremasi ujung putingnya dengan lembut dan sesekali berpindah kearah belakang lehernya sembari aku kulumi bibirnya yang kecil itu. Lima menit berselang lalu tiba-tiba, “..Masss.., Santi enakkkkk...”, Eksanti berteriak pelan sembari meregangkan tubuhnya menikmati puncak rasa keduanya. Aku mempercepat tusukanku dan semakin cepat.. semakin cepat... sembari bibirku mengigit-gigit bibirnya dengan lembut.
“Ochhhh.. Masss.., Santi.. enakkk...” Eksanti melenguh panjang sembari memagut kembali leherku dengan keras.

Suhu udara di dalam kamar mandi itu semakin panas. Aku tetap memeluk erat tubuhnya, sembari menciumi peluh yang menetes deras di lehernya. Dengan segera aku membalikkan tubuhnya, dan tangannya lalu menumpu pada bibir kamar mandi. Dengan cepat aku menusukkan kejantananku kedalam lubang nikmatnya dari arah belakang. Aku menggesek-gesekan dengan cepat kejantananku di dalam lubang kewanitaannya.

“Achh.. Santiii..., Mas juga enak sekaliii...”, aku mengerang-erang.
Tanganku memeluknya dari arah belakang, dan bibirku menciumi peluh yang meleleh di sepanjang leher dan sekujur punggungnya sembari jemariku tetap memilin-milin putingnya yang merah kecoklatan itu.
“Ayo Mass.. Santi ingin Mas... juga enakkkk..., ayo Mas... lebih cepat lagiii...”, Eksanti merintih-rintih sembari bibir bawahnya ia gigit rapat.
“Ochhh.. Santiii.., Mas mau keluarrrr...”, aku berteriak sambil menggigit lembut telinganya.
“Ayo.. Mas... kita sama-sama...”, Eksanti menjawab dengan terengah-engah. Lalu tiba-tiba plashhh.. plashh.. plashh... (8x) cairan hangatku terhambur keluar dan masuk kedalam lubang kenikmatannya.
“Ochhhh.. Santiii..., Mas... enakkkkk..”, aku menjerit menikmati saat-sat puncakku sambil terus menancap-nancapkan kejantananku. Dan lima detik kemudian, tubuhnya meregang dan Eksantipun berteriak nikmat, "Mas.. Santi enakkkk.. sekaliii...”, dan akupun merasakan cairan nikmatnya meleleh deras dari kewanitaannya.

Kami berdua terkulai lemas, dan sebelum keluar dari kamar mandi aku peluk erat dirinya dan aku cium keningnya sambil berujar, “Terima kasih yaa.. Santi, sudah lama Mas nggak pernah merasakan yang senikmat ini.”
Aku berusaha membantu merapikan pakaiannya dan Eksanti tersenyum lembut serta menjawab “Sama-sama Mas, Santi juga seneng kalau Mas enak...”
Lalu kami berkemas dan keluar dari kamar mandi itu untuk kembali bekerja seperti semula.



Eksanti, (Probably) The Last Session - 1

Sampai saat-saat terakhir menjelang kepindahan pekerjaan Eksanti, sejak ia mengajukan surat pengunduran dirinya dari kantorku (baca: Eksanti, Hadirnya Orang Ketiga 1,2), aku sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Yoga, pacar Eksanti. Hingga disuatu sore, dari kaca jendela ruang kerjaku di lantai 3, aku memergoki seseorang yang menjemput Eksanti selepas jam kantor. Semula aku tidak pernah berfikir bahwa laki-laki itu adalah pacar Eksanti, namun karena dalam seminggu ini Eksanti dijemput oleh laki-laki yang sama, barulah aku sadar bahwa laki-laki itulah yang bernama Yoga. Aku mendengar dari teman-teman sekantorku yang lain, bahwa Yoga sedang mendapat training di Jakarta, sehingga ia bisa menjemput Eksanti setiap saat.

Memang sejak kedatangan Yoga di Jakarta, hari-hari terakhir itu Eksanti terlihat semakin cantik karena dandanannya yang semakin modis. Yang selalu tampak menarik bagiku adalah kulit mukanya yang semakin putih bersih, sehingga sangat kontras dengan warna bibirnya yang tipis dan selalu terlihat basah. Model rambutnya yang hitam sebahu, sedikit terurai di dekat telinga, dan diberi sedikit olesan jelly, sehingga senantiasa kelihatan basah. Juga yang kelihatan sensual adalah cara berpakaiannya. Eksanti selalu memakai blouse atau kaos yang agak ketat, sehingga perutnya kelihatan ramping dan payudaranya terlihat agak menonjol. Memang payudaranya sendiri tidak terlalu besar, tetapi terlihat sangat seksi bila ia memakai baju kaos yang ketat, walaupun sudah tertutup dengan stelan blazernya. Satu lagi, yaa... satu lagi yang sangat menarik, bentuk kakinya yang kecil memanjang seperti kaki belalang. Kulitnya putih mulus, tanpa cela ditumbuhi bulu-bulu halus di sepanjang betis dan pahanya. Ia sangat sadar dengan potensi yang dimilikinya itu, sehingga ia sangat senang mengenakan rok span setinggi kira-kira 5 cm di atas lututnya.

******

Sudah lebih dari dua minggu ini Eksanti selalu pulang tepat pukul 17.00, karena Yoga selalu menjemputnya tepat waktu. Namun dalam dua hari terakhir aku perhatikan sudah lebih dari pukul 17.30, Eksanti masih belum beranjak untuk pulang. Karena penasaran aku menanyakan kepadanya, "Santi, kenapa sih aku perhatiin sekarang kamu pulang lebih malam, emang nggak dijemput lagi?”
"Yaachh..., abis yang njemput sudah nggak ada sih Mas...", sahutnya.
"Masak iya, kemana Mas Yogamu itu?" tanyaku.
"Aaach..., Mas jangan nanya-nanyain dia deh. Janjinya Mas Yoga mau ditraining 2 bulan, lalu langsung ditempatkan di Jakarta. Tapi nyatanya baru sebulan ditraining udah disuruh balik lagi ke Malang, karena di sana ternyata kekurangan orang." jawabnya dengan nada kesal.
“Sebenarnya sih Mas Yoga berhak untuk menolak permintaan bosnya yang genit itu, tapi katanya ia cinta banget sama pekerjaannya..., jadi yaa... diikutin aja perintah bosnya itu”, ujar Eksanti melanjutkan.
“Wah... hebat dong, orang kayak Yoga. Ia pasti loyal banget sama kantornya dan itu mencerminkan tipe orang yang setia”, jawabku sekenanya.
“Loyal apaan..., Santi nggak ngerti ama dia. Sebenarnya dia lebih cinta sama Santi apa sama pekerjaannya sich...?”, Santi berujar sedikit ketus mendengar komentarku.
Aku tahu dari jawabannya, hubungan mereka pasti sedang bermasalah lagi gara-gara persoalan ini. Sebuah hal yang wajar untuk dua orang yang baru mulai berpacaran, hingga akupun enggan untuk menanggapinya lebih lanjut. Aku tidak mau mencampuri privacy mereka berdua.

******

Beberapa hari kemudian, saat makan siang, aku baru saja datang setelah selesai melakukan meeting di luar kantor. Kantorku sepi sekali, hanya seorang office boy yang sedang duduk di area receptionist di lantai bawah. Ketika aku naik ke ruanganku di lantai tiga, aku melewati area ruang makan kantorku, yang biasanya ramai pada saat jam makan siang seperti ini. Secara kebetulan aku melihat di ruang itu cuma Eksanti yang sedang makan seorang diri. Rupanya teman-temannya yang lain sedang makan diluar kantor. Segera aku menemaninya duduk di depan meja makan itu.
"Makan sendirian saja, San ?", sapaku kepadanya.
"Iyaa.. Mas. Mas sudah makan?”, sahutnya.
“Sudah. Tadi sekalian meeting sama klien”, jawabku singkat, sambil menarik kursi untuk duduk di depan kursinya.
Sambil makan, Eksanti melihat-lihat iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Eksanti berkata, "Waah... film ini bagus, Mas. Santi kepingin nonton, tapi sayang nggak ada yang nemenin".
"Kalau memang nggak ada teman, emangnya Santi masih mau Mas temenin ?", tanyaku menyelidik.
"Kalau Mas emang bersungguh-sungguh mau nemenin, kapan Mas bisanya ?, Asal jangan yang malam-malam. Paling lambat yang mulainya jam 8, jadi sekitar jam 10-an kita sudah bisa pulang. Soalnya, ntar nggak enak kalau ada yang ngelihat kita jalan sampai malam, apalagi kalau ketemu temannya Mas Yoga...", jelas Eksanti panjang lebar. Aku tahu, ia sebenarnya masih dalam posisi yang bimbang antara menjaga kesetiaannya dengan Yoga, atau tetap bersamaku.
"Besok malam...?. Kayaknya jadwal Mas besok nggak begitu padet, jadi bisa ninggalin kantor cepet. Kalau hari-hari berikutnya jadwal Mas sudah sangat padat dengan janji sama klien, jadi nggak akan bisa pulang cepet." kataku.
"Kalau gitu besok malam yaa.. Mas?", ia memohon sambil matanya menatapku penuh harap.
"Boleh, Mas jemput jam berapa?", aku menyetujui permintaannya.
"Santi besok mau pulang cepet aja deh, jadi kira-kira bisa sampai di kost jam 6-an. Lalu mandi dulu. Jadi kira-kira pukul 7 sore kita berangkat yaa...", kata Eksanti menjelaskan rencananya dengan rinci,
"Oke", sahutku.

******

Besok sorenya setelah acara di kantor selesai, sengaja aku mandi di kantor lalu siap berangkat ke rumah kost Eksanti di daerah Selatan Jakarta. Untung jalanan belum terlalu macet, sehingga pukul 7 kurang 5 menit, aku sudah sampai di depan pintu kamar kostnya. Sampai di sana ternyata Eksanti belum selesai berdandan, sehingga aku harus menunggu selama beberapa menit. Kemudian ketika ia selesai, kami langsung berangkat karena takut terlambat. Jakarta memang sedang macet-macetnya pada jam-jam itu. Akhirnya setelah dengan sedikit ngebut, kami sampai juga di Grand Wijaya Theater jam 8 malam tepat. Untung ticket box-nya masih buka, dan setelah membeli tiket, kami langsung masuk tanpa sempat lagi membeli snack dan minuman. Aku memang sengaja meminta tempat duduk yang di pinggir. Entah kenapa, sampai saat film dimulai penontonnya hanya sedikit sekali, sehingga ruangan teater tersebut menjadi bertambah dingin.

Artis-artis pemain film-nya memang sexy-sexy, apalagi film yang kami tonton ini terhitung banyak juga adegan panasnya yang sangat berani. Ketika adegan yang panas muncul di layar, Eksanti tiba-tiba memegang tanganku. Suatu saat, ketika adegan filmnya mulai memanas lagi, sebelum tangan Eksanti beraksi meremas tanganku, aku mendahuluinya dengan memegang telapak tangannya erat-erat. Sejenak kemudian, walaupun adegan panas sudah berlalu dari layar film itu, jemari tangannya yang lentik masih tetap berada erat dalam genggamanku. Perlahan-lahan dengan sangat berhati-hati, bersamaan dengan gerakan tanganku, tangan Eksanti aku tumpangkan di atas pahanya. Saat itu Eksanti masih diam saja atas aksi yang aku lakukan ini. Aku menahan nafas menunggu reaksinya. Lalu dengan sedikit perasaan was-was, ujung-ujung jemariku mulai mengelus lembut pahanya yang sedikit terbuka, karena bagian bawah roknya yang pendek itu agak tersingkap pada saat ia duduk tadi.

Beberapa menit hal itu aku lakukan dan Eksanti pun masih tetap diam tanpa melakukan reaksi. Kenekatanku semakin bertambah, dengan menarik tangan Eksanti lebih arah ke atas, sekaligus untuk menyingkap ujung bawah roknya supaya semakin naik ke pangkal paha. Aku melirik ke arah roknya yang kini telah tersingkap sampai hampir ke pangkal pahanya, sehingga pahanya yang putih mulus itu terlihat remang-remang dengan penerangan cahaya dari pantulan layar film saja. Aku pura-pura diam sebentar. Kebetulan muncul adegan panas lagi di layar film dan seluruh telapak tanganku segera meraba lembut pahanya. Eksanti mulai bereaksi dengan memegang bagian atas tanganku. Aku mengira, Eksanti akan melarang kegiatan tanganku ini, tetapi ternyata perkiraanku salah. Tangannya hanya ditumpangkan saja di atas tanganku.

Melihat reaksinya yang seolah memberikan sinyal positif, aku memberanikan lagi operasi ini. Tanganku aku mulai mengusap-usapkan lembut ke kulit pahanya dari atas lutut sampai ke bagian atas dekat pangkal pahanya. Sudah lebih dari 5 menit aku melakukan belaian ini, bergantian paha kanan dan kirinya, tapi Eksanti tetap diam, hingga nafasku sendiri yang mulai memburu. Akhirnya aku memberanikan telapak tanganku untuk mengusap pahanya sampai ke arah selangkangannya, sehingga ujung jariku berhasil menyentuh pinggir renda celana dalamnya. Bibir kewanitaannya mulai aku gelitik dengan 2 jemariku. Saat itu Eksanti kelihatan mendesah sambil membetulkan posisi duduknya. Aku menggelitik terus celah lembut kewanitaannya dengan jari dan kadang-kadang jemariku aku lesakkan ke dalam lubang kewanitaannya yang ternyata sudah basah juga. Belum beberapa lama, Eksanti menggeliat di atas tempat duduknya dan berbisik seolah merintih, "...Mas, jangan digitukan nanti basah semua celana dalam Santi".

Mendengar desahannya itu, tanganku aku tarik dan aku pindahkan ke pahanya saja. Aku berbisik di telinganya,"Aku suka melakukan yang tadi. Kalau Santi juga suka, nanti lain kali Mas terusin lagi yaa... ?".
Eksanti mengangguk dan berkata pelan, "Minggu depan saja kita jalan lagi, soalnya kalau keseringan pergi malam-malam, ntar nggak enak sama teman-teman di kost. Apalagi yang kenal dengan Mas Yoga". Ia terlihat masih saja dalam posisi kebimbangannya, antara harus bersikap setia dengan Yoga, atau menikmati kebersamaan percumbuannya denganku.

Setelah film selesai diputar, sambil berjalan keluar gedung teater, aku merangkul pundaknya dan Eksantipun memegang pinggangku sambil kepalanya disandarkan ke bahuku. Aku mengajak Eksanti makan malam, sekalian sambil mengobrol macam-macam. Sudah cukup lama kami tidak pernah melakukan hal itu. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku harus segera mengantarkan Eksanti pulang. Sebelum turun dari mobil, di depan pagar rumah kostnya, aku memeluknya dan diapun membalasnya dengan merangkul leherku kuat-kuat untuk menerima ciuman dan kecupan-kecupan pada bibirnya. Selesai melakukan kecupan mesra itu, dengan sedikit teknik yang sangat halus, tanganku menyambar dan memijit lembut payudaranya.
"Acch.. Mas nakal!!, katanya manja.
"Abis Mas kangen sama yang itu... Bye... bye...“, ujarku dengan senyum simpul

Keesokan harinya, aku bertemu Eksanti lagi di kantor dan kami bersikap biasa-biasa saja sehingga tidak ada teman yang curiga kalau kami telah melakukan sedikit kemesraan semalam.

******

Suatu siang di hari Rabu, kira-kira seminggu setelah acara kami menonton bersama, Eksanti datang ke kamarku dengan membawa laporan-laporan yang harus aku tanda tangani.
"Mas, nanti malam Mas ada acara?", Eksanti bertanya.
"Kenapa?", aku bertanya dengan sikap yang berpura-pura acuh. Sejujurnya, dalam hati aku berkata, saat-saat seperti inilah yang paling aku nantikan.
"Kalau Mas ada waktu, Eksanti kepingin makan di luar, tapi sayangnya lagi nggak ada teman," sahutnya bersungguh-sungguh. Aku memang tidak salah sangka, pucuk di cinta ulam tiba.
"Oke. kalau Santi mau, Mas bersedia nemenin Santi jalan. Jam 5 sore Mas mau meeting dulu dengan klien di Shangrila, jadi kira-kira jam 7 seperti minggu lalu, Mas jemput di tempat kost kamu yaa.. ?", kataku memberikan tawaran .
"Terima kasih yaa.. Mas", ia langsung menyetujui tawaranku, matanya nampak berbinar-binar senang.

Sore itu aku sungguh tidak sabar untuk segera menyelesaikan acara meeting dengan klienku. Jam 18.15 sore aku sudah siap berangkat dari Hotel Shangrila, langsung menuju ke rumah kost Eksanti. Eksanti memang sengaja pulang dari kantor lebih awal dari biasanya, sehingga ia telah sampai di rumah kostnya lebih dulu dari kedatanganku. Sesampainya di sana aku menunggu di ruang tamu, dan baru kira-kira 10 menit kemudian Eksanti keluar dari kamarnya.

Aku sempat terpesona beberapa saat. Penampilan Eksanti sore ini benar-benar lain dari kesehariannya. Biasanya ia memakai rok mini, yang dipadukan dengan blouse atau kaos pendek terbuat dari bahan yang agak ketat, dan tertutup rapi dengan setelan blazernya. Kali ini ia tampil dengan memakai gaun panjang warna ungu dengan belahan yang agak tinggi di bagian paha sebelah kirinya. Saat ia berjalan, pahanya kirinya nan putih bersih itu kelihatan dengan jelas. Bahkan dalam posisi tertentu, bagian dalam paha kanannya juga nampak samar-samar mengintip dari belahan gaunnya. Sungguh, makhluk cantik ini kelihatan sexy sekali sore itu.

"Ckkk... ckkk... ckkk...," komentarku.
Eksanti tersenyum mendengar pujianku, sambil memutarkan tubuhnya. Sungguh lebih mempesona lagi pemandangan yang aku saksikan, karena ternyata punggungnya terbuka lebar sampai ke bawah dengan model huruf V sampai ke atas pinggulnya. Aku yakin sekali kalau Eksanti pasti tidak mengenakan bra saat itu.

Tanpa sempat duduk lagi, Eksanti langsung mengajak aku berangkat. Aku merangkul pinggangnya, Eksanti menjadi agak kikuk. Ia takut kalau teman-teman kostnya menyaksikan kemesraanku kepadanya. Begitu masuk ke dalam mobil, karena sudah tidak tertahankan lagi, aku memohon agar diijinkan untuk mengecup bibirnya yang merah merekah dan selalu tampak basah itu. Kulit mulus punggungnya yang terbuka itu aku belai lembut dengan jemari tanganku, dan aku memeluknya erat. Ternyata dugaanku benar, saat dadanya aku tekan erat-erat ke arah dadaku, terasa gumpalan daging yang kenyal tanpa terlindungi bra menempel erat di dadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat.

Bersambung ke Bagian 2



Eksanti, (Probably) The Last Session - 2

Lanjutan dari bagian 1

Kemudian mobil mulai aku jalankan dan tangan Eksanti diletakkannya di atas paha kiriku sambil kadang-kadang memijit pahaku.
“Mau makan di mana, Santi ?”, aku bertanya untuk meminta usulannya.
“Terserah Mas, deh" jawabnya pendek.
"Kalau makan steak, Santi suka nggak?" tanyaku lagi.
"Mau Mas, malah sebenarnya Santi sudah agak lama nggak pernah makan steak ", katanya.
“Ke Tonny Roma’s, setuju...?”, aku bertanya lagi untuk menegaskan keinginannya.
“Okay, Mas..”,Ia mengangguk, sambil tersenyum

Akhirnya kami menuju ke sebuah restoran di sekitar bundaran Ratu Plaza. Saat turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu, entah mengapa, kali ini malah Eksanti yang tanpa canggung selalu merangkul pinggangku. Eksanti duduk di sebelah kananku. Memang aku sudah mengatur posisi duduk kami sedemikan rupa, supaya tangan kananku bisa selalu berdekatan dengan paha kirinya yang terbuka sampai ke atas. Aku berencana untuk memulai ‘kenakalanku’, dari sejak saat makan malam ini.

Malam itu sikap Eksanti sungguh sangat berbeda dengan sikapnya sewaktu kami menonton film beberapa hari yang lalu. Kali ini Eksanti tampak begitu ceria dan manja. Saat makan, sengaja dalam posisi duduknya Eksanti merapatkan tubuhnya ke tubuhku serta tangannya selalu memegang pahaku. Sebelum memulai aksiku di atas kulit mulus pahanya, tanganku aku pergunakan untuk mengusap-usap kulit lembut punggungnya yang terbuka. Untung saat itu rumah makan masih sepi pengunjung, sehingga tanganku agak bebas ‘berkarya’.

Setelah puas meraba-raba punggungnya, sambil seolah-olah merangkul pinggangnya, dengan lincah aku susupkan tanganku ke dalam roknya. Tanganku merayap ke daerah pinggang, meremas-remas lembut di sana sebentar. Kemudian sedikit turun merayap ke depan, kini tanganku bisa merasakan karet atas celana dalam yang menjepit di atas perutnya. Kemudian tanganku aku tarik untuk bergerak ke atas, menyusup ke bawah ketiaknya dan akhirnya menuju ke samping depan. Aku rasakan ujung jari-jemariku dapat menyentuh bagian samping payudaranya yang benar-benar masih kenyal. Pekerjaaan tanganku berhenti saat waitress membawa makanan ke arah meja kami.

Pada saat makan, tanganku mulai lagi meraba pahanya kiri yang terbuka itu. Eksanti betul-betul penuh pengertian. Saat-saat tangan kananku sibuk meremas gemas pahanya, ia membantuku memotong-motong kecil daging di atas piringku dan menyuapkannya ke dalam mulutku. Tanganku benar-benar ia beri keleluasaan untuk bermain di sepanjang paha mulusnya, bahkan sampai ke bibir kewanitaannya pun sempat aku remas gemas dengan penuh kemesraan. Supaya tidak tampak terlalu mencurigakan, kadang-kadang tangan kananku aku pakai pula untuk menyendok makananku lagi, tetapi memang lebih sering aku gunakan untuk berkarya di sekujur paha dan pangkal kewanitaannya.

Eksanti masih terus menyuapiku dengan makanan, hingga suatu saat Eksanti mendesah dan tangannya memegang tanganku erat-erat seraya berkata, "Ssshhh... Masss.., jari tangan Mas benar-benar hebat, bisa membuat Eksanti basah".
Aku tidak percaya, maka aku meraba kembali kewanitaannya. Ternyata benar, celana dalam Eksanti terasa sangat lembab, apalagi di sekitar lubang kewanitaannya. Tiba-tiba aku mendapat ide gila yang mungkin agak jorok. Ujung jari telunjukku aku masukkan ke lubang surgawinya agar bisa mengait lendir yang menempel di bibir kewanitaannya. Ternyata usahaku berhasil. Aku melihat ada lendir kental mirip santan menempel di ujung telunjukku. Aku segara menjilat lendir itu dan aku telan bersama makanan yang disuapkan oleh Eksanti. Aku betul-betul merasa "hot" makan daging steak dicampur lendir kenikmatan Eksanti. Aku mendekatkan mulutku ke telinga Eksanti sambil berbisik, "Santi, Mas sayang kamu...".
Eksanti tampak tertegun sejenak melihat ulah nekatku. Namun ia tersenyum manis dan menjawab lembut sambil mencium pipiku, "Mas, sabar yaa... Sebentar lagi, malam ini Santi akan menjadi milik Mas sepenuhnya. Santi akan memberikan segalanya yang terbaik untuk Mas nanti. Percayalah".

********

Selesai acara makan malam, karena aku merasa sudah mendapat lampu hijau dari Eksanti, maka tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, aku langsung mengarahkan stir mobilku menuju motel favorit kami di daerah Selatan Jakarta. Motel itu berjarak tidak terlampau jauh dari tempat kami makan sebelumnya. Begitu sampai di gerbang kompleks motel itu, aku segera membelokkan mobilku dan langsung memasuki sebuah garasi yang memang sudah disiapkan oleh petugas di sana untuk mobilku. Sepertinya mereka sudah cukup hapal dengan plat mobilku, sehingga merekapun tahu letak kamar favorit kami berdua. Begitu pintu garasi tertutup, aku melirik Eksanti untuk melihat ekspresi wajahnya, ia sedikit tersenyum. Dengan tidak sabar, kami langsung keluar dari mobil menuju kamar. Eksanti dengan manjanya berjalan merangkul pinggangku, badannya digayutkan ke tubuhku sepenuhnya. Aku segera membereskan administrasi motel, memberi sedikit tips kepada petugas yang telah selesai menyiapkan air minum, sabun dan handuk untuk kami dan langsung mengunci pintu.

Ketika kami tinggal berdua di dalam kamar motel, Eksanti tiba-tiba bertanya, "Mas, 'pengin banget' ya..?"
"Kepingin apa..?", aku balik bertanya dengan nada bercanda.
"Nggak tahu ach..!", Eksanti tersipu malu.
Aku mencubit hidungnya, kami bercanda dengan penuh kemesraan. Walaupun gelora birahiku sebenarnya sudah sangat ingin aku ledakkan, tetapi aku masih bertahan untuk tidak segera mengumbar nafsuku. Kali ini aku ingin lebih berlama-lama bercanda, bercerita, bermesraan, menikmati saat-saat terakhirku dengan Eksanti. Aku benar-benar tidak ingin terlalu terburu-buru.

Tidak terasa 1 jam sudah kami berada di kamar motel hanya mengobrol, benar-benar hanya mengobrol, tanpa melakukan aktifitas fisik apa-apa. Entah mengapa, dari obrolan-obrolan yang kami lakukan, aku merasakan bahwa Eksanti yang saat ini berada di depan mataku adalah milik Yoga, milik orang lain. Aku ingin, kalaupun malam ini akan terjadi percintaan di antara kami berdua, aku ingin penegasan itu muncul dari mulut Eksanti, bahwa iapun sungguh-sungguh menginginkannya. Aku tidak mau dikasihani. Dan aku juga tidak mau memaksa, walaupun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya.

Sampai akhirnya.. tiba-tiba, "Mas, tidak ingin bermesraan dengan Santi malam ini..?" katanya sambil memelukku.
Aku melihat, kali ini mimik wajahnya serius.
"Aku ingin sekali, Santi, sungguh aku ingin sekali. Tetapi aku takut, kalai kamu masih bimbang untuk menerima keberadaanku bersamamu malam ini."
"Lakukanlah Mas, Santi rela, dan benar-benar mengharapkan belaian Mas."

Aku terharu mendengarnya, dan tanpa membuang waktu lagi, aku memeluk erat tubuhnya. Dua buah gunung kembarnya terasa mengganjal di dadaku, menghantarkan aliran gairah yang bergejolak. Kejantananku langsung mengeras dan membesar. Eksanti merangkul leherku erat-erat hingga permainan ciuman mulut, bibir dan lidah kami berlangsung dengan hangat dan penuh kemesraan. Saat aku menciumnya, aku mengecup dalam-dalam bibirnya dengan penuh perasaan, sehingga Eksanti bukan hanya merasakan kenikmatan saja tetapi juga merasakan kasih sayangku. Dengan penuh perasaan, aku menciumi seluruh wajahnya yang cantik. Eksanti membalasnya dengan penuh gairah. Bibir kami saling melumat dan menghisap. Tanganku mulai beraksi meremas buah dadanya, mengusapnya lembut. Eksanti pun balas meremas batang kejantananku.

Beberapa saat setelah berciuman dengan mesranya, tanganku mulai meraba lembut kulit punggungnya yang terbuka. Aku merasakan tubuh Eksanti yang hangat di belakang sana. Lalu tanganku beralih memegang tali gaun di kedua bagian pundaknya dan aku menariknya ke samping. Eksanti pun membantu dengan meluruskan tangannya ke atas sehingga gaun bagian atasnya langsung terlepas. Payudaranya yang masih kenyal dan hangat terlihat dengan jelas di depan mataku. Putingnya kelihatan mulai membesar dan menegang dengan warna merah padma membuat aku semakin terpesona. Sambil terus berciuman, satu persatu pakaian Eksanti terlepas dan terhempas ke lantai.

Kini Eksanti hanya menyisakan celana dalam yang membalut tubuhnya saja. Tubuh Eksanti aku angkat dan aku baringkan di atas ranjang dengan masih memakai celana dalam saja. Tapi hal itu tak berlangsung lama, aku segera melepaskan penutup terakhir tubuh Santi itu. Tampak kewanitaannya yang seperti bukit kecil itu tertutup oleh rambut yang cukup lebat. Aku kemudian melepas T-shirt dan celana panjangku, sambil memandangi tubuh indah Eksanti yang terbaring di atas ranjang dengan pose yang sangat menggiurkan. Eksanti pun tidak mau kalah melepas penutup terakhir tubuhku.

"Occh.., gemes sekali deh Mas, kalau Santi ngelihat yang ini..!", matanya berbinar-binar tajam menatap tajam ke arah kejantananku.
"Memangnya punya Mas Yogamu...?", aku belum sampai pada ujung kalimat pertanyaanku, dan langsung dipotong oleh Eksanti, "...paling separohnya..!, Achh, Mas jangan ngomongin dia lagi sekarang ach..!!"
Meskipun kekesalan Eksanti itu diucapkannya dengan nafas yang memburu dan wajah yang sedikit memerah menahan gairah, namun aku bisa merasakan bahwa kejantanan Yoga mungkin relatif lebih kecil dibandingkan milikku. Tetapi dalam kondisi seperti saat ini, untuk apa aku harus membanding-bandingkannya, masa bodoh saja.

Dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, kami terus saling memberikan rangsangan ke titik-titik gairah yang semakin membakar birahi kami. Aku merebahkan tubuh ramping Eksanti ke atas ranjang, aku memandangi tubuhnya yang indah. Payudaranya yang mencuat menantang, kulit putih mulusnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, rambut kewanitaannya nampak hitam berjejer rapi layaknya barisan semut sampai ke pusarnya, membuat nafsuku semakin memuncak.

Aku mendekati kepala Eksanti, kemudian mulai mencium wajah cantiknya. Sementara tanganku menjelajahi seluruh lembah dan bukit puncak payudaranya. Jari-jemariku merayap ke bawah membelai lembut sampai ke pusar dan perut rampingnya. Ciumanku beranjak turun, segera lidahku mulai menelusuri lehernya yang jenjangnya. Terus turun.. menuju ke bukit-bukit payudaranya yang sangat menantang, aku mencium dengan lembut bergantian yang kiri lalu yang kanan. Putingnya yang tampak telah menegang dan memerah warnanya itu, aku hisap, aku jilat, dan kadang aku gigit-gigit pelan dengan jepitan bibirku. Sementara tanganku semakin liar beraksi di sekitar celah kewanitaan dan pahanya. Sekali-kali rambut kewanitaannya aku usap-usap lembut perlahan, sambil jari tengahku menggelitik daging kecil di antara celahnya. Kacang kecil itu mulai nampak memerah, berdenyut cepat, mengembang mengempis seperti jantung manusia. Eksanti makin mendesah hebat, “Aaach...!!”.

Kepalaku semakin turun ke arah bawah tubuh indah Eksanti. Lidahku mulai menyapu-nyapu perutnya, pelan... makin ke bawah sampai pubis di daerah sekitar kewanitaannya. Kepalaku bergoyang ke kanan dan kiri, hingga bibirku ikut membasahi kulit mulus kedua pahanya. Tanganku terus mengusap-usap dan memijit betis serta telapak kakinya. Ciuman dan jilatan lidahku semakin beranjak turun menuju ke lututnya, kemudian turun lagi ke betis, tumit kaki, lalu berakhir di telapak kakinya. Jari-jemari kakinya pun aku hisap satu persatu, hingga semuanya basah oleh air liurku. Eksanti kegelian. Kepalaku beranjak naik. Bibirku mulai menghisap daerah selangkangan Eksanti dengan membuka lebar-lebar kedua pahanya. Lalu dengan sedikit kasar, daerah di antara anus dan kewanitaan itu, aku cium.., aku kecup.., aku jilat.. aku gigit.. semuanya. Eksanti mendesah-desah nikmat dan terasa mulai ada cairan lendir bening yang menetes keluar dari celah surgawinya.
"Masss..! Terus... mass..!", Eksanti mulai meracau, pertanda bahwa birahinya sudah makin memuncak.
Aku semakin bersemangat, seluruh lekuk tubuh Eksanti tidak ada yang lolos dari jilatan lidahku.

Kepalaku masih berada di bagian bawah, terjepit diantara kedua paha mulusnya. Jemari tanganku menyibakkan bulu kewanitaannya yang hitam. Lidahku mulai asyik menjilati kacang kecilnya dan kadang menerobos, mengoyak, mencabik celah kewanitaannya. Eksanti semakin mengerang nikmat, rambutku diremas-remas kuat saat klitorisnya aku hisap-hisap lembut dengan jepitan bibirku.
"Sudah Mass.., Santi nggak tahan..!"
Tetapi aku masih belum merasa puas menikmati keindahan gelinjang tubuh dan ekspresi nikmat di wajah Eksanti. Lidahku semakin asyik bermain di liang senggamanya, dan aku ingin lebih dari itu . Aku mulai memasukkan satu jariku ke dalam rongga kewanitaannya, sementara lidahku terus menjilati klitorisnya. Jari-jemariku berputar mencari titik g-spotnya. Tanganku yang lain asyik meremas payudaranya dan memilin-milin putingnya sampai mencuat mengeras. Seluruh tubuh Santi meliuk-liuk menahan kenikmatan yang aku berikan.

Hampir setengah jam aku tiada henti memainkan emosi jiwa dan birahi Eksanti. Hingga akhirnya tubuh Eksanti mengejang kaku dan berteriak panjang melepas orgasmenya yang pertama. Terlihat dari lubang kewanitaannya mengalir deras cairan cintanya. Mulutku langsung mencucup ke arah lubang itu dan aku sedot kuat-kuat..., hingga sruuuttt... lendir birahinya masuk ke dalam mulutku. Aku menggelitik terus selangkangannya supaya cairan cintanya keluar lebih banyak lagi. Ternyata benar, Eksanti masih mengeluarkan lebih banyak lagi cairan cintanya yang langsung masuk semuanya ke dalam mulutku. Rasanya asin-asin, asam dengan bau yang sangat khas. Birahiku menjadi lebih panas, berkobar-kobar lebih hebat setelah meminum lendir cintanya.

Bersambung ke Bagian 3



Eksanti, (Probably) The Last Session - 3

Lanjutan dari bagian 2

Eksanti diam sejenak, mungkin menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dialaminya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Eksanti tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuhku hingga terlentang di atas kasur. Langsung saja Eksanti aku ajak bermain dengan pose 69. Aku segera naik ke atas tubuhnya dan kejantananku aku posisikan di persis hadapan mulut Eksanti. Ia dengan sigap mulai mempermainkan batang keperkasaanku dengan lidah dan mulutnya. Aku sendiri kembali menyingkap bulu-bulu pubisnya yang rimbun itu. Aku menjilat-jilat liar klitorisnya, menggigit-gigit lembut dan kadang-kadang aku kembali menarik-nariknya dengan jepitan bibirku. Eksanti tampak terangsang sekali dengan permainan mulutku di daerah kewanitaannya itu. Apalagi pahanya sekarang aku buka lebar-lebar dan daerah selangkangan antara anus dan kewanitaannya aku gosok terus dengan jari-jemariku, kadang-kadang aku jilati lagi.

Begitu klitorisnya aku getar-getarkan dengan ujung lidahku yang bergerak begitu cepat, hanya semenit saja Eksanti sudah berontak dengan kaki dan pantatnya digerakkan kesana kemari.
Ia kemudian mengaduh keras, "Occhhh mass..., Santi nggak tahan... Santi keluarrr..., lemas masss... ouchhh...".
Saat itu terasa lendirnya meleleh deras dan kembali membasahi ujung hidungku. Segera mulutku kembali mencucup lubang kewanitaannya, aku menyedot semua lendir cinta yang keluar dari lubang surgawinya. Sungguh, akupun juga merasakan nikmat dari lelehan lendirnya itu. Kewanitaan Eksanti menjadi basah semua, campuran antara air liurku dengan lendir cintanya.

Setelah gelombang birahinya mereda, aku sekarang membelai rambutnya dan mengusap keringat yang banyak muncul membasahi keningnya seraya bertanya, "Eksanti, kamu sudah capai?".
"Belum Mas, Eksanti cuma lemas saja karena nggak kuat menahan kenikmatan yang luar biasa dari permainan lidah Mas tadi. Rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki Mas," sahutnya.
"Kalau begitu kita bercinta lagi yaa...?" pintaku.
Eksanti mengganggukan kepala sambil tersenyum, "..mas tadi curang, ntar Santi mau balas..!", ia menambahkan.

Lalu dengan lincahnya lidah Eksanti yang hangat mulai menelusuri tubuhku. Sekarang aku yang mendesah tak karuan, apalagi dengan ganasnya Eksanti menjilat-jilat puting dadaku. Dihisapnya pelan dan kadang digigit, sementara tangannya dengan lembut mengocok kejantananku yang kian membengkak dan mengeras.
"Santiii.., Mas sudah nggak tahan..!"
Tetapi sepertinya Eksanti tidak peduli, kini kejantananku sudah berada di dalam mulutnya yang mungil, sementara jari-jarinya tetap mengelus-ngelus dadaku dan menjentik-jentik puting dadaku, membuat seluruh aliran darahku bergejolak menahan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku dengan gemas meremas pinggul dan buah pantat Santi yang kenyal. Payudaranya juga terus aku elus dan putingnya aku pilin lembut.

Nafsu Eksanti kembali bangkit dan ia langsung menduduki kejantananku yang sudah basah oleh lumasan air liurnya. Jari-jemarinya membimbing kejantananku memasuki celah kewanitaannya. Berapa kali sudah kepala kejantananku meleset dan mengenai buah pantat Eksanti. Dalam posisi seperti ini memang agak sulit, karena bibir kewanitaan Eksanti agak mengering. Cairan cintanya telah habis terkuras tadi, apalagi lobang kewanitaan Eksanti memang masih tampak sangat rapat. Jari-jemariku saja tadi masih terasa terjepit keras oleh denyutan dinding-dinding kewanitaannya, apalagi kejantananku nanti...

"Mas di atas deh..!" akhirnya Eksanti menyerah.
Aku membuka paha Eksanti lebar-lebar, bulu kewanitaannya yang hitam aku sibakkan ke samping. Dengan perlahan-lahan kejantananku aku gosok-gosokkan di sekitar daging kecil merahnya. Eksanti dengan rasa tidak sabar langsung saja memegang batang kejantananku dan mengarahkan ujung kepalanya ke sasaran.
"Tekan Masss..!, yang kerass..."
Aku segera memajukan pinggulku sedikit, "Blessshh..!"
"Achhh..", Eksanti menjerit saat kepala kejantananku terbenam.
"Kenapa Santiii..? Sakit..?" aku kuatir Eksanti merasa kesakitan.
Eksanti hanya menggeleng dan semakin erat memelukku. Jepitan bibir kewanitaan Eksanti di batang kejantananku sungguh luar biasa nikmatnya. Benar-benar sesak, membuat kejantananku semakin membengkak dan mengeras.

Perlahan aku mulai memompa, setengah kejantananku terdorong masuk, lalu aku tarik kembali, masuk lagi, tarik lagi, begitu seterusnya. Sementara erangan dari mulut Eksanti semakin tidak jelas, dengus nafas kami berdua sudah seperti lokomotif tua menahan kenikmatan yang kian menyerang tubuh kami. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturan.
"Oh.., masss... nik... mat..! Santi mau keluar..!"
"Tahan Santii..! Mas juga mau keluar..."
Akhirnya saat kejantananku aku sentakkan kuat, hingga amblas sedalam-dalamnya, sekujur tubuh Eksanti bergetar hebat. Kedua tangannya menahan pantatku agar menusuk semakin dalam, kedua kakinya yang mulus menjepit kuat pundakku.

"Aacchhh... Masss..." Santi sudah orgasme lagi.
Kejantananku terasa hangat akibat semburan air cinta dari dalam kewanitaan Eksanti, sementara aku sendiri mencoba bertahan sekuat mungkin agar spermaku jangan sampai keluar terlebih dahulu. Terjanganku semakin melambat untuk memberikan keleluasaan bagi Eksanti menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku diamkan sejenak kejantananku di dalam kewanitaan Eksanti, menikmati denyutan-denyutan lembut di seluruh batang kejantananku.

"Mas.., Santi puas sekali, multi orgasme Santi datang betubi-tubi," Santi mengerang lirih.
"Memangnya, sebelumnya Santi nggak pernah ngalamin yang seperti ini..?", aku sedikit heran mendengar ungkapannya.
"Entahlah.., sepertinya yang ini lain. Mas, belum keluar ya..?", Eksanti balik bertanya kepadaku.
"He.. eh..," aku mengangguk.
"Kenapa..? Nggak enak, ya..?", Eksanti merasa bersalah.
"Enggak, bukan itu. Malam ini aku hanya ingin memberikan kepuasan yang maksimal untuk Santi..!", aku berkata sambil mengecup lembut keningnya.
"Jangan begitu dong.., Mas kan belum..? Ayo dong..! Keluarin..!" Eksanti merengek manja.
"Kamu masih kuat..?" tanyaku.
"He-em..," Eksanti mengangguk mantap.

Kejantananku yang masih menegang di dalam kewanitaan Eksanti mulai aku naik-turunkan kembali, Aku mendorong batang kejantananku pelan-pelan ke lubang kewanitaannya. Kemudian aku tarik keluar lagi pelan-pelan. Setelah masuk... keluar... masuk... keluar... dengan lancar berulang-ulang, lalu kejantananku langsung aku benamkan seluruhnya ke dalam kewanitaannya. Eksanti menghela napas panjang menahan sakit dan nikmatnya akibat masuknya terlalu cepat ke dalam. Karena itu aku gerakkan pantatku memutar searah jarum jam. Pelan tapi pasti, Eksanti mulai terbawa nafsu kembali. Luar biasa, padahal Eksanti sudah 3-4 kali menikmati orgasmenya, tapi ternyata dia masih menginginkannya lagi. Aku semakin bersemangat. Eksanti menjerit-jerit nikmat karena klitorisnya tergesek oleh bulu-bulu pubisku dan dinding dalam kewanitaannya tergesek-gesek oleh otot-otot kekar batang kejantananku yang mengeras. Dan akhirnya Eksanti pun kembali mampu dengan lincah menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi tusukan-tusukan kejantananku.

Ia berbisik lirih, "Ouucchh... Masss..., nikmattt..., rasanya luar biasa. Aku mau sampaiii... lagi mass...". Mendengar bisikannya itu, aku langsung mencium payudaranya yang sebelah kiri, karena Eksanti sering mengatakan payudara kirinya lebih sensitive daripada yang kanan. Putingnya langsung aku getarkan lagi dengan ujung lidahku. Tidak beberapa lama kemudian, hanya beberapa detik, terasa kewanitaannya mencengkeram kejantananku dan berdenyut-denyut cepat. Kembali ada lendir hangat yang menyiram kejantananku. Eksanti sudah mencapai klimaksnya yang kesekian kali, ia tampak terkulai lemas.

"Capek, Santi...?" tanyaku.
"Iya.., Mas," sahutnya lirih manja.
"Tolong Mas, please..., Eksanti mau merasakan air maninya Mas di kewanitaanku," pintanya.
"Sekarang ?" tanyaku.
"Iya.., mas", ia menjawab mantap.
"Tahan sebentar lagi yaa.., nanti aku semprotkan", aku semakin bersemangat

Lima belas menit kembali berlalu, peluh sudah membasahi seluruh tubuh kami, berbagai gaya sudah aku jalani, dan Eksanti sungguh pandai mengimbanginya. Apa lagi waktu doggy style, goyangan pantatnya sungguh nikmat sekali. Aku hampir tidak tahan. Aku segera membalikkan Eksanti ke posisi konvensional, saling berhadapan, sambil terus menusuk. Aku menghisap ganas kedua bukit payudara Eksanti yang sexy. Putingnya yang tegang mencuat, aku hisap kuat-kuat. Eksanti mengerang hebat, dan dia membalas dengan mengusap-usap pula puting dadaku. Ternyata disinilah kelemahanku. Rasa nikmat yang aku terima dari dua arah, dada dan kejantananku, membuat seluruh sumsumku bergetar hebat.

"Sannti.., Mas mau keluar.. Santiiiii..!"
"Bareng, Mas..! Ayoo lebih cepat..!"
Dengan menguras seluruh kemampuanku, aku terus mempercepat tusukanku. Kapala kejantananku rasanya sudah menggembung menahan sperma yang akan muncrat. Gerakan pantatku sudah tidak beraturan lagi, hingga akhirnya, saat tusukanku semakin keras, dan puting dadaku dipilin keduanya oleh jemari lentik Eksanti, aku merasa akan segera melepaskan puncak ejakulasiku. Aku mengkonsentrasikan segenap pikiranku pada segala keindahan tubuh Eksanti yang ada di depan mataku. Ekspresi wajahnya sangat sensual, bibirnya yang merah basah tampak semakin merangsang. Aku genjot terus menggerakan kejantananku naik turun dan semakin lama semakin cepat. Sampai suatu saat Eksanti menggeliat, menggelinjang tak keruan sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya. Dan akhirnya... plass... plass... plass.. (8x). Air maniku tumpah ruah, sambil aku tekankan kejantananku dalam-dalam di kewanitaannya. Eksanti merasakan semburan kehangatan yang sangat ia inginkan di dalam rongga rahimnya.
"Achhh..! Aku keluar Santiii..!"
"Ssshhh... aaccchhh, Eksanti merasakan kehangatan yang luar biasa dari air manimu, mas"
Dan Eksanti pun orgasme lagi untuk yang ke sekian kalinya. Kejantananku kembali merasakan bibir kewanitaannya berdenyut-denyut. Kuku-kuku jemari tangannya menancap keras di pundakku dan tubuhnya mengejang kaku.
"Achhh..!" Eksanti menjerit keras seiring dengan gerakan pinggulku yang terakhir.
Yah.., kami orgasme bersamaan.

*********

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Eksanti merebahkan kepalanya di dadaku. Aku hanya mampu membelai-belai lembut rambutnya. Aku mencium mesra keningnya, dan kami berdua tekulai lemas berpelukan. Setelah beberapa saat, tidak terasa kami tertidur lelap bertindihan sambil berpelukan. Tiba-tiba Eksanti terbangun. Jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Eksanti cepat-cepat beranjak dari pembaringan, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari segenap cairan cinta kami yang membasahi kewanitaannya. Setelah selesai, ia mengambil handuk yang dibasahi dengan air hangat lalu membersihkan kejantananku. Aku masih tetap terlelap di atas tempat tidurku. Begitu aku merasakan kehangatan di bawah sana, akupun terbangun. Eksanti menatapku dengan tersenyum manis. Setelah kejantananku bersih, sesaat ia mengecup ujung kepalanya lalu Eksanti bergegas memakai gaunnya kembali. Celana dalamnya tidak ia kenakan, hanya dilipat dan dimasukkan ke dalam tas kecilnya. Celana dalam itu masih basah terkena lendir saat aku permainkan kewanitaannya di restoran tadi malam. Demikian pula denganku, aku segera mengenakan pakaian dan bersiap untuk keluar dari motel ini

********

“Santi, kapan kamu benar-benar effektif off dari kantor kita?”, aku bertanya kepada Eksanti dalam perjalanan kami pulang.
“Mungkin minggu depan, saat akhir bulan. Surat persetujuan pengunduran diri dari personalia sudah Santi terima. Perusahaan yang baru juga sudah menyiapkan segala kebutuhanku di tempat baru”, ia menjawab pertanyaanku dengan mata menerawang.
"Terus... Santi, jadi menikah dengan Yoga ?", aku kembali bertanya mengagetkannya.
Ada sedikit nada cemburu dalam pertanyaanku itu.
"Entahlah, mungkin masih 2-3 bulan baru sempat mikir persiapannya”, tatapan mata Eksanti semakin menerawang.
"Kenapa?" tanyaku dengan berhati-hati.
“Santi menunggu persetujuan penempatan Yoga di Jakarta dulu", sahutnya tegas.

Tiba-tiba Eksanti merebahkan kepalanya ke bahuku sambil berkata, "Eksanti sengaja nggak akan kawin cepat-cepat dulu kok Mas, nunggu kalau mungkin ada suatu mukjizat".
"Maksud Santi?" tanyaku keheranan .
"Siapa tahu suatu saat aku mendapat kabar gembira dari Mas. Dan akhirnya kita, aku dan Mas malah bisa menikah, bukan aku dengan Yoga... Malam ini aku benar-benar merasakan kenikmatan yang sangat dari Mas. Lebih dari itu, Eksanti merasakan Mas menyayangi Santi dengan penuh kasih... Kemesraan yang Mas ungkapkan kepada Santi, seperti layaknya kemesraan sepasang suami istri yang dipenuhi rasa cinta, Bukan hanya sekedar nafsu semata...”, ia menjelaskan dengan sesekali menghela nafas panjang.
“Benar...?”, aku menukas ucapannya dengan tersenyum.
“Semoga benar begitu, yaa... Mas. Echh.., kapan-kapan kalau Eksanti kepingin, masih boleh ‘kan merasakan kasih sayang Mas lagi...?", ia memohon sambil mencium mesra pipiku.
"Kapan saja Eksanti merasa kangen, Mas selalu akan bersedia nemenin. Tetapi Eksanti harus benar-benar mengatur waktunya, jangan sampai hubunganmu dengan Yoga terganggu yaa...!" pesanku. Ia mengangguk, sambil sekali lagi menghela nafas panjang. Aku merasakan, ada suatu kebimbangan yang melanda fikirannya dengan hebat.

Saat mobilku sampai d depan pagar rumah kostnya, Eksanti tidak segera turun. Ia malah merangkul leherku dan menarik keras kepalaku. Ia mencium seluruh wajahku dengan penuh perasaan. Terlihat matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku menjadi trenyuh dibuatnya. Aku membelai rambutnya dan aku mengusap matanya yang mulai berair, sambil berbisik lirih,"Eksanti jangan sedih. ‘Kan kalau kamu mau, setiap saat kita masih bisa bertemu. Santi malam ini sudah capek ‘kan, nanti langsung istirahat yaa.., jangan melamun macam-macam yaa.. sayang?", aku berpesan sambil membelai lembut rambutnya. Eksanti pun kemudian turun dari mobilku dengan tersenyum kecil. Rasa gundahnya sedikir mencair, setelah ia mendengarkan kata-kataku yang terakhir.

*****

Seminggu sejak kejadian malam itu, Eksanti akhirnya benar-benar mengundurkan diri dari kantorku. Ia pindah ke perusahaan lain, walaupun masih tetap berada di Jakarta. Ia masih menjadi kekasih Yoga, dan bahkan akan segera merencanakan pernikahannya. Walaupun demikian, aku juga masih menjadi kekasih gelapnya. Ia sering mengaku, tidak pernah mencapai kepuasan dan kebahagiaan dari Yoga seperti yang ia peroleh dariku. Tetapi bagaimanapun, menurutku Eksanti memerlukan status yang jelas dan masa depan yang lebih pasti. Sejujurnya, aku tidak mau mengganggunya lagi. Tetapi, sanggupkah aku menahan rasa itu..?


F I N



Eksanti, The Riot - 1

Seingatku kejadian ini terjadi di pertengahan bulan Maret 1998, saat ramai-ramainya demonstrasi melanda Jakarta. Ketika itu sudah lebih dari tiga bulan Eksanti pindah ke kantornya yang baru, yang berlokasi di daerah Jakarta Pusat, sedangkan kantorku masih menempati sebuah ruko kecil di bagian utara Jakarta. Dalam tiga bulan pertama perpisahan kami, sejak terakhir kali aku sempat pergi bersamanya (baca Eksanti: (Probably) The Last Session), aku memang jarang berkomunikasi dengan Eksanti. Namun sekitar pukul 16.00 tadi, aku mendengar bahwa Eksanti sempat mampir sebentar ke kantorku, untuk mengambil beberapa file penting miliknya yang masih tertinggal di kantorku ini.

Sayangnya saat itu aku sedang kedatangan tamu, seorang klien yang sangat penting bagi perusahaanku, sehingga aku sama sekali tidak sempat meninggalkan tamuku untuk menemui Eksanti barang sejenak. Aku sedikit merasa kesal dan kecewa ketika tamuku pulang, karena ternyata Eksanti juga baru saja meninggalkan gedung kantorku. Receptionist di lantai bawah mengatakan bahwa sebenarnya tadi Eksanti telah menunggu aku cukup lama. Tetapi karena ia merasa khawatir dengan informasi di radio yang memberitakan bahwa situasi demonstransi semakin memanas, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pulang. Maklum saja, suasana Jakarta waktu itu memang agak mencekam, apalagi bagi seorang wanita seperti Eksanti.

Sore itu di sekitar kompleks ruko kantorku pun sudah dipenuhi oleh para demonstran, baik yang memakai jaket mahasiswa maupun orang yang tidak memakai atribut apapun. Karena sudah jam 18.00 dan ingin segera sampai di rumah, aku nekat keluar dari kantor walaupun banyak teman-temanku yang menasehati dan bahkan melarang agar aku jangan meninggalkan gedung dengan menggunakan kendaraan, dalam situasi yang sedang sangat semrawut seperti ini. Namun peringatan mereka ini aku tidak aku indahkan.

Belum jauh aku meninggalkan kantor melewati jalur lambat yang penuh dipadati oleh para demonstran, kaca jendela kiri mobilku terasa dipukul oleh tangan dengan agak keras. Tadinya aku membiarkan saja, karena aku berfikir pasti itu adalah ulah tangan-tangan jahil para penjarah yang mengaku sebagai demonstran. Tetapi setelah aku melihat sekilas, ternyata yang memukul jendela tadi adalah seorang wanita,..Eksanti. Ia kelihatan berwajah lusuh dan sangat ketakutan. Segera aku membuka kunci pintu depan mobilku dari dalam. Dengan sigap Eksanti meloncat masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya kembali. Tubuh Eksanti terlihat gemetaran dan ekspressi wajahnya dipenuhi oleh rasa ketakutan.

"Maaas..., cepat deh..., cari jalan yang sepi dan cepat keluar dari daerah sini..., bisa-bisa Santi mati ketakutan..., Tadi waktu Santi nunggu taksi di pertigaan itu, Santi melihat tentara dan orang-orang sudah saling bentrok dan pukul-pukulan, malah ada yang lempar-lemparan batu”, ia bercerita penuh rasa khawatir.
Aku melirik sebentar ke arahnya, dan baru aku perhatikan bahwa seluruh pakaian Eksanti ternyata basah kuyup.
Aku bertanya, "Santi..., kenapa bajunya sampai basah kuyup begitu..?".
Eksanti menjelaskan dengan bibir gemetaran, "Waktu di pertigaan tadi, Santi kena semprotan air yang disiramkan oleh mobil tentara untuk mengusir para demonstran".
Lalu ia melanjutkan lagi cerita tentang kejadian yang baru saja dilihatnya dengan lebih rinci.

Jujur saja, aku sebenarnya juga merasa khawatir dengan suasana mencekam saat itu, apalagi mobilku kembali dipukul-pukul oleh tangan-tangan jahil para demonstran. Aku menjadi bertambah ngeri mendengar cerita Eksanti ini. Akhirnya, terpaksa aku hanya sekilas saja mendengarkan penjelasannya dan sudah tidak perduli lagi dengan suasana panas di sekeliling kendaraanku. Aku hanya berusaha menjalankan mobil secara pelan di tengah kerumunan orang ramai untuk mencari putaran terdekat ke arah pintu tol. Aku berfikir bahwa jalan layang tol di atas sana pasti lebih aman. Ketika mobilku telah berhasil berputar ke arah pintu tol, ternyata aku melihat jalan layang tol itupun tidak kalah ramainya dengan jalanan di bawahnya yang baru saja aku lalui. Jalan tol itu dijadikan tempat lari dan berlindung oleh orang-orang yang sedang di kejar-kejar tentara dan polisi.

Untungnya tidak jauh dari pintu tol itu aku melihat ada sebuah kompleks ruko yang pintu pagarnya masih terbuka dan dipenuhi dengan mobil-mobil yang diparkir lebih dulu untuk berlindung di situ. Aku membatalkan niatku untuk mengambil antrean masuk ke jalan tol dan mobilku berjalan merayap lambat ke sisi kiri. Lalu segera saja aku Masukkan dan aku memarkir mobilku dengan susah payah di halaman kompleks ruko itu Aku melihat arlojiku, jam telah menunjukkan pukul 19.00 malam. Gila.. perlu waktu 1 jam, hanya untuk menempuh jarak kira-kira sejauh 2 km dari kantorku.

Aku melihat Eksanti duduk diam gelisah, ia kelihatan masih ketakutan. Badannya sedikit menggigil, mungkin kedinginan karena bajunya yang basah itu. Setelah aku berhasil mencari tempat parkir yang cukup aman untuk mobilku, tiba-tiba saja Eksanti menangis dan memelukku.
"Bagaimana kita..., Maaas, kita bisa pulang apa tidak?, Santi..., takuuut.. Maas..".
Aku sebenarnya masih merasa ngeri setelah menjalankan kendaraan di tengah kerumunan para demonstran yang terlihat sedang beringas itu. Tetapi aku harus mencoba untuk menenangkannya dengan mengelus-elus pundaknya sambil berkata, "Tenaaang..., tenaang.., saja Santi, mudah-mudahan di sini kita aman dan nggak akan ada apa-apa".
Setelah beberapa saat dan mungkin Eksanti sudah sadar, tiba-tiba ia melepas pelukannya, "Aaacch..., maaf..., yaaa.., maaas, habis Santi takut sekali", katanya lirih.
"Nggak apa-apa kok..., San..!", jawabku sambil aku elus-eluskan punggung tangan kiriku di pipinya.

Sudah satu jam lebih kami di berada di dalam mobil yang diparkir di kompleks ruko ini. Bisa dibayangkan bagaimana kesalnya kalau sedang menunggu tapi tidak tahu apa yang sedang ditunggu. Apalagi situasinya bukan semakin sepi tetapi semakin ramai dan semrawut, petugas keamanan dan orang-orang saling kejar-kejaran dan lempar-lemparan, sehingga membuat Eksanti semakin bertambah ketakutan.

"Maaas..., gimana..., dooong..., apa kita mau di sini teruuus..?, Santi sudah kedinginan, bisa-bisa masuk angin nanti", kata Eksanti sambil mendekapkan kedua tangannya di dadanya.
Karena keadaan seperti ini, membuatku jadi kehilangan akal dan aku menjawab pertanyaan Eksanti sekenanya, "Yaaa..., habis mau gimana lagi..., San?, Mau meneruskan perjalanan..., juga nggak mungkin", lanjutku.
"Oooh..., iyaaa..., San, aku baru ingat..., kira-kira 500 meter dari kompleks ini kan ada Hotel, gimana kalau kita ke sana?, Yang penting Santi bisa telepon ke rumah, mengeringkan baju dan kita bisa istirahat sebentar, sambil menunggu sampai suasana menjadi agak sepi. Lalu nanti baru Mas antar pulang ke rumah kostmu", kataku.

Santi tidak segera menjawab dan ia kelihatan sedikit ragu.
"Ayooo..., deh Mas, kita ke sana. Kayaknya kita nggak punya pilihan lain ‘kan..?", katanya tiba-tiba, "Benar juga kata Mas tadi, Santi ingin memberitahu teman-teman di kost, kalau Santi masih selamat dan nggak apa-apa".

*******

Setelah aku mengunci pintu mobilku, lalu kami berjalan keluar kompleks ruko itu dan masuk di sela orang-orang yang hiruk-pikuk di jalanan. Dengan bersusah-payah karena harus berdesak-desakan, akhirnya kami bisa sampai ke depan pintu Hotel tanpa hambatan yang berarti. Tetapi ketika aku mengajak masuk ke dalam lobby Hotel, tiba-tiba Eksanti berhenti dan melihat ke arahku.
Aku mengerti dengan keragu-raguannya dan segera aku katakan, "Santi..., jangan takut, kita bisa pesan 2 kamar. Ayooo.. laah", kataku lebih lanjut sambil menggandeng tangannya masuk ke dalam lobby Hotel.
Ketika aku memesan 2 kamar kepada receptionist Hotel, “...ternyata yang tersisa hanya 1 kamar Junior Suite pak, sedangkan kamar lainnya sudah dipenuhi oleh orang-orang yang baru masuk seperti Bapak”, kata receptionistnya.

Aku melihat ke arah Eksanti untuk meminta pendapatnya, tetapi belum sempat pertanyaanku keluar, Eksanti segera menyahut, "Ok deh Mbak..., kami ambil saja", katanya kepada receptionist hotel.
Ia segera merogoh tasnya, mungkin mau mengambil uang atau credit cardnya, tapi tangan Santi segera aku pegang dan aku katakan, "Biar Mas saja".
Setelah administrasinya aku selesaikan, kami diberi kunci dan ditunjukkan arah kamarnya. Karena suasana di dalam hotel juga terlihat agak kacau, sehingga tidak ada bell boy yang bisa mengantarkan kami ke arah kamar, seperti biasanya standar operasi sebuah hotel berbintang seperti ini. Kami pun maklum, sehingga kami memutuskan untuk langsung menuju kamar yang ditunjukkan itu, tanpa harus ada yang mengantarkannya. Setelah kunci pintu kamar aku buka, Eksanti yang aku persilahkan masuk ke kamar terlebih dahulu.
Ternyata ia tidak segera masuk dan aku mengetahui keragu-raguan yang muncul di wajahnya. Sambil memegang pundaknya, lalu aku mengatakan, "Santi, jangan takut..., Mas janji nggak akan mengganggumu".
Dan mendengar kata-kataku ini, Eksanti langsung memelukku serta mencium pipiku sambil berkata, "Terima kasih Mas, Santi nggak takut..., kok".

Setelah masuk ke dalam kamar yang cukup luas dengan tempat tidur yang mewah itu, segera Eksanti menuju ke tempat telepon dan memencet angka-angkanya.
"Mbak, ini Santi..., Santi sedang di tempat kost-kostan temanku di dekat kantor", katanya sambil melihat ke arahku dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya dan terus menceritakan aksi-aksi demonstran tadi.
"Mungkin aku akan nginap di sini sampai semuanya aman dan mudah-mudahan besok pagi aku bisa pulang”, lanjut Santi di telepon.

Setelah Santi selesai dengan telephonenya lalu dia mengacungkan gagang phone padaku, "Mas, apa Mas nggak telephone ke rumah dulu supaya yang di rumah nggak was-was?", kata Santi.
Benar juga kata Santi dalam fikiranku, lalu aku mengambil gagang telepon dari tangan Santi dan aku putar nomor rumahku.
"Ini aku..., aku nggak bisa pulang malam ini dan sekarang aku ada di rumah salah satu teman kantor yang rumahnya nggak jauh dari kantor. Mudah-mudahan demonya selesai malam ini dan besok pagi aku bisa pulang.", kataku sambil meletakkan gagang telepon di tempatnya.

Kami saling bertatapan dan hampir secara serentak kami berseru dan saling menunjuk, "Naaah..., belajar bohong yaaa?", sambil terus tertawa bersama.
"Mas, Santi mau mandi duluan yaa..?", kata Eksanti sambil berjalan ke arah kamar mandi, tetapi kemudian berhenti dan berbalik menengok ke arahku.
"Mas, kalau Santi mandi nanti..., tolong panggilkan room boy-nya dong. Minta tolong mereka mencuci baju kita super kilat, supaya bisa kita pakai lagi dengan segera".
"Iyaaa..., tuan putri..., perintah dilaksanakan...", kataku bergurau.
Eksanti segera masuk ke kamar mandi, tetapi selang beberapa saat dia keluar lagi dengan hanya mengenakan lilitan handuk di badannya. Ia meletakkan bajunya yang telah digulung-gulung di atas lantai, kemudian mengacungkan sebuah handuk lain kepadaku.
"Niiih Mas, ganti deh bajunya dengan handuk ini..., supaya room boy-nya bisa mencuci baju-baju kita”.


Bersambung ke bagian 2



Eksanti, The Riot - 2

Lanjutan dari bagian 1


Setelah selesai berkata dan tanpa menunggu jawabanku, Eksanti segera masuk lagi ke kamar mandi serta menguncinya dari dalam. Aku menjadi sangat terperangah melihat ke-sexy-an Eksanti tadi yang hanya mengenakan lilitan handuk. Sejenak aku sempat melihat belahan dadanya sedikit tersembul di balik handuk yang menutup dadanya, bahkan kulit pahanya yang putih serta mulus itu, tidak sempat tertutup dengan rapat. Tidak terasa, kejadian yang hanya sesaat itu ternyata sudah mampu membuat birahiku naik ke permukaan, sehingga kejantananku menjadi berdiri tegang. Setelah aku membuka baju dan celanaku, aku segera membungkus badanku dengan handuk yang diberikan Santi.

Aku mencari formulir laundry di dalam map hotel di sebelah meja TV, dan segera mengisinya. Tetapi karena aku tidak mengetahui jenis apa saja pakaian Eksanti yang akan dicuci, terpaksa aku membuka pakaian Eksanti yang digulungnya tadi, satu per satu. Ternyata selain blouse dan roknya, di dalam gulungan itu terdapat bra warna cream dengan renda-renda indah di sekitar cup-nya yang kira-kira mempunyai ukuran 32. Selain itu ada lagi celana dalam dari bahan satin yang sangat tipis berwarna cream, yang juga memilik renda-renda tak kalah indahnya. Melihat bra dan celana dalam ini, perasaanku menjadi semakin terangsang. Sebelum aku memasukkan ke dalam laundry bag, aku sempat mencium celana dalam dan branya beberapa saat. Tercium aroma keringat dan kewanitaannya dengan wangi khas yang sangat aku kenal. Puas melakukan itu, aku baru memanggil room boy untuk mengambil pakaian-pakaian kotor, dengan pesan singkat agar diantar kembali secepat mungkin, paling lambat besok pagi.

Aku mendengar kunci kamar mandi dibuka dan Eksanti muncul dengan rambut yang masih basah. Wajahnya terlihat segar, roman mukanya bertambah cantik dan semakin sensual. Apalagi badannya masih terlilit dengan handuknya, sehingga kembali membuat mataku sedikit terbelalak, karena menyaksikan belahan payudaranya serta kulit pahanya yang putih mulus itu.
"Mas, ngelihatnya kok begitu amat sih?, iiihh..., menakutkan sekali?, kata Eksanti sambil berjalan menuju kaca. "Mas, sekarang gantian deh, supaya badan Mas kembali segar, Mas mandi. ‘Ntar Santi pesankan makan, Mas mau makan apa.. ?", lanjutnya lagi.
"Makan apa yaa..?, sahutku seakan bertanya, "Makan Santi..., aja deh", lanjutku santai sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Haaah..., makan apa Mas..?", sahut Santi sambil membelalakkan matanya dan mencubit tanganku ketika aku melewatinya.
"Aacch..., maaf Santi, Mas salah ngomong, maksudku, makan seperti yang Santi pesan saja", jawabku sambil tersenyum dan lalu masuk ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi, aku melihat makanan sudah siap di atas meja sofa yang ada di sudut kamar. Karena sudah merasa sangat lapar, kami langsung makan dengan hanya mengenakan lilitan handuk di badan. Sesekali aku melirik paha Eksanti yang selama makan di tumpangkan ke paha satunya. Aku berharap, siapa tahu Eksanti merubah posisi duduknya sehingga aku bisa melihat bagian dalam pahanya yang aku yakin tidak memakai celana dalam karena semua pakaiannya sedang dicuci. Tetapi harapanku tidak pernah terwujud sampai acara makan kami selesai.

Setelah selesai makan, kami meneruskan dengan mengobrol masalah demonstrasi tadi, masalah kesibukan pekerjaan, dan masalah-masalah lain sambil melihat acara TV. Sampai akhirnya aku melihat Eksanti menguap dan aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.45 malam.
Segera saja aku mengatakan, "Santi..., sudah malam nih, kita tidur saja..., biar kita bisa bangun pagi-pagi dan terus pulang", kataku sambil mengambil satu bantal diantara tiga bantal yang ada di tempat tidur.
Tidak lupa aku juga menarik bed cover dan meletakkannya di atas Sofa.
Melihat tindakanku itu, segera saja Eksanti berkata, "Mas..., lho..., kok Mas tidur di situ?.
"Nggak apa apa deh..., Santi..., tadi ‘kan Mas sudah janji nggak akan nggangguin kamu. Lagi pula biar Santi bisa tidur lebih nyenyak", sahutku dengan tersenyum sambil merebahkan tubuhku di atas sofa dan menarik bed cover untuk menyelimuti badanku.
"Mas, tidur di sini saja, ‘kan tempat tidurnya cukup lebar", kata Eksanti sambil tiduran dan masuk ke dalam selimut serta meletakkan salah satu bantal di tengah-tengah tempat tidur.
"Sudahlah Santi..., nggak apa-apa kok..., tidurlah", kataku sambil terus memejamkan mata.
Tetapi Eksanti masih tetap saja memaksa agar aku tidur di atas tempat tidur, "Mas, ayooo..., dooong..., tidur di sini..., Santi ‘kan jadi nggak enak", kata Eksanti lagi.

Karena terus dipaksa, akhirnya aku beranjak menuju ke tempat tidur. Aku memasukkan badanku ke dalam selimut sambil melepaskan lilitan handuk yang ada di tubuhku.
Aku mendengar suara Eksanti agak mengguman, "Tapi..., janji jangan nakal yaa..., Mas", sambil memiringkan badannya sehingga tidurnya membelakangiku.

Aku tidur dengan posisi telentang. Aku menumpangkan tangan kananku di atas bantal yang tadi diletakkan Eksanti di tengah kasur sebagai pemisah tubuh kami. Aku berusaha keras memejamkan mataku agar cepat bisa tertidur. Beberapa lama kemudian, ketika aku sudah hampir terlelap, tiba-tiba aku merasakan telapak tangan kananku ditimpa oleh tangan halus Eksanti. Tidurku menjadi agak terjaga dan aku terpaksa membuka mata sedikit. Aku melihat Eksanti telah tidur telentang juga. Karena sudah mengantuk sekali, aku membiarkan saja telapak tangan kirinya bertumpu di atas telapak tangan kananku, karena aku fikir Eksantipun sudah tertidur lelap. Tetapi beberapa saat kemudian, aku merasakan jari-jemari tangan Eksanti seperti mengelus telapak tanganku.

Mula-mula aku membiarkan saja dan aku tidak mengacuhkannya, karena aku beranggapan kalau orang tidur, kadang-kadang tangannya memang suka bergerak-gerak. Tetapi setelah aku rasakan beberapa saat, ternyata jari-jemari tangan Santi sekarang mulai memijat jari tanganku walaupun tidak terlalu keras. Ketika merasakan pijatan-pijatan halus di tanganku itu, rasa kantukku mendadak menjadi hilang, tetapi aku masih tetap berpura-pura seolah-olah masih lelap tertidur. Aku membiarkan jari-jemari lentik Eksanti meremasi jari tanganku. Makin lama remasan jemari Eksanti semakin agak keras, sehingga aku menjadi semakin yakin kalau sebenarnya Eksanti juga masih belum tertidur.

Sambil tetap memejamkan mataku, aku menarik nafas sedikit agak panjang. Aku menggerakkan dan memiringkan posisi tidurku menghadap ke arah Eksanti. Tangan kiriku aku jatuhkan di atas bantal pemisah, tetapi telapak tangannya sengaja aku jatuhkan perlahan tepat di atas payudara Eksanti yang masih tertutup selimut rapat. Aku mengatur nafasku seolah aku sudah tertidur nyenyak, tetapi aku tidak bisa mengontrol kejantananku yang mulai berdiri. Eksanti kelihatannya mendiamkan saja posisi tanganku ini dan sama sekali tidak berusaha untuk menggeser telapak tanganku yang berada tepat di atas payudaranya. Eksanti tetap saja melanjutkan remasan-remasan lembut jemarinya ke jari-jari tangan kananku, karena mungkin masih menyangka kalau aku sudah tertidur nyenyak. Sesekali aku tekankan telapak tangan kiriku pelan-pelan ke payudaranya, tetapi masih saja Eksanti tidak bereaksi sehingga membuatku bertambah berani. Tekanan jari tanganku aku ubah menjadi remasan-remasan yang halus pada payudaranya.

"Mas..?”, tiba-tiba terdengar suara lemah Eksanti seraya memelukku, setelah ia membuang bantal pemisah ke atas lantai.
Momen indah ini tidak aku sia-siakan. Langsung saja aku memeluk erat tubuh Eksanti. Tanpa canggung lagi bibirku mulai mencium lembut bibirnya, dan ternyata Eksanti pun membalas. Eksanti begitu menggebu-gebu melumat bibirku disertai dengan juluran lidahnya ke dalam mulutku. Nafasnya mulai terdengar cepat, serta mulai tidak beraturan. Seperti pengalamanku sebelumnya, Eksanti begitu mudah terangsang oleh ciumanku, sehingga aku langsung meneruskan dengan menjilati leher jenjangnya disertai dengan melakukan gigitan-gigitan kecil disana. Tanganku mulai bergerilya dengan menelusupkan jemariku di balik selimutnya. Oocchh.. aku sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan keindahan di baliknya, sehingga aku mempergunakan kesempatan yang ada untuk melepas selimut dan handuk yang menutupi tubuh kami berdua. Dengan kasar aku menarik kain selimut bagian atas tubuhnya itu ke samping. Maka tampaklah dua buah bukit indah dengan puting yang merah kecoklatan. Begitu bersih dan putih tubuhnya. Aku terpana sesaat dan kembali lidahku menjilati lehernya, lalu pelan-pelan turun ke arah dadanya. Eksanti mendengus perlahan sambil mengacak-acak rambutku. Ketika aku melingkar-lingkarkan lidahku di seputar puting payudaranya, Eksanti makin keras melenguh.
Lenguhannya semakin membuat emosi jiwaku memuncak, "Hisaap... Mas... hisapp... terusss... aacchh...", ia mulai meracau merasakan nikmat.
Aku menyedot, menghisap putingnya, lalu seiring dengan makin memuncaknya birahi yang ia rasakan, aku menggigit putingnya dengan lembut. Mulut Eksanti semakin meracau, menggila, mendesah-desah tidak karuan.

Sementara itu, dibawah sana perlahan-lahan aku memasukkan jemari tanganku di balik kain selimutnya. Ooocch.., begitu halus bulu kewanitaannya dan aku bisa merasakan begitu basah belahan daging lembutnya. Aku kembali tidak sabar, kain selimut bagian bawah itu aku campakkan ke samping, sehingga tubuh Eksanti yang telanjang bulat segera tampak, begitu mulus dan putih kulitnya. Sejenak aku memandangi tubuh indahnya dengan tertegun, kini sudah tidak ada lagi bagian tubuh kami yang tertutup kain, kini kami berdua telah telanjang bulat tanpa selembar benang pun. Kepalaku kembali mendekat ke arahnya, dan aku segera menggigit-gigit kecil serta menjilati perutnya perlahan-lahan. Mulutku terus turun ke arah pangkal pahanya, lalu... turun lagi sampai ke telapak kaki kiri dan kanan.

Aku membalikkan badannya hingga ia tengkurap, lalu dari belakang leher aku menjilati perlahan-lahan sambil menggigit kecil dan turun.. terus turun.., "Occhh... Mass... terus Mass... och... och... enak Mass..." erang Eksanti disertai dengan remasan kasar telapak tangannya di atas kain seprei.
Bibirku terus merayap turun, lidahku menjilat-jilat dari punggung merayap melalui deretan tulang belakang, ke arah bukit pantatnya. Sampai di sana, lidahku kembali menjilat, menusuk, membasahi celah di sekitar anusnya, dan akhirnya mulutku menggigit gemas dua bongkah daging kenyal itu. Eksanti meregang.. menjerit kecil, menikmati sensasi nikmat yang aku berikan kepadanya.

Lalu tubuhnya kembali aku balik, hingga kini kepalaku tepat berada di daerah selangkangannya. Aku melihat dengan jelas bibir kewanitaannya telah memerah, basah berkilat-kilat terkena lendir birahinya. Pelan-pelan aku menjilati bagian pinggir kewanitaanya dengan gerakan melingkar di sepanjang bibirnya. Aku pun mulai membuka bibir kewanitaannya dengan kedua jemari tanganku, hinga tampaklah daging kecil di celah lepitannya yang tampak menegang berwarna merah. Perlahan-lahan aku mejilat klitorisnya, perlahan tapi pasti sambil aku gerakkan ujung-ujung lidahku naik turun di sepanjang garis celah kewanitaannya. Eksanti semakin mengerang, menghempaskan badannya ke kiri dan ke kanan sambil sesekali menjambak rambutku disertai teriakan-teriakan kecil.
Beberapa saat kemudian Eksanti mulai mengejang dan bergetar sambil meringis menahan sesuatu, "Acchh... acchh... Masss... aku kelluuaar..." sambil menggigit bibirnya.


Bersambung ke bagian 3



Eksanti, The Riot - 3

Lanjutan dari bagian 2


Eksanti tampak lemas, namun ia tiba-tiba bangkit lalu mendorong badanku sehingga aku pun terhempas telentang. Eksanti menggerakkan dan menggeser badannya, sehingga tubuh indahnya sekarang sudah berada di atas tubuhku. Eksanti mulai mencium kening, hidung, pipi dan bibirku. Ia semakin ganas saja dalam berciuman dan kadang-kadang kembali diselingi dengan menciumi seluruh wajahku.

Dengan posisi Eksanti yang masih tetap berada di atas badanku, aku memeluk tubuh Eksanti yang ramping tetapi padat itu rapat-rapat, sambil berusaha mencium seluruh wajah cantiknya, Demikian juga dengan Eksanti, ia melakukan ciuman yang sama sambil sesekali terdengar rintihan suaranya, "Aaacchhh..., aaacchhh..., ooocch..., maaasss...".

Eksanti sekarang mencium leherku dan terus turun ke arah dadaku, terasa geli dan enak, sehingga tidak terasa aku berdesis lirih, "..ssshhh..., ssshh..., Santiiii..., ssshhh".
Dan tibalah di salah satu daerah paling sensitifku, di kedua putingku. Aku mulai mendesah ketika Eksanti menjilatinya, Eksanti tanggap akan hal itu, dia terus menjilatinya dan karena aku tidak tahan lagi aku memintanya menggigit dengan keras. Aku pun blingsatan menahan nikmat tak terkira, makin keras gigitannya makin puas aku rasakan.

Eksanti meneruskan ciumannya, sambil kepalanya terus bergerak menuruni badanku. Ketika mulutnya sampai di sekitar pusarku, ia menciuminya dengan penuh bersemangat, disertai dengan jilatan lembut lidahnya di sekeliling pusarku. Sungguh hanya rasa nikmat semata yang mampu aku rasakan sekarang, sehingga kejantananku kian menegang, masih di bawah tubuh indah Santi.

"..ssshhh..., Santiii..., adduuuhh..., aaacchh", aku merintih lagi.
Kepala Eksanti kembali secara perlahan-lahan terus turun. Ketika sampai di sekitar kejantananku, Eksanti tidak segera memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya, tetapi menciumi dan menghisap daerah sekelilingnya, termasuk bola kejantananku sehingga rasa enaknya terasa sampai ke ubun-ubun.
"..ssshh..., aaahhh..., aaahhh..., Santiii..., ooohh", aku mendesis berkepanjangan.
Jemari tangan kanan Eksanti mulai melingkari batang kejantananku dan mengocoknya perlahan dengan lembut.

Tiba-tiba, "hhuuubbb", kejantananku hilang masuk ke dalam mulutnya. Karena merasa kaget dan merasakan nikmat yang sangat, tidak terasa aku menjadi sedikit berteriak, "..aaacchh".
Eksanti segera menaik-turunkan mulutnya pelan-pelan dan sesekali aku merasakan kejantananku seperti terhisap-hisap karena sedotan kuat mulutnya, "Aaaduuuhh..., Santiiii..., enaaakkk..., aaacchhh".
"Ayooo..., dooong..., San..., siniii.., Mas juga kepingin", kataku sambil sedikit bangun dari tidurku dan menarik badannya.

Eksanti sepertinya mengerti kemauanku. Tubuhnya diputar mengikuti tarikan tanganku dengan tanpa melepas kejantananku yang masih menyumpal di dalam mulutnya. Posisi kami sekarang 69 dan Eksanti masih tetap berada di atas tubuhku. Tercium aroma kewanitaan yang khas itu. Kewanitaan Eksanti ditumbuhi bulu-bulu hitam yang cukup lebat, menutupi celah nikmat yang belahannya masih sangat rapat. Pelan-pelan aku menjilat bibir kewanitaan Eksanti yang sudah sangat basah itu. Badan Eksanti menggelinjang setiap kali bibir kewanitaannya aku hisap-hisap.
Dari mulutnya yang masih tersumpal kejantananku itu terdengar suara, "hhhmmm..., hhhmmm..., hhhmmm".

Dengan kedua tanganku, aku segera membuka belahan kewanitaan Eksanti pelan-pelan dan terlihat bagian dalamnya yang berwarna merah muda. Aku segera menjulurkan lidahku, mejilati dan menghisap-hisap seluruh bagian dalam kewanitaan Eksanti.
Kembali aku mendengar erangan Eksanti yang sekarang sudah melepas kejantananku dari mulutnya, "aaacchhh..., ooocchhh..., ssshhh..., maaas..., ooocchhh..", sambil berusaha menggerak-gerakkan pantatnya naik turun sehingga sepertinya mulut dan hidungku masuk semuanya ke dalam rongga kewanitaannya.
Wajahku terasa basah semuanya oleh cairan nikmat yang keluar dari kewanitaan Eksanti.

"Oooch..., Mas..., aaacchhh..., ssshhh..., ooochh..., teruuuss..., Mas..., aaacch".
Apalagi ketika klitoris-nya aku hisap, gerakan pantat Santi yang naik turun itu terasa semakin dipercepat dan kembali terdengar erangannya yang cukup keras, "Oooch... Mas..., teeruuuss..., aachhh".
Beberapa kali klitoris-nya aku hisap-hisap sambil sesekali lidahku aku julurkan masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Gerakan pantat Eksanti semakin menggila dan cepat, semakin cepat dan, tiba-tiba tubuh Eksanti bergetar hebat sambil meremas kuat kedua betis kakiku dan terasa agak perih mencakarinya.
"Aaachhh..., maas..., aaadduuuhh..., Santiii..., aaacchh..., keluaaarr..", sambil menekan pantatnya kuat sekali ke wajahku.
Aku sedikit kelabakan karena sulit bernafas dan terdengar nafas Eksanti terengah-engah di atas sana. Setelah tekanan pantatnya di mukaku terasa berkurang, perlahan-lahan aku memutar badanku ke samping sehingga Eksanti tergeletak di tempat tidur, tetapi masih tetap dalam posisi 69.
Dengan masih terengah-engah aku mendengar Eksanti memanggil pelan, "Mas, ke sini..., Mas..".
Segera saja aku bangun serta memutar posisi, lalu aku memeluk tubuhnyanya. Aku mencium bibirnya dengan mulutku yang masih basah oleh cairan kewanitaannya.

"Mas..", katanya di dekat telingaku, ketika nafasnya sudah mulai agak teratur.
"Ada apa Santii...", sahutku sambil mencium pipinya.
"Mas..., sejak terakhir kali kita bercinta 3 bulan yang lalu, aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini, bahkan tidak juga dengan Mas Yoga ".
"Terima kasih..., Santiii..., dan sekarang..., boleh akuuu..", sahutku dan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, aku merasakan Eksanti merenggangkan sudah kedua kakinya.
Aku tidak perlu meneruskan kata-kataku itu. Aku mengambil ancang-ancang dengan memegang kejantananku, lalu aku mengarahkan pada belahan kewanitaannya yang aku rasakan sedikit terbuka. Perlahan-lahan aku arahkan kejantananku ke depan bibir kewanitaannya. Sengaja tidak aku Masukkan dulu tetapi aku main-mainkan, dengan cara menyerempetkan ujung kepala kejantananku ke klitorisnya. Eksanti mulai mengerang lagi, ia kembali gelisah.

Aku melepaskan pegangan tanganku saat aku rasakan kepala kejantananku tepat berada di mulut belahan kewanitaan Eksanti.
"Mas..., jangan kasar kasar..., yaaa..., Santi takut sakit", kata Eksanti sambil memelukkan kedua tangannya di punggungku.
"Tidaaak, sayaaang..., Mas akan memasukkan sepelan mungkin. Kalau Santi merasa sakit tolong beritahu Mas yaa..", sahutku.
Segera aku mengulum bibir Eksanti sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Eksanti menghisap dan mempermainkan lidahku, sementara itu aku mulai menekan pantatku pelan-pelan sehingga kepala kejantananku mulai memasuki rongga kewanitaannya. Dengan perlahan aku lesakkan batang kejantananku ke lubang yang sudah basah oleh cairan cintanya tadi.
Dan.., "Bleeesss..". Akhirnya batang kejantananku sudah masuk setengahnya ke dalam kewanitaannya.
Eksanti berteriak pelan, "Aaachh..., Mass..", sambil kedua tangannya mencengkeram kuat di punggungku.

Karena teriakan Eksanti ini, aku menahan tusukan kejantananku untuk masuk lebih dalam dan aku bertanya, "Sakit..., Santi?".
Eksanti hanya menggelengkan kepalanya sedikit dan, "Mas..., Santi kaget, rasanya makin besar aja..", sambil mencubit hidungku. Kedua kakinya segera diangkat lalu dilingkarkan ke punggungku, sehingga akibat jepitan kakinya ini menjadikan kejantananku sekarang masuk seluruhnya ke dalam kewanitaan Eksanti.

Aku belum menggerakkan kejantananku karena Eksanti sepertinya sedang mempermainkan otot-otot kewanitaannya sehingga kejantananku terasa seperti terhisap-hisap dengan agak kuat.
"Santii..., teruuus... Santii..., enaaakkk sekaliii..., ", aku membisikkan rasa kenikmatanku di telinganya.
Perlahan-lahan Eksanti menggerakkan badannya, menggantungkannya ke tubuhku,.. naik turun, sedangkan aku hanya terpejam diam menikmati ransangan surga dunia itu, "Aacch... acch... acch... Santi.. pintar sekali... enak Santi... och... terus... ach... ach..." aku mengerang kenikmatan.
Eksanti terus menggoyang, badannya melengkung ke atas lalu menjilati dan menggigit putingku lagi. Sungguh satu gaya yang benar-benar bisa membangkitkan kenikmatan sensasi birahiku. Aku hanya bisa pasrah pada situasi seperti ini.
"Puaskan aku dengan tubuhmu Santi..." bisikku kepadanya. Eksanti hanya tersenyum simpul, ia lalu menyodorkan payudaranya ke arah mulutku, aku pun mulai menghisap dan mengulum sekuatku.

Karena rasa enak yang amat sangat menderaku, dengan tanpa sadar aku mulai menggerakkan kejantananku naik turun secara perlahan dan teratur, sedangkan Eksanti secara perlahan juga memulai memutar-mutarkan pinggulnya. Setiap kali kejantananku aku tekan masuk ke dalam kewanitaannya, aku mendengar suaranya, "Aaachh..., ssshhh..., Mas, aaaccrrhh..", mungkin karena kejantananku menyentuh bagian kewanitaannya yang paling dalam.

Karena seringnya mendengar suara ini, birahiku menjadi semakin terangsang. Gerakan kejantananku keluar masuk ke dalam kewanitaan Eksanti semakin cepat. Suara-suara, "Aaachhh..., ssshhh..., aaahh..., ooohh..., aaachh" dari mulut Eksanti semakin sering dan semakin keras terdengar. Gerakan pinggulnya semakin cepat sehingga kejantananku terasa semakin enak dan nyaman.

Aku semakin mempercepat gerakan kejantananku keluar masuk kewanitaannya dan tiba-tiba Eksanti melepaskan jepitan kakinya di pinggangku dan mengangkatnya lebar-lebar. Posisi ini mempermudah gerakan kejantananku keluar masuk kewanitaannya. Terasa kejantananku dapat masuk lebih dalam lagi.
Tidak lama kemudian aku merasakan pelukan Eksanti semakin kencang di punggungku dan, "Aaachhh..., ooohh..., ayoo maaass..., aaachh..., akuuu..., mauuu..., keluaaar..., aaachh..., Maass..".
"Tungguuu..., Santiii.., aaachhh..., kitaaa..., samaaa..., samaaa..", sahutku sambil mempercepat lagi gerakan kejantananku.
"Oocch... Mas... enak Mas... oh... terruus... Mas... occhh... oocchh..." sambil tangannya meremas kedua putingku. Aku semakin mempercepat goyangan, setelah beberapa lama keringatku membasahi dada Eksanti, butir demi butir. Tubuh kami berdua berkeringat hingga kami berdua bermandikan peluh. Justru hal itulah yang membuatku semakin bernafsu. Mataku terpejam-pejam, aku sungguh menikmati pemandangan indah ekspressi wajah Eksanti di bawahku.
Perut Eksanti mulai mengeras, otot perutnya mulai mengencang siap untuk meledakkan sesuatu, ia bergetar hebat. "Adduuhh..., Maaas..., akuuu..., nggaaak..., tahaaan..., Maaas..., ayooo..., se.. karaaang..., aaarrcch", sambil kembali kedua kakinya dilingkarkan dan dijepitkan di punggungku kuat-kuat.
"Oochh... Santii Mas juga mau keluar... Keluarin di mana Santiii... di dalam yaa.. och... och..." aku mengerang kenikmatan.
"Keluarin di dalam aja Mas, terus Mas... makin cepat... yaa.. begitu... och... och.. terus Mass..." dengan menjerit Eksanti terlihat pasrah.
"Ooh... Santiii... sekarang... Sann... occh... acch... acchh... sshh... acch... Santiii..., akuuu..., jugaaa..", dan terasa, "Plash..., plash..., plash" (8X), ledakan lava kentalku keluar dari ujung kejantananku dan tumpah ruah di dalam kewanitaan Eksanti. Aku mengejan sambil aku tekan kuat-kuat kejantananku melesak ke dalam rongga kewanitaannya.

Dengan nafas yang masih terengah-engah dan badan penuh dengan keringat, didorongnya aku dari atas badannya sehingga aku jatuh terkapar di sampingnya, tetapi kejantananku masih tetap terjepit erat di dalam lubang kewanitaannya. Setelah nafasku agak teratur, aku mengatakan di dekat telinganya, "Santii..., terima kasih..., yaa..", sambil aku kecup telinganya. Eksanti tidak menjawab atau berkata apapun dan hanya mencium wajahku.

Setelah diam beberapa lama lalu aku mengajak Eksanti membersihkan badan di kamar mandi dan kami terus tidur sambil berpelukan. Paginya aku antar Eksanti pulang ke rumah kostnya di bilangan Selatan Jakarta.

Hari-hari selanjutnya kami tetap bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun. Yang pasti sejak kejadian yang terakhir itu hubunganku dengan Eksanti ini kembali berlanjut walaupun ia telah pindah kerja dan memiliki kekasih yang dicintainya, Mas Yoga-nya.


T A M A T



Eksanti, Love or Just Passion ? - 1

Sejak percintaan kami yang terakhir pada saat huru-hara melanda Jakarta (baca: Eksanti, The Riot 1,2), aku menjadi lebih berani untuk bertamu ke rumah kost Eksanti. Dengan sukarela beberapa kali aku membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan oleh perusahaan baru dimana Eksanti bekerja. Sebagai karyawati baru, ia memang masih harus banyak belajar, dan bantuanku sebagai bekas seniornya memang sangat ia harapkan.

Hingga suatu hari di tempat kostnya, seingatku hari itu hari Jumat malam. Kami berdua sedang beristirahat menikmati santapan makan malam, setelah hampir semalaman kami berdua memelototi angka-angka dan tabel-tabel tugas kantor Eksanti. Kami berdua makan sambil duduk di atas karpet lantai, dengan kaki diselonjorkan sehingga kaki jenjang Eksanti terlihat sangat indah. Menu santapan kami adalah nasi goreng sosis, yang kami pesan dari sebuah restoran di sekitar rumah kostnya yang buka 24 jam. Kami berbagi cerita tentang berbagai topik ringan. Yang aku ingat, kami cukup seru membicarakan tentang gosip kehidupan artis ibukota yang berinisial DR, yang baru saja bercerai setelah menikah hanya kurang lebih setahun.

Ketika itu Eksanti tiba-tiba terdiam, dan aku terpaksa bertanya, "Ada apa Santi? Kamu sakit?"
"Enggak apa-apa kok," kata Eksanti, tetapi ia tampak cukup gelisah. Ia memalingkan wajahnya ketika aku sengaja menatapnya. Suasana menjadi cukup hening. Sambil tetap menyantap nasi goreng sosis yang memang nikmat rasanya itu, aku bertanya-tanya dalam hati, “Eksanti kenapa sih tiba-tiba jadi murung begini, setelah tadi membahas topik perceraian artis DR”.
Sedang asyiknya aku berfikir, tiba-tiba Eksanti berkata, "Mas maaf yaa..., Santi sedang menghadapi masalah pribadi, Santi baru ribut lagi dengan Mas Yoga”.
“Heeek...”, sepotong sosis goreng yang baru saja aku telan terasa menyangkut di leher.
Aku bangkit dari dudukku, lalu meneguk aqua untuk melancarkan kembali saluran pencernaan dan pernafasanku. Setelah itu aku duduk kembali, meneruskan menyantap nasi goreng, sambil mendengarkan cerita Eksanti berikutnya.

Eksanti melanjutkan ceritanya, "Memang keterlaluan tuh Mas Yoga. Hari Sabtu kemarin aku, Mira adikku dan kedua orang tuaku yang datang dari Malang, sedang enak-enaknya bersantap di News Cafe - Kemang. Saat kami mau pulang, aku melihat Mas Yoga di salah satu sudut ruangan, sedang asyik makan berdua dengan seorang wanita. Tangan Mas Yoga sedang merangkul mesra bahu wanita itu, sementara wajah wanita itu ditempelkan ke samping wajah Mas Yoga, dengan rona muka seperti orang yang sedang kasmaran. Panas bener hatiku, tapi aku tidak melabrak Mas Yoga saat itu juga. Malu ‘kan banyak orang dan lagipula orang tuaku ada di situ. Hari Selasa malam lalu, Mas Yoga datang ke sini, aku tanya dia tentang kejadian itu. Mas Yoga sempat mencoba membantah, tetapi aku mengatakan bahwa adikku Mira, juga turut melihat. Mira tahu nama wanita itu, Anita. Anita dikenal Mira sebagai kakak kelasnya waktu kuliah di ASMI dulu. Akupun langsung melabrak Mas Yoga. Mas Yoga akhirnya mengakui, bahwa akhir-akhir ini ia memang sering bertemu Anita, bekas teman dekatnya dulu sebelum ia dekat dengan Eksanti. Tetapi kata Mas Yoga, ia masih tetap lebih mencintai Eksanti."

Setelah menarik nafas sebentar Eksanti berkata lirih, "Tidak bisa..., Santi tidak bisa menerima kelakuan Mas Yoga yang seperti itu. Saat itu juga Santi memutuskan agar Mas Yoga nggak usah datang-datang lagi ke tempat kost Santi". Lalu Eksanti melanjutkan ceritanya lagi, "Santi mendorong Mas Yoga keluar dari pintu kamar, sambil membanting pintunya. Lalu hari Rabu paginya, Santi bilang pada resepsionis di kantorku untuk menolak semua telephone dari Mas Yoga. Sebel aku", kata Eksanti berapi-api.
"Lantas..?", tanyaku dengan rasa penasaran.
"Ya, sekarang aku benar-benar lagi benci sama Mas Yoga", kata Eksanti sambil menarik nafas panjang, karena tadi ketika bercerita nafasnya sempat memburu, dadanya yang indah ikut turun naik.
“Terus..?”, aku cuma bisa berkata sepotong-sepotong, karena aku tidak tahu harus berkomentar apa terhadap cerita Eksanti itu.
"Mas, kamu mau ‘kan sekarang menemani aku jalan-jalan. Aku sedang sangat kesepian dan butuh teman untuk menghilangkan rasa gundahku", katanya perlahan.
"Bagaimana tentang laporan kamu yang harus selesai hari Senin depan ini?", tanyaku sambil menunjuk dokumen-dokumen kerja yang berserakan di meja.
"Ah, no problem", kata Eksanti. "...kan sudah hampir selesai, besok kan masih ada hari Sabtu dan Minggu, ayo dong Mas", katanya merajuk sambil menarik tanganku.
"eee.. eeei, tunggu dulu!", aku mengingatkan. "...kita bereskan dulu pekerjaan kamu malam ini, baru kita jalan-jalan keluar".
"Oke Boss", jawab Eksanti sambil tersenyum nakal. Aku tidak menyangka, ia langsung menumpukkan semua dokumen di atas mejanya menjadi satu. Kemudian tumpukan dokumen itu dimasukkannya ke dalam lemari kabinet. Lalu setengah berlari ia menghampiriku dan menumpukkan semua dokumen bagianku, menjadi satu untuk disimpannya juga di dalam lemari kabinet yang sama.
"Hei, tunggu dulu! Ini kan belum selesai", aku berkata sambil mencoba menahan kedua tangannya yang sedang menggerayangi mejaku. Sengaja wajahku aku pasang dengan tampang yang serius.
"Maaf Boss, tetapi jam kerja sudah lewat dan sekarang saatnya kamu menemani aku jalan", kata Eksanti yang tetap saja mengemasi dokumen yang ditumpukkanya ke dalam lemari kabinet.
"Ck... ck... ck... Santi", kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini kalau sudah ada maunya, tidak sabaran lagi yaa...", ujarku sambil mulai ikut beres-beres.
Eksanti tersenyum.

*******

Kami pun keluar dari rumah kost Eksanti dan segera meluncur menuju Café Jalan-Jalan di kawasan Kuningan. Waktu itu sudah sekitar pukul 11 malam, kami masih asyik mendengarkan live music sambil ikut berdendang. Kadang-kadang kami juga berdansa di bar lantai dua café tersebut. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasakan bahwa Eksanti semakin berani menggodaku. Entahlah, mungkin karena pengaruh minuman yang telah cukup banyak masuk ke dalam mulutnya. Bahkan ketika sebuah lagu romantis berkumandang, dalam posisi duduk, tanpa ragu ia memeluk erat leherku. Eksanti menirukan lafal nyanyian itu, ‘You Are Still The One’ dekat sekali di telingaku, sambil tersenyum mengikuti syair lagunya. Terkadang wajahnya memelas, terkadang genit manja, terkadang tersenyum penuh canda. Ketika lagu itu berakhir, didiamkannya kedua tangannya memeluk leherku sambil tersenyum manja.

“Mas, aku ingin sekali bercinta denganmu malam ini, tetapi sekarang Santi lagi dalam masa subur”, ia berbisik lirih di telingaku, lalu ia melanjutkan, ”...ntar kalau Mas nakal sama Santi, hati-hati yaa..., jangan sampai jadi...”, ia tersenyum menghentikan kata-katanya. Sepertinya Eksanti memang sedang dalam keadaan ‘on’ karena pengaruh minumannya tadi, dan ditambah lagi dengan keruwetan masalah yang dialaminya dengan Yoga. Tidak seperti biasanya, kali ini ia begitu terus terang mengungkapkan keinginannya untuk bercinta denganku.

Aku membalas tersenyum sambil berkata dalam hati, “O.. o..., sepertinya ada bekal yang perlu aku beli”.
"Okay Santi, Mas mengerti. Sekarang Mas mau ke toilet dulu yaa..", kataku sambil bangkit dari duduk. Aku sebenarnya agak ragu, apakah Eksanti benar-benar sadar akan keinginannya yang baru saja diucapkan kepadaku, karena aku tahu fikirannya saat itu benar-benar sedang dalam kondisi yang tidak fit. Namun di toilet, setelah selesai membuang hajatku, aku mengambil beberapa koin dan membeli beberapa kondom yang tersedia di box yang tertempel di dinding toilet. Siapa tahu aku benar-benar memerlukannya nanti. Aku kembali ke tempat duduk, dan kembali bercanda, menikmati berbagai lagu lain yang dinyanyikan.

Hingga suatu ketika, "Aaacch...", Eksanti menguap sambil menutup mulutnya,"...capek niih...". "Sekarang antar Santi pulang yuk...!", katanya sambil menggamit tanganku. Setelah menyelesaikan pembayaran minuman kami, aku pun bangkit dan berdua kami berjalan keluar menuju mobilku. Mobil pun meluncur kembali ke rumah kost Eksanti di kawasan Selatan Jakarta.

********

"Eeh.., Mas parkir dulu dong!", kata Eksanti ketika aku memberhentikan mobil di muka pintu pagar rumah kost untuk menurunkannya.
“Aaah... haa...”, aku berfikir sambil tersenyum dalam hati, “...ternyata aku benar-benar harus menginap nih, untung aku sudah punya bekal”.
"Antar aku sampai kamar yaa.. Mas," kata Eksanti lagi, sambil memegang tanganku. Wajahnya menatapku dengan senyum menggoda. Mobil bergerak lagi dan akhirnya aku memarkir mobilku di dalam halaman rumah kostnya. Kami berjalan kaki ke pintu pavilion rumah kostnya, lalu masuk ke ruang tamu pavilion yang sudah gelap gulita karena lampunya sudah dimatikan.
“Sepi sekali Santi, yang lain pada kemana..?”, aku berkomentar
“Ach.. biasa, ini kan week end, Mas. Paling mereka pada nginep di luar”, ia menjawab.
Di dalam ruang tamu tersebut Eksanti memeluk leherku sambil merebahkan wajahnya di dadaku seraya bergumam, "Hhhmmmm, ngaaantuuuk...". Kepalanya bergerak-gerak halus bagaikan orang yang sangat menikmati mimpinya.

Pada saat itu kejantananku mulai menegang karena merasakan payudara indah Eksanti yang menekan hangat di dadaku. Sementara pahanya yang nakal bergerak-gerak halus, persis mengenai kejantananku.

Keluar dari ruang tamu kami berjalan ke pintu kamar Eksanti, yang terletak persis di sebelah ruang tamu itu. Dibukanya pintu sambil menarik tanganku.
"Ayo masuk dulu", kata Eksanti sambil menarik tanganku.
Wajah lembutnya menatapku dengan mesra. Aku pun ikut masuk ke dalam kamar Eksanti. Ia menutup pintu kamar dengan perlahan, lalu berpaling kepadaku.
"Duduk dulu yaa... Mas, tolong dong puterin CD lagunya Shania Twain tadi, please...", katanya sambil meninggalkan aku menuju ke kamar mandi di dalam kamarnya.

Aku berjalan ke CD player, mengambil CD yang ia inginkan dan aku memasang dengan volume yang rendah. Lagu mengalun lembut, aku duduk di sofa sambil menyalakan TV, memilih-milih berbagai sisa acara yang masih disiarkan. Tanpa aku sadari Eksanti muncul di belakangku sambil berkata, "Waah.. udah nggak ada acara yang bagus yaa.. Mas", sambil terus melangkah ke lemari CD. Eksanti mengambil sebuah VCD dan menyalakannya. Ternyata VCD itu adalah sebuah film produksi Vivid Video dangan bintang cantik favoritku, Asia Carera. Eksanti meninggalkanku menuju kulkas, lalu kembali dengan dua kaleng minuman dingin. Ia langsung duduk rapat di sampingku.

"Santi suka nonton film-filmnya Vivid?", tanyaku penasaran.
"He.. ..em, kadang-kadang", jawabnya sambil menyandarkan kepalanya di sofa. "Ini film favoritku kalau Santi sedang kesepian sendiri," katanya melanjutkan sambil tangan kanannya mengelus pangkal leherku. Aku menyandarkan kepalaku ke sofa sambil menatapnya.
"Kamu belum ngantuk?", tanyaku.
"Heemm..", ia menggeleng sambil tersenyum menggoda. Aku memalingkan wajahku kembali menonton VCD yang menayangkan adegan Asia Carera sedang mengulum kejantanan seorang pria dengan penuh semangat. Aku menikmati VCD tersebut, lalu aku meneguk minuman dingin yang ada, "Aaacch... segar..."

Sementara itu, kejantananku mengeras kembali, karena terus terang para pemain di film tersebut cantik-cantik, sexy bagaikan para foto model dan hampir semuanya memiliki bentuk tubuh yang sangat indah.

Aku berbalik menatap Eksanti yang ternyata tangan kanannya sedang asyik meremas payudaranya sendiri, sementara tangan kirinya sedang mengelus-elus kewanitaannya di atas rok mini yang masih rapi dikenakannya. Ia pun menatapku dan tiba-tiba ditariknya kepalaku ke arah wajahnya. Ia mencium bibirku dengan mesra. Tanpa ragu lagi, aku membalas dengan mengulum bibir tipisnya. Sesaat kemudian ciuman Eksanti makin bertambah ganas. Kami pun saling berpagutan, kedua lidah kami menari-nari, kadang aku sedot lidahnya, kadang ia yang mengulum lidahku, seraya menggigit halus bibir bawahku.

Perlahan-lahan aku melepas bibirku dari mulutnya sambil mencium dengan lembut hidung, pipi, kelopak mata dan keningnya. Eksanti menarik wajahku mendekat. Ditatapnya mataku sambil berkata, "Mas, make love with me, please...," dengan tatapan memohon bercampur gelora birahi.

Bibir kami pun kembali saling berpagutan dan kini tangan-tangan kami mulai saling menjelajah. Tangan kiriku mengelus dada kirinya, melalui blouse sutranya yang masih tertutup bra. Sementara tangan kananku merayap ke bawah, dari lutut terus naik ke pahanya, masuk ke dalam rok mininya dan menuju ke pangkal paha. Jari-jari lembut Eksanti yang tadinya aktif mengelus kejantananku dari luar celana pantalonku, kini mulai melepaskan kancing jaketku dengan kedua tangannya. Mulut dan lidah kami masih tetap saling berpagutan. Setelah jaketku terlepas, Eksanti dengan gemas menjelajahi dadaku. Ia menarik ke atas bagian bawah hem dari dalam celanaku, dan langsung mulai melepas kancing hemku satu persatu. Akhirnya aku pun bertelanjang dada. Eksanti mulai menciumi dadaku. Disedotnya puting susuku yang kanan sambil diremasnya dadaku yang kiri. "Oocchh... nikmatnya," lenguhku. Secara bergantian, hal yang sama dilakukannya pada dada kiriku.


Bersambung ke bagian 2



Eksanti, Love or Just Passion ? - 2

Lanjutan dari bagian 1


Aku mengangkat tubuh Eksanti dan kami pun berdiri berpelukan. Aku melepaskan blazer dan blouse-nya, kemudian menarik perlahan retsleting roknya. Aku menarik rok itu ke bawah, sehingga rok mininya terjatuh ke lantai. Eksanti masih asyik mengulum dan menciumi sekujur dada, punggung serta leherku sambil mengeluarkan suara yang tak beraturan dari mulutnya, "Hhhm.. aacchh.. mmm.. aacchh..."
"Aku suka wangi parfummu, Mas", ujarnya manja, "...aku sudah lama kangen sama baunya, Mas". Jemari lentik tangannya masih terus menjelajahi dada, leher dan kadang turun ke perutku.

Saat itu aku sedang menciumi rambutnya sambil mengelus-elus lembut dadanya. Lalu kedua tanganku berpindah ke punggungnya dan aku membuka pengait bra-nya. Bra Eksanti pun langsung terjatuh ke lantai. Aku mengangkat dagu Eksanti yang sedang asyik menjelajahi dadaku.

Kami pun bertatapan, aku melihat nafas Eksanti mulai menderu. Dadanya naik turun seirama dan kedua payudaranya terlihat mekar dengan indahnya. Sambil menatap wajahnya, aku mengelus-elus lembut kedua payudaranya dengan gerakan memutar tanpa menyentuh kedua putingnya. Mulutku mulai menciumi mulutnya kembali dan perlahan-lahan turun ke bawah, ke dagu..., terus lidahku menjilati lehernya..., terus ke samping leher... Aku mengulum pangkal lehernya sambil lidahku aktif menari-nari di sana. Lalu aku bergeser ke bawah telinganya..., lalu daun telinganya aku jilati sambil aku tekan lubang telinganya..., lalu aku kulum daun telinganya sambil aku gigit-gigit halus. Eksanti hanya bisa mendesah-desah sambil tangannya meremas punggung dan kejantananku dari balik celanaku. "aaah geliii... eeenaaak... Masss...", katanya.

Kedua tanganku masih asyik mengelus-elus lembut kedua payudaranya dengan gerakan memutar dan kadang meremas kedua payudaranya, tetapi putingnya tetap tidak aku sentuh.
"Mas, remas puting Santi, please...", rengeknya manja dengan berusaha menarik kedua tanganku.
"No, not yet. Sabar Santi", kataku sambil mengelus dadanya berputar, tetap menghindari kedua putingnya. Kembali aku memagut bibirnya. Eksanti pun memeluk leherku dan berkonsentrasi menikmati ciuman kami untuk kesekian kalinya. Mukaku turun sambil terus menciumi pipi, dagu, lalu turun ke leher jenjangnya. Eksanti menarik kepalanya ke belakang sehingga aku dapat lebih menikmati lehernya yang mulus itu dengan leluasa. Berlanjut, sentuhan bibirku turun ke bahu, dada, masih menghindari putingnya, lalu langsung menuju ke perutnya yang ramping. Lidahku menjilati sekitar perut dengan gerakan melingkar dan akhirnya aku menjilati pusarnya.
"Aacch.. geeliii... Masss...", erang Eksanti menikmati sensasi bibir dan lidahku.

Kedua tanganku mengelus lutut hingga pangkal pahanya dan terus naik turun memberikan rangsangan yang semakin meninggikan sensasi yang dirasakan Eksanti. Aku berlutut sambil menengadah ke atas. Aku menatap mata Eksanti yang nampak mulai liar bernafsu. Dengan kedua tangan, aku menyelipkan kedua telunjukku dari celah samping celana dalamnya yang berwarna hitam berenda transparan itu. Aku menarik celana dalamnya ke bawah, dan dengan bantuan Eksanti yang mengangkat kakinya satu persatu, maka terlepaslah celana dalam itu dari tubuh indahnya.

Aku mundur beberapa langkah dan menatap sekujur tubuh indah yang ada di hadapanku. Tampaklah seorang wanita yang cantik dan sexy, dengan hanya mengenakan stocking halter, stocking dan sepatu hak tinggi yang semuanya berwarna hitam. Sungguh kontras dengan warna kulit tubuhnya yang seputih susu, dengan putingnya berwarna pink kecoklatan.
"Kamu cantik sekali, Santi", kataku berterus terang. Mataku bergantian menatap dari ujung kaki hingga ke ujung rambutnya. Tak terasa beberapa detik berlalu.
”Ayo, kita ke ranjang Santi, Mas..”, kata Eksanti sambil melangkah kepadaku.
”Stop! berhenti di situ!” aku berkata dengan tiba-tiba.
Ia pun berhenti dan kembali berdiri tegak. "Putar tubuhmu, Santi", kataku memohon. Ia pun berputar sambil tersenyum menggoda.
Aku mendesah, "...lagi..., kali ini pelan-pelan yaa...!"

Eksanti pun berputar-putar perlahan. Tangannya bergerak meremas kedua payudaranya, lantas naik dan akhirnya kedua tangannya memanjang tinggi di atas kepalanya, dengan kedua punggung tangan yang disatukan.
"Kamu suka, Mas?”, tanyanya sambil tersenyum menggoda.
Aku tidak menjawab tetapi malah melepaskan sepatu, celana dan kaos kakiku. Eksanti memandangi kejantananku yang telah berdiri perkasa di dalam celana dalamku.
"Hmm... kejantananmu sudah tegang tuh Mas", kata Eksanti sambil mendelikkan matanya menatap sebuah garis tebal yang membekas di atas celana dalamku.

Aku mendatangi Eksanti sambil terus menatap matanya. Aku menarik dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa, lalu aku membuka lebar kedua pahanya. Kini aku berlutut di hadapannya, aku menatap mesra kedua bola matanya, lalu aku ganti menatap kedua puting payudaranya. Aku bertanya pelan, "Kamu ingin aku melakukannya sekarang, Santi?"
"Yes, please, Mas...", jawab Eksanti tersenyum senang sambil menggelinjang.

Aku menciumi bibirnya, lidah kami saling menari-nari. Kadang aku menyedot lidahnya, kadang aku menggigit halus lidah bawahnya. Kepala kami bergerak ke kiri ke kanan, bergantian. Terkadang keluar suara aneh yang erotis, prt-prrt.. mmnguuuh... mmm... dari bibir kami yang saling menyedot keras. Kembali kedua tanganku meremas dan mengitari payudaranya dengan tetap menghindari kedua putingnya. Aku mengarahkan mulutku ke dadanya dan lidahku mulai mengitari dada kanannya. Aku menjilat di sekeliling dada kanannya, sambil terkadang aku mencium halus dan terkadang aku menyeret bibirku di atas dadanya. Hal yang sama aku ulang di dada kirinya. Aku menatap mata Eksanti, lalu perlahan aku mengarahkan bibirku ke puting kanannya. Aku membuka bibirku, lidahku pun terjulur keluar dan menyapu halus puting kanan Eksanti.

Eksanti yang telah lama menantikan kenikmatan ini melenguh panjang, "Oocchh.. oochhh... eeennaak... geelii.. oocch... Mas eeennnaaak..." Lidahku masih terus menjilati dengan perlahan-lahan puting kanannya. "Eeecchhh.. hmmm... ehmm... eeennnaaak..."
Puting kanannya berdiri tegak. Aku memindahkan bibirku ke puting kirinya, kembali aku menjilat halus, Eksanti pun melenguh panjang, "eeecchhh..."
Aku mencium dada kirinya, sambil mengemut puting kirinya dan aku memutar-mutarkan lidahku di sana. Kadang naik turun merangsang puting kirinya. Dan tak lama kemudian saat aku asyik mengulum puting kirinya, punggung Eksanti terangkat melengkung dan bergetar mengejang sambil berteriak dengan nada yang tinggi, "Aaacchhhh...". Lalu tertahan sebentar dan turun lemas. Rupanya Eksanti mampu mengalami orgasme hanya dengan rangsangan di payudaranya.

Tanpa henti, aku terus saja mengulum puting kirinya, yang masih sangat tegang. Lalu aku beralih mengulum puting kanannya, sambil meremas dada kirinya. Lenguhan Eksanti sudah tidak karuan lagi. Rupanya puting adalah salah satu daerah paling sensitifnya. Aku pun sangat senang menikmati dada yang indah, kenyal, kencang berwarna putih, dengan semburat pink kecoklatan di sekitar putingnya itu. Aku terus menikmati kedua payudara Eksanti. Kadang satu persatu, kadang bergantian kiri-kanan sambil aku geleng-gelengkan kepalaku. Tidak lupa aku menciumi belahan dadanya, sambil menjilat-jilat lembut di sana. Nikmat sekali melihat Eksanti puas, dan nampaknya ia mulai menuju klimaksnya lagi.

Tangan kananku turun, aku menyusuri perut, aku mengusap-usap lembut, turun ke rambut kewanitaannya. Jemari tanganku mengitari kewanitaannya dengan mengelus di sekitar pangkal pahanya. Aku terus mengelus dengan telapak tangan naik turun di atas kewanitaannya, lalu ujung jari tengahku memutar di pinggir celahnya. Setelah puluhan kali putaran jari telunjukku, akhirnya Eksanti mulai bergetar dan menggoyang pinggulnya. Ujung jari tanganku bergerak naik turun di atas kewanitaannya dari rambut kewanitaan hingga ke lubang anusnya, naik turun berkali-kali. Tak lama kemudian tubuh Eksanti bergetar dan makin mengejang. Tidak ada gerakan yang aku hentikan, malah jari tanganku mencari-cari sebuah daging kecil berwarna merah di celah lipatannya, yang aku tahu akan semakin meningkatkan sensasi orgasmenya. Akhirnya aku temukan clitorisnya itu. Aku menekan dan aku mengelus lembut dengan telapak ujung jari tengahku. "Aaacchhh.. aaacchhh.. aku keluarrrr...," teriak Eksanti.

Ciuman di puting maupun elusan di clitorisnya tidak aku hentikan. Agak lama juga Eksanti berteriak, kadang mendesah, melenguh, hingga akhirnya tubuhnya kembali lemas dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Gila kamu Mas, sudah dua kali Santi klimaks, padahal kejantananmu belum ngapa-ngapain," katanya.
Aku menghentikan ciumanku, aku menatap kembali wajahnya. "Santai saja Santi, yang barusan kamu alami, baru awalnya saja..." Lalu aku kembali mencium belahan dada, turun ke perut, ke rambut kewanitaannya, terus ke celah kewanitaannya, pangkal pahanya, dan kembali lagi ke celah kewanitaannya.

Eksanti membuka pahanya lebih lebar sehingga aku dapat lebih leluasa menikmati seluruh lipatan-lipatan kewanitaannya. Kewanitaannya yang putih dengan bibir yang berwarna merah kecoklatan masih tertutup rapat oleh rimbun hitam bulu-bulu pubisnya. Aku menciumi, lalu dengan lidah aku membelah (bagai membelah bibir mulut yang tertutup) dan akhirnya terbukalah bibir kewanitaannya. Aku menciumi sambil menjilatinya, kadang naik turun, kadang menyamping, kadang melingkar, lalu aku berkonsentrasi menjilati daging kecil merahnya yang kecil tapi tampak tegang mengeras. "Uuucchhh.. aaaccchh...," Eksanti melenguh.

Lalu tiba giliran kedua bibir kewanitaannya yang aku jilati. Terkadang aku mengulum, terkadang aku menyedot hingga keduanya memerah. Aku menjilati rongga dalam kewanitaannya yang sudah sangat basah, memutar, kanan kiri dan kadang aku menusuk-nusuk dengan ujung lidahku yang sengaja aku bulatkan. Aku menusuk, menekan dan aku memutar lidahku di lubang kewanitaannya. Tidak aku perhatikan lagi lenguhan Eksanti, karena terus terang aku pun sangat terangsang, memberikan rasa nikmat yang luar biasa pada Eksanti. Tangan Eksanti mulai mendorong kepalaku ke arah lubang kewanitaannya sambil pinggulnya bergoyang dengan desah yang tak beraturan lagi, "Uucch... aaacchh.. eeennnaaakkk... aaacchh..."

Akhirnya Eksanti pun mencapai klimaksnya lagi sambil menarik kepalaku. Ia membenamkan kepalaku ke arah kewanitaannya, sambil mendekap dengan kedua pahanya cukup kencang. Aku terpaksa menggapai-gapai udara yang hangat tipis, lalu tubuh Eksanti kembali mengejang, tertahan, lalu terjatuh. Aku terus menjilati lelehan cairan hangat cintanya itu, dan langsung menelan penuh rasa nikmat.

Kemudian telunjukku aku jilati dan aku basahi dengan air liurku. Aku mulai memasukkan jariku ke dalam lubang kewanitaannya. Aku menggerakkannya maju mundur, memutar, lalu aku membengkokkan supaya bisa lebih merangsang G-spot kewanitaan Eksanti. Rangsangan maju mundur, masih terus... dan terus... aku berikan dengan jari kanan telunjukku. Tangan kiriku meremas dan mengelus-elus lembut payudara kanannya, sementara lidahku mengulum dan menjilati clitorisnya.

"Lebih cepat lagi Mas, please...", lenguh Eksanti yang aku jawab dengan memasukkan jari tengahku. Sekarang ada dua jari yang keluar masuk di dalam kewanitaan Eksanti. Kecepatan gerakannya berirama, mula-mula lambat, lalu makin cepat dan makin cepat lagi. Beberapa menit kemudian, aku melihat perut Eksanti menegang dan aku makin mempercepat gerakan jari tanganku, "Te... te... tee... ruu... ruu... ruuus... faaa... faaa...asssterrr," desah Eksanti. Aku makin mempercepat gerakan jari tanganku hingga akhirnya Eksanti mencapai klimaksnya yang ketiga, yang sedemikian tinggi sensasinya. Kedua jemariku terasa diurut-urut dan diremas dinding-dinding kewanitaan dengan kerasnya. Aku tidak segera menghentikan kegiatanku, sehingga sensasi Eksanti itu cukup bertahan lama dirasakannya. Lalu lidahku kembali menjilati kewanitaannya dan aku menelan sisa-sisa cairan nikmat Eksanti hingga bersih. Setelah orgasme Eksanti berlalu, aku merebahkan kepalaku di dadanya.

"Aacch... Mas, kamu masih seperti yang dulu. Mas selalu bisa memuaskan hasratku", kata Eksanti sambil mengelus kepalaku. "..kini giliran Santi yang akan memuaskanmu, Mas", katanya melanjutkan.
Eksanti lalu menggeserkan tubuhnya, ia hendak memberikan felatio kepadaku. Tetapi aku lebih dulu bangkit berdiri dengan kejantananku yang telah mengacung gagah. Aku mundur beberapa langkah hingga akhirnya badanku bersender pada dinding. Eksanti sempat terperangah menyaksikan tingkahku, tetapi kemudian ia mengerti. Dengan menengadah seperti harimau lapar, kedua tangan dan lutut Eksanti bertumpu menyentuh lantai. Wajahnya tersenyum menggoda, namun matanya memicing gemas dengan penuh nafsu. Perlahan-lahan Eksanti bergerak ke arahku. Ia menijilati dengkulku yang kanan, menciuminya lalu menjilatinya lagi. Bergantian, kini dengkul kiriku yang dijilatinya.


Bersambung ke bagian 3



Eksanti, Love or Just Passion ? - 3

Lanjutan dari bagian 2


Setelah puas, mulut Eksanti bergerak ke atas, dengan ciumannya yang halus ia menikmati sekujur kulit pahaku hingga ke atas. Lalu tiba-tiba badanku diputarkannya dengan kasar. Kini aku berdiri menungging menghadap tembok dengan tangan yang menumpu dinding. Aku merasa tidak tahu apa yang akan diperbuat Eksanti dari arah belakangku. Ternyata Eksanti menciumiku mulai dari mata kaki, lalu perlahan naik ke betisku. Mulutnya sempat menyedot-nyedot sebentar di sana, sebelum akhirnya naik lagi ke paha. "Aaacch...," desahku saat Eksanti mulai menjilati belahan kedua buah pantatku. Disatukannya kedua belah pantatku sambil dijilatinya, lalu dengan perlahan ia mulai berdiri. Bibirnya terus naik menciumi punggung lalu ke pangkal leherku, sementara tangannya masih tetap meremas dan mengusap-usap lembut kedua bola pantatku. Sesaat kemudian, kembali diputarkannya badanku, lalu bibir kami berpagutan dengan gemas. Eksanti melingkarkan kaki kanannya ke pinggangku sambil menggosok-gosokkan tubuhnya ke tubuhku, naik-turun, naik-turun. Kejantananku semakin mengeras karena rasanya seperti dibelai-belai lembut oleh kulit lembut tubuhnya dan terkadang digesek-gesek kasar oleh bulu-bulu pubisnya.

Setelah itu Eksanti kembali melorot turun, berlutut di hadapanku.
"Apa kabar ‘yang... ," katanya pada kejantananku sambil tersenyum nakal menatap wajahku.
"Ooocchh...” kataku tersenyum kegelian.
Ia menjilati ujung kejantananku yang telah mengeluarkan cairan bening hingga bersih. Karena kejantananku sudah tegak menegang, maka dengan mudah ia menciumi batangnya dari atas ke bawah, terutama pada bagian bawah kejantananku. Didorongnya paha kiriku ke samping sehingga ia bisa leluasa menciumi hingga ke bagian belakang testisku, lalu ia mulai menjilatinya di sana. Dari bagian itu, lidahnya naik perlahan hingga kembali ke ujung kejantananku, lalu diulangnya beberapa kali, sehingga membuat tubuhku bereaksi, seperti terdengar suara seeer.. seeer... Aku hanya bisa mendesah pasrah.

Kejantananku akhirnya dimasukkan ke dalam mulutnya, sementara tangan kanannya mengelus-elus bagian dalam pahaku. Sambil mulutnya maju-mundur memasukkan kejantananku, kini dibelai-belainya testisku dengan tangan kanannya. Kemudian sambil terus mulutnya maju-mundur, tangan kanannya meremas, mengocok batang kejantananku dan tangan kirinya membelai-belai perutku. Kejantananku disedot kuat-kuat di dalam mulutnya, sambil lidahnya berputar dan menjilati daerah yang berada persis di bawah kepala kejantananku. Tingkahnya itu menyebabkan aku terjinjit-jinjit karena menahan rasa geli yang sungguh nikmat sekali. Sesekali mata Eksanti menatap ke atas melihat reaksiku yang lebih banyak terpejam menatap ke atas. Banyak variasi lain dibuatnya, kadang kejantananku diciuminya bagai orang bermain harmonika (atau orang makan jagung rebus). Kadang kulit kejantananku agak ditarik ke atas sehingga ia dapat mengulum testisku dan mempermainkan lidahnya dalam mulut. Kadang hanya lidahnya yang menari menjilati leher kepala kejantananku yang memang sangat sensitif, lalu kembali diemutnya kepala kejantananku hingga keluar bunyi-bunyi erotis dari dalam mulutnya.

Setelah limabelas menit berlalu, aku mulai tidak tahan, aku menarik tangan Eksanti ke atas dan ia pun perlahan melepas kejantananku. Kami kembali berciuman, kali ini dengan lembut dan mesra.

Aku menggandeng Eksanti ke sudut ruangan, lalu mengatakan, "Santi, menghadaplah ke diniding." Ia pun menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan kedua siku tangannya, sambil bola pantatnya menungging yang membuatku leluasa memandangi bentuk indah kewanitaannya dari arah belakang. Otot betisnya semakin terlihat melonjong karena ia masih memakai sepatu pump hak tinggi. Aku menciumi punggungnya, lalu turun ke buah pantatnya, dan kini aku menjilati sepanjang belahannya. Aku meremas-remas kedua bola pantatnya, sambil jilatanku beranjak turun melewati anus dan mulai menyentuh kewanitaannya. Aku berlutut dan mendongakkan kepalaku ke atas dan kembali aku menjilat-jilat nikmat kewanitaannya. Kini giliran kacang kecil merahnya yang aku sedot dan aku tekan-tekan dengan lidahku yang bergerak liar berputar-putar. Hal ini menyebabkan hidungku terasa menekan-nekan, melesak ke dalam lubang kewanitaannya. "Hmmmm... enaaak..."

Lima menit kemudian aku merebahkan tubuh indah Eksanti di atas tempat tidur. Aku di atas, dalam posisi 69. Tubuhku sedikit bergerak naik turun sehingga menyebabkan kejantananku keluar masuk mulut Eksanti dengan lancar. Sementara itu aku menjilati kewanitaannya, dengan gerakan kepala yang agak maju mundur (seperti posisi push up yang disertai gerakan diving maju-mundur) sehingga lidahku memberikan tekanan ekstra, yang lebih keras dan lebih cepat pada dinding-dinding kewanitaan Eksanti.

Ketika Eksanti sudah sangat terangsang, tiba-tiba kegiatan itu aku hentikan. Aku kembali ke sofa, dan aku mengenakan kondom yang tadi telah aku beli sebelumnya. Ketika aku kembali, aku melihat Eksanti sedang meremas-remas sendiri kewanitaannya. Ia sudah sangat menginginkan datangnya klimaks lagi rupanya. Mukanya tampak agak kesal dan tampak mulai frustrasi, tetapi begitu ia melihat kejantananku telah mengenakan kondom, senyumnya kembali mengembang. Lidahnya keluar membasahi bibirnya. “Ayo.. cepat Mas, bara birahiku sudah siap meledak, membakar”, Eksanti berkata dalam hati.

Aku membimbing Eksanti berdiri, kami saling berhadapan. Kaki kanan Eksanti aku naikkan ke atas kursi dan Eksanti dengan tangan kirinya memasukkan kejantananku ke dalam celah sempit kewanitaannya. Aku memompa maju mundur selama sekitar lima menit, lalu aku mengitari badan Eksanti, dan kini aku memasukkan kejantananku dari arah belakang. Lima menit kemudian aku menurunkan kaki Eksanti, sehingga kini kedua tangannya yang memegang pegangan kursi. Gerakan memompaku makin cepat. Kadang diselingi dengan gerakan memutar, kadang kaki kanannya aku majukan sedikit sehingga kejantananku masuk tidak lurus tetapi lebih menekan dinding samping kiri kewanitaannya. Tidak beberapa lama kemudian ia meregang, "Ooocch... mmm.. my God...!." Dan ia mencapai klimaksnya lagi. Aku menarik tubuhnya. Aku memeluk sambil tanganku meremas-remas kasar, mengusap-usap lembut kedua bukit payudaranya untuk memperlama masa orgasme yang dialaminya.

Tidak lama setelah orgasme Eksanti lewat, aku membaringkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Aku melepaskan kedua sepatunya, pantatnya menghadap ke arahku dan aku masukkan lagi kejantananku ke dalam lubang kewanitaannya dari arah belakang. Setelah beberapa menit aku menggoyang maju mundur, yang sangat menekan-nekan dinding kanan kewanitaannya, lalu aku memutar tubuh Eksanti hingga berlutut menghadap ke arah kaca rias. Kami melakukan gaya doggy style. Karena irama kecepatan gerakanku pelan, tetapi sangat keras ketika menancapkan kejantananku, maka begitu keras bunyi pahaku ketika beradu dengan pantatnya, slap... slap... Eksanti mulai tampak tersengal-sengal dan akhirnya kepalanya jatuh ke atas tempat tidur. Aku tetap menggoyang-goyangkan buah pantatnya, lalu tiba-tiba aku melepas kejantananku perlahan.

Wajah Eksanti tampak bertanya-tanya, gaya apa lagi yang akan aku lakukan. Aku berbaring, dan kini tubuh Eksanti yang duduk tegak, naik turun di atas tubuhku. Tangan kami saling berpegangan untuk memberi extra support bagi tubuh Eksanti yang naik turun cukup tinggi. Kejantananku sering hampir terlepas setiap kali ia menaikkan tubuhnya. Kedua mataku tak henti-hentinya memandangi payudaranya yang terayun-ayun indah. Menjelang datangnya klimaks kam berdua, kembali aku memeluk erat tubuh Eksanti. Kini ia yang berbaring. Aku mengangkat kedua kakinya ke atas bahuku, dan aku bergerak maju mundur. Kadang aku satukan kedua kakinya sambil tetap memompa. Kadang kedua kaki itu aku miringkan 45 derajat sambil terus maju mundur berirama, yang semakin lama semakin cepat... dan semakin cepat lagi.

Klimaks Eksanti yang telah tertunda kini mulai mendekati puncaknya. Aku merebahkan kedua lututnya ke depan, sehingga aku setengah berdiri sambil terus memompanya, dengan irama kecepatan yang semakin laam semakin tinggi. Rasanya puncak nikmatku pun mulai akan segera datang, dan aku tidak akan mampu menahannya lebih lama lagi.
"Lebih cepattt Mass.. lebih kerasss... Mass...", jerit Eksanti. Irama yang makin cepat dan tekanan yang makin kuat membuat seluruh batang kejantananku benar-benar merasakan remasan kuat dinding-dinding kewanitaan Eksanti yang sangat basah.
“Pijat punyakuuu..., remass punyakuu..., perasss punyakuuu.. Santiii...”, aku membalas jeritannya.
"I aaammm cummminggg... aaacchhhh...", kata Eksanti yang langsung aku ikuti, "Aacchhh... aacchhh...", dan lava kentalku yang telah cukup lama mendesak-desak di dalam kejantananku, tiba-tiba meledak muncrat dengan kuatnya di dalam kondom yang berada di dalam kewanitaan Eksanti... plash.. plash.. plash (8x).

Peluh kami bercucuran. Aku bertopang pada kedua siku tanganku, di atas tubuh molek Eksanti. Eksanti mengunci erat pinggangku dengan kedua kakinya, sambil tangannya memeluk erat leherku. Aku mencium keningnya lembut, di tengah nafas kami berdua yang masih tersengal-sengal. Aku memandang ekspresi nikmat wajah cantiknya. Sesaat setelah nikmat orgasme kami berlalu, aku melihat setetes air mata jatuh di pipinya. Aku mencoba untuk bergerak mundur, tetapi Eksanti menahan gerakanku.

"Kamu menyesal?" aku bertanya lirih dengan berhati-hati, sambil menyeka air matanya.
"Nggak, Mas. Bukan karena itu", jawabnya dengan mata berbinar. "...justru aku merasa sangat bahagia, aku terharu, Mas...". Ia tersenyum. "...selain dengan kamu, belum pernah aku merasakan orgasme yang seindah ini, Mas", lanjutnya.
Lalu ia mencium bibirku, dibelainya lembut kepalaku. Sambil tersenyum ia berkata, "Terima kasih Mas, kamu baik sekali padaku", ia masih terus mengelus-elus rambutku mesra.
Kami berciuman lembut. Saat aku merasakan kejantananku telah mengecil, aku mencoba menariknya dari dalam kewanitaan Eksanti, namun ia masih menahanku. Aku mengatakan, "Santi, punyaku ‘kan masih pakai sarung."
Ia menjawab, "Ooo ouuw... sorry." Dan akhirnya ia melepaskanku. Aku pergi ke kamar mandi melepas kondom, pipis dan cuci tangan. Lalu aku membuka kran shower air hangat.

*******

Aku kembali ke tempat tidur, lalu aku membopong tubuh Eksanti dan kami pun mandi bersama. Kami saling menyabuni, dengan wajah penuh senyum puas. Setelah selesai berbilas dan saling mengeringkan badan, dengan hanya berlilitkan satu handuk besar, kami kembali ke tempat tidur. Eksanti melepas handuknya, kami berdua telanjang, dan aku membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Aku beranjak sebentar, lalu kembali dengan dua kaleng minuman dingin yang masih penuh isinya. Setelah meminum dua tiga teguk panjang, kami berbaring telanjang saling berhadapan dengan muka tersenyum.
"Mas, terima kasih yaa.. untuk kenikmatan yang barusan kamu berikan tadi", katanya.
"Sama-sama," aku menjawab. "Sayang yaa..., kita sama-sama masih menjadi milik orang lain?", lanjutku dengan nada berbisik.
"Tapi itu tidak akan menghalangi kita untuk bisa tetap berteman intim selamanya ‘kan?", kata Eksanti menatap, memohon.
"Well, kita adalah dua orang yang sedang kesepian Santi dan kebetulan gaya bicara kita bisa saling nyambung. Jadi, untuk yang satu itu, kita lihat saja nanti yaa..," aku berkata tegas. Eksanti langsung menerjang, memelukku. Diciuminya kening, mata, pipi hidung dan mulutku.
"Thanks Mas, that’s all that I needed for now on", sambil kembali menatapku mesra.
Sementara aku bertanya-tanya dalam hati tentang hubunganku dengan Eksanti ini, is this love or just passion?
Aku mencium bibirnya mesra... Ia masih ingin bicara lagi, tetapi aku segera meletakkan telunjukku di bibirnya. "Ssshhh... besok pagi saja lagi bicaranya, aku capek..."

Eksanti mengedipkan matanya tanda setuju. Kami masih terus berpandangan. Mata Eksanti terlihat makin sayu karena kelelahan, digesernya aku hingga terlentang dan ia pun tengkurap dengan kedua tangan memeluk leherku dan kepalanya disandarkan di dadaku. Kami pun tertidur lelap hingga pagi hari. Again..., is this love or just passion, aku benar-benar tidak tahu.


T A M A T



Eksanti, Rahasia Dapur

Sejak aku dan Eksanti memiliki keberanian untuk bercinta di tempat kostnya, aku semakin sering mampir ke sana. Eksanti sendiri nampaknya juga tidak terlalu khawatir bahwa teman-teman di kostnya akan curiga dengan hubungan kami. Toh banyak pula diantara mereka yang sering mengundang pacarnya untuk menginap di tempat kost itu.

Selain itu, hubungan Eksanti dengan Mas Yoga-nya juga belum terlalu membaik. Sebenarnya Eksanti sendiri juga sudah mulai melupakan ‘pengkhianatan’ yang dilakukan Yoga, dan mau saja ia memaafkannya. Bagaimanapun Eksanti juga merasa telah melakukan hal yang sama terhadap Yoga, dengan menerima kehadiranku di sisinya. Yoga sendiri, walaupun masih sangat mencintai Eksanti, namun belum memiliki keberanian untuk datang menemui Eksanti kembali. Seperti kejadian malam itu..

Eksanti mengundang aku untuk datang ke tempat kostnya Jumat siang itu, ia akan memasak nasi goreng sosis kesukaanku. Eksanti juga mengatakan di telepon, dengan suara manjanya, bahwa aku bukan hanya diundang makan malam. Aku juga diminta untuk menemani rasa sepinya dengan menginap di sana. Aku terbahak mendengar ucapan Eksanti yang terus terang itu. Permintaan Eksanti memang masuk akal. Akhir minggu itu memang hari-hari terakhir menjelang libur panjang akhir tahun, sehingga seluruh teman-teman kostnya telah pulang ke daerah asal mereka masing-masing. Sementara, ibu kost meminta Eksanti tinggal sampai dengan hari Minggu malam untuk menjaga rumah, karena mereka sekeluarga akan pergi ke Bandung untuk menghadiri acara resepsi pernikahan salah satu saudaranya. Sehingga akhirnya hanya ada Eksanti seorang diri di pavilion kost, sementara soerang pembantu lain tinggal di rumah induknya.

*******

Ketika aku tiba di rumah kost Eksanti, ia tampak sedang menyiapkan nasi goreng sosis di sebuah pantry kecil di dalam pavilion itu. Ia segera menawarkan minuman kepadaku dan mempersilakan aku untuk mengambilnya sendiri dari dalam kulkas kecil di sudut pantry itu. Aku memilih sekaleng coca cola kesukaanku. Sambil mengobrol kiri-kanan, Eksanti meminta maaf kepadaku, karena ia harus kembali bekerja di pantry untuk menyiapkan makanan.
Aku mengatakan, "Nggak masalah, Santi ", lalu ikut menyusulnya ke pantry yang terletak di bagian belakang kamarnya.

Aku berdiri di pintu pantry dengan sekaleng coca cola dingin di tanganku, melihat Eksanti sibuk mencuci sayuran segar untuk pelengkap nasi gorengku nanti, di sebuah pinggan keramik bermotif ikan-ikan kecil warna-warni. Pantry di rumah kost Eksanti, walaupun ukurannya relatif kecil tetapi sangat bersih. Di tengah-tengah ruangannya terdapat sebuah meja, tempat Eksanti saat ini menyiapkan masakannya itu. Tubuhnya membelakangiku, hanya dibungkus rok span pendek dari kain tipis dan badannya dibalut kaos tanpa tangan. Sambil berbicara kesana-kemari, aku diam-diam memandangi tubuh itu. Jelas sekali, tubuhnya yang menggairahkan itu tidak memakai sepotong pakaian dalam pun. Tidak ada celana dalam, tidak ada bra. Kain tipis yang dipakai sebagai rok itu, tak mampu melindungi cahaya menerawang, memperlihatkan bayangan dua paha yang mulus. Kaosnya juga terlalu sempit, tidak bisa menyembunyikan keindahan payudaranya yang padat membusung itu.

Pemandangan seperti itu adalah magnet yang amat kuat, menarikku untuk segera mendekat. Diam-diam aku meletakkan kaleng minumanku, lalu berjalan tanpa suara. Sekejap aku sudah sampai di belakang Eksanti, dekat sekali.. sehingga seluruh harum tubuhnya tercium dengan jelas. Lalu aku mencium tengkuknya.
"Hei..!" Eksanti menjerit kaget, "Mas, jangan nggangguin Santi dong.., ntar makanannya jadi nggak enak lho!".
Aku tidak peduli. Aku terus menciumi tengkuk yang dipenuhi rambut-rambut hitam halus itu. Harum sekali tengkuk itu. Eksanti menggeliat, mencoba menghindar. Tetapi nyatanya ia tidak sungguh-sungguh menghindar. Cuma bergerak-gerak sedikit saja. Apalagi aku kini mendesak ke depan, menyebabkan Eksanti terjepit di antara tubuhku dan meja pantry-nya. Tanganku mengusap-usap bukit indah di belakang Eksanti, sesekali meremasnya. Tanganku yang lain telah merayap ke depan, menjamah sebuah payudara Eksanti yang bergoyang-goyang seksi setiap kali ia menggelinjang.
"Oocch, Mas.. jangan sekarang..," Eksanti mendesah, menggerak-gerakan bahunya mencoba menhindari ciumanku di sepanjang pangkal lehernya.
Tetapi dalam hatinya, ia berkata lain, dan berharap aku tidak segera mengakhirinya.

Aku memang tidak berhenti. Tanganku merayap ke bawah, menyingkap rok yang dikenakan Eksanti. Memang betul, ia tidak bercelana dalam, dan pemandangan indah segera terpampang. Eksanti memiliki bagian belakang yang mempesona, kenyal-padat dan menonjol mengundang selera. Dengan gemas aku meremas-remas, membuat Eksanti menjerit kecil sambil menahan geli. Kedua tangan Eksanti kini tak bisa meneruskan pembuatan nasi gorengnya, dan berpegangan di bibir meja, antara bertahan dan menyerah. Dengan jari tengahku, aku menelusuri celah sempit di antara dua bukit kenyal di bokong yang seksi itu. Eksanti menggelinjang merasakan kenikmatannya mulai terbangun di bawah sana. Apalagi lalu jari itu semakin lama semakin ke bawah, lalu agak ke depan, menyelinap ke gerbang kewanitaannya dari belakang. Wow! Eksanti merenggangkan kedua pahanya, tidak tahan mendapat perlakuan seperti itu.

Sementara tanganku yang lain kini masuk menelusup ke kaos Eksanti, menjalar menuju bukit payudaranya yang membusung. Oocch.., hangat sekali telapak tanganku merayapi perutnya, naik ke bagian bawah dadanya, lalu menyelinap di antara kedua payudaranya, sebelum akhirnya naik ke salah satu puncaknya.

Eksanti menggeliat dan mengerang pelan ketika telapak tangan itu berputar-putar ringan di atas puting susunya. Oocch.., geli sekali rasa puncak-puncak payudara Eksanti, membuat tubuhnya bergetar pelan. Kepala Eksanti berputar-putar seperti seorang olahragawan sedang warming up, karena bibirku menjalari lehernya, mengendus-endus tengkuknya lagi, membuat Eksanti kegelian.

Tiba-tiba aku membalikkan tubuh Eksanti, membuat ia menjerit kaget. Dengan segenap kekuatanku, aku sanggup memutar tubuh rampingnya dengan cepat. Tidak itu saja, aku bahkan sudah mengangkat Eksanti dan mendudukkannya di atas meja pantry yang di sana-sini dipenuhi bahan-bahan mentah masakannya: nasi putih, sosis, sayuran, sambal, saus tomat, minyak dan mentega. Lalu, aku berjongkok, dan Eksanti tahu apa yang akan aku lakukan. Dengan gerak cepat, aku menyingkap roknya, sehingga membuat kewanitaannya terpampang bebas dalam terang lampu pantry yang bagai siang hari. Jelas sekali terlihat kewanitaan Eksanti yang terbalut bulu-bulu hitam lebat tetapi sangat rapi karena baru dicukur, harum karena baru dibasuh sabun wangi.

Bentuknya menyerupai buah ranum dengan belahan di tengah, menggiurkan sekali. Belahan itu lah yang segera aku ciumi, akut telusuri dengan lidahku, membuat Eksanti merintih nikmat dan memperlebar kangkangannya. Aku pun membantu dengan tanganku, mendorong kedua paha Eksanti agar lebih jauh terbuka.

Kewanitaan Eksanti seperti direntang, kedua bibir-bibirnya yang tebal itu terkuak, menampakkan lembah merah-muda yang halus seperti sutra dan licin seperti diminyaki. Aku menjilati bagian yang terkuak itu, mendesak-desakkan lidahku yang panjang ke dinding-dinding kewanitaan Eksanti, menimbulkan perasaan yang tak terperi dalam dirinya.
"Occhh.., acchhh...,nggg..," cuma itu yang bisa keluar dari mulut Eksanti.
Ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan kenikmatan yang sedang dirasakannya.

Eksanti tak kuasa menahan tubuhnya rebah di meja pantry. Untunglah meja itu cukup lebar untuk menampung seluruh badannya, walau kedua kakinya tetap bergelantungan, disangga oleh bahuku. Rasa geli dan nikmat menjalar ke seluruh tubuh Eksanti, meletup-letup seperti air mendidih. Apalagi ketika lidahku bermain-main di daging kecil yang menonjol dalam lempitan bagian atas kewanitaannya. Aku menggunakan jari-jariku untuk menguak persembunyian "Si Kecil Merah" itu, menarik ke atas kulit tebal yang menyembunyikannya, sehingga tonjolan kecil yang berdenyut-denyut lemah itu kini bebas terbuka. Dengan ujung lidahku, aku menjilati si kecil, mengirimkan sejuta kenikmatan yang menjalar cepat ke seluruh tubuh Eksanti, membuat wanita itu merintih-rintih dan mengerang keras. Salah satu tangan Eksanti tak sengaja menyentuh botol saus tomat, menyebabkan isinya tumpah di atas meja. Terkejut, Eksanti bangkit dan memintaku berhenti sebentar. Bukan saja ia ingin menghentikan tumpahan saos tomat, tetapi ia juga punya ide cemerlang!

Aku menghentikan ciumanku, sambil tetap menyenderkan kepalaku di paha Eksanti yang putih mulus itu.
Lalu aku mendengar Eksanti berkata, "Kita main-main dulu yaa.., Mas?"

Belum lagi aku menjawab dan mengerti apa maksud ucapannya, Eksanti telah menuangkan saos tomat ke kewanitaannya. Tersentak, aku mengangkat wajahku dan memandang takjub, melihat saos tomat berleleran keluar dari botol dan memenuhi celah kewanitaan Eksanti. Acch,.. sebuah permainan baru!
"Mas, bersihkan saus tomat itu dengan mulutmu, please..," desah Eksanti nyaris tak terdengar.
Botol saus tomat telah diletakkannya kembali.

Tanpa banyak bicara, aku langsung menjilati saos tomat itu. Eksanti mendesah, memandangi kewanitaannya dilahap oleh mulutku. Oocch.., menggiurkan sekali pemandangan itu. Nikmat sekali rasanya "dimakan" seperti itu, dibumbui saos tomat. Eksanti mengerang, merasakan orgasme pertamanya akan segera tiba. Ia merebahkan kembali tubuhnya ketika aku tidak lagi hanya menjilat, tetapi juga mengulum-ngulum "Si Merah Kecil" yang dipenuhi saos tomat, menyedot-nyedotnya seperti hendak membuatnya licin bersih. Seketika, Eksanti merasakan klimaks yang bergelora menyergap seluruh tubuhnya, dimulai dari selangkangannya dan menyebar cepat ke atas, membuatnya menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Aku terus menyedot, mengulum, mengunyah-ngunyah. Eksanti berteriak-teriak kecil, tak tahan menerima kenikmatan yang bertubi-tubi itu.

Lalu permainan kami semakin menggila. Semakin spontan. Aku menemukan sebuah sosis matang tergeletak di dekatnya. Aku mengambil sosis sebesar ibu jari itu, dan sebelum Eksanti tahu apa yang terjadi, sosis itu telah melesak ke dalam kewanitaannya. Tadinya, Eksanti mengira itu salah satu jariku, dan ia mengerang merasakan kenikmatan diterobos daging licin. Tetapi dengan takjub ia kemudian sadar bahwa "jari" itu perlahan-lahan aku makan, aku tarik keluar sedikit-demi-sedikit. Eksanti bangkit lagi, memandangiku dengan lahap memakan sosis yang agak basah berlumuran cairan cintanya. Aacch.., menggairahkan sekali pemandangan itu. Dengan segera Eksanti mengambil lagi sebuah sosis. Ketika sosis pertama selesai aku makan, dengan segera Eksanti memasukkan sosis yang baru. Dengan cepat sosis ini aku makan pula. Lalu yang ketiga. Keempat..

Eksanti meregang merasakan kenikmatan yang unik menyerbu tubuhnya. Orgasme datang lagi bertubi-tubi, sementara aku merasa birahiku semakin meningkat setelah menikmati sosis yang fresh from the oven itu!

Aku bangkit, mengeluarkan kejantanan dari celanaku. Besar dan tegang sekali kejantananku. Eksanti melirik ke bawah dari posisi berbaringnya.. Oocch, memandang kejantananku saja sudah cukup memberinya semangat baru. Eksanti sangat menyukai milikku yang satu itu, sangat kenyal dan kuat, mampu bertahan dalam percumbuan yang panjang menggairahkan. Sambil mengerang, Eksanti membuka kedua pahanya lebih lebar lagi, meletakkan tumit-tumitnya di pinggir meja. Dengan posisi seperti ini, Eksanti bagai hewan kurban yang siap disembelih, di atas altar kenikmatan yang dipenuhi bahan-bahan masakan!

Pelan-pelan aku menuntun kejantananku memasuki gerbang kewanitaannya. Kenyal sekali liang yang basah oleh aneka cairan itu, termasuk saos tomat dan kuah sosis. Aku mula-mula menggosok-gosokan bagian kepala dari kejantanannya yang telah membesar itu. Oocch.., Eksanti merasakan kegelian yang amat-sangat, membuatnya bergidik-bergeletar.

Lalu, perlahan-lahan aku mendorong kejantanannya masuk. Perlahan sekali, mili demi mili batang-otot yang panas-berdenyut itu melesak ke dalam.
"Ah.. acchh.. acchhh.. accchhh.." Eksanti mengerang setiap kali kejantananku menerobos masuk. Setiap mili gerakanku menimbulkan percikan nikmat, sehingga ketika akhirnya seluruh kejantanan itu tenggelam di dalam kewanitaannya, Eksanti langsung mencapai orgasme ketiganya. Cepat sekali puncak birahi itu datang bergantian. Padahal aku belum lagi bergerak maju-mundur.

Aku lalu menaburkan sayuran yang tadinya tengah dicuci dan dipersiapkan sebagai pelengkap nasi goreng di atas dada Eksanti yang sedang berguncang-guncang. Warna hijau, kuning dan merah segera menghiasi tubuh putih mulus itu. Eksanti kegelian merasakan daun-daun yang basah dan dingin melekat di tubuhnya yang panas terbakar birahi. Rasa yang amat kontras ini -panas dan dingin- menambah rangsang baru di diri Eksanti. Betul-betul unik permainan cinta kami kali ini. Betul-betul spontan dan tanpa tedeng aling-aling. Inilah yang selama ini diimpikan Eksanti jika bercinta. Beruntung sekali ia mendapatkan pasangan bercinta sepertiku.

Sambil mulai menggerak-gerakan pinggulku, menghujam-hujamkan kejantananku, aku pun menunduk mulai memakani sayur-sayuran. Eksanti telah pula menaburkan saus tomat dan mentega cair di atasnya, sehingga benar-benar menjadi santapan lezat. Sedap sekali rasanya memakan sayur segar di atas tubuh wanita yang menggairahkan ini. Sambil menikmati pula cengkraman otot kenyal di bawah sana yang mengurut-urut kejantananku. Wow!

Aku bagai berada di langit ke tujuh. Fantasi seksualku tersulut dengan cepat, membakar badanku, menyediakan energi berlipat ganda untuk terus bercumbu dan bercumbu lagi.

Eksanti merintih-mengerang merasakan bagian-bagian dari tubuhnya ikut tergigit ketika aku menyantap “sayuran” di atas tubuhnya. Hal ini menambah nikmat permainan cinta kami, dan sekali lagi, tanpa dapat dicegah, orgasme keempat datang menderu memenuhi tubuh Eksanti yang memang sudah sangat sensitif ini. Sedikit saja gerakanku mampu menimbulkan kobaran birahi yang membahana. Sedikit saja aku memaju-mundurkan kelaki-lakianku, Eksanti sudah menjerit-jerit kecil merasakan kenikmatan yang berlipat ganda. Pada saat Eksanti mencapai klimaks, aku menggigit seiris tomat di puting Eksanti, dan secara tak sengaja menggigit pula puting itu. Eksanti menjerit karena ada rasa perih, tetapi jeritannya segera berubah menjadi erangan karena aku pun segera menyadari "kecelakaan" itu, dan mengubah gigitannya menjadi kuluman. Rasa perih segera bercampur dengan geli, cepat sekali membuat Eksanti menggeliat kuat dan menyerah pada gelombang-gelombang besar puncak birahinya.

Ketika semua sayuran telah habis, Aku tidak lagi memiliki kegiatan lain selain menggenjot menghujam-hujamkan kejantananku. Setelah sekian lama menahan diri dan memberikan empat orgasme kepada Eksanti, kini aku membiarkan klimaksku sendiri datang menyerbu. Aku mempercepat hujaman-hujaman kejantananku, tidak mempedulikan Eksanti yang sebenarnya belum lagi selesai dengan klimaks terakhirnya. Eksanti masih menggelepar-gelepar merasakan akhir dari klimaks itu, tetapi aku telah pula memberikannya kenikmatan baru. Tubuh Eksanti berguncang, menggeliat, meluncur hampir terjatuh dari meja yang kini penuh keringat bercampur air bekas sayuran, saos tomat, dan sebagainya. Aku cepat-cepat menahan tubuh itu, mencengkram bahunya dengan kuat. Eksanti cepat-cepat pula berpegangan pada pinggir meja.

Dengan erangan yang menyerupai banteng terluka, Aku akhirnya melepaskan salvo-salvo birahiku, menumpahkan banyak sekali lahar putih pekat yang muncrat sangat kuat dari ujung kejantananku. Eksanti entah sedang berada di langit yang keberapa, tidak bisa merasakan semprotan-semprotan hangat di dalam kewanitaannya, karena ia sendiri sedang meregang menikmati klimaks kelimanya yang datang menyambung akhir klimaks sebelumnya. Kedua kakinya erat menjepit pinggangku. Matanya terpejam. Mulutnya menganga dengan suara-suara tertahan seperti orang tercekik. Payudaranya berguncang-guncang hebat.

Sebuah desahan yang panjang akhirnya keluar dari mulut Eksanti, setelah segalanya mereda. Aku terkulai menindih tubuh Eksanti. Meja pantry berantakan. Botol saos tomat akhirnya terguling tanpa dapat dicegah. Untung botol itu kuat sehingga tidak jatuh berkeping. Tetapi isinya bermuncratan ke mana-mana, bercampur potongan-potongan sayur, tebaran nasi putih yang belum sempat di masak, lelehan mentega cair dan beberapa buah tomat yang jatuh bergelindingan. Kacau sekali!

"Oocch, Mas.. kamu harus membantu Santi membersihkan pantry!" begitu kata Eksanti setelah kami mampu berbicara lagi.
Berdua kami tertawa terbahak-bahak mengenang kegilaan-keedanan yang baru saja kami lalui.

Makan malam kali ini terpaksa ditunda. Setelah membersihkan pantry, Eksanti dan aku kehilangan nafsu makan. Sebaliknya, setengah jam kemudian kami telah terlihat bergumul di kamar tidur. Percumbuan dilanjutkan, tetapi dengan tempo yang jauh lebih lambat, dan dalam rentang waktu yang jauh lebih lama.

Kami tak perlu khawatir, karena di seberang tempat kost Eksanti ada restoran nasi goreng yang buka 24 jam.


T A M A T



Eksanti, Uji Kesetiaan - 1

Kejadian ini berlangsung sekitar bulan September 2000 yang lalu. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. Yang aku ingat, saat itu hubungan Eksanti dengan Yoga sudah membaik, bahkan aku mendengar mereka telah bertunangan dan berencana untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Ketika itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yang sama di daerah Selatan - Jakarta, meskipun berbeda kamar, karena saat itu Yoga sedang mendapat training di Jakarta selama 6 bulan.

Sebagai bekas teman dan atasan Eksanti, aku memang pernah dikenalkan dengan Yoga. Yoga ternyata begitu cemburuan. Memang harus aku akui kalau Eksanti memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Yoga itu. Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yang biasa kalau serorang lelaki yang penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang pacar yang cantik. Aku mengatakan Eksanti cantik, bukan merupakan penilaianku yang subyektif. Banyak teman-temanku lain yang juga berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat sama, bahwa Eksanti memiliki sex appeal yang luar biasa tinggi. Bagi kaum lelaki, jika memandang mata Eksanti, boleh jadi langsung akan berfantasi macam-macam. Percaya atau tidak, mata Eksanti begitu sayu seolah-olah ‘pasrah’ ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka digigit-gigit, kalau Eksanti sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yang sangat eksotis dan sensual.

Ketika aku sempat mengobrol dengan Yoga minggu sebelumnya, secara tidak sengaja kami menemukan suatu peluang bisnis yang mungkin bisa dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya. Pikiran dagangku segera jalan dan aku menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal kepada Yoga untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang.

Siang itu, sehabis meeting dengan salah satu klienku di sebuah kantor di daerah Kuningan, aku berencana untuk mampir ke rumah kost Yoga – yang juga rumah kost Eksanti - untuk menitipkan proposal yang aku janjikan. Aku mengendarai mobil menuju tempat kost Yoga. Sesampainya di sana, aku melihat garasi tempat mobil Yoga biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Yoga sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Yoga.

Setelah aku memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, aku masuk menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Yoga. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Yoga yang paling pojok, berhadapan dengan kamar Eksanti. Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Yoga karena memang aku sangat perlu dengannya.

Sementara aku sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Eksanti, di depan kamar Yoga, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Eksanti, bukannya orang lain. Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Eksanti. Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan aku melihat wajah Eksanti tampak dari celah pintu yang terbuka.

"Eh, Mas.. cari Mas Yoga yaa.. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Yoga buru-buru berangkat Mas", jawabnya sebelum aku bertanya.
Entah mengapa, ketika menatap mata Eksanti yang sayu itu, pikiranku jadi teringat masa-masa indah yang pernah kami alami dulu.
Aku sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya, "Kamu nggak ke kantor hari ini ?"
"Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Santi bangunnya kesiangan, jadi males banget ke kantor", jawabnya singkat, sambil menggigit bibir bawahnya.
Ada rasa menyesal kenapa dia harus membolos ke kantor hari ini.
"Terus, Yoga biasanya jam berapa pulangnya, Santi?", tanyaku sekedar berbasa-basi.
"Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Yoga hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya", jawabnya agak kesal.
Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Yoga pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal.

Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengan Eksanti. Agak lama aku terdiam. Aku memandang matanya, memandang bibirnya yang basah. Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yang tipis dan memang sangat indah itu. Semakin lama aku melihatnya semakin aku berfantasi macam-macam. Sungguh, jantungku deg-degan saat itu. Mata Eksanti tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Sebuah desiran hangat mengalir keras di dadaku, dan aku sungguh yakin Eksanti pun masih memiliki getar rasa yang sama denganku.

Setelah agak lama kami terdiam, "Teman-teman kamarmu yang lain lagi pada kemana semua, Santi?", dengan mata menatap sekeliling aku bertanya sekenaku, menanyakan keberadaan anak-anak kost yang lain.
"Mas ini mau nyari Mas Yoga atau..", kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja.
"Aku juga pengin ketemu denganmu, Santi!", jawabku berpura-pura.
Dia tertawa pelan, "Mas, kenapa, sih?", ia memandangku lembut.
"Boleh aku masuk, Santi? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,", jawabku lagi.
"Sebentar, ya.. Mas, kamar Santi lagi berantakan nih!"

Eksanti lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang pintu terbuka kembali, lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam kamarnya. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Eksanti masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku menatap tubuh Eksanti yang membelakangiku.

Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yang memperlihatkan pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. Kejantananku menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah dengan khayalanku dulu, ketika aku memiliki kesempatan membelai-belai lembut kedua pangkal pahanya itu.

Kemudian Eksanti duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Eksanti. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang sedang aku nikmati.

"Mas, mau bicara apa, sih?", katanya tiba-tiba.
Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma ada khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya.
"Mmm.. San.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,", kataku berbohong. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu.
"Mimpi tentang apa, Mas?", kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.
"Tentang kamu, San", jawabku pelan.
Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku. Sampai-sampai Eksanti menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras.
"Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?", tanyanya penasaran.
"Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu", jawabku sambil tertunduk.

Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku benar-benar terkejut lalu menoleh ke arahnya.
"Mas ini ada-ada saja, Mas ‘kan sekarang sudah punya yang di rumah, lagian aku juga ‘kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?"
"Makanya aku juga bingung, Santi. Lagian kalaupun bisa, aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Santi", jawabku pura-pura memelas.
Kami sama-sama terdiam. Aku meremas jemari tangannya lalu perlahan aku mengangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba wajahnya berpaling sehingga mulutku mendarat di pipinya yang mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya.

Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Aku meraup mulutnya seketika dengan mulutku. Eksanti menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku.
"Mas.., cukup mas!", tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.
Aku menghentikan aksiku, lalu pura-pura meminta maaf kepadanya.
"Maafkan aku, Santi.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu", aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku.
"Aku mengerti Mas, aku juga nggak bisa menyalahkan Mas karena mimpi-mimpimu itu. Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas", sepertinya Eksanti memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan.
Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi.
"Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi.."´ kalimatnya terputus.
Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat "ingin membantu.." yang diucapkannya.
"Santi, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.., sebelum kamu benar-benar menjadi milik Yoga. Agar aku bisa melupakanmu", kataku memohon.
"Kita kan sama-sama sudah ada yang punya, Mas.. , nanti kalau ketahuan gimana?"
Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan sama Yoga.
"Seandainya ketahuan... aku akan bertanggung jawab, Santi", setelah itu aku memeluknya lagi.
Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut membalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra, sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang. Eksanti mendesah. Aku menciumi kulitnya dengan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Eksanti diam saja. Aku melumat bibirnya, lalu aku menjulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya yang seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya.

Kesempatan ini aku gunakan untuk membelai payudaranya. Perlahan telapak tanganku aku tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada pada sisi payudaranya. Aku benar-benar hampir tidak bisa menguasai birahiku saat itu. Apalagi aku sudah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini terulang lagi bersamanya.

Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas dadanya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang seperti ini yang paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai meremas payudaranya yang sebelah kanan, tangan Eksanti mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya.
"Mas , jangan sekarang Mas.. Santi takut...", katanya berulang kali.
Aku juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada orang lain yang melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya.

Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Aku bukanlah tipe laki-laki yang suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah percintaan.

Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Eksanti, sedangkan Eksanti masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak kusut.
"Mas, mau ngajak Santi ke mana, sih", Eksanti menatap wajahku.
"Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kita, Santi", jawabku sambil memandang permukaan dadanya yang baru saja aku remas-reMas. Eksanti duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku.

"Tapi kalau ketahuan.. Mas yang tanggung jawab, yaa..", katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi.
Aku mengangguk.
"Terus kapan jalan-jalannya, Mas ?",
"Gimana kalo besok sore jam 4, besok ‘kan Jum’at, bisa pulang lebih awal ‘kan?", tanyaku.
"Ketemu di mana?", tanyanya penasaran.
"Kamu telepon aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan menjemputmu di sana, gimana?", tanyaku lagi.
Dia tersenyum menatapku, "Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan.", Aku tertawa.
"Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi!!,", tegasnya.

Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Eksanti seperti dulu lagi. Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin mengajaknya menginap, kalau dia mau. Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab, seandainya aku tidak berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah.

Pukul 3 siang, akhirnya aku harus kembali ke kantorku, di samping memang Eksanti juga meminta aku segera pulang karena dia juga takut kalau tiba-tiba Yoga memergoki kami sedang berdua di kamar. Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Eksanti sekali lagi waktu berdiri di samping pintu. Aku malah sempat menekan tubuh Eksanti hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini aku gunakan untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan.


Bersambung ke bagian 2



Eksanti, Uji Kesetiaan - 2

Lanjutan dari bagian 1


Di kantor..., di rumah.. aku selalu gelisah. Kejantananku senantiasa menegang membayangkan apa yang telah dan akan aku lakukan terhadap Eksanti nanti.

Keesokan harinya, disaat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu berjalan begitu lambat. Hingga pukul 5 sore, seperti waktu yang telah kami sepakati kemarin, aku sedang menanti-nanti telepon dari Eksanti. Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Eksanti belum juga meneleponku. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Seketika aku mengangkat telepon itu. Dari seberang sana aku mendengar suara Eksanti yang sangat aku nanti-nantikan. Eksanti meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal. Banyak pekerjaannya yang menumpuk, karena kemarin ia tidak masuk ke kantor. Saat itu ia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya. Aku langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan bergegas menuju wartel tempat di mana Eksanti sedang menungguku.

Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang aku melihat Eksanti keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan celana jeans warna abu-abu. Blazer kerjanya telah ia lepas, dan ditenteng bersama tas kerjanya. Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian casual setiap hari Jum’at. Eksanti langsung naik ke atas mobilku, setelah memastikan tidak ada orang lain yang mengenalinya di tempat itu.

Aku tersenyum memandangnya. Eksanti kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya tidak dipoles dengan lipstik merah seperti biasanya. Ia hanya menyapukan lipsgloss tipis, yang membuat jantungku semakin deg-degan. Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol.

Selama di perjalanan, aku dan Eksanti bercerita tentang berbagai hal, termasuk Yoga dan kehidupan keluargaku. Sesampainya di Ancol aku mengajak Eksanti untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yang nuansa romantisnya sangat terasa. Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Eksanti, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Eksanti juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan di rumah makan itu, yang ruangannya disekat-sekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang cukup tinggi, membuat aku bisa bertindak leluasa kepada Eksanti.

"Tadi malam mimpi lagi, nggak?", tanyanya memecah keheningan.
"Nggak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu", jawabku tanpa malu-malu.
Eksanti tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah cottages di kawasan Ancol. Semula Eksanti menolak, karena dia takut kalau kami tidak bisa menahan diri. Aku akhirnya meyakinkan Eksanti bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja.

Akhirnya Eksanti mengalah. Ketika kami telah berada di dalam kamar cottages itu, Eksanti tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi memandang ke arah laut, sementara aku rebahan di atas tempat tidur. Aku mencoba mencairkan suasana, dengan kembali bertanya mengenai kesibukan pekerjaannya hari itu. Selama aku bertanya kepadanya, ia cuma menjawab singkat dengan kata-kata iya dan tidak. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Mas, pasti kamu menganggap aku cewek murahan, yaa.. kan?", akhirnya Eksanti mau mulai membuka pembicaraan juga. Ternyata, dengan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Yoga, Eksanti masih belum bisa menerima perlakuanku yang membawanya ke dalam cottages ini. Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamarnya. Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan sedikitpun.

"Santi, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja bersamamu, sebelum Yoga benar-enar menikahi kamu. Aku hanya ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan aku rasa di sinilah tempatnya", jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.
"Tetapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yang lebih dari itu?", Eksanti menatapku dengan sorotan mata tajam.
"Kalau kamu gimana?", aku malah balik bertanya.
"Aku tanyam, kok malah balik nanya ke aku sih?", ia bertanya dengan nada agak ketus.
"Aku sanggup, Santi", tegasku.
Akhirnya dia tersenyum juga. Eksanti lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Janji ya, Mas.. !", ujarnya lagi. Aku mengangguk.

Kini aku memeluk tubuh indah Eksanti dengan posisi menyamping, sedang Eksanti rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Aku mencium pipinya, sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Aku memandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung, lalu bibirnya. Aku tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Aku melumat bibir tipis itu dengan mesra, lalu aku mulai menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Cukup lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tersengal-sengal tidak beraturan.

Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi.. dan lagi.. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Eksanti, kini mulai aku aktifkan. Aku membelai, meremasi pangkal lengannya yang terbuka. Aku membuka telapak tanganku, sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil tetap membelai lembut pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak tanganku meraup bukit indah payudaranya. Eksanti menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur, menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yang jenjang.

"Mas, jangan..!", Eksanti mencoba menarik telapak tanganku yang kini sedang mereMas, menggelitik payudaranya. Aku tidak peduli lagi. Lagi pula dia juga tampaknya tidak sungguh-sungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya saja yang seolah melarang, sementara tangannya cuma sebatas memegang pergelangan tanganku, sambil tetap membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yang mulai mengeras membusung.

Suasana angin pantai yang dingin di luar sana, sangat kontras dengan keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Eksanti mulai merasa kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada.
"Santi, Mas sangat ingin melihat payudaramu, ‘yang..", ujarku sambil mengusap bagian puncak putting payudaranya yang menonjol. Eksanti kembali menatapku tajam. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya. Tetapi entah mengapa aku lebih suka jika Eksanti yang membuka kaosnya sendiri untukku.
"Tapi janji Mas yaa.., cuma yang ini aja", katanya lagi. Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti aku janjikan lagi.

Eksanti akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depan mataku. Aku terkagum-kagum ketika menatap dua gundukan daging di dadanya, yang masih tertutup oleh sebuah berwarna bra berwarna hitam. Payudara itu begitu membusung, menantang. Bukit-bukit di dada Eksanti naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Eksanti membuka pengait bra di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Eksanti ketika dia mencoba untuk menurunkan tali bra-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan bra-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang. Payudaranya sangat putih kontras dengan warna bra-nya, sangat terawat dan sangat kencang, seperti yang selama ini selalu aku bayang-bayangkan.

"Payudaramu masih tetap bagus sekali. Santi, kamu pintar merawat, yaa..", aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.
"Pantes si Yoga jadi tergila-gila sama dia,", pikirku.
Lalu, perlahan-lahan aku menarik turun cup bra-nya. Mata Eksanti terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna merah kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujung-ujung puncaknya begitu runcing dan kaku. Aku mengusap putingnya lalu aku memilin dengan jemariku. Eksanti mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi payudaranya.

"Egkhhh..", rintih Eksanti ketika mulutku melumat puting susunya. Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku hisap kuat-kuat sehingga membuat Eksanti menarik, menjambak rambutku. Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada Eksanti yang satunya, yang belum sempat aku nikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Eksanti. Sambil menciumi payudara Eksanti, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Eksanti.

Aku membelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Eksanti. Secara tiba-tiba, aku menghentikan kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang. Eksanti tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka pantalon warna hitam yang aku kenakan. Sengaja aku membiarkan lampu kamar cottage itu menyala terang, agar aku bisa melihat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Eksanti yang selama ini sering aku jadikan fantasi seksualku. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Eksanti yang tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yang putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna.

Puas memandangi tubuh Eksanti, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku merapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Eksanti. Aku membelai lagi payudaranya. Aku mencium bibirnya sambil aku masukkan air liurku ke dalam mulutnya. Eksanti menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans-nya yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Eksanti yang masih tertutup celana dalamnya. Eksanti menahan tanganku, ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas kewanitaannya. Ia telah basah... Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi pada tubuh Eksanti. Pinggul Eksanti perlahan bergerak ke kiri.., ke kanan.. dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.

"Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas..", ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. Sungguh, aku semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum, bahkan aku malah menyuruh Eksanti untuk membuka celana jeans yang dipakainya.

Tangan kanan Eksanti berhenti pada permukaan kancing celananya. Ia kelihatan ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini senantiasa aku mimpikan. Eksanti lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku membantu menarik turun celana jeans Eksanti. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans itu. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya tampak semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus aku akui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal.

Eksanti menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Eksanti. Kami berpelukan. Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala kejantananku. Dia tampak terkejut ketika mendapatkan kejantananku yang tanpa penutup lagi. Memang, sebelum aku masuk ke dalam selimut, aku sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Eksanti. Aku tersenyum nakal.
"Occhh...", Eksanti semakin kaget ketika tangannya menyentuh kejantananku yang telah tegak menegang.

"Kenapa, Santi?", aku bertanya pura-pura tidak mengerti. Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya kejantananku saat ini. Eksanti tersenyum malu. Sentuhan kejantananku di tangannya membuat Eksanti merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin... Kini, Eksanti mulai berani membelai dan menggenggam kejantananku. Belaiannya begitu mantap menandakan Eksanti begitu piawai dalam urusan yang satu ini.

"Tangan kamu semakin pintar yaa.., Santi", ujarku sambil memandang tangannya yang mulai mengocok-ngocok lembut sekujur kejantananku.
"Ya, mesti dong..,‘kan Mas yang dulu ngajarin Santi!", jawabnya sambil cekikikan.
Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tiba-tiba menjadi semakin liar. Namun aku tetap berusaha bertahan untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan ia benar-benar siap untuk berpaducinta denganku. Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yang aku rasakan di sepanjang kulit batang kejantananku, jari-jemariku yang nakal mulai masuk dari samping celah celana dalam Eksanti. Telapak tanganku langsung menyentuh bibir kewanitaannya yang sudah merekah basah. Jari telunjukku membelai-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga Eksantipun semakin merasakan nikmat semata.


Bersambung ke bagian 3



Eksanti, Uji Kesetiaan - 3

Lanjutan dari bagian 2


"Kamu mau mencium kejantananku nggak, Santi?", tanyaku tanpa malu-malu lagi.
Eksanti tertawa sambil mencubit batang kejantananku. Aku meringis.
"Kalau punya Mas yang sekarang, kayaknya Santi nggak bisa?", ujarnya.
"Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yang dulu dengan yang sekarang?", tanyaku penasaran.
"Yang sekarang kayaknya nggak muat di mulutku, soalnya rasanya tambah besar dari yang dulu...", selesai berkata demikian Eksanti langsung tertawa kecil.
"Kalau yang dibawah, gimana?", tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kewanitaannya.
Eksanti merintih sambil menahan tanganku. Tetapi jariku sudah terlanjur tenggelam ke dalam liang senggamanya. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Oooch.., pasti nikmat sekali kalau saja kejantananku yang diurut, pikirku. Tiba-tiba, matanya memandang tajam ke arahku, dengan muka yang agak berkerut masam.

"Kenapa, Santi, ada apa ‘yang?", aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya.
Aku tahu dia marah, tetapi apa sebabnya..?
"Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi", pikirku. "..atau dia ingat Yoga, sehingga tiba-tiba ia merasa bersalah?" "...terus ngapain dia mau aku cumbu sejak kemarin?", aku masih penasaran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"Mas ‘kan sudah janji untuk tidak melakukannya, ‘kan?", tiba-tiba Eksanti berbicara. Aku terdiam.
"Aku tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas", tambahnya memberikan pengarahan kepadaku. "Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini, Santi tidak dapat memberikan buat Mas lagi. Bukan hanya Mas yang nggak tahan, aku juga sebenarnya sudah nggak tahan.... Aku nggak munafik, Mas. Tapi.. kumohon, please.. Mas mau mengerti posisiku sekarang", sambil berkata demikian Eksanti mencium keningku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yang sudah sama-sama telanjang, kecuali Eksanti yang masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yang romantis, dapat dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi. Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat bercinta dengan Eksanti sirna sudah, atau setidaknya tidak dapat aku rasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam.

Kejantananku yang tadi aku rasakan telah tegang menantang, tiba-tiba menjadi lemas dalam genggaman tangan Eksanti. Eksanti meminta maaf kepadaku, menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Aku merasa sudah tidak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi. Aku akhirnya meminta ijin kepada Eksanti untuk mandi. Sungguh,.. aku merasa kecewa sekali.

Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam. Aku memandang tubuhku di depan cermin. Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yang mengalir deras dari shower di atas kepalaku. Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba, aku merasakan ada orang lain yang memelukku dari arah belakang. Aku terkejut, namun cuma sesaat setelah menyadari, ternyata Eksantilah yang ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku.
"Ecchh.. kamu Santi, jangan deket-deket acchh.., aku masih kesel nih!!", gumamku berpura-pura sambil mencoba membalas senyumannya.
"Aku ingin mandi bersamamu, Mas,.. boleh?", pintanya manja.
Aku tidak menjawab permintaannya. Aku langsung menarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari shower, aku menangkap lengannya, lalu memandang tajam ke arahnya. Berulang kali tanganku mencoba mengusap wajah cantik sensualnya dari guyuran air. Rambutnya yang basah semakin menambah keerotisan wajahnya.

Dengan perlahan tanganku menangkap payudaranya dan mengusap, meremas kuat. Eksanti meringis. Bukannya melarang, Eksanti malah mengambil sabun, dan mulai menyabuni tubuhku. Mula-mula dari dada, ke belakang punggung lalu menuju ke bawah, ke batang kejantananku. Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda. Diusapnya lembut batang kejantananku yang sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yang penuh dengan busa sabun, begitu lembut mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa sangat nikmat. Aku tidak tinggal diam, aku membalas menyabuni sekujur tubuh Eksanti. Aku mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku lalu aku mempraktekkan kepadanya. Aku membalikkan tubuh Eksanti, sehingga kini ia membelakangiku. Sengaja aku memposisikan tubuhnya berada di depanku, agar aku dapat melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermin di depannya. Aku melihat ekspressi wajah Eksanti pada permukaan cermin.

Mata kami beradu pandang, sementara tanganku membelai-belai payudaranya yang mulai mengeras. Aku mempermainkan puncak-puncak putungnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Eksanti. Dengan sedikit membungkukkan tubuh, aku meraba permukaan bibir kewanitaan Eksanti. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras terkena siraman air. Batang kejantananku yang kini sudah siap tempur, berada dalam genggaman tangan Eksanti. Sementara aku merasakan, celah kewanitaan Eksanti juga sudah mulai mengeluarkan cairan cinta yang meleleh melewati jemari tanganku yang kini sedang menyusuri lorong di dalamnya.

Aku membalikkan tubuh Eksanti kembali, sehingga kini posisinya berhadap-hadapan denganku. Aku memeluk tubuh Eksanti sehingga batang kejantananku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggungnya, lalu turun meraba bukit-bukit pantatnya yang membulat indah. Eksanti membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Eksanti. Aku meremas dengan sedikit agak kasar, lalu aku mengangkat agak ke atas, agar batang kejantananku berada tepat di depan gerbang kewanitaannya.

Kaki Eksanti kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki Eksanti dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya. Meski agak susah namun aku tetap berusaha agar batang kejantananku bisa masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Eksanti. Aku merasakan kepala kejantananku sudah menyentuh bibir kewanitaan Eksanti. Aku menekan perlahan, seiring dengan menarik buah pantatnya ke arah tubuhku. Eksanti menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang kejantananku ke dalam liang kewanitaan Eksanti, karena kejantananku yang terus-terusan basah terkena air shower.

Akhirnya, aku mengangkat tubuh Eksanti ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi terbukti tadi, Eksanti hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Pada saat aku membawanya menuju tempat tidur, Eksanti melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, denhan hati-hati tubuhku menyusul menimpa ke atas tubuhnya. Kami tidak mempedulikan butiran-butiran air yang masih menempel di sekujur tubuh kami, sehingga membasahi permukaan kasur.

Aku menciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat putting payudaranya. Telapak tanganku terus membelai dan meremasi setiap lekuk dan tonjolan tubuh Eksanti. Aku kembali melebarkan kedua pahanya, sambil mengarahkan batang kejantananku ke bibir kewanitaan Eksanti. Eksanti mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku menatap mata Eksanti penuh hasrat nafsu. Bola matanya seakan memohon kepadaku untuk segera memasuki tubuhnya.

"Aku ingin bercinta denganmu, Santi", bisikku pelan, sementara kepala kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Eksanti. Kata-kataku yang terakhir ini ternyata membuat wajah Eksanti memerah. Mungkin, ketika bersama Yoga, dia jarang mendengar permintaan yang terlalu to the point begitu. Aku bisa memastikan, Eksanti agak malu mendengarnya.

Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban permohonanku kepadanya, karena bagaimana pun aku tidak mau melakukan persetubuhan tanpa memperoleh persetujuan darinya. Aku bukan tipe laki-laki yang demikian. Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Eksanti menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main rasa senangnya hatiku. Akhirnya.. "....yes!". Aku berjanji akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali, begitu yang ada dalam fikiranku.

Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kejantananku yang perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang kewanitaan Eksanti. Mula-mula terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti, kepala kejantananku membelah liang kewanitaannya yang ternyata begitu kencang menjepit batang kejantananku. Dinding dalam kewanitaan Eksanti ternyata sudah begitu licin, sehingga agak memudahkan kejantananku untuk menyusup lebih ke dalam lagi. Eksanti memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli.

"Mas, gede banget, occhhh...", Eksanti menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang kejantananku.
"Pelan maaas..", ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah melakukannya dengan begitu pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kewanitaannya tidak pernah lagi dimasuki batang kemaluan seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran kejantanan Yoga, pacar Eksanti tidaklah sebesar yang aku miliki. Makanya Eksanti agak merasa kesakitan.

Akhirnya batang kejantananku terbenam juga di dalam kewanitaan Eksanti. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Eksanti. Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Aku melumat bibir Eksanti sambil perlahan-lahan menarik batang kejantananku,.. untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar...

Aku meminta Eksanti untuk membuka kelopak matanya. Eksanti menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati batang kejantananku yang keluar masuk di dalam kewanitaannya.
"Aku suka kewanitaanmu, Santi, kewanitaanmu masih tetap rapet, ‘yang", ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Eksanti masih terasa enak sekali.
"Icchhh... Mas ngomongnya sekarang vulgar banget", balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku.
"Tapi enak ‘kan, ‘yang?", tanyaku, yang dijawab Eksanti dengan sebuah anggukan kecil.

Aku meminta Eksanti untuk menggoyangkan pinggulnya. Eksanti langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya.
"Suka batang kejantananku, Santi?", tanyaku lagi. Eksanti hanya tersenyum. Batang kejantananku terasa seperti diremas-reMas. Masih ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot kejantananku.
"Makin pintar saja dia menggoyang", batinku dalam hati.
"Occhh....", aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya, dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Eksanti. Aku memperhatikan dengan seksama kejantananku yang keluar masuk lincah di sana. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Eksanti semakin melebarkan kedua pahanya, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Eksanti yang semakin tidak terkendali.

"Santii.. enak banget, ‘yang, kamu makin pintar, ‘yang..", ucapku merasa keenakan.
"Kamu juga, Mas..., Santi juga enakkkk..", ,jawabnya agak malu-malu.
Eksanti merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata-kata, "aduh..occchh..", yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan liang senggama Eksanti semakin berdenyut sebagai pertanda Eksanti akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan, untuk menurunkan daya rangsangan yang aku alami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesa-gesa.

Aku mempercepat goyanganku ketika aku menyadari Eksanti hampir mencapai orgasmenya. Aku meremas payudaranya kuat-kuat, seraya mulutku menghisap dan menggigiti puting susu Eksanti. Aku menghisap dalam-dalam.
"Occhhh... Mas...", jerit Eksanti panjang.
Aku membenamkan batang kejantananku kuat-kuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Eksanti mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya mengejang. Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya. Pada saat tubuhnya menghentak-hentak, ternyata aku merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama.
"Saaanntii... aakuu.. mau keluaaarr.. saaayang.. occchhh.. hhh..", jeritku.

Aku ingin menarik keluar batang kejantananku dari dalam liang senggamanya. Namun Eksanti masih ingin tetap merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari ujung kejantananku yang hampir meledak. Aku merasakan tubuhku bagaikan layang-layang putus yang melayang terbang, tidak berbobot. Aku tidak sempat menarik keluar batang kejantananku lagi, karena secara spontan Eksanti juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya, berulang kali. Mulutku yang berada di belahan dada Eksanti menghisap kuat kulit putihnya, sehingga meninggalkan bekas merah pada disana. Telapak tanganku mencengkram buah dada Eksanti. Aku meraup semuanya, sampai-sampai Eksanti merasa agak kesakitan. Aku tak peduli lagi. Hingga akhirnya.. plash.. plash.. plash.. (8X), spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Eksanti pada saat aku mengalami orgasme.

Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Eksanti. Batang kejantananku masih berada di dalam liang kenikmatan Eksanti. Eksanti mengusap-usap permukaan punggungku.
"Kamu menyesal, Santi?", ujarku sambil mencium pipinya. Eksanti menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum kepadanya. Eksanti membalas.

Aku meyandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul 21:00 dan aku mesti cepat pulang ke rumah, karena tadi aku tidak sempat membuat alasan untuk pulang terlambat. Begitu pula dengan Eksanti, yang saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami istri, yaitu makan malam bersama Yoga di rumah kost mereka.

Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat. Itu adalah ciuman kami yang terakhir.., percintaan kami yang terakhir.., sebelum akhirnya Yoga menikahi Eksanti, 2 bulan kemudian.


T A M A T

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home